Profesor Baru
Hujan turun perlahan di atas gedung tua Ravenwood University ketika Arabelle Haugen berlari melewati halaman kampus dengan napas terengah. Sepatu hitamnya memercikkan air di trotoar basah, sementara map tugas yang ia peluk mulai lembap di bagian sudut.
Rambut hitamnya ia ikat tinggi agar tidak mengganggunya ketika berlari.
“Sial…”
Ia melirik jam di ponselnya. Sudah jam 08.03, ia terlambat tiga menit untuk kelas profesor baru yang terkenal sangat disiplin.
Bagus. Hari pertamanya sudah hancur.
Arabelle mempercepat langkah menaiki tangga gedung fakultas hukum dan politik internasional. Lorong kampus pagi itu dipenuhi suara mahasiswa dan aroma kopi yang samar, tetapi langkahnya tetap terasa paling berisik di antara semuanya.
Ia masih berlari, mengejar waktu yang sudah jelas terlambat.
Napas terengah-engah, keringat tipis mengalir dari dahinya. Ia berhenti di depan pintu kelas 4B.
Arabelle menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan membuka pintu kelas dan seketika kelas menjadi sangat sunyi ketika kepalanya muncul sebagian.
Semua orang di dalam ruangan langsung menoleh ke arahnya.
Arabelle terpaku, ia sedikit gugup.
Kelas besar itu mendadak diam total. Sekitar empat puluh mahasiswa duduk rapi sambil memandangnya dengan ekspresi campuran antara kasihan dan penasaran.
Di depan kelas, seorang pria berdiri tenang sambil memegang spidol hitam. Kacamata yang menunjang penampilannya memantulkan cahaya lampu kelas hingga akhirnya matanya bisa melihat dengan jelas.
Profesor baru, muda, tampan, kini berdiri di hadapan Arabelle dengan wajah dingin.
Itu hal pertama yang muncul di kepalanya.
Pria itu mungkin awal tiga puluhan, mengenakan jas hitam rapi dengan kemeja abu gelap tanpa satu pun lipatan. Rambut hitamnya tersisir rapi ke belakang, sedikit berantakan di bagian depan seolah ia terlalu sibuk untuk peduli.
Tatapannya tajam, dingin, dan tenang untuk seseorang yang sedang diganggu mahasiswa terlambat.
Namun yang paling mengganggu adalah cara pria itu menatapnya. Seolah sedang membaca isi pikirannya.
Arabelle menelan ludah.
“Maaf, Prof—”
“Miss Haugen.”
Suara pria itu rendah dan tenang, perlahan ia menyentuh kacamata yang bertengger di hidungnya.
Arabelle membeku.
Bagaimana dia tahu namanya?
Pria itu melirik daftar absensi di meja sebelum kembali mengangkat mata padanya.
“Jika Anda ingin bertahan di kelas saya, jangan pernah datang terlambat lagi," ucapnya dengan datar namun sedikit tegas.
Beberapa mahasiswa menunduk menahan reaksi.
Arabelle mengangguk cepat. “B-baik Prof, tidak akan terulang.”
“Duduk.”
Singkat, tegas, tak melirik lagi pada Arabelle sedikit pun.
Arabelle segera berjalan menuju kursi kosong di barisan tengah. Ia bisa merasakan tatapan semua orang mengikutinya sampai ia duduk.
Termasuk sang Profesor yang semula tidak menatapnya, begitu Arabelle duduk dan menghadap ke depan, mata mereka bertemu.
Akhirnya, Arabelle membuang tatapan ke arah lain, mencoba fokus dan mengeluarkan laptopnya yang untung sekali selamat dari hujan.
“Nama Saya Henry Kaito.”
Profesor Henry menulis namanya di papan tulis dengan tulisan rapi dan tajam. Ia berbalik lagi perlahan, posisinya berdiri tepat sejajar dengan posisi Arabelle.
“Mulai semester ini saya akan mengajar Analisis Politik dan Strategi Global," jelasnya kemudian.
Tidak ada senyum ramah sama sekali, hanya terdengar suara dingin namun tegas. Arabelle jadi menatap dengan penasaran.
Sepanjang kelas, Henry berbicara dengan cara yang berbeda dari dosen lain. Ia menjelaskan dengan percaya diri dan tak terdengar membosankan meski tanpa membaca slide.
“Politik bukan tentang siapa yang benar,” ucapnya sambil berjalan perlahan di depan kelas, "tetapi tentang siapa yang mampu mengendalikan narasi.”
Semua siswa mendengarkan penjelasannya dengan seksama, Arabelle benci satu fakta bahwa ia tertarik memperhatikan pelajaran orang ini.
“Jadi menurut Anda,” Henry tiba-tiba berkata sambil menatap salah satu mahasiswa laki-laki, “mengapa negara besar lebih memilih perang dingin dibanding perang terbuka?”
Mahasiswa itu gugup menjawab, "K-karena berbahaya—,"
"Salah," Henry memotong jawaban dengan cepat.
Ketegangan langsung memenuhi ruangan.
Arabelle mengangkat alis kecil, kejam juga untuk seorang Professor muda yang baru saja mengajar di hari pertama.
Namun sedetik kemudian, Henry menoleh padanya.
“Miss Haugen.”
Arabelle menegang.
“Menurut Anda?” tanya Henry dengan nada yang rendah pada Arabelle.
Seluruh kelas kembali menoleh, Arabelle kembali menjadi pusat perhatian dalam sekejap.
Arabelle menghela napas pelan sebelum menjawab, “Karena perang terbuka terlalu mahal secara ekonomi dan politik. Mengendalikan informasi jauh lebih efektif dibanding menghancurkan negara secara langsung.”
Pandangan mereka bertemu, terjadi kesunyian dalam beberapa detik dan Arabelle tak mau mengalah. Baginya, Henry seperti sedang memberikan tantangan tak tersirat.
“Menarik," ucap Henry, singkat tapi entah kenapa membuat d**a Arabelle terasa aneh.
Henry kembali berjalan sambil berkata, “Setidaknya ada seseorang di kelas ini yang benar-benar membaca.”
Beberapa mahasiswa tertawa sementara Arabelle memutar bola mata pelan, tetapi diam-diam ia menahan senyum.
Kelas berlanjut lebih cepat dari yang ia kira dan semakin lama Arabelle memperhatikan profesornya, semakin ia merasa ada sesuatu yang tidak biasa.
Cara Henry bergerak terlalu teliti, bahkan caranya berdiri terlihat seperti seseorang yang terbiasa menghadapi bahaya. Dia seperti seorang profesional dalam bidang lain.
Apa benar Henry hanyalah seorang Professor?
Saat Henry menggulung lengan kemejanya sedikit untuk menulis di papan, Arabelle melihat luka tipis di dekat pergelangan tangannya.
Tipis namun guratannya jelas seperti sayatan bekas serangan, sayatan pisau. Arabelle yakin sekali karena dia pernah memiliki luka semacam itu saat bertahan dari sebuah serangan.
Aneh, itu luka bekas serangan... apakah dia mantan petarung? pikir Arabelle.
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, suara Henry kembali terdengar.
“Kelas selesai.”
Satu kalimat yang berhasil membuat semua mahasiswa di dalam beranjak dengan ribut, mereka segera mengemasi barang mereka dan pergi begitu saja. Sementara Henry, dia masih memperhatikan setiap gerak-gerik siswanya dari podium, pria tinggi itu bersandar dengan tenang.
Arabelle buru-buru memasukkan laptop ke tas. Ia baru setengah berdiri ketika suara itu menghentikannya.
“Miss Haugen.”
Arabelle nyaris tersentak, ia menoleh perlahan.
"Y-ya, Profesor?" Suara Arabelle mendadak terdengar gugup, tidak seperti dirinya yang biasa.
Henry menatapnya dari depan kelas dengan ekspresi yang sama dinginnya.
“Sebentar.”
Mahasiswa lain mulai melirik penasaran sebelum keluar satu per satu meninggalkan ruangan, tiba-tiba saja Arabelle menyadari sesuatu yang membuat tengkuknya meremang.
Kini hanya mereka berdua di dalam kelas dan hujan masih turun di luar jendela.
Apa yang akan di lakukan seorang Henry Kaito yang rasanya seperti bukan Dosen atau Profesor biasa? Bagi Arabelle, dia terasa berbahaya, gerak-geriknya terlalu mencurigakan.
"Ada yang harus kamu ketahui."