Prolog
Hujan turun deras malam itu, tapi suara petir tidak pernah lebih menakutkan daripada suara langkah kaki ibunya yang mendekat.
Nadira, delapan tahun, meringkuk di sudut kamar sempit beralas semen dingin. Ia menahan napas, berharap kalau ia diam cukup lama, ibunya akan lupa bahwa ia ada di sana.
Tidak pernah berhasil.
"Kamu lagi ngapain di situ, hah?" suara serak itu menggema, dicampur bau alkohol yang sudah hafal di kepalanya sejak ia bisa mengingat apa pun. "Bukannya bantu Mama cari uang, malah sembunyi kayak tikus!"
"Na.. Nadira nggak sembunyi, Ma. Nadira cuma—"
Tamparan itu datang sebelum kalimatnya selesai. Pipinya panas, telinganya berdenging, dan air mata yang sudah ia tahan sejak siang akhirnya jatuh begitu saja, meski ia tahu menangis hanya akan membuat semuanya lebih buruk.
"Berhenti nangis! Kamu pikir nangis bisa bikin Mama kasihan? Mama udah cape sama kamu. Andai aja kamu nggak pernah lahir—"
Kalimat itu berhenti di tengah jalan, seolah bahkan ibunya sendiri tahu ia sudah melewati batas yang seharusnya tidak pernah dilewati seorang ibu. Tapi kalimat yang tergantung itu lebih menyakitkan daripada jika ia menyelesaikannya. Nadira sudah tahu kelanjutannya. Ia sudah mendengarnya, dalam berbagai bentuk, ribuan kali sepanjang hidupnya yang singkat.
Malam itu bukan yang pertama. Dan ia tahu, bukan yang terakhir.
Lima belas tahun kemudian.
Nadira berdiri di depan cermin kamar kosnya yang kecil, menatap pantulan dirinya dengan ekspresi datar yang sudah menjadi kebiasaan. Wajah itu tidak banyak berubah selama bertahun-tahun. Tetap tenang, tetap sulit ditebak, seolah tidak ada apa pun yang mampu mengguncangnya.
Padahal kenyataannya tidak demikian.
Seiring berjalannya waktu, Nadira hanya semakin terbiasa menyimpan segala sesuatu seorang diri. Sedih, marah, kecewa, bahkan saat merasa bahagia. Hidup mengajarinya bahwa tidak semua luka akan mendapat pelukan, dan tidak semua tangis akan didengar. Karena itu, ia memilih diam. Jauh lebih mudah daripada berharap pada orang lain lalu kembali dikecewakan.
Jari-jarinya merapikan kerah kemeja yang sudah dicuci berkali-kali hingga warnanya sedikit memudar. Tidak ada yang istimewa dari pakaian itu, sama seperti tidak ada yang istimewa dari kamar kos sempit yang telah ditempatinya selama tiga tahun terakhir. Namun baginya, tempat sederhana ini jauh lebih layak disebut rumah dibanding bangunan mana pun yang pernah ia tinggali semasa kecil.
Setidaknya, di sini tidak ada suara bentakan. Tidak ada pula tatapan penuh kebencian daan juga tidak ada seorang ibu yang menjadikannya sasaran amarah setiap kali hidup terasa tidak adil.
Dua puluh tiga tahun usianya sekarang, dan tidak ada satu pun orang yang pernah benar-benar mencintainya. Bukan ibunya, yang sudah lama menghilang entah ke mana setelah Nadira cukup besar untuk lari dari rumah itu. Bukan ayahnya, yang bahkan tidak pernah ia kenal wajahnya. Bukan siapa pun.
Ia sudah berhenti berharap sejak lama. Berharap hanya membuat kekecewaan terasa lebih tajam.
Pekerjaannya sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan kecil cukup untuk membuatnya hidup, meski tidak pernah cukup untuk membuatnya merasa aman. Tapi malam ini berbeda. Malam ini, atasannya memintanya datang ke sebuah gala bisnis, bukan sebagai tamu tentu saja, tapi sebagai salah satu staf yang membantu di belakang layar.
Ia tidak menyangka, satu malam itu akan mengubah segalanya.
Gedung itu bercahaya seperti istana di tengah kota. Lampu kristal menggantung dari langit-langit, musik orkestra mengalun pelan, dan tamu-tamu berpakaian mahal berbincang dengan senyum yang sempurna. Senyum yang Nadira tahu, sebagian besar hanya topeng.
Ia sibuk membawa nampan, menghindari kontak mata, berusaha menjadi seinvisible mungkin seperti yang sudah ia latih seumur hidupnya. Sampai ia menabrak seseorang.
Nampan di tangannya jatuh. Gelas-gelas pecah berkeping di lantai marmer, dan suara musik seketika terasa jauh lebih sunyi dibandingkan detak jantungnya sendiri yang berdebar panik.
"Saya…. saya minta maaf, Pak. Sungguh, saya tidak sengaja. Saya akan segera bersihkan ini."
Ia mendongak, siap menerima kemarahan yang sudah ia kenal sepanjang hidupnya. Tapi yang ia temukan bukan amarah.
Pria di hadapannya berdiri tegak, tinggi dengan jas hitam yang dipotong sempurna mengikuti tubuhnya. Wajahnya tampan dengan cara yang dingin, hampir mengintimidasi dengan rahang tegas, mata gelap yang menatap seolah bisa melihat lebih dari yang seharusnya. Seluruh ruangan, tanpa Nadira sadari sudah berhenti bernapas saat pria itu lewat beberapa menit sebelumnya.
Ia adalah Raditya Wira Atmaja.
Orang-orang di kota ini punya banyak nama untuknya, tapi yang paling sering disebut dengan nada hormat sekaligus takut adalah "Sang Panglima". Bukan karena ia memimpin pasukan bersenjata, tapi karena tidak ada satu pun kerajaan bisnis atau jaringan bawah tanah di kota ini yang berani melawannya dan menang.
Dan sekarang, pria yang seharusnya marah besar karena gelasnya pecah dan jasnya mungkin terkena cipratan, hanya menatap gadis di hadapannya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Kenapa kamu menatapku? Kamu tidak takut?" tanyanya dengan suara rendah dan datar.
Nadira mengangkat wajahnya, sedikit bingung dengan pertanyaan itu. "Maaf?"
"Semua orang di ruangan ini takut padaku," ucap Raditya datar. Tatapannya tetap lurus menatap Nadira. "Tapi kamu tidak terlihat seperti itu. Siapa namamu?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, sederhana namun entah mengapa terasa seperti sesuatu yang jauh lebih besar.
Nadira tidak tahu malam itu, bahwa pertanyaan sederhana dari seorang pria yang ditakuti seluruh kota akan menjadi awal dari segalanya. Segala hal yang akan mengubah hidupnya yang selama ini hanya berisi luka menjadi sesuatu yang ia bahkan tidak pernah berani bayangkan.
Ia tidak tahu bahwa pria di hadapannya, yang selama ini hanya mengenal kuasa dan ketakutan orang lainbaru saja merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Entah sejak kapan, Raditya tidak lagi mengingat rasanya penasaran pada seseorang tanpa memikirkan untung atau rugi. Namun gadis di hadapannya itu berbeda. Mata yang menyimpan terlalu banyak luka untuk usianya tidak memohon, tidak mencari muka, dan tidak menginginkan apa pun darinya.
Dan bagi pria yang selama ini hanya dikejar oleh orang-orang yang menginginkan sesuatu darinya, itu adalah hal yang paling berbahaya yang pernah ia temui.
"Nadira," jawabnya akhirnya dengan suara pelan.
Raditya tersenyum tipis. Senyuman yang tidak pernah ditunjukkan kepada siapa pun selain dirinya sendiri di depan cermin.
"Ah, Nadira," ulangnya, seolah mengukir nama itu di kepalanya. "Aku akan mengingat nama ini."
Ia tidak tahu, malam itu adalah malam pertama dari banyak malam yang akan mengubah segalanya. Dan tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa takdir, dengan caranya yang kejam dan indah sekaligus, baru saja mulai mempertemukan dua orang yang sama-sama tidak pernah percaya pada cinta.