Setiap istirahat kedua, Aruna duduk di meja paling sudut kantin, tempat yang tidak pernah dilirik siapa pun. Di depannya ada buku catatan berisi tulisan-tulisan yang tak pernah ia perlihatkan, dan di balik jendela berembun ada lapangan basket, tempat Bima berlatih sendirian bahkan ketika hujan turun.
Bima adalah kapten basket yang ramah pada semua orang. Ia hafal nama siapa saja, termasuk nama teman sebangkunya di kelas X yang kini hanya ia sapa sesekali. Dan Aruna tidak pernah punya keberanian untuk menjadi lebih dari sekadar “teman sebangku dulu”.
Lalu hujan November itu datang. Bima masuk ke kantin dengan rambut basah dan senyum yang sama seperti biasa, tapi ada sesuatu yang berbeda, dan Aruna tak bisa memastikan apa. Sahabatnya, Nadia, mulai bersikap aneh. Bima semakin sering muncul di meja mereka. Dan rahasia yang selama ini Aruna simpan rapat di buku catatannya terasa makin tipis untuk disembunyikan.
Bagaimana kalau orang yang kamu suka diam-diam ternyata sedang memandang ke arah yang tidak kamu duga? Dan bagaimana caranya tetap menjadi sahabat yang baik, kalau perasaanmu sendiri belum selesai?
Gerimis di Sudut Kantin adalah cerita tentang suka yang tak pernah diucapkan, persahabatan yang diuji, dan hujan yang selalu datang di waktu paling tidak tepat.
Sejak kecil, Nadira tak pernah tahu rasanya disayang. Pukulan dan makian dari ibunya sendiri adalah satu-satunya kasih sayang yang ia kenal. Ia tumbuh sendirian, belajar bertahan tanpa siapa pun di sisinya sampai dunia mengajarinya satu hal: jangan pernah berharap pada cinta.
Sampai ia bertemu dengan Raditya Wira Atmaja.
Di usia dua puluh delapan tahun, namanya sudah cukup untuk membuat orang-orang berkuasa tunduk. Mereka memanggilnya "Sang Panglima" bukan karena ia memimpin pasukan, tapi karena kerajaan bisnis dan jaringan bawah tanahnya tak pernah kalah dari siapa pun yang berani melawan.
Raditya tidak butuh cinta. Tapi gadis yang terus menolak menyerah pada hidupnya yang kelam itu membuatnya penasaran lalu perlahan, jatuh.
Untuk pertama kalinya, Sang Panglima yang dingin dan tak tersentuh itu memilih seseorang bukan karena untung atau kuasa, tapi karena hati.
Masalahnya, Nadira tidak percaya pada pilihan. Bagaimana mungkin ia percaya pada cinta, jika selama ini cinta hanya pernah berarti luka?