Bab 1 - Meja di Sudut
Hujan turun tanpa permisi, seperti biasa di bulan November. Pagi tadi langit masih biru, tapi begitu bel istirahat kedua berbunyi, awan kelabu menumpuk di atas SMA Nusa Pelita, seolah cuaca punya jadwal sendiri yang tak pernah cocok dengan jadwal pelajaran.
Aruna Wening Safitri sudah duduk di mejanya sebelum gerimis pertama jatuh.
Meja kecil itu terselip di sudut kantin, di antara mesin pendingin minuman dan tumpukan kursi cadangan, dengan cat jendela yang mengelupas di sana-sini. Kebanyakan anak kelas XI lebih suka duduk dekat kios gorengan, tempat suara paling ramai. Aruna suka sudut ini karena tiga hal: sepi, tidak ada yang lewat, dan jendelanya menghadap lapangan basket.
Alasan ketiga tidak pernah ia akui, bahkan pada dirinya sendiri. Kalau ada yang tanya, ia akan bilang cahayanya bagus untuk menulis.
Buku catatan tebal terbuka di depannya. Bukan catatan pelajaran. Isinya puisi-puisi pendek, potongan kalimat yang terdengar bagus di kepala tapi aneh kalau dibaca ulang, dan cerita-cerita yang selalu berhenti tepat sebelum bagian terpenting. Aruna menyebutnya "sampah pikiran". Pena di tangannya sudah sepuluh menit tidak bergerak.
Di seberang kaca yang mulai berembun, lapangan hampir kosong. Anak-anak lain sudah berlarian mencari atap. Hanya satu orang yang tetap di sana.
Bima Adhitama memantulkan bola di aspal basah, tiga kali, lalu melompat. Bola melengkung dan masuk ring dengan bunyi swish yang samar-samar masih terdengar sampai ke dalam kantin. Bima tertawa sendiri, seolah tidak ada yang lebih menyenangkan di dunia ini daripada hujan, lapangan kosong, dan satu bola oranye.
Aruna menunduk ke bukunya. Menulis satu kata. Mencoretnya. Melirik lagi.
Dulu, di kelas X, mereka pernah sebangku satu semester penuh. Bima baru pindah dari Surabaya, belum kenal siapa-siapa, tapi di hari kedua ia sudah hafal nama semua orang di kelas. Suatu pagi buku catatan Aruna jatuh dari tasnya dan terbuka di halaman yang salah. Aruna membeku. Bima memungutnya, membaca satu baris sekilas, lalu mengembalikannya tanpa komentar apa pun.
Seminggu kemudian, saat hujan turun di tengah pelajaran Fisika, Bima bergumam sambil menatap jendela, hampir tidak terdengar, "Hujan yang turun tapi tak pernah sampai ke tanah. Bagus juga."
Itu baris dari buku catatannya. Aruna tidak menjawab. Ia pura-pura sibuk dengan soal latihan selama sisa jam pelajaran, dengan telinga yang terasa panas.
Semester genap, kelas mereka dipisah. Sekarang mereka hanya saling menyapa di lorong. Hai, Runa. Cuma itu. Tapi Aruna menyimpan dua kata itu seperti barang berharga yang malu ia akui miliknya.
"Ngapain di sini sendirian?"
Sebuah nampan mendarat di meja dengan bunyi cukup keras hingga es teh di atasnya bergoyang. Nadia Kinanti menarik kursi dan duduk, membawa semangkuk mi ayam untuk dirinya dan segelas es teh manis yang tanpa perlu ditanya akan jadi milik Aruna. Seperti setiap istirahat kedua sejak kelas tujuh.
Aruna refleks menutup bukunya. "Nulis."
"Nulis apa?"
"Nggak penting."
"Biasanya itu justru yang paling penting." Nadia menyuap mi, mengunyah, lalu melirik ke jendela. Tatapannya berhenti di lapangan lebih lama dari yang wajar untuk orang yang hanya sekadar melihat hujan. "Cuacanya bagus buat nulis, ya."
"Iya," kata Aruna. Ia mengaduk es tehnya yang sebenarnya tidak perlu diaduk.
"Hmm."
Hanya itu. Nadia tidak menambahkan apa-apa, tidak tersenyum jahil, tidak menggoda. Aruna menunggu satu kalimat yang biasanya selalu menyusul, Kamu liatin siapa sih? atau Jangan bohong deh. Kalimat itu tidak datang. Aruna menghela napas pelan, setengah lega, setengah bingung kenapa ia justru sedikit kecewa.
Nadia adalah kebalikan Aruna dalam hampir semua hal. Ceria, blak-blakan, selalu dikelilingi orang ke mana pun ia pergi. Tapi hanya Aruna yang tahu bahwa di balik semua itu, Nadia pernah menelepon sampai satu jam tengah malam hanya karena takut nilai ulangan Matematikanya jelek. Mereka bertemu di kelas tujuh karena tidak ada bangku kosong lain, dan kebetulan sederhana itu entah bagaimana tidak pernah benar-benar selesai.
"Eh, besok ulangan Mat, kan," kata Nadia sambil mengaduk mi yang sudah tidak perlu diaduk lagi. "Kamu udah belajar?"
"Udah sedikit."
"Sedikit versi kamu itu sebenarnya tiga bab."
"Enggak juga. Paling dua setengah bab sih."
Nadia tertawa. Tapi tawanya terputus di tengah, dan Aruna melihat jemarinya terangkat untuk merapikan rambut di dekat telinga. Sekali. Dan sekali lagi. Ia bahkan sempat mengecek bayangan dirinya di permukaan sendok, sesuatu yang belum pernah Aruna lihat Nadia lakukan di kantin.
Mungkin Nadia cuma gugup soal ulangan, pikir Aruna. Ia kembali menatap jendela.
Di luar, Bima akhirnya menyerah pada hujan. Ia memungut bola, menyelipkannya di bawah lengan, dan berlari kecil ke arah kantin dengan melewati genangan air tanpa peduli sepatunya basah. Dari jarak itu, Aruna bisa melihat ia masih tertawa.
Dada Aruna terasa sempit. Ia cepat-cepat membuka bukunya lagi, pura-pura membaca, pura-pura tidak sedang menghitung langkah di balik kaca.
Pintu kantin terbuka. Suara hujan yang tadi teredam mendadak membesar, lalu mengecil lagi saat pintu menutup.
"Woi!"
Bima berdiri di depan meja mereka dengan rambut meneteskan air ke lantai dan kaos tim yang menempel di punggung. Ia menyambar beberapa lembar tisu dari dispenser meja sebelah dan mengusap wajahnya asal-asalan. "Kalian di sini rupanya. Pada ngumpet ya?"
"Dari kamu? Iya," kata Nadia. Nadanya ringan, tapi Aruna sempat menangkap bahwa suaranya naik setengah nada dari biasanya.
"Dari ulangan Matematika, lebih tepatnya." Bima menarik kursi kosong di ujung meja, duduk tanpa menunggu diminta, dan meletakkan bola basket di pangkuannya seperti membawa kucing peliharaan. "Aku denger Pak Harjo bikin soal yang aneh-aneh."
"Kamu denger dari siapa?"
"Dari orang yang pernah diajar dia." Bima nyengir. "Dan masih trauma."
Nadia tertawa lagi dengan lebih lepas kali ini. Aruna ikut tersenyum, kecil, tanpa benar-benar mendengar apa yang lucu. Ia terlalu sibuk menjaga wajahnya tetap biasa saja, dengan buku catatan yang ia tarik pelan-pelan ke dekat dadanya.
"Runa."
Aruna mengangkat kepala.
Bima menatapnya sambil mengusap rambut dengan tisu. "Masih nulis sampah pikiran?"
Sesaat Aruna lupa cara bernapas.
Ia tidak pernah memberitahu siapa pun soal sebutan itu, kecuali Nadia. Ia hanya pernah menyebutnya sekali, sekilas, di kelas X, saat Bima bertanya buku apa yang selalu ia bawa. Hampir setahun lalu. Dan Bima masih ingat.
"Masih dong," jawab Aruna akhirnya. Suaranya keluar lebih kecil dari yang ia inginkan.
"Bagus." Bima tersenyum, senyum lebar yang sama, yang ia berikan pada siapa pun di lorong, di lapangan, di mana pun. "Dunia butuh lebih banyak sampah pikiran yang bagus."
Di seberangnya, Nadia mendadak sangat tertarik pada mi ayamnya.
Aruna tidak sempat memikirkan itu, karena hujan di luar baru saja memutuskan untuk turun lebih deras. Atap kantin berdentum-dentum, jendela di sampingnya berembun makin tebal, dan seisi ruangan seperti menyempit menjadi satu meja kecil dengan tiga kursi dan bau kuah yang hangat.
Bima menoleh ke arah meja. Ke arah mereka berdua.
Senyumnya berhenti.
Bukan hilang, hanya berhenti, kira-kira sepersekian detik, seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang tadi ia cari. Matanya jatuh pada satu titik di antara es teh, nampan, dan dua pasang tangan di atas meja.
Pada siapa, Aruna tidak tahu.
Nadia menunduk. Telinganya memerah, dan Aruna memutuskan itu karena dingin hujan.
Bima sudah kembali bercerita tentang Pak Harjo, tentang soal-soal aneh, tentang sepatu yang sudah tidak bisa diselamatkan. Semua orang tertawa di waktu yang tepat. Tidak ada yang berubah.
Hanya Aruna yang diam-diam menutup bukunya lebih rapat, memegangnya erat di pangkuan, dan sejak mulai menulis, baru kali ini ia tak tahu bagaimana kelanjutan ceritanya.
Anehnya, ia pun tak yakin ingin mengetahuinya.