Pactum | 34

1501 Words

"Tasya, kamu ngapain menarik-nari gitu?" tanya Kenan langsung mematikan musik yang berasal dari laptop Natasya. "Tulang kamu patah nanti baru merengek sama saya!" lanjutnya terdengar kesal. Kenan kaget sekali ketika membuka kamar Natasya, wanita itu sedang meliukkan tubuhnya tak beraturan sekali--menurut Kenan. Natasya berdecak. Dia mengusap keringat yang membasahi daerah kening. Bagian leher juga sudah basah, Natasya berkeringat banyak padahal baru setengah jam menari seperti itu. "Jangan dimatiin. Lima belas menit lagi selesai, aku mau bakar lemak dengan menari kayak gini. Seru!" Kenan berdiri menghalangi Natasya yang akan menyalakan musiknya kembali. "Tidak, tidak. Saya bilang sudah, berarti cukup sampai di sini saja. Tidak ada lagi menari kayak gitu, bahaya kamu tahu nggak?" bentak p

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD