Bab 11

731 Words
Laki - laki itu hanya diam saja tidak menjawab sapaan dari Nadine. Nadine yang melihat wajah datar pria itu pun hanya tersenyum singkat. karena Nadine percaya tidak semua orang bisa menerima perlakuan orang lain dengan mudah. Tidak semua orang bisa berinteraksi dengan mudah , dan tidak semua orang bisa bersosialisasi seperti dirinya. Nadine terus melangkahkan kakinya, dia memandang setiap sudut gedung Univeristas yang megah ini. "Seperti halusinasi dan imajinasi saja bisa kuliah di sini ucap Nadine, sambil tersenyum. Nadine terus memeriksa setiap tempat yang sudah dia dapatkan melalui email. Nadine mengikuti Papan petunjuk arah yang sudah terpasang di setiap arah tangga. Dengan semangat Nadine menyusuri nya sampai tubuhnya tertabrak oleh d**a yang lebar dengan wangi parfum yang lembut. "Maafkan saya ucap Nadine sambil menunduk tidak berani mengangkat kepalanya. Lagi - lagi pria itu tidak menjawab Nadine dan terus saj pergi meninggalkan Nadine . Nadine yang masih berdiri mematung hanya mengurut dadanya pelan karena hawa dingin yang begitu terasa dari pria itu sangat menakutkan bagi Nadine. "Huh,,, Pria itu mungkin tinggal di kutub utara. Hawa nya sangat dingin gumam Nadine sambil berjalan. Nadine akhirnya sampai di lantai 3 tempat ia akan menimba ilmu. Dengan semangat 45 Nadine menuju kelasnya. Nadine terus aja memperhatikan kiri dan kanan , mana tau ada orang yang berasal dari Negara yang sama dengan Nadine. Hari ini, setelah puas mengelilingi kampus hanya untuk mencari kelas. Nadine berjalan masuk ke dalam kelasnya dan berkenalan dengan seluruh orang yang ada saat itu. Untung saja Nadine pasih berbahasa inggris. Sebagian dari mereka telah duduk berkelompok, sedangkan Nadine masih duduk sendiri saja setelah perkenalan. Sebenarnya Nadine bingung harus bagaimana menghadapi situasi ini . Nadine mencoba menyembunyikan rasa gugupnya dengan mengeluarkan buku dan pena nya. Sekedar untuk membaca sedikit materi yang telah sangat lama tertanam semasa dirinya sakit. "Selamat pagi menjelang siang ucap seorang gadis yang membuat Nadines sedikit terkejut. Perkenalkan aku Lin, warga negara Singapura dan sedikit memiliki darah cina. "Oh ya, perkenalkan aku Nadine, Warga negara Indonesia dan memiliki garis keturunan Arab _ sunda. "Waw, pantas hidung mu mancung sekali, wajah mu juga kecil ya. sangat serasi dengan postur tubuh mu , puji lin kepada Nadine. "Kamu juga tampak cantik lin, semua wanita terlahir cantik. "Puji Tuhan, bicara mu sangat membahagiakan hati Nadine. Bisakah kita berteman ? lin mengulurkan tangan nya kepada Nadine. "Tentu lin, aku juga sangat senang bertemu dengan mu ucap Nadine tulus. "Orang Indonesia terkenal dengan keramahanny ya...., oma ku sering cerita bahwa banyak orang keturunan kami yang tinggal di sana dan telah menamakan dirinya Indonesia. Tidak lagi berniat kembali ke Negara asalnya, Lin tersenyum "Oh ya.. Itu benar sekali lin. Nadine membalas senyum lin. Tidak ada mata kuliah hari ini, mahasiswa yang datang hanya untuk registrasi ulang. Sedangkan urusan Nadine sudah di bereskan oleh Daniel. Saat kami sedang asyik mengobrol , muncul seorang pria berjas tampan dari balik pintu dengan wajah tegas langsung mengambil tempatnya di depan kami semua, berbicara dengan nada dingin. Perkenalkan nama saya JonathanaEL JUNO SUDIRO, Panggil saja saya pak Jonathan. Saya akan menjadi Dosen penanggung jawab kelas ini ucap nya dingin dan wajah datar. Seketika semua orang yang ada di kelas terdiam dan sangat sunyi. Nadine yang tidak memiliki keberanian yang cukup banyak pun hanya menunduk saja. "Kamu jadi asisten saya. .. .. ... ... Hallo ! kamu yang di sana jadi asisten saya ucap Jonathan lagi. "Na, Kamu tu yang di bilangi pak Jonathan, angkat kepala mu na.. "Apa... aku ? kenapa harus aku ? "Na... cepat na... seram na.... "Iya pak saya , saya jadi asisten bapak ? Apa bisa yang lain saja pak ? saya tidak berpengalaman jadi saya rasa , saya tidak punya kemampuan pap! ucap Nadine sambil menunduk. Jonathan menatap Nadine tanpa berkedip, Jonathan membereskan barangnya dengan langkah teratur keluar dari kelas. "Tolong kamu catat nomor ponsel mereka biar kita bisa buat group. saya tunggu ucap Jonathan entah kepada siapa, tapi semua mata tertuju pada Nadine. Nadine menelan saliva nya berkali - kali, jantungnya hampir lepas dan tangannya banyak mengeluarkan keringat. Mungkin sebentar lagi Nadine akan dehidrasi. "Nadine, kamu yang sabar ya na, katanya pak Jonathan itu dosen killer. Kamu tidak bol;eh bengong terus, harus cepat kalau dia usruh - suruh. Dia tidak suka orang lelet. Nadine benar-benarlemas mendengar celotehan Lin, kakinya seakan tidak mampu lagi menopang diri. berulang kali Nadine mengerjapkan tangan nya yang basah oleh keringat. Nadine memang lemah bila menghadapi orang yang dingin seperti itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD