Prolog
Beberapa tahun yang lalu ....
"Huweee."
Suara teriakan bayi itu menggelegar ke seluruh ruangan. Bayi itu terus saja menangis tanpa henti. Suara tersebut membuat Bu Andin langsung terbangun dari tidurnya. Dia tak sadar sedikit pun, bahwa ternyata dia tertidur di sofa kamar cucunya.
"Laura." Bu Andin menghampiri ranjang kasur cucunya, lalu mengecek kondisi cucunya. Bu Andin tampak panik melihat cucunya menangis terus-menerus.
"Ada apa, Nak?" Bu Andin menghela napas, lalu menggendong cucunya.
"Apa kamu butuh s**u?" tanya Bu Andin sambil menepuk-nepuk punggung belakang cucunya.
Tok … tok … tok ....
"Ada apa?" tanya Bu Andin mengeraskan suaranya—supaya orang yang mengetuk pintu itu, bisa mendengarkan suaranya dari dalam.
Suara pengasuh Anindita, terdengar risau di balik pintu kamar cucunya, "Maaf, Bu. Saya datangnya terlambat. Biar saya saja yang mengurus Laura untuk selanjutnya."
"Tidak usah!" Bu Andin menolak permintaan pengasuh Anindita.
"Tapi, Bu—"
"Saya bilang, tidak usah, ya, tidak usah!" tegas Bu Andin.
"Baiklah, Bu," ujar pengasuh Anindita secara sopan, lalu pergi. Setelah pengasuh Anindita pergi, tangisan Laura mereda. Laura kembali tertidur.
Bu Andin memandangi cucunya dengan tatapan berkaca-kaca. Bu Andin mencium kening cucunya, lalu berkata, "Kelak nanti. Nenek yakin, kamu akan ditangisin oleh orang-orang di sekitarmu."
"Nenek akan berusaha mati-matian untuk kamu. Agar kamu kelak jadi anak yang baik, pintar, dan rendah hati. Tidak seperti orang tuamu dan kakekmu."