Beberapa tahun kemudian ....
Kehidupan itu tak semudah yang dibayangkan. Ada rintangan yang harus dilalui setiap makhluk di muka bumi ini. Rintangan yang didapatkan tergantung dengan kemampuan masing-masing makhluk. Ada yang merasa terbebani dengan rintangan itu, ada juga yang menerima semua rintangan itu dengan lapang d**a.
Sore hari itu, Laura sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya. Laura termenung sedikit lebih lama dari biasanya, setelah mengingat-ingat kejadian dua tahun silam itu. Laura benar-benar menyesal. Akan tetapi, semuanya sudah terlambat. Kejadian itu tak dapat diulang lagi pada masa sekarang.
"Andai, aku gak teledor, Nek. Nenek pasti masih ada di sini, bukan?" Laura menitihkan air mata sesudah mengatakan kalimat itu.
"Aku benci sama diriku," rintih Laura sambil memukuli kepalanya.
"Aku mau mati, aja, Nek." Laura membangkitkan tubuhnya, lalu duduk bersila di atas ranjang.
"Untuk apa aku hidup di dunia ini. Unjung-unjungnya, aku lagi yang salah." Laura membenturkan kepalanya ke dinding.
Laura ....
Laura menolehkan kepalanya mengikuti sumber suara itu. Tangisannya bertambah pecah, setelah melihat sosok itu. Dia menggeser posisi duduknya hingga ke tepi ranjang. Dia menurunkan satu per satu kakinya, lalu menghampiri sosok itu. Sosok itu sedang tersenyum ke arah Laura, serta membawa makanan untuknya.
"Nenek." Laura langsung memeluk sosok itu, setelah sosok itu meletakkan makanan yang dibawanya ke atas laci.
"Aku kangen, Nenek." Laura mengencangkan tangisannya hingga memenuhi satu ruangan.
"Jangan pergi dari hidupku, Nek," lirih Laura. "Aku gak bisa hidup tanpa, Nenek."
"Aku ingin selalu bersama dengan, Nenek. Izinkan aku ikut dengan, Nenek, ya."
Sosok itu berdeham kikuk, "Laura, ini aku Regard. Bukan, Nenek. Nenek sudah tiada, Laura."
Laura kesulitan menelan air liurnya sendiri, setelah mendengar nama 'Regard', yang terlontar dari mulut sosok itu. Laura mengedipkan kedua bola matanya berharap di hadapannya ialah, neneknya. Sayangnya, harapan itu tak sesuai dengan keinginannya. Ternyata benar, di hadapannya sekarang ini ialah, kakaknya.
"Kak Regard, maaf ... maaf. Aku pikir tadi Nenek, ternyata Kak Regard toh." Air mata Laura dapat dibendung sementara oleh pelupuk matanya. Laura tak mau menangis di hadapan kakaknya.
Kak Regard meraih kedua tangan adiknya. "Gak apa-apa, kok. Kakak paham yang kamu alami sekarang. Jadi, enjoy, aja, oke."
"Jangan nangis lagi, ya, adikku tersayang. Nanti cepet tuanya, loh!" canda Kak Regard.
"Gak bisa, Kak Regard. Aku kangen, Nenek. Aku mau ketemu sama, Nenek. Aku ingin hidup bersama dengan, Nenek."
Kak Regard menyahuti kalimat Laura dengan tegas, "Kakak paham. Tapi, kalo kamu terus-terusan seperti ini, apa Nenek gak sedih di sana?"
"Sedih, sih, Kak. Tapi ...." Laura sengaja memotong pembicaraan. Jika dipikir-pikir lagi, yang dikatakan Kak Regard ada benarnya juga.
"Nah, kalo kamu tau jawabannya, jangan nangis lagi, dong. Nanti kakak ikut nangis, nih," gurau Kak Regard.
"Cowok tuh, gak boleh nangis tau," timpal Laura lantang. "Cemen namanya," tambahnya dengan nada sedikit mengejek.
"Kata siapa gak boleh nangis? Cowok maupun cewek berhak nangis kali. Gak ada sejarahnya kayak gitu," sanggah Kak Regard tak mau kalah dengan adiknya.
"Iya-in, deh. Yang pinter sejagat raya." Laura membulatkan pipinya karena kesal dengan sikap kakaknya.
Kak Regard memutar kedua bola matanya serempak, lalu berkata, "Terus kalo aku pinter, kamu apa, Lau?"
"Bodoh, Kak," sahut Laura keceplosan. Laura menepuk dahinya berulang kali sambil menggigit unjung kukunya.
Kak Regard mencubit pelan pipi Laura, lalu mengucap, "Mulai lagi, deh. Kamu udah janji sama kakak loh, gak lagi ngomong bodoh ke diri sendiri, 'kan? Kenapa diingkari begitu saja, sih? Nyebelin banget kamu."
Laura meringis kesakitan, lalu berkata, "Yah, maaf, Kak. Keceplosan tadi. Khilaf aku tuh."
Sekelebat kejadian buruk itu muncul di benaknya lagi. Laura ingat betul, bagaimana neneknya terbunuh dalam kejadian itu. Laura menghela napas berat dan duduk kembali di ranjang. Mendadak pandangannya menjadi kosong ke arah depan, seakan-akan semuanya terlihat hitam di benak kepalanya.
"Kamu kenapa, Laura?" khawatir Kak Regard. "Cerita sama kakak. Jangan dipendam sendiri!" tambah Kak Regard.
"Laura." Kak Regard menggoyangkan kedua bahu adiknya agar adiknya cepat tersadar. Namun, hal yang diupayakan olehnya terlanjur gagal. Hingga kini, Laura masih melamun.
Kak Regard mencubit pipi Laura sekeras mungkin, dan berteriak tepat di samping Laura, "Woi, jangan ngelamun! Gak baik. Nanti kesamber petir, aja."
Laura pun tersadar dari kesedihannya, setelah mendengar teriakan dari Kak Regard. Kemudian, Laura menjulurkan lidahnya sambil mengaruk-garuk tengkuk kepalanya karena malu.
"Kalo ada masalah, diceritakan! Jangan dipendam sendiri!" saran Kak Regard.
"Iya, Kak. Cuma mikirin Nenek, kok."
"Yaudah, sekarang kamu makan, yak."