• | Hatred

731 Words
Siang menjelang sore hari, kedua insan itu sedang duduk di tengah-tengah hiruk-pikuk keramaian taman kota. Semilir angin menerpa wajah kedua insan tersebut. Tidak ada pembicaraan di antara mereka sedikit pun. Mereka sedang sibuk dengan dunianya masing-masing pada saat itu. "Ada apa? Lo lagi ada masalah, kah?" Arion membuka percakapan dengan pertanyaan basa-basi kepada Launa. Launa mengangguk pelan, lalu berkata, "Gue kangen, Nenek. Gue ingin dipeluk oleh Nenek lagi." "Lo harus kuat, ya. Jangan bersedih, nanti Nenek lo ikutan bersedih di alam sana, gimana?" Arion langsung memeluk Launa dan menenangkan Launa. "Iya, Arion." Laura mengangguk pelan, walaupun hati dan mimik wajahnya tak bisa dibohongi sedikit pun. Arion melepaskan pelukannya dan mencium kening Launa, sedangkan Launa tetap terdiam dengan mimik wajah kelihatan bersedih. Arion ingin sekali menghibur Launa di saat-saat seperti ini. Arion berpikir sejenak. Sekelebat ide muncul di dalam benaknya supaya Laura tak bersedih lagi. "Itu ada tokoh boneka sama es krim? Ke sana, yuk. Biar gue yang beliin. Lumayan bisa menghapus kesedihan, lo," ajak Arion bersemangat. Launa menoleh sejenak ke Arion, lalu mengucap, "Gak usah, Arion. Aku lagi gak butuh apa-apa, kok. Cuma kangen sama Nenek, aja, sih." Arion memutarkan kedua bola matanya, sedangkan Launa tetap terdiam dengan tatapan berkaca-kaca. Kemudian, Arion mengelus rambut panjang Launa. Dia mengerti betapa terpukulnya Launa atas kepergian neneknya. Maka dari itu, dia tak bisa berbuat apa-apa sekarang ini selain, menghiburnya. "Jangan sedih terus, kenapa. Senyum dikit, dong, Laura. Nanti kecantikan lo luntur." Arion membujuk Launa dengan mata berbinar-binar. Arion tak suka melihat kekasihnya bersedih semacam ini. Launa menghirup napas, lalu berucap, "Mana bisa. Gue rindu banget sama Nenek, Arion. Hidup gue jadi kosong melempong sejak kepergian, Nenek." Launa meremas pakaiannya saking kesalnya dengan kejadian itu. "Ini semua gara-gara, Laura!" "Dia harus membayar kematian, Nenek! Hidup dia gak boleh tenang sedikit pun! Dia harus merasakan penderitaan yang lebih pedih!" gumam Launa tak terima dengan hukuman yang diberikan Laura. Arion mengelus punggung belakang Laura. "Sudah … sudah … Laura sudah mendapatkan ganjarannya, 'kan. Dia sudah pernah mendekap di tahanan, bukan." "Tetap, aja. Gue gak terima kalo dia bisa bebas dari tahanan semudah itu! Dia itu pembunuh, Arion! Dia gak pantes diberikan kebebasan!" Launa memukul pahanya. Arion meraih pipi Launa, lalu berkata, "Lo harus menerimanya, Launa. Sampai kapan lo dendam seperti ini sama Laura. Dia itu saudara kembar, lo." "Gue gak peduli, Arion! Mau dia saudara kembar gue atau enggak! Gue lebih bersyukur kalo dia mati di tahanan, aja!" ketus Launa dengan nada yang tinggi. "Jangan gitu, Launa. Jaga omongan kamu. Tuhan gak suka melihat hamba-Nya seperti ini." Nada suara Arion lebih tinggi dari sebelumnya. Di waktu yang bersamaan. Dengan rasa tidak sabarnya, Mischella menghentikan seseorang—yang sedang menyapu di taman belakang rumah. Mischella menarik paksa sapu itu, lalu membuangnya ke dalam kolam renang—yang tak jauh dari area Mischella berdiri. Mischella menjulurkan lidahnya ke orang itu. "Mischella, kenapa kamu selalu ganggu kakak, sih?" tanya Laura ingin menangis melihat kelakuan adiknya seperti ini. "Emangnya gak boleh, gue ganggu seorang pembunuh kayak, Kakak!" timpal Mischella dengan sinis. "Bukannya gak boleh, Mischella. Tapi, kamu tau 'kan pekerjaan kakak di rumah ini banyak banget," ujar Laura dengan nada lembut kali ini. "Bodo amat, gue gak peduli sedikit pun. Gue ingin lihat lo menderita, Kak!" Mischella menyeringai, sedangkan Laura hanya bisa tersenyum tipis melihat kelakuan adiknya. "Asal lo tau, ya, Kak. Lo tuh gak pantes tinggal di sini!" katanya dengan penuh penekanan. "Lo tuh pantes-nya dipenjara, aja!" tambahnya. Mimik wajah Laura berubah drastis, setelah mendengar kata-kata adiknya itu—yang membuat hati dan pikirannya ikut tertohok. Sekelebat kenangan-kenangan buruk di dalam tahanan kembali terlintas di dalam benaknya. Dia benar-benar menderita selama menjalani masa tahanan pada saat itu. "Terserah kamu, aja. Tuhan tidak tidur, kok. Kakak yakin, suatu saat nanti kalian akan tahu kejadian semestinya seperti apa," ujar Laura dengan nada lirih. "Sama satu lagi, jangan bersedih kalo suatu saat nanti kakak menghilang sepenuhnya!" Laura melabuhkan kakinya menuju tepi kolam renang dengan perasaan tak karuan. Sesampainya di tepi kolam renang, tanpa Laura sadar Mischella mengikutinya dan mendorongnya hingga Laura terjatuh ke dalam kolam renang. Mischella tertawa terbahak-bahak melihat Laura berhasil terjatuh ke dalam kolam renang. "Rasain! Beban keluarga pantes dimusnahkan dari muka bumi ini!" Mischella meninggalkan Laura tanpa berpamitan sedikit pun. Laura berusaha menggerakkan kakinya agar dapat berenang ke tepi kolam renang. Akan tetapi, kedua kaki Laura mengalami kram mendadak. Laura berteriak sekencang-kencangnya. "Tolong!" "Tolong aku!" teriak Laura hampir kehabisan napas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD