Udara segar serta semilir angin sore, menghidupkan kembali jalanan kota yang baru saja tersapu hujan. Gadis mungil itu sedang duduk di bangku taman bersama kakaknya. Wajahnya terlihat murung dan sedih. Tiba-tiba seekor kupu-kupu berwarna hitam dengan bintik hitam bercampur kuning, hinggap diatas bunga sambil terus menghisap madu dari benang-benang sari di dalamnya. Sayapnya sesekali terbuka dan tertutup, membuat gadis itu merasa takjub.
"Kak, kupu-kupu itu cantik banget, ya." Laura mengembangkan kedua bibirnya sambil menunjuk kupu-kupu itu.
"Iya, kayak kamu, Laura. Kamu tuh cantik juga, kok," puji Kak Regard to the poin.
"Masa, sih, Kak? Ahh, kayaknya aku biasa saja. Aku gak secantik Launa, Kak Clara, sama Michella. Kecantikan aku tuh masih standar," sanggah Laura.
Kak Regard mengembuskan napas panjang, lalu dia kepalanya di hadapkan ke arah mata Laura, sedangkan si empunya terdiam tanpa berkata apa-apa. Dia mencubit lengan bawah si empu, hingga si empu memekik kesakitan sesudah dicubit olehnya.
"Auhh, Kak Regard! Sakit tau! Kak Regard nyebelin banget, ihh!!" pekik Laura sambil mengusap lengan bawahnya.
"Lain kali kalo ngomong tuh dijaga, Laura. Aku gak suka, kamu kayak gitu terus-terusan. Apa susahnya jaga omongan itu, sih! Padahal, jaga omongan itu gampang, Laura!" Kak Regard memasang wajah datar sekaligus tatapan tajam. Dia menggerakkan kepalanya ke arah depan.
Laura meraih punggung tangan Kak Regard, lalu dia menggenggam tangan Kak Regard dengan erat-erat. Setelah itu, dia memandang kakaknya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku minta maaf, Kak. Kalo akhir-akhir ini mulutku gak bisa dijaga sedikit pun," ucapnya dengan nada serak. "Aku minder, Kak, sama kelebihan orang-orang lain," jelasnya singkat.
"Untuk apa kamu minder, Laura? Apa ada manfaatnya jika minder? Gini, deh, dengan kamu minder, apakah rasa minder mu bisa membuat kamu bahagia? Enggak, 'kan?" tanya Kak Regard menyidik tajam.
Laura melepaskan genggaman itu, lalu menjawab, "Gak, sih, Kak. Tapi, aku ...."
"Kakak gak mau, kamu terus-terusan cari alasan untuk menutupi kesalahan kamu! Kakak capek dengan semua alasan kamu!" seru Kak Regard sambil menaikkan nada bicaranya.
Kak Regard beranjak berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke kantung celana jeans. Kak Regard melangkahkan kakinya ke depan sebanyak empat langkah. Kak Regard mengeraskan rahang bawahnya, serta menggigit bibir bagian bawahnya.
"Kak Regard, aku minta maaf. Aku salah di sini. Tolong maafin aku, ya. Jangan jauhi aku. Aku gak mau kesepian untuk ke sekian kalinya," mohon Laura sambil berdiri.
Kak Regard meninggalkan Laura sendirian di taman, sedangkan Laura terdiam mematung sambil memerhatikan kepergian kakaknya. Laura kembali duduk di kursi, lalu menepuk-nepuk keningnya sekuat tenaga. Setelah itu, Laura mengolok-olok dirinya sendiri serta memukuli kepalanya.
"Aku bodoh banget. Bodoh, bodoh, bodoh!" umpat Laura dengan nada tinggi.
Laura memukuli kepalanya, lalu berseru, "Aku orang paling bodoh diri dunia!"
Sekujur tubuhnya kehilangan tenaga. Kepalanya terasa berat jika digerakkan. Lehernya mengalami nyeri hebat. Cairan berwarna merah mendadak keluar dari hidungnya, dan mengotori celana yang dipakainya. Dia menutup hidungnya dengan telapak tangan.
"Ya Tuhan, penyakit bawahan aku kambuh lagi, nih," jeda Laura sambil mengedarkan pandangan. "Semoga, aja, penyakit ini tak separah pas kecil. Jujur aku gak suka harus di opname," risau Laura.
Sejak kecil, Laura mengidap lima macam penyakit. Lima macam penyakit yang diderita Laura, yaitu asam lambung, meningitis, anemia akut, asma, dan jantung bawahan. Dapat disimpulkan, bahwa gejala-gejala yang timbul saat ini ialah, murni gejala penyakit yang pernah dideritanya pada waktu itu. Maka dari itu, tak heran kalau Laura cemas dengan gejala-gejala yang muncul ini. Karena dahulu, Laura pernah dinyatakan kritis dan koma, malahan nyaris kehilangan nyawanya.
"Laura! Kamu harus yakin, kamu bisa sembuh dari penyakit ini!" seru Laura. "Kamu anak yang kuat, Laura! Kamu bisa melaluinya!" tambahnya.
Laura beranjak berdiri dari kursi itu. Sehabis itu, Laura mengangkat satu per satu kakinya menuju keran air. Sesampainya di depan keran air, matanya tertuju ke arah lain. Jantungnya terasa sesak melihat hal tersebut. Ada rasa iri dan cemburu di dalam lubuk hati Laura.
"Kak Regard kelihatan bahagia banget sama Launa," ucapnya. "Andaikan aku jadi Launa, hidupku enak kali, ya."
Laura menepis rasa iri dan cemburu itu, dan berkata, "Kamu gak boleh gitu, Laura. Sama saja kamu kufur dari nikmat yang diberikan Tuhan!"
Laura membuka keran air, lalu membasuh seluruh permukaan hidung dan telapak tangannya hingga bersih. Selesai membasuh, Laura melenggang jauh menuju dapur. Setiba di sana, Laura tidak melihat satu orang pun yang melintas di dapur.
"Sepertinya, penghuni rumah lagi pada keluar," ujar Laura.