Dalam hidup itu, ada bagian-bagian yang harus dilalui oleh manusia. Ada bagian di mana kita harus bahagia, susah, maupun sedih. Hidup tidak akan seluruhnya senang, ada kalanya hidup itu akan sedih. Oleh sebab itu, kita sebagai manusia dianjurkan untuk tidak berputus asa. Sebab berputus asa adalah salah satu tanda kurangnya kita bersyukur. Sebab orang yang bersyukur akan dirahmati oleh yang maha kuasa.
Hari ini ialah, hari pertama murid-murid Damaris Internasional School masuk ke sekolah, di semester kedua. Laura bangun dari tidurnya dengan alunan-alunan alami yang ada pada tubuhnya. Laura memerhatikan barang-barang di sekeliling kamarnya. Setelah diperhatikan, kamar Laura tidak ada yang berubah sedikit pun, semua barang-barangnya tertata rapi.
Laura melirik jam dinding, lalu menjerit kaget, "Udah jam segini. Astagfirullah, aku harus mandi, nih."
"Argh, semoga masih keburu ke sekolah." Laura mendengkus kesal kepada dirinya.
Laura melesat pergi ke kamar mandi serta membawa handuk kesayangannya.
***
Gedung berwarna putih bercampur biru itu telah dipenuhi oleh murid-murid Damaris Internasional School. Murid-murid yang sudah datang dan berkumpul di langai satu terlihat bahagia dari biasanya. Mereka saling berpelukan satu sama lain oleh temannya, serta berbincang-bincang mengenai liburan semester yang lalu dengan temannya.
Sepasang kaki berbalut sepatu hitam bercampur putih sedang menyusuri koridor sekolah dengan santai. Di pundaknya terdapat tali tas berwarna hitam yang berisi buku-buku pelajaran.
"La … la …." Senandung irama yang keluar dari bibirnya menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya.
"Suara Launa bagus banget!" seru salah satu murid dengan suara lantang.
"Bener banget. Udah pinter, jago nyanyi lagi, terus ramah banget."
"Arion beruntung banget punya Launa."
"Bener banget. Udah pinter, jago nyanyi pulak. Aduh, idaman banget."
"Arion sama Launa definisi pasangan yang sempurna gak, sih."
"Iya, pasangan sempurna."
Sayangnya, Laura tak menghiraukan puji-pujian itu. Bagi Laura, pujian yang didapatkannya sudah sering dilontarkan oleh kaum cabe merah dan ungu.
Launa menghentikan langkah kakinya, setelah berpapasan dengan Laura di ambang tangga utama sekolah. Launa menyorot tajam ke Laura hingga mengintimidasi. Launa mendorong tubuh Laura hingga Laura terpukul mundur dari tempat berdirinya.
"Kenapa lo masih sekolah di sini, sih! Gue jijik lihat muka, lo! Lo gak pantes sekolah di lingkungan elite kayak gini," gumam Launa dengan nada tinggi.
Laura berdiri tegak, lalu Laura merapikan seragamnya yang terlihat berantakan. Laura merapikan jepitan rambutnya agar terlihat rapi. Kemudian, Laura mengembuskan napas supaya pikirannya tak kacau.
"Padahal, kalo gue lihat-lihat, nih. Nilai lo berada di urutan 200 ke atas. Terus lo merupakan mantan narapidana lagi. Apa yang diharapkan sekolah ini ke lo! Seharusnya lo di DO, aja!" timpal Launa masih tak terima atas kepergian neneknya.
Laura menyorot wajah Launa dengan dalam-dalam. Laura memainkan jari-jemari agar hatinya dapat berkata sejujurnya. Sayangnya, Laura tak bisa berkata sejujurnya. Laura takut kalau dia berkata sejujurnya, malahan akan jadi malapetaka untuk orang di sekelilingnya.
"Sampai kapan pun, gue gak sudi punya saudara kembar kayak, lo! Lo tuh sampah masyarakat!" Launa menyenggol pundak Laura, sedangkan Laura memekik kesakitan.
Laura mengelus d**a, setelah mendapatkan kebencian lagi dari orang di sekitarnya. Laura hanya bisa bersabar untuk sekarang ini. Laura yakin dengan prinsipnya saat ini, yaitu 'Tuhan tidak tidur. Tuhan akan menolong hamba-Nya di saat tak terduga'.
Tiba-tiba ponsel Laura berdering di dalam saku seragamnya. Laura memutar malas kedua bola matanya, setelah mendengar bunyi dering dari ponselnya. Dengan terpaksa, Laura mengambil ponselnya, lalu membaca isi pesan itu. Matanya terbelalak kaget. Sekujur tubuhnya mendadak lemas dan tak bertenaga, setelah mendapatkan ancaman dari penjahat-penjahat itu.
"Begini amat, jadi aku. Sehari gak kena masalah, keknya mustahil banget kali, ya." Laura memasukkan ponselnya lagi. Laura memasang wajah datar, seakan-akan tak terjadi apa-apa dengannya.
Laura melabuhkan kakinya ke arah perpustakaan. Perpustakaan adalah salah satu tempat kesukaan Laura, setelah taman dan pantai. Sesampai di depan perpustakaan, Laura menarik ikatan tali sepatunya. Laura mengeluarkan kartu perpustakaan miliknya dan masuk ke dalam secara tenang. Kemudian, Laura mengisi daftar kunjungan pada hari ini.
Inilah yang kutunggu, batin Laura.
"Book is my life," sambung Laura dengan nada lebih kecil lagi.
Laura langsung menyusuri satu per satu rak demi mencari buku-buku yang menarik untuk dibaca. Laura berhenti sejenak, setelah membaca salah satu judul buku dari rak tersebut. Buku itu berjudul, 'Meningitis Meningkokus'. Laura meraih buku itu, lalu mencari tempat untuk duduk.
Laura duduk di tempat yang paling sepi di perpustakaan ini. "Di sini, aja, ahh."
Laura duduk dengan anggun, lalu membuka buku bacaan itu. "Mari kita baca."