Nasya rasanya ingin menghilang dari dunia ini, tetapi jika di pikir-pikir lagi dia tidak harus patah semangat karena lelaki seperti Natan itu, dia melanjutkan bacaan bukunya dengan perasaan sedikit serak.
beberapa menit yang lalu ketika Natan berjumpa dengan Nasya, dia bahkan seperti marah padanya tetapi tidak di tunjukkan sikapnya itu. lelaki ini kadang sangat cepat berubah pikiran hanya karena ada yang lebih di sisinya, Della bahkan merasa seperti di atas awan namun perasaan itu tidak di tunjukkan ya , itu karena dia adalah wanita yang sangat mementingkan penampilan dan harga dirinya.
"Nat.."kamu kok bisa pacaran sama Nisya sih? tanya Della saat mere sedang mengobrol berdua di. lingkaran yang tidak jauh dari tempat Nasya, sepertinya wanita ini mencoba memprovokasi Natan dengan cara yang halus, " entahlah, mungkin saat itu kami masih belum dewasa saja hingga berlanjut sampai saat ini" jawab Natan singkat " Nasya itu dulu sangat menggemaskan dan terlihat sangat lemah, sehingga aku merasa harus dekat dengannya dan melindunginya," kata Natan lagi . " Tan.. itu namanya rasa kasihan pada sesuatu tetapi bukan cinta, kamu harus bisa bersikap dewasa agar Nasya bisa tau , jika kamu tidak cinta padanya," kata dela lagi.
Natan"..." entah mengapa sepertinya Natan menerima dengan baik perkataan Della, dia bahkan mencoba menerima apa yang seharusnya bisa dia lakukan sendiri. kadang perasaan manusia itu berubah-ubah , entah saat itu kamu masih menginginkan pasanganmu atau engkau bosan padanya, tetapi ketika kita telah melepaskan dia , maka persiapkan mental yang kadang bisa melukai hati secara perlahan.
" aku harus menjelaskan pada Nasya," batin natan , dia bahkan lupa bagaimana dulu mereka bersama hingga tiga tahun ini.
" oke, aku akan menjelaskan padanya tetapi tidak untuk saat ini , aku takut dia tidak bisa belajar dengan baik karena saat ini kita akan menghadapi ujian penglulusan
" kata Natan pada Della, wajah Della yang awalnya sedikit takut , saat itu tampak ada senyum di bibirnya. " jangan terlalu di pikirkan Nat.., kaku juga harus memikirkan dirimu sendiri bagaimana agar bisa lulus ," Della memberi semangat pada Natan, tetapi sebenarnya dia ingin menjadi seorang pengganti.
Nasya telah mendengar pernyataan Natan , dan dia sudah tau saat itu siapa sebenarnya Della, wanita itu bahkan awak kemunculannya sudah terasa ada hawa jahat di dirinya.
Natan bisa di bilang sedikit tampan tetapi keluarganya juga bukan orang kaya, ayahnya sudah lama meninggal dunia saat Natan masih kecil, jadi dia hidup dengan ibu dan kakak perempuannya, mereka memiliki usaha ruko yang tidak terlalu besar. karena Natan sudah bercita-cita sejak kecil ingin merubah hidupnya agar bisa menjadi orang sukses, mulai saat dia duduk di bangku sekolah dasar dia sudah belajar dengan giat agar mendapatkan nilai yang memuaskan.
" Bu.. Natan berangkat sekolah ya," kata Natan pamit sama ibunya sembari mencium tangan ibunya, tok tok suara pintu di ketuk, Natan"..." "siapa Nat.."? " apakah Nasya"? batin natan, selama mereka berpacaran , Nasya pernah berkunjung kerumahnya tetapi hanya beberapa kali saja, bibi membuka pintu " eh nona Della, nunggu Natan ya.. " " iya bi..." jawab Della. Natan sebenarnya terkejut dengan kedatangan Della di rumahnya, dia sedikit tidak senang karena dia tidak biasa menerima tamu pagi seperti ini, kan dia mau berangkat sekolah . sekalipun itu adalah teman sekolahnya, Nasya dulu pernah menanyakan apakah boleh berkunjung kerumahnya untuk berangkat bersama ke sekolah, tetapi karena Natan tidak suka , maka Nasya hanya datang saat sore hari di hari Sabtu dan Minggu , itupun kedatangannya bukan hanya sekedar basa-basi tetapi ingin membahas pelajaran.
" Nat.. ada nona Della menunggu di luar, apa harus saya suruh masuk"? "iya suruh masuk aja " kata ibu Natan " jangan bi.. aku udah mau ke sekolah biar nanti barengan aja sama Della" Natan langsung bergegas ke depan dan menemui Della. " Nat.. maaf ya ,soalnya papa aku berangkat kerja pagi sekali, aku bangunnya telat, jadi aku ke sini aja bareng kamu .. boleh"? Della berkata dengan nada yang lemah lembut " oh iya, Natan menjawab dengan nada sedikit tidak rela.