Sejak mengetahui kabar kematian putri bungsunya, tak mengherankan bagi siapapun yang melihat kemurkaan Patricia Mallette. Usai pemakaman yang dihadiri oleh orang-orang terdekat, Patricia membuat perhitungan dengan Lord Robbespierre. Dalam satu ruangan itu, kedua penyihir berbakat tersebut saling melemparkan tatapan tajam, berspekulasi dengan setiap penekanan pada nadanya. Raut wajah kesedihan serta amarah masih terlihat sangat jelas. “Ini semua karena kau,” katanya pelan. “Jika kau bisa menindak lanjuti destroyers itu, anakku masih hidup. Apa kau belum puas? Hm? Belum puas menyiksaku secara perlahan?” “Itu sebuah kecelakaan,” balas Lord Robbespierre, menjaga agar nadanya terdengar tenang. “Kecelakaan kau bilang? Kecelakaan?!” Patricia menerjang Lord Robbespierre, meraih kerah pria itu s

