14

3713 Words
Justin’s POV Pukul 10.45 siang aku baru sampai di Los Angeles. Ketika kakiku menginjak lantai rumah, raut wajah kebingungan Jazmyn yang pertama kali kulihat. Ditiliknya penampilanku dari atas ke bawah seolah mendapatkan sesuatu yang salah. “Minggir, aku mau masuk ke dalam,” kataku malas. Sebelah alis Jazmyn menukik ke atas tampak tak suka dengan nada yang kuberikan baru saja .”Ah, aku bisa merasakannya.” Dihelanya napas pendek, lantas membuka pintu rumah sangat lebar. “Mumpung Mom tidak ada, cepat pergi ke rumah Lord Robbespierre dan tengok Axeline.” Mimpi apa Jazmyn bisa melunak seperti itu? Bukankah dari awal dia juga tidak suka jika aku berdekatan dengan Axeline? Lantas, apa maksudnya memberi kesempatan padaku seperti yang diucapkannya baru saja? Seolah menyadari pertanyaan yang berseliweran di kepalaku, Jazmyn terkekeh pelan. “Jangan mencurigaiku seperti itu. Seharusnya ini yang kulakukan sebagai adik untukmu.” Jazmyn memalingkan muka seketika. “Kalau aku jadi kau, aku akan melakukan tindakan yang sama. Walaupun… Mom sering memberitahuku bahwa cinta sejati itu hanya ada dalam buku dongeng, aku ingin membuktikan apakah ucapannya benar. Melalui kau.” Entah mengapa aku justru tertawa. Kutepuk puncak kepalanya pelan, seperti yang biasanya kulakukan ketika kami masih kecil. “Terima kasih.” Segera kulenggangkan kakiku menuju kamar untuk berbenah, dan bisa secepatnya pergi ke rumah Lord Robbespierre. Seperti biasa tentu saja, menyelinap melalui jendela dengan licin bak seorang maling. Hanya pintu itu yang selalu terbuka, jalan masukku untuk bertemu dengan Axeline. Kembali lagi kekhawatiran mampir di pikiranku. Apa yang dilakukan Axeline sekarang? Masihkah tidak sadarkan diri? Aku tahu Bibi Charlotte akan—atau sudah—menghubungi Mom, mengabarkan bahwa aku kembali ke Los Angeles. Ketika aku bangun dan hendak mengecek jadwal penerbangan menuju Los Angeles, Hillary sudah tidak ada, hanya meninggalkan selimut tebal yang menutupi tubuhku. Aku jadi merasa bersalah. Aku telah menyakiti perasaan dua orang sekaligus. Tidak seharusnya kulakukan hal seperti itu, yang justru memperlihatkan bahwa aku memang seorang b******n. Kulajukan mobilku meninggalkan rumah, bersiap menyusup lagi ke dalam kamar Axeline untuk melihat keadaannya. Perasaan was-was masih menggelayuti dasar hatiku. Ini belum seberapa. Jika aku hampir gagal di tantangan pertama, tantangan selanjutnya pasti lebih rumit, dan aku tak boleh masuk ke dalam lubang yang sama. Terdengar dering ponselku yang ada di jok sebelah. Segera kuraih ponsel itu sambil melihat display; nama Cody terpampang di sana. “Bro, destroyers berbuat ulah lagi. Mereka membantai satu keluarga beberapa menit yang lalu,” ujarnya. “Kenapa kau melapor padaku? Bukankah kita belum diberi wewenang mengatasi mereka?” “Duh, kalau menunggu surat keputusan dari Lord Robbespierre, jumlah anggota yang mereka bunuh akan semakin bertambah!” “Lalu, kau memintaku untuk menjaring mereka setelah mereka pergi dari lokasi? Jangan konyol.” Aku memutar bola mata jengah “Ngg… aku kan hanya memberitahumu.” “Lain kali, beritahu aku ketika kau dan yang lain berhadapan dengan mereka. Jangan—” Mataku membelalak lebar melihat sebatang pohon yang mendadak roboh. Secara instingtif, ponsel di tanganku jatuh ketika tanganku memutar kemudi untuk menghindar. Terdengar bunyi decitan dari ban mobil yang bergesekan dengan jalanan aspal. Mobil ini berputar-putar, dan dalam hati aku berdoa agar tidak menabrak batang pohon itu. Kuhela napas panjang telah berhasil menghindari batang pohon di depan sana; jarak antara kap mobil dengan batang pohon itu terhitung beberapa senti saja. Siapa yang melakukan ini? Kepalaku bergerak untuk mengedarkan pandangan ke seluruh tempat. Kanan-kiriku adalah hutan belantara. Pasti ada yang merobohkan pohon sebesar itu. Pertanyaannya hanyalah satu, siapa yang melakukan itu? Mataku menangkap empat sosok yang duduk di atas dahan-dahan pohon berbeda, tengah memandangku dengan sorot mata sama. Bibirku sedikit bergetar mendapatkan pelakunya. Tentu saja destroyers k*****t itu. Belum sempat aku turun dari mobil untuk berhadapan dengan mereka, keempat penyihir itu menghilang bersamaan dengan kelebatan bayangan hitam. Aku menggertakkan gigi kesal. Berani sekali mereka bermain api denganku. Apa maksud mereka menghadangku di jalanan sepi seperti ini? Kumundurkan mobil ini beberapa meter. Baru aku memejamkan mata beberapa detik dan ketika kedua mataku terbuka, pohon itu sudah berdiri lagi, nyaris seolah tak pernah roboh. Aku menarik napas panjang, lantas menekan pedal gas melajukan mobilku lagi. Rumah Lord Robbespierre tak pernah sepi penjagaan ketat. Kali ini kuparkirkan mobilku agak jauh dari pagar, kemudian mengendap-endap melewati jalan yang sering kugunakan untuk menyusup. Butuh kecermatan dan cekatan jika ingin masuk ke dalam rumah ini tanpa ketahuan oleh siapapun; termasuk selamat dari semua ajudan. Jendela kamar Axeline terkunci, tidak seperti biasa. Namun bisa kulihat sosok malaikatku itu, tengah berbaring menggerakkan anggota tubuhnya; lebih tepatnya dia kelihatan sedang membaca sesuatu. Aku membuang napas lega mengetahui bahwa dia sudah sadar dan kelihatan lebih baik. Hanya dengan sekali sentuhan, jendela yang tadinya terkunci berhasil kubuka. Axeline terperanjat kaget melihat kedatanganku itu. Namun buru-buru ekspresinya diubah, menjadi lebih ceria. Aku menghambur mendekatinya, lantas memeluknya sangat erat. “Aku merindukanmu,” ujarnya lemas. Suhu tubuhnya memang sedikit panas. Sepertinya dia belum sembuh total. Aku mengelus rambutnya yang seperti pintalan benang sutra, sambil sesekali mencium puncak kepalanya. “Aku juga,” balasku pelan. “Maaf.” “Maaf untuk apa?” Kulepaskan pelukanku, melihat dua lensa mata Axeline yang tampak sayu sekaligus teduh. Wajahnya masih kelihatan lebih pucat daripada biasanya. Sungguh, aku tidak tega melihat keadaannya seperti itu seakan sebagian rasa sakitnya bisa kurasakan dengan detail. Setidaknya selang oksigen sudah tidak terpasang di hidungnya. Hanya ada infus dan beberapa alat, seperti rewarm. Lagi-lagi lidahku terasa sangat kelu. Aku tak bisa mengatakan kejujuran itu, tak bisa menyakiti perasaan lembutnya yang seperti potongan kapas. Tapi lebih menyakitkan lagi jika dia tahu aku berbohong serta menyembunyikan banyak hal. “Aku ingin minta maaf. Kau boleh tidak memaafkanku, menghukumku, mengusirku dari sini, apapun lakukan saja.” Sebelum dia membuka mulut untuk bertanya yang lebih, kusentuh kedua pipinya, dan dia membalas sentuhan itu, menggenggam tanganku. Seluruh pikiranku kupastikan dibaca olehnya. Kedua matanya terpaut dengan mataku. Pupilnya mendadak membesar, seolah berhasil membaca dan melihat apapun yang ada di kepalaku. Aku tak bisa melihat tatapan terluka itu, benar-benar tidak bisa. Mendadak Axeline mengubah ekspresinya. Bibirnya merekah membentuk senyuman lebar, seperti biasa yang diberikannya padaku, seakan apa yang baru saja kuperlihatkan padanya tak mengganggu sedikit pun. “Terima kasih sudah mau jujur padaku,” katanya lebih pelan. “Aku tahu kau marah. Kau pasti membenciku. Aku—” Telunjuk Axeline didekatkan pada bibirku, menginterupsi kata-kata yang hendak kuselesaikan. “Aku tahu, aku bisa mendengar pikiranmu, aku bisa melihat bayangan itu. Tapi aku tidak marah. Kau jauh-jauh datang kemari untuk melihatku, menembus hujan yang lebat, tidur di bandara demi mengejar pesawat dan menemuiku, itu sudah menjadi bukti bahwa kau masih memegang janjimu.” Lagi-lagi dia menggenggam kedua telapak tanganku sangat erat hingga bisa kurasakan hantaran panas tubuhnya. Aku mengelus sebelah pipinya yang menyembunyikan rona merah samar, tertutupi oleh kepucatannya. Sungguh bodohnya aku sempat mengkhianati kepercayaan makhluk indah seperti dia. “Aku merindukan tempat peri itu. Juga rumah Bibi Dorothy,” lanjutnya. “Bolehkah kapan-kapan kita pergi ke sana?” “Tentu saja. Akan kubawa kau kemanapun yang kau inginkan.” Hal yang paling kusuka darinya adalah senyum itu. Yang setiap saat diberikan padaku. Senyum yang kurindukan, benar-benar kurindukan. Meskipun wajahnya sepucat itu, tak menghilangkan sedikit pun keindahan senyum yang diulaskannya, atau pendaran kecantikannya. “Aku merindukan senyum itu,” kataku lagi. Dia membalasnya dengan tawa pelan. “Sungguh?” Tak kubalas pertanyaannya baru saja. Kedua tanganku menyentuh pipinya lembut, lantas kudekatkan wajahku pada wajahnya saat dia mulai memejamkan mata. Dengan lembut dan perlahan, bibirku menempel pada bibirnya. Semua kerinduan itu kutumpahkan melalui ciuman itu. Bagaimana bisa aku menyimpulkan bahwa Hillary dan Axeline sama? Setelah kupikir lagi, mereka sangat berbeda. Perasaan seperti ini, ketika mencium Axeline, sungguh berbeda saat bersama Hillary. Jantungku lebih bertalu-talu hampir lepas dari rongganya. Lebih tepatnya, aku tak dapat menggambarkan detailnya; terlalu indah untuk digambarkan. Bisa kurasakan kehadiran orang lain di sini, membuka pintu kamar Axeline, dan berdiri terpaku. Tapi aku tak peduli. Kali ini tidak ada yang boleh mengganggu waktuku bersama Axeline, yang sempat terampas dan hampir membuatku meninggalkannya. Sama halnya denganku, Axeline tampak tak terlalu memedulikan suasana sekitarnya, lebih memilih untuk mencurahkan rasa rindunya itu dengan melumat bibirku. Bahkan bisa kudengar napasnya yang terengah-engah, tak ingin sedikit pun ada jeda di antara kami. Sampai terdengar suara pintu ditutup sangat pelan. Namun tetap saja, kami tak memisahkan diri sedetik pun. *** Zach’s POV Aku duduk termangu di atas tangga yang menghubungkan jalan masuk menuju pintu rumah Lord Robbespierre dengan jalanan beraspal. Kuamati sekali lagi sebuket mawar merah yang seharusnya sudah ada di atas meja Axeline. Namun bunga malang ini harus kusia-siakan. Kubuang buket bunga itu ke atas tong sampah, lantas menghembuskan napas berat. Harusnya sesuai perintah Lord Robbespierre, aku menjaga Axeline dengan baik, mengusir keberadaan Justin jika dia datang kemari. Akan tetapi, semua perintah yang dititahkan Lord Robbespierre padaku tak kuhiraukan. Tidak peduli apakah suatu saat nanti dia mencabut keputusannya, dan akhirnya menghukumku dengan hukuman mati. Setidaknya aku melindungi Axeline sesuai perintah ibuku, tanpa syarat apapun. Tak peduli apakah dia akan membalas perasaanku atau tidak. Itulah yang seharusnya dilakukan oleh orang sepertiku. Aku merasa menjadi pengkhianat untuk dua kelompok. Ini semua pun kulakukan demi kebahagiaan Axeline. Bagaimana juga, dia hanya manusia biasa, yang diberikan Tuhan sebuah perasaan mencintai seseorang. Hanya saja perasaan itu tidak akan pernah diberikan untukku. “Kuamati sedari tadi kau tampak murung dan memendam kesal,” saut sebuah suara yang datang dari arah belakang. Seorang pria berjas duduk di sebelahku. Aku mengenalnya sebagai Alvero, pria paruh baya yang menghabiskan waktunya menjadi pelayan setia di rumah Lord Robbespierre. Lagi-lagi kuhela napas pendek. Mungkin menahan segala gejolak emosi di dalam diriku. Semuanya terasa begitu jelas. Tak hanya rasa sakit dan cemburu melihat Justin dan Axeline di dalam kamar itu. Jika aku seperti dulu, seorang destroyer yang tak bisa mengendalikan diri, mungkin pepohonan yang berbaris rapi di sekitar rumah ini hancur oleh tanganku sendiri. “Hanya… ah sudahlah, kau tak perlu tahu,” balasku malas. “Aku bisa merasakannya, jangan menutup diri seperti itu.” Alvero tertawa pelan. “Pasti kau dkuasai oleh perasaan cemburu, kan?” Bibirku tercebik ke bawah, tanpa membalas kalimat yang menurutku langsung kena di hati. “Aku jadi teringat seseorang yang juga dibutakan oleh kecemburuan. Hingga sekarang mencoba segala cara untuk membalas dendamnya, berusaha keras menyakiti perasaan anak turun-temurun orang yang pernah dicemburuinya itu.” Sebelah alisku terangkat naik mendengar cerita pendek Alvero. Belum-belum aku tahu siapa yang dimaksud Alvero. Siapa lagi kalau bukan Patricia Mallette? Aku tahu cerita itu dari ibuku. “Kudengar, dulu Patricia adalah seorang penyihir yang lembut, bahkan untuk menyakiti seekor semut pun dia tidak berani.” “Benar sekali.” Alvero menghembuskan napas pendek. “Aku harap kau bisa belajar banyak hal. Cinta sejati datang sendiri dan tidak dipaksakan.“ “Mengapa kau mengatakan itu?” Aku menautkan alis heran. Tidak mungkin seorang sopir yang sangat loyal dan dipercaya Lord Robbespierre seakan-akan mendukung Axeline dan Justin. Bukankah seharusnya dia lebih pro pada Lord Robbespierre yang memberikan belas kasihan padanya? “Aku tahu segala hal yang dilakukan oleh mereka berdua, Justin dan Axeline. Dan kurasa, memisahkan mereka sama saja seperti membunuh salah satunya. Hukuman membunuh seseorang yang tak bersalah adalah guillotine, bagi Mutant Wizards.” Rahang Alvero sedikit mengeras seolah tak ingin membeberkan sesuatu yang tampak mengganjal di pikirannya. “Lagipula, aku ingin melindungi dan menjaga dengan baik young lady, seperti yang sering diamanatkan LadyAudrey. Sering kali dia menasehatiku untuk tak menuruti perintah Lord Robbespierre bila itu menyusahkan siapapun. Termasuk putrinya.” Kini pandangan Alvero tampak menerawang jauh ke atas potongan awan yang saling bekerjaran satu sama lain dalam gerakan lamban. “Young lady sangat mirip dengan ibunya. Keras kepala, berpendirian keras, mempertahankan haknya, sungguh cetakan yang sempurna.” “Jadi intinya, kau mau menasehatiku atau apa?” Aku mengubah nadaku. Entah mengapa ini lebih seperti curhatan daripada nasehat. Alvero tertawa pelan, seakan dari yang diucapkannya baru saja mengandung kesalahan fatal. “Intinya, belajarlah melepas seseorang yang kaucintai, biarkan dia terbang seperti burung, mencari pasangannya dan membuat sarang.” “Wow, kau mengatakan tiap katamu dengan puitis seolah kau pernah merasakannya.” “Karena aku pernah berada di posisimu, Zach.” Dahiku berkerut mendengar pengakuan itu. Setahuku, memang Alvero tak memiliki istri ataupun anak. Yang dilakukannya hanyalah mengabdi pada keluarga Robbespierre. Dan ucapannya itu, justru mengundang tanya bagiku. “Oh sungguh?” tanyaku. “Ya. Apa yang diharapkan oleh pesuruh sepertiku ketika mencintai majikannya? Seperti pungguk merindukan bulan, kan?” Alvero tersenyum lebar, kemudian beranjak dan menepuk bahuku, sebelum akhirnya melenggang pergi meninggalkan aku yang terkesiap mencerna kalimatnya baru saja. Aku menggigit bibir, menyadari bahwa orang yang dimaksud sebagai kata ‘majikan’ itu adalah Audrey Robbespierre. Hell, cinta memang rumit. *** Caleste’s POV Sekelebatan destroyers itu muncul seperti lesatan anak panah, mengecoh kami yang saling mengejar untuk menghentikan mereka. Kali ini tak ada basa-basi lagi. Aku yakin jika tidak sekarang, mereka bisa mencelakakan lebih banyak penyihir lagi. Dan mereka bukanlah orang bodoh yang akan muncul di sekolah setelah liburan usai, seperti kumpulan i***t. Tentunya, mereka tak akan mau menampakkan diri lagi di sekolah setelah aku, Cody, dan Austin mulai mengejar mereka, bersiap menyudik keempat Exterminators itu. Tidak kulihat tanda-tanda bahwa mereka berhenti di jalanan ini. Larinya sangat cepat, seperti sekumpulan banteng yang ditunjukkan kain merah. Sial, aku kehilangan jejak mereka. Kutengadahkan kepalaku melihat Cody dan Austin yang duduk di atas dahan pohon, mengamati pergerakan keempat penyihir pembuat onar itu. “Ah, kita kehilangan jejak!” rutuk Austin. Aku melompat naik ke atas dahan yang tinggi di sebelah Austin, mencari-cari jejak yang barangkali ditinggalkan oleh mereka. Seharian ini mereka berhasil membunuh banyak Mutant Wizards. Ya, apa lagi kalau tidak mengumpulkan roh-roh itu untuk diberikan pada pemimpin mereka demi langkah keabadian. Upacara keabadian itu akan dilakukan pada malam bulan purnama. Malam yang mistik dan sesuai bagi mereka. Bersama-sama, kami turun dari atas dahan pohon yang tinggi, melanjutkan pengejaran itu kemana pun angin membawa aroma mereka. Aku lebih menajamkan indera penciumanku, merasakan bau parfum salah satu dari mereka. Sangat kuhapal sebagai parfum Liam, siapa lagi. Arah mereka menghilang menunjuk ke selatan. “Sana!” seruku sambil menunjuk arah selatan, lantas berlari bersama Cody dan Austin mengejar para destroyers melalui aroma yang ditinggalkan Liam di udara. Kelebatan bayangan itu menghilang lagi. Salah satu dari mereka muncul di balik pohon, seolah mencemooh kami. Aku menggeram kesal merasa seperti dipermainkan oleh keempat makhluk itu. Henry muncul di balik pohon lainnya, yang otomatis dikejar oleh Cody. Sedang, Nathan bergelantungan di dahan pohon dengan posisi kepala berada di bawah. Austin menerjang pohon di mana Nathan bergelantungan. Namun dalam kecepatan bak peluru sniper, Nathan menghilang begitu saja. Austin tetap bersikukuh mengejar pemuda pirang itu. Aku berdiri dengan sikap defensif, merasakan adanya ketidakberesan dari semua ini. Dari arah kanan dan kiriku, muncullah Liam dan Luke. Mereka mengepungku. Sial sekali. “Inilah salah satu teman kita yang sangat pemberani,” tukas Liam dengan nada mencemooh. “Caleste Jane Kierkegaard.” Luke berdecak memuakkan. Kedua bola mataku melirik untuk membagi pandangan antara Liam dan Luke. Bisa-bisa kalau aku kehilangan fokus dan lengah, keduanya dengan mudah menyerangku. Aku menangkap gerakan samar dari Liam, maka kuhalau serangan mendadaknya dengan membuat daun-daun yang digerakkannya menjadi tornado kecil membeku seperti es. Lantas pergerakan Luke tertangkap oleh indera penglihatanku. Dia mencoba-coba menyerangku menggunakan sinar ultraviolet dari terik matahari yang tampak menerangi hutan ini. Lagi-lagi aku menangkisnya dengan baik, melalui sebuah dinding berlapis es yang kuciptakan, memantulkan cahaya itu dan menyerang balik Luke. Beruntung sekali dia dapat menghindari serangan buah simalakamanya sendiri. Kedua destroyers itu mulai menyerangku secara bersamaan. Dua-tiga kali aku terkena serangan mereka. Tak kurang pula luka yang kutorehkan di sekujur tubuh mereka. Sudut bibirku mulai mengeluarkan sedikit darah, dan aku tersungkur jatuh saat satu tendangan kuat dihantamkan Liam padaku. Aku berdiri tertatih sembari mengusap darah yang kelar dari sudut bibirku. “Sudah cukup mempermainkan makhluk cantik seperti dia,” ujar Liam. Aku meludah dengan sikap jijik. “Jangan bilang kalian berubah menjadi pengecut.” “Kami sedang tidak bernafsu untuk berkelahi,” lanjut Luke malas. “Ayo pergi dan kembali fokus pada tugas, Liam. Satu korban sedang menunggu kita di kediamannya.” “Ah, ya. Aku tertantang mencium bau kasturi di pekarangan rumah Justin. Ayo.” Dalam sekejap saja mereka menghilang di balik dedaunan yang terbang membungkus tubuh mereka. Sambil memikirkan kalimat yang diucapkan oleh Liam dan Luke baru saja, Cody serta Austin muncul secara tiba-tiba di sebelahku. “Aku kehilangan jejak Henry,” kata Cody sembari mengatur napas memburunya. “Sama.” Austin membuang napas panjang. Kuingat lagi ucapan Liam. Dia menyebut bau kasturi di pekarangan rumah Justin. Beberapa detik setelah memikirkan kalimat itu, ada setruman kuat dalam kepalaku hingga membuat aku tersentak kaget. “Astaga, mereka menuju rumah Justin!” seruku. “Mau cari mati ya?” Tampaknya Cody belum tahu apa maksudku. Sama halnya dengan Austin yang mengedikkan bahu. “Guys, Bibi Patricia tidak ada di rumah. Justin pergi ke rumah Axeline. Dan tinggal Jazmyn yang ada di sana! Mereka bisa membunuhnya, karena Jazmyn tidak memiliki perlindungan apapun!” Tanpa menunggu respon Cody dan Austin, aku berlari dalam kecepatan penuh meninggalkan hutan. Di belakang, Cody serta Austin menyusul. Jika tidak secepatnya kami sampai di sana, bisa-bisa Jazmyn tidak selamat. Aku harus mengabarkan Justin soal ini agar dia bisa pulang dan menengok adiknya. *** Bunyi-bunyi gaduh terdengar sampai di kamar Jazmyn, yang otomatis membuat gadis itu beranjak untuk mengecek apa yang terjadi di rumahnya. Tak hanya panci yang dijatuhkan atau piring yang dipecahkan. Bunyi lainnya seperti hantaman keras terdengar sangat jelas. Dengan langkah penuh perhitungan, Jazmyn mencoba mengecek lokasi datangnya suara itu. Jantungnya berdegup lamban, sesuai langkah kakinya. Matanya bergerak ke sana-sini memastikan rumahnya dalam keadaan baik-baik saja. “Patricia memiliki selera yang bagus.” Sebuah suara mengejutkan Jazmyn. Matanya membeliak ngeri mendapati empat pemuda yang dikenalnya sebagai destroyers sekaligus kakak kelasnya, memenuhi ruang santai, memandangi dekorasi ruangan tersebut. Tampak di sana, Liam duduk dengan kaki yang diangkat ke atas meja. “Dari dulu aku ingin masuk ke dalam rumah ini,” tegasnya. “Seperti apakah rumah seorang Justin Beirne yang dibangga-banggakan banyak gadis t***l di sekolahan.” Sambil mengambil sebilah pedang yang dipajang di tembok dekat ruang santai, Jazmyn mengendap-endap masuk ke dalam. Lantas diayunkan pedang itu hendak menyentuh kepala Liam. Secara impulsif, Liam menghindar dari terjangan Jazmyn sehingga pedang tersebut menebas sebagian sofa, meninggalkan bulu-bulu beterbangan. Jazmyn memberi sikap kuda-kuda, menatap liar pada empat pemuda di depannya kini. “Sudah lama aku tidak melihatnya di sekolah,” tutur Henry. “Makin lama makin cantik saja.” “Apa yang kalian lakukan di sini?” bentak Jazmyn seraya menodongkan pedang tersebut. “Menjemputmu, Tuan Putri,” balas Liam dalam gerakan hiperbolis. “Untuk pergi ke surga.” Sudut bibir Jazmyn terangkat. “Jangan coba-coba mendekat!” “Aku malas berbasa-basi, langsung habisi saja dia.” Luke tampak tak suka dibuat menunggu oleh ketiga kawannya. Tanpa banyak bicara lagi, Liam mulai menjalankan tugasnya. Sebuah cahaya sedang dengan sambaran listrik muncul dari sebelah telapak tangannya. Mata Jazmyn membeliak ngeri melihat cahaya yang dialiri listrik tersebut. Ketika Liam melemparnya ke arah di mana Jazmyn berdiri, gadis tersebut melompat ke samping, menghindari seberkas cahaya yang bisa saja membunuhnya detik itu. Akibat ledakan kecil itu, tembok rumah keluarga Mallette mengelupas meninggalkan bekas kehitaman. Patung kecil yang sempat terkena ledakan itu juga jatuh dan pecah. Jazmyn tahu bahwa keempat penyihir itu mendapatkan kekuatan mereka jika bertemu dengan sumber energi. Maka dengan cepat Jazmyn berlari menghampiri tombol lampu, lantas mematikannya agar ke empat penyihir itu tidak mendapatkan sumber energi apapun. “Dia minta cara yang lebih kasar,” tukas Nathan pelan. Sebelah alis Henry terangkat tidak suka. Sungguh sial, Jazmyn terjebak di sudut ruangan dengan pedang yang teracung siap dihunuskan. Walaupun dia dibekali ilmu pedang, namun keberaniannya dalam menghadapi empat Exterminators itu lenyap, menghilangkan segala kemampuan ilmu berpedangnya, menciutkan nyalinya. Andai saja Jazmyn bisa menghilangkan perasaan takut itu, dia bisa mengaplikasikan dengan baik setiap pelajaran yang pernah diajarkan oleh ibunya. Sayangnya, sekarang ketakutan itu mematikan seluruh sistem kerja tubuhnya, sampai-sampai tak dapat mempertahankan pedang yang digenggamnya, yang kini berhasil direbut oleh Henry. Jazmyn menggelengkan kepala, meminta belas kasihan dengan uraian air matanya. “Kumohon, jangan.” “Sayang sekali, aku harus memenuhi tugasku, Jaz.” Dalam hitungan detik, Henry menghunuskan pedang yang digenggamnya itu pada Jazmyn. Terdengar suara seruan senang di belakangnya, sedangkan Jazmyn mulai kehilangan keseimbangan tubuhnya seraya menyentuh bagian tubuhnya yang ditusuk oleh Henry. Darah merembes dari pakaian, dan tampak memenuhi telapak tangan Jazmyn. Dalam sekejap, dia limbung di atas lantai dibarengi tawa menggelegar para destroyers itu. “Minggir.” Liam menepis bahu Henry untuk mendekati tubuh Jazmyn yang mulai melemah. Didekatkan botol kecil dalam genggamannya pada bibir Jazmyn, hingga muncullah cahaya berukuran kecil dari mulut Jazmyn, masuk ke dalam botol itu. Setelah cukup puas dengan hasil kerja mereka, keempat destroyers tersebut segera meninggalkan ruang santai keluarga Mallette, menghilang cepat sebelum ketahuan oleh siapapun. Tak berselang lama, Justin yang berlari gaduh memasuki rumah muncul ke dalam ruang santai itu seraya meneriakkan nama Jazmyn berkali-kali. Matanya menangkap tubuh adiknya yang tergeletak di pojok ruangan. ”Jazzy!” Justin berteriak lantang, mendekati adiknya yang telah terbujur kaku. Dengan gusar, Justin duduk di dekat adiknya itu, memastikan apakah masih ada denyut nadi yang berdetak dari pergelangan tangannya. “Jaz, Jaz! Bangunlah!” Tak ada tanda detak nadi maupun jantung Jazmyn yang dirasakan oleh Justin. Darah terpompa deras dari jantung Justin yang berdetak sangat kencang. Dia berusaha semaksimal mungkin menyadarkan adiknya, dengan berulang kali menekan jantung adiknya agar kembali berdetak. Namun apa daya, Justin gagal mengembalikan adiknya yang kini sudah tak bernyawa. “b******k!” teriaknya lantang, tak kuasa menahan air mata yang mulai mengumpul di kedua pelupuk matanya. “b******k!” Begitu kuat emosi yang menyala dan berkobar dalam dirinya, hingga membuat Justin meremas helaian rambutnya, menahan kesal, lantas berdiri dan memecahkan guci besar yang tak berada jauh di dekatnya. “Aku lalai menjaganya. Aku lalai menjaga adikku sendiri!” teriaknya lantang, diimbangi dengan suara isak tangisnya yang menggema di seantero ruangan. Kepalanya tertunduk, dan butiran air mata turun membasahi lantai marmer tempatnya berpijak. Tubuh Justin bergetar menahan amarahnya. Kedua telapak tangannya tergenggam kuat, seperti siap untuk melayangkan tinjuan pada siapapun yang ada di sekitarnya. Kedua matanya memicing, sementara napasnya memburu seperti pacuan kuda, dan ujung-ujung bibirnya bergetar hebat. Yang ada dalam benaknya hanya ada satu pikiran tertanggal di rongga kepalanya. Yakni melenyapkan seluruh destroyers yang membunuh adiknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD