13

3058 Words
Segelas wine pada gelas berkaki panjang tergenggam kuat di tangan Patricia Mallette. Diamatinya keadaan kota Los Angeles pada malam pergantian tahun itu sambil sesekali menyesap wine tersebut. Sebelah tangannya menggenggam telepon tanpa kabel yang kini tersambungkan dengan seseorang, yang tak lain adalah adiknya sendiri, Charlotte. “Bagus. Aku sungguh berterima kasih padamu. Tak salah kuandalkan kemampuanmu yang satu itu,” ujar Patricia seraya menumbukkan tatapan kosong pada bentangan luas gedung-gedung bertingkat serta cahaya lampu yang bersinggungan dengan kembang api. “Bukankah itu… keterlaluan? Aku tidak tega harus melakukan itu, Pattie.” “Yang kuinginkan hanyalah Justin melupakan gadis itu. Demi menyelamatkan dia dari hukuman juga.” Sebagian pikirannya memberontak ingin mengatakan bahwa nafsu balas dendam atas sakit hati yang dirasakannya juga sebagai alasan utama mengapa dia tega melakukan itu semua. “Terus lakukan tugasmu ketika dia berdekatan dengan Hillary.” “Satu hal lagi. Bagaimana kalu dia sadar sudah dimanipulasi?” “Well, biar aku saja yang bertindak. Bolehlah dicoba sekali-kali.” “Oke. Selamat malam.” Patricia menggenggam erat gelas winenya. Senyum yang tak dapat diartikan dengan mudah, terulas dari bibirnya. Seperti senyum puas sekaligus merasa bersalah. Namun kebencian dan kecemburuan yang mendarah daging hingga sekarang bisa membuatnya lupa diri. Mengubahnya menjadi sosok yang licik dan jahat. Jika diingat-ingat lagi potret masa lalunya, entah mengapa bayangan Alexander dan Audrey muncul begitu saja dalam kepalanya seperti pemutaran film layar perak. Mungkin baginya rencana membawa putra sulungnya ke New Hampshire adalah cara yang tepat untuk memisahkannya dengan Axeline. Selain hasrat balas dendam, Patricia juga tak mau jika anaknya harus berakhir di bawah vonis mati pengadilan. Melanggar peraturan besar, yang dianggapnya t***l, bisa mengancam putranya. Namun terkadang sebagian perasaannya meronta mengatakan, lebih baik lagi Justin memperjuangkan apa yang menjadi prioritas utamanya, tidak bersikap pengecut seperti Alexander. Segera ditepisnya pikiran itu dari benak Patricia, mengingat lagi rencana awal yang telah disusunnya. Satu garis besar yang mungkin dilupakan oleh Justin, atau anak itu tidak sadar bahwa kekuatan bibinya sangat berguna untuk melancarkan rencana Patricia demi menjauhkan dia dari Axeline sekaligus hukuman mati. Charlotte mampu memanipulasi perasaan seseorang yang ada di dekatnya. Sehingga dengan mudah, membuat Justin sedikit demi sedikit melupakan gadis yang dicintainya agar terpaut pada Hillary. Walaupun Hillary tak tahu menahu rencana yang disusun Patricia dan apa motif wanita itu melakukannya. Dia sekedar menjadi wayang dalam pertunjukan yang didalangi oleh Patricia. Tentunya, tanpa pemberitahuan skenario sebelumnya. Kini apapun seolah bisa diwujudkan oleh Patricia. Senyum miring simpul yang tak mudah terbaca tampak di bibirnya lagi. Kecemburuan itu terpatri di dalam dasar hatinya, menyingkirkan sebagian kecil sifat-sifat baiknya, seolah apa yang ada dalam dirinya kini dikuasai oleh iblis yang terus-menerus menuntut balas dendam. Kecemburuan memang membutakan mata hati wanita itu. *** Axeline’s POV Jam dinding di kamarku seperti berdetak lambat. Entah hanya perasaanku saja, atau ada kesalahan pada batrenya. Yang ke sekian kalinya, aku memandang ke arah jam klasik seperti milik kekaisaran romawi, memastikan bahwa ini memang sudah terlalu siang dan aku malas beranjak dari tempat tidurku. Sekali pun untuk duduk saja aku enggan melakukannya. Baru kutengok ponselku, sudah ada sekitar sepuluh sms. Siapa lagi kalau bukan dari Justin. Sebelah alisku terangkat membaca salah satu pesan itu. Apa kau senang bersama Zach sampai mematikan ponselmu? Dia masih mencurigaiku rupanya. Haruskah dia kuberitahu segala hal yang kurasakan saat itu? Tentang kecurigaanku padanya selama tinggal di rumah bibinya, bersama gadis lain bernama Hillary. Seharusnya aku yang curiga, bukan dia! Pesan singkat itu justru membuat sistem kerja tubuhku mendadak mati. Aku malas bergerak dari ranjangku. Seakan-akan kalimat yang k****a tadi merantaiku sangat kuat. Kuhela napas panjang, menyingkirkan praduga-praduga yang selalu berkelebatan dalam kepalaku. Padahal sebentar lagi sudah masuk sekolah. Otomatis aku bisa bertemu lagi dengannya. Namun entah mengapa, aku tidak bisa merasakan kesenangan menyambut hari itu. Baru kusadari kalau badanku seperti diremukkan oleh buldoser. Ketika kugerakkan sedikit anggota tubuhku, yang ada justru rasa sakit menghujam di sekujur tubuhku, menusuk tulangku. Dahiku berkerut heran. Mengapa aku bisa selemas ini? Apa aku sakit? Untuk memastikannya, kusentuh dahiku sendiri. Benar saja. Aku demam tinggi rupanya. Aku menekan sesuatu, seperti microfon di sebelah meja lampu untuk memberitahu pelayan agar mengantarkan sarapan ke kamarku saja. Bahkan untuk menggerakkan tanganku rasanya berat. Kusandarkan tubuhku pada bantal bulu angsa yang menempel di dinding ranjang. Tampaknya ini akibat karena keseringan berada di luar ketika salju turun. Dari dulu aku paling rentat terserang demam jika salju turun dan membasahi tubuhku. Seorang pelayan mengetuk pintu kamarku pelan. Terkadang pintu kamarku tidak terkunci. Kebiasaan kecil ketika aku berada di rumah Bibi Dorothy. “Masuklah,” tukasku parau. Ternyata Cecille yang datang membawa baki berisi sarapan dan segelas coklat pana yang asapnya mengepul di udara. Dia menaruh baki itu di atas meja lampu sambil memandangku memastikan. “Anda perlu dipanggilkan dokter, Young lady?” tanyanya. Aku menggeleng lemah. “Tidak. Aku pasti sembuh sebentar lagi. Hanya membutuhkan waktu istirahat total.” “Baiklah.“ Dengan hormat, Cecille menundukkan kepalanya. “Saya sudah menelepon Lord Robbespierre. Mungkin beliau akan datang dalam waktu dekat.” Tak kuhiraukan laporannya itu. Apa pedulinya Dad padaku? Yang ada di kepalanya hanya pekerjaan, tahta, dan lainnya. Aku rasa tak ada namaku di deretan orang terpenting dalam hidupnya. Baru beberapa menit Cecille keluar, Zach masuk ke dalam. Senyuman lebar seperti biasa tampak di wajahnya. Aku bergelung di balik selimut, menggigil kedinginan. Temperatur udara saat ini terasa begitu dingin, seperti membakar pori-pori kulitku. Zach duduk di sebelahku ketika aku bergeser sedikit ke samping. “Sekarang aku jadi merasa bersalah telah membuatmu sakit,” katanya dibarengi air muka bersalah. “Jangan menyalahkan diri,” balasku. “Aku terbiasa seperti ini. Musim dingin memang tak pernah bersahabat denganku.” “Makanlah. Biar kau tidak lemas.” Dia menunjuk satu set sarapan yang ada di atas baki. Seperti biasa, menu vegetarian yang dihidangkan oleh pelayan di rumah ini. Makanan yang sering dimasak oleh koki adalah salad. Aku menggerakkan tanganku mencoba meraih makanan itu, namun mendadak kepalaku berputar-putar seperti ada yang menghantamnya kuat. “Kenapa? Kepalamu sakit?” Zach bertanya dengan nada cemas. “Biar kupanggilkan dokter saja.” Lagi-lagi aku keras kepala. Aku menggeleng lemah. Sebenarnya aku malas dihadapkan oleh dokter. Selain takut jarum suntik, juga malas menjawab pertanyaan-pertanyaan dokter yang dilempar pada pasien seperti hakim pada terdakwa. Zach menghela napas pendek, lantas diraihnya baki berisi sarapanku itu. “Biar kusuapi saja,” ujarnya diimbangi senyum tulus. Tangannya bergerak cekatan menyendokkan sesuap salad itu ke arahku. Kalau seperti ini aku jadi merasa seperti bayi yang memerlukan pelyayanan lebih, padahal aku paling anti merepotkan orang lain. Pikiranku berkelana kemana-mana, terbang dibawa udara musim dingin yang masuk melalui fentilasi udara. Pikiran yang tentu saja masih sama. Entahlah, aku merasa jika ada yang tidak beres dari semua kejanggalan yang tengah kuhadapi. Patricia Mallette meminta Justin pergi ke New Hampshire untuk menghabiskan sisa liburan bersama bibinya, juga gadis bernama Hillary. Lantas secara tiba-tiba pula, Dad meminta Zach, yang notabenenya seorang musuh, justru menjagaku setiap waktu. Tidakkah kau mencium bau konspirasi? Kuharap Justin tidak tergoda dengan apapun, sekali saja itu seorang sri ratu besar Mary Antoinete yang hidup lagi dari kematiannya. Semoga, dia masih membawa janjinya sampai sekarang. *** Justin’s POV “Kalau cuacanya seperti ini, mau tidak mau kita tidak bisa keluar dari rumah,” seruan Bibi Charlotte menggema dari lantai atas. Dia berjalan cepat mendekati tungku perapian untuk menyalakannya. Aku duduk termangu, merasakan sesuatu yang salah.. Semakin hari tinggal di sini, semakin pula aku berpikir bahwa memang ada kesalahan pada diriku. Sekali lagi kupikirkan apa kesalahan yang terlewati olehku. Di sini aku seperti tahanan dalam sebuah penjara di mana sebagian memori di kepalaku seperti dicuci otak. Astaga, apa yang terjadi padaku sebenarnya? Mengapa aku merasa ketidakberesan ini mengacaukan pikiranku? Aku seperti orang linglung yang membutuhkan pegangan. Hillary menggigil kedinginan di sebelahku sambil menggenggam secangkir coklat panas. Tubuhnya terbungkus selimut tebal bak kepompong. Lagi-lagi aku memikirkan sesuatu, yang aku sendiri tidak tahu kutujukan pada siapa dan apa yang kupikirkan itu. Sembari sibuk memikirkan kejanggalan pada diriku, mendadak lampu di rumah ini mati. Terdengar teriakan pelan di sebelahku dan suara debum lembut di atas karpet. Aku memutar bola mata jengah melihat cangkir yang dipegang Hillary jatuh di atas karpet, memuntahkan isinya hingga menimbulkan noda kecoklatan. Untunglah ada perapian yang menerangi ruangan ini. Apinya meliuk-liuk, mengikuti arah gerak angin berhembus yang asalnya tak lain dari cerobong asap. “Mati lampu?” dengus Bibi Charlotte. “Sebentar, kuambilkan senter di lantai atas.” Hillary mematung di tempatnya, tampak ketakutan, namun tak berani sejengkal pun mendekat ke arahku. Giginya bergemelatukan menahan ngeri. Rumah ini kalau dalam keadaan gelap memang menyeramkan. Kupalingkah wajahku untuk memandang Hillary yang tetap tak bergeming. “Kemari,” ujarku memanggilnya. “Kenapa memangnya?” “Aku tahu kau itu penakut.” Dia mencibir kesal. Suara petir di luar menggelegar bak lucutan cambuk Zeus memecah keheningan malam. Sontak, Hillary melompat mengaitkan tangannya pada lenganku. Ya ampun dasar penakut. Aku berdecak pelan melihat tingkahnya seperti itu. “Aku punya pengalaman buruk dengan kegelapan,” bisiknya. “Oh ya?” Hillary menelan ludah dengan susah payah, tampak mencoba menepis perasaan takut yang saat ini menyergapnya. Ekor matanya memandang liar ke seantero ruangan seolah-olah waspada terhadap sesuatu yang mengancamnya. “Ya, kakakku dibunuh di kegelapan seperti ini. Seorang penyihir berniat membantai keluargaku. Tapi di rumah hanya tinggal aku dan Melisa. Beruntung pembantai itu tidak sempat menyentuhku, saat orangtuaku pulang dan mendapati Melisa terbujur kaku di sebelah kaki sofa.” Hillary menggigit bibir mengingat kenangan itu. Aku mencebikkan bibir mencemooh. “Ternyata gadis sepertimu bisa ditakuti oleh kegelapan. Mana keberanianmu sebagai seorang putri?” “Jangan mencemoohku.” Dipukulnya lenganku. “Kau tidak bisa menyalahkan seseorang yang memiliki fobia akibat kenangan buruknya.” Bibirku terkatup membentuk satu garis lurus. Mendengar celotehannya itu seperti menampar wajahku kencang. Bagaimana tidak? Aku seorang klaustrofobia. Diam-diam aku menahan tawa mengingat fakta itu. “Maaf,” kataku nyaris tak terdengar. Aku tertarik untuk memandang Hillary yang resah. Kudekatkan wajahku pada rambutnya yang tercium sangat harum. Seperti ribuan kelopak mawar yang diguyur bersama secawan air surga. Ada api kecil yang seolah membakar kerongkonganku mencium aroma surgawi itu. Aku menarik dagu Hillary, membawa matanya untuk menatapku. Kedua lensa mata kami bertemu. Terdapat bayangan api dari tungku yang meliuk-liuk di matanya. Segala hal yang tadi sempat mengganggu pikiranku terkesampingkan begitu saja. Kutautkan bibirku pada bibirnya. Entah apakah ini hanya perasaanku saja, atau memang gadis ini mampu melenyapkan setiap hal yang kupikirkan, seolah-olah dia menyerap sebagian pikiranku. Terdengar dering pelan dari ponselku. Awalnya aku tak memedulikan dering itu, atau lebih tepatnya konsentrasiku hanya terpaku pada satu titik, yakni Hillary. Gadis ini membuatku gila. Alih-alih, aku semakin tidak memedulikan panggilan masuk itu, semakin terbuai pada kesenangan kecil ini. Seperti kebiasaan lamaku, sering mempermainkan seorang gadis di manapun aku berada, namun kebiasaan seperti itu terputus begitu saja ketika kehadiran seorang malaikat kecil yang menyebalkan dan bodoh datang. Sampai satu nama membawaku sadar atas apa yang kulakukan baru saja. Oh s**t. “Axeline,” bisikku pelan sambil menjauhkan diriku dari Hillary. “Astaga, Axeline.” Cepat-cepat kuraih ponselku yang tergeletak di atas meja, mengabaikan pandangan fluktuatif Hillary di belakangku. Aku telah mengacuhkan pesan masuk dan panggilan dari Axeline. Segera kubuka dan membaca pesan yang sudah dikirim sejak dua jam yang lalu. I miss you Hanya tiga patah kata. Tapi kata-kata itu menghantam kepalaku sangat keras. Apa yang membuatku melupakan gadis ini? Bodoh. Ternyata kejanggalan yang ada pada diriku disebabkan oleh kelakukanku sendiri, masih menjamah kebiasaan-kebiasaan burukku. Aku memutuskan untuk menghubunginya. Belum ada jawaban sama sekali. Bahkan umpatan kesal kukeluarkan berkali-kali. Kekesalan yang entah kutujukan pada siapa, mungkin pada diriku sendiri yang dengan teganya mengkhianati Axeline. Lagi-lagi tak ada balasan. Hampir kumatikan sambungan yang hanya dibalas dengan nada sambung, sampai seseorang mengangkat telepon itu. Aku menggeram pelan mendengar suara Zach. Umpatan kasar hendak menghambur keluar sebelum Zach memakiku sangat keras. “Kemana saja kau, b******k?! Aku sudah berusaha menghubungimu, tapi tak pernah kauangkat panggilan ini!” “Jangan berteriak padaku!” balasku sengit. “Bagaimana aku tidak berteriak kalau bunyi dering telepon dari nomor pacarmu saja tidak kau hiraukan, huh?! Sekarang dia terbaring di kamarnya dengan selang infus!” “Apa maksudmu?” aku merendahkan nadaku. “Axeline terkena hipotermia, Bodoh.” Satu hantaman keras kurasakan pada tubuhku mendengar kalimat terakhir Zach. Axeline sakit, tapi aku tidak tahu menahu?! Pacar macam apa aku ini. Setelah mendengar kabar buruk itu, aku bergegas seperti kesetanan menuju lantai atas untuk mengemasi barang-barangku, kembali ke Los Angeles. Tak kuhiraukan kegelapan yang menghalangi indera penglihatanku. “Mau kemana kau?” tanya Hillary bingung. “Pulang. Pacarku sakit.” Hillary tidak membalas lagi. Hanya anggukan kepala yang terakhir kulihat. Bibi Charlotte tampak bingung melihat gelagatku yang tergesa-gesa. Kumasukkan baju-baju dan semua barangku ke dalam kopor. Jantungku berdebaran mengingat lagi ucapan Zach. Axeline terkena hipotermia. Bodoh! Aku memaki diriku sendiri, dengan bodohnya bisa melupakan gadis yang kucintai, dan sekarang dia terbaring di kamarnya. Teringat dalam benakku pesan singkat yang dikirimnya terakhir kali. Aku sangat marah pada diriku sendiri. “Justin, kau mau kemana? Di luar masih hujan lebat!” seru Bibi Charlotte. “Aku mau pulang,” balasku pendek. Sudah kupastikan barang-barang kukemas dalam dua kopor yang kubawa. Lantas, kutarik kopor-koporku meninggalkan kamar itu. “Tapi hujan masih turun sangat deras! Kau bisa celaka! Lagipula mau ke bandara naik apa malam begini?! Bahkan kau belum tahu jadwal penerbangannya!” “Aku tidak peduli! Kalau perlu jalan kaki dan menunggu di bandara!” Tak kuhiraukan seruan Bibi Charlotte atau Hillary di belakang. Kuamai baik-baik keadaan di luar. Hujan turun begitu deras, nyaris seperti badai. Masa bodoh. Aku ingin segera sampai di Los Angeles dan menebus semua kesalahan yang telah kulakukan pada Axeline. Jika hukumannya seratus kali cambukan pun akan kujalani. Dan ya, aku benar-benar menerjang hujan untuk mencari kendaraan dan mengantarku ke bandara. Di jalanan yang sepi, tidak kudapatkan satu pun taxi. Untu ke sekian kalinya aku mengumpat kesal sambil menendang koporku. Air hujan dalam sekejap sudah membuat tubuhku basah kuyup. Napasku terengah-engah, sedangkan kepalaku tetap menoleh ke sana-sini memastikan ada taxi yang tak kulewatkan. Aku duduk di trotoar, menundukkan kepalaku, merasakan hujaman air yang turun dan hampir menulikan indera pendengarku. Mungkin rasa dingin yang kurasakan saat ini tak sebanding dengan yang dirasakan Axeline. Di sana dia terbaring menggigil kedinginan sedangkan aku tidak ada di sebelahnya. Aku tidak berguna, sungguh tidak berguna. Membayangkan dia dijaga oleh lelaki selain diriku membuat jantungku berdenyut nyeri. Apalagi jika disentuh olehnya. Kuakui, aku begitu egois. Aku terlalu diperdayai oleh hasrat, yang datangnya pun tak pernah kuperhitungkan. Bagaimana jika tahu apa yang kulakukan selama berada di rumah Bibi Charlotte? Aku tahu dan bisa menebak, Axeline pasti sakit hati. Lebih sakit dari yang dirasakannya kini. Kepalaku menengadah ketika sebuah mobil yang kukenal sebagai mobil Bibi Charlotte berhenti di depanku. Muncullah Hillary membawa sebuah payung menghampiriku. “Akan kuantar kau ke bandara,” ujarnya teredam suara rintik hujan. Kupandangi dia dengan ekspresi flegmatis. *** Zach’s POV Beberapa jam setelah dia sarapan, mendadak tubuhnya drop dan jatuh pingsan. Sungguh, aku mengkhawatirkan keadaannya saat ini. Tubuhnya begitu pucat, dan tidak bergerak sedikit pun. Dua jam yang lalu dia masih bisa bangun dan menggerakkan anggota tubuhnya, walau dengan gerakan lemah. Terakhir kali kulihat sebelum dia benar-benar pingsan total, dia mengirim pesan untuk Justin. Aku berdiri mematung melihat tubuhnya yang kaku di atas ranjang dengan selang terpasang pada hidungnya. Kembali kulihat ponsel Axeline, memastikan apakah ada panggilan atau pesan masuk dari Justin. Walaupun sebagian kecil hatiku begitu tersayat melihat kesetiaan Axeline pada Justin, aku tidak bisa seegois itu memisahkan mereka atas perintah Lord Robbespierre. Lord Robbespierre menggenggam telapak tangan putrinya erat. Beberapa menit yang lalu dokter keluar setelah memeriksa keadaan Axeline. Menurut hipotesanya, Axeline hanya mengalami hipotermia primer. Meskipun tidak separah hipotermia sekunder, penyakit itu bisa merenggut nyawanya. “Tolong jaga dia sebentar, Zach,” tukas Lord Robbespierre seraya berjalan menghampiriku. “Aku akan memberitahu bahwa rapat hari ini ditunda dulu.” Aku menunduk hormat. Dengan langkah pelan dan helaan napas berat, Lord Robbespierre melenggang meninggalkan kamar Axeline. Aku berjalan mendekati ranjang Axeline, tempatnya terbaring lemah dengan alat-alat yang diperuntukkan sebagai penghangat tubuh, rewarm, bagi pasien hipotermia. Kugenggam tangannya yang begitu panas. Walaupun suhu tubuhnya panas, aku bisa merasakan dia kedinginan. Matanya masih terpejam, entah pingsan, entah tidur. Menurut dokter, dia membutuhkan waktu istirahat total agar kekebalan tubuhnya tidak menurun. Kuhantarkan panas yang terserap dari tungku perapian di kamar ini melalui telapak tanganku pada telapak tangan Axeline. Aku mengeratkan genggaman itu, dan tidak akan melepasnya sebelum dingin yang menyerang dalam tubuhnya menghilang. “Axeline,” ujarku pelan. “Mungkin kau bisa mendengarku, atau mendengar pikiran dan melihat bayangan dalam kepalaku. Ingin rasanya aku mengatakan hal ini, tapi aku tahu cintamu hanya untuk dia. Selalu dia. Dan akan terus dia.” Kumajukan tubuhku untuk mengecup dahinya sekaligus berbisik pelan. “Aku mencintaimu.” *** Justin’s POV Aku duduk termenung memeluk lututku di bandara, menunggu kedatangan pesawat yang terbang menuju Los Angeles. Sudah kuputuskan untuk tidur di sini, kalau perlu. Awalnya Hillary menawarkan diri menemani, atau membawaku pulang lagi dan mengantarku keesokan harinya. Tapi aku menolak tawarannya, menyuruhnya pulang agar dia tidak sakit. Dingin yang semakin menyergap tidak kuhiraukan. Lamunan dan bayangan Axeline terpaku kuat dalam kepalaku. Ingin rasanya kuhantamkan kepalan tanganku ke arah benda-benda tumpul yang ada di sekitarku, andai saja energiku tidak terkuras habis. Sejalan dengan bayangan dan pikiranku tentang Axeline yang memenuhi kepalaku, baru aku sadar akan satu hal. Keningku berkerut menyadari sesuatu itu. Semua ini pasti rencana Mom. Dia sengaja mengirimku ke New Hampshire karena tahu ada Hillary di sana. Apa lagi rencananya kalau bukan untuk memisahkan aku dari Axeline? Baru teringat olehku, Bibi Charlotte memiliki kemampuan untuk memanipulasi perasaan seseorang. Pasti, tidak salah lagi pasti dia yang menggunakan kemampuan itu untuk memanipulasiku, membuatku tetap tinggal di sana, melupakan perasaanku pada Axeline. Tentu saja aku marah. Mengapa Mom tega melakukan itu padaku? Akan tetapi dia salah. Jika dia berpikir rencananya berhasil, dia benar-benar salah. Dia gagal melakukan rencana itu. Meskipun rencana yang disusunnya hampir berhasil, dengan menjadikan Hillary perantara, tapi dia tak akan bisa menghilangkan perasaanku pada Axeline yang telah terpatri di hatiku. Rasa bersalah yang membayang-bayangi membuatku mengantuk. Mungkin juga karena kelelahan menunggu di bandara selama hampir empat jam. Maka, kubaringkan tubuhku di atas lantai, mengabaikan tatapan orang berlalu-lalang, mencoba memejamkan mata. Bisa kurasakan keberadaan benda hangat yang diselimutkan pada tubuhku. Tanpa membuka mata pun aku bisa menebak bahwa Hillary datang membawakan selimut untukku. Biarlah dia menungguku sesuka hatinya. Benar-benar gadis keras kepala.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD