12

4080 Words
Sudah lama aku menunggu bus di halte. Bahkan persendiannya mulai kaku. Diregangkan tubuhnya untuk melenturkan otot-otonya sambil sesekali menoleh memastikan, apakah bus sudah tiba. Dalam hati dia mengutuk kesal karena mobil yang seharusnya dipakai harus digunakan oleh adiknya. Apa lagi kalau bukan untuk pergi menikmati malam tahun baru. Logan mengerang kesal. Ekor matanya terjun ke sebuah arah di mana terdapat sekelebatan orang tampak menarik perhatiannya. Lantaran diterjang rasa penasaran, Logan mencoba mendekati kelebatan itu. Lebih tepatnya, dua bayangan manusia yang berlari bak lesatan panah. Sampai ketika kakinya berhenti di balik tembok, dia mendengar sayup-sayup suara debuman. Tak hanya itu, dia mendengar dengan jelas suara Caleste. Maka, diintipnya lorong yang sedari tadi menarik perhatiannya. Tampak di sana, Caleste tengah mencengkeram kerah seorang pemuda berambut pirang yang dia kenal sebagai Nathan. “Kau pasti berbuat ulah, iya kan?! Kali ini aku sendiri yang akan menanganimu!” seruan Caleste menggema di sepanjang lorong. “Lepaskan aku! Aku hanya pergi ke swalayan dan kau mencurigaiku berniat membunuh kasir itu? Hell, Caleste. Aku manusia yang juga membutuhkan makan!” “Alibi! Kau pasti sudah tahu bahwa kasir di sana adalah bagian dari Mutant Wizards sehingga kesempatan itu kaugunakan dengan baik!” Caleste semakin mencengkeram kerah Nathan hingga tubuh pemuda itu menubruk tembok. Dalam benaknya Logan bertanya-tanya, apa yang dimaksud oleh Caleste? Mengapa gadis itu menyebut-nyebut Mutant Wizards? Penasaran, diikuti saja perbincangan antara Caleste dan Nathan. “Berani sumpah aku tidak berniat membunuhnya! Aku hanya pergi ke swalayan, dan dengan seenaknya kau menuduhku!” “Lantas, mengapa kau berlari menjauhiku, Nathan? Huh?” “Karena kau begitu mengerikan!” Caleste menggeram kesal sudah disebut mengerikan. Tanpa banyak bicara lagi, gadis itu membuat sebagian rambut Nathan membeku seperti serutan es. Kontan, hal itu membuat Logan membelalakkan matanya lebar. Bagaimana mungkin rambut Nathan bisa ditaburi oleh serutan es sedangkan salju tidak turun saat itu? Berusaha keras, Nathan mendorong tubuh Caleste hingga membuat gadis itu terhengkang. Tak banyak waktu yang dihabiskan Nathan untuk mencari-cari sumber energi yang pas agar dia bisa menyerang Caleste balik. Di sekitarnya hanya ada hamparan kabel listrik yang memanjang. Maka, diserapnya energi listrik di sana untuk menyerang Caleste. Sambil berdiri pelan, Caleste menyiapkan diri menghadapi serangan Nathan. Dia tahu, dari sekian destroyers yang ada, hanya Nathan yang paling lamban. Sebelum listrik yang akan dikeluarkan oleh Nathan menghantam tubuh Caleste, gadis tersebut menangkis cepat, melemparkan balok-balok kecil es sehingga mampu membuat Nathan terjungkal ke belakang, sebab es yang dilempar Caleste berhasil mengenai listrik di tangan Nathan dan dia tersetrum. Nathan mengerang sejadi-jadinya. Dengan seringai sinis, Caleste berjalan mendekati teman sekaligus musuhnya itu. Bersamaan itu pula, Logan muncul, masih dengan wajah syok dan mata membeliak lebar. “Apa itu tadi?!” seru Logan, sontak membuat Caleste mengalihkan perhatiannya. Sama halnya dengan Logan, Caleste tampak terkejut tertangkap basah oleh manusia awam telah menggunakan kekuatan sihir. Kesempatan itu digunakan Nathan untuk kabur. Untuk saat ini Caleste tak memedulikan Nathan yang berlari cepat menghindar. Dia harus pandai-pandai memberikan alasan. Namun percuma saja, dia sudah tertangkap basah, dan harus mempertanggung jawabkan apa yang telah dilakukannya. “Logan, bagaimana kau bisa ada di sini?” tanya Caleste mencoba basa-basi. Dilemparkan cengiran lebar meskipun berulang kali dia menggaruk tengkuknya. “Jelaskan padaku, apa itu tadi?” Nada Logan masih meninggi. Selama berteman dengan Caleste, dia bahkan tak tahu bahwa Caleste dan keluarganya adalah keturunan penyihir. Walau terkadang Logan mencium bau tidak beres dengan sahabatnya itu. Beberapa kali dia merasa curiga karena tingkah Caleste yang suka aneh. Mau bagaimana lagi, inilah saatnya Caleste menjelaskan pada Logan yang sebenarnya. *** Justin’s POV Baru saja aku memejamkan mata untuk istirahat siang sampai terdengar suara radio yang dikeraskan. Asalnya dari samping kamar ini; ulah siapa lagi kalau bukan Hillary? Gadis itu memang perlu diberi pelajaran. Sembari mengerang kesal, aku beranjak dari ranjang menghampiri kamarnya. Kuketuk pintu kamarnya sangat kencang, berkali-kali—bahkan tanganku terasa panas dan nyeri—namun tak kunjung ada jawaban dari dalam. “Hei, bisakah kau kecilkan suara radiomu?! Lebih baik lagi kaumatikan saja! Aku mau tidur siang, Bodoh!” teriakku. Apakah gadis ini selalu membuat rusuh jika Bibi Charlotte tidak ada di rumah? Well, baru beberapa jam yang lalu Bibi Charlotte pergi belanja. Masih tidak ada jawaban dari dalam. Lagi-lagi kuketuk pintu kamarnya, kali ini lebih keras, seperti gedoran. Hingga akhirnya suara radio itu mati, disusul suara hentakan dari dalam. Tampaklah raut wajah menyebalkan dengan rambut berantakan di depanku. Jika aku tidak memerhatikan wajahnya, tidak kusadari keberadaan matanya yang memerah, seperti habis menangis. “Jangan ganggu aku,” ujarnya kasar. “Kau yang menggangguku,” aku membalas lebih kasar. Tak banyak bicara lagi—juga tidak mau merepotkan diri bertanya mengapa matanya memerah—aku melenggang pergi, masuk ke dalam kamarku. Ketika pintu kututup sangat kencang, terdengar pekik mengaduh di luar. Segera kubuka kembali pintu kamarku, mendapati Hillary yang duduk tersungkur seraya menekan dahinya. “Kenapa kau?” tanyaku malas. “Kau baru saja menutup pintumu, dan mengenai dahiku!” balasnya berteriak. Aku mendesah pelan. “Bagaimana bisa pintuku menghantam dahimu, Makhluk luar angkasa?” “Aku berniat masuk ke dalam kamarmu, ingin bicara sesuatu. Dan sebelum mulutku terbuka untuk memanggilmu, kau menutup pintu itu sangat keras!” Dia meringis kesakitan, masih menekan dahinya. Ya ampun, dasar gadis ceroboh. Bukannya apa, aku ingin memastikan dia baik-baik saja. Aku beranjak mendekatinya, duduk di depan untuk melihat separah apakah lebam di dahinya. “Minggir, biar kulihat,” kataku jauh dari kata ramah, menepis tangannya agar bisa kulihat keadaan dahinya. Benar sekali, lebam di dahinya begitu mencolok kebiruan. Sepertinya hantaman pintu tadi begitu keras. “Dasar ceroboh.” “Seharusnya kau minta maaf, Mr. Beirne!” teriaknya lagi. “Jangan berteriak, aku tidak tuli.” Jika dia bukan seorang perempuan, mungkin sudah habis di tanganku. Mendadak aku teringat suatu hal. Entah mengapa gadis ini mengingatkanku pada Axeline. Sama-sama menyebalkan dan suka sekali melengkingkan teriakan. Aku jadi merindukan Axeline di Los Angeles. Kutarik tangan Hillary hingga membuatnya berdiri, ditatapnya aku dengan mulut terbuka siap melemparkan makian. “Ayo biar kukompres dahimu,” kataku seraya menarik tangannya. Dia mencoba menarik tangannya dariku, tapi aku mencengkeran pergelangan tangannya kuat. Aku menuruni tangga dengan cepat, sampai membuat Hillary memekik. Saat kakiku turun di bawah tangga dan menyeretnya agar melangkah lebih cepat, lagi-lagi dia berbuat ceroboh. Kakinya tersandung, hampir saja jatuh jika tidak kutangkap tubuhnya. Ada raut wajah kesal yang tampak di sana; bibirnya mencebik dan kedua alisnya bertautan kesal. “Kau ini tidak pernah bersikap lembut dengan gadis, ya?” koarnya sambil menarik dirinya dariku. “Sungguh kasihan sekali siapapun yang menjadi pacarmu. Atau jangan-jangan kau tidak punya pacar. Mana ada gadis yang mau dengan lelaki kasar sepertimu.” Entah kenapa responku justru tertawa pelan. Tak kuhiraukan cerocosnya. Kali ini kubiarkan dia berjalan di belakangku sedangkan aku sudah hampir sampai di dapur. Dia benar-benar menyebalkan. Melangkah saja harus malas seperti itu. Karena aku paling tidak suka gadis yang lelet, kutarik lagi tangannya mendekati dapur. Tanganku bergerak mencari serbet dan mengambil baskom. Di samping pantri, Hillary mengamatiku sangat aneh, sambil melempar-lempar buah apel dalam genggamannya. Setelah kumasukkan air es ke dalam baskom, aku berjalan menghampirinya. Kubasuhkan serbet yang telah basah ke arah dahi Hillary, hingga terdengar pekik kesakitan dan dia menepis tanganku kasar. “Hati-hati! Apakah kau tidak bisa bersikap lembut pada gadis manapun?!” teriaknya. Aku memutar bola mata jengah. Jika diladeni dengan omelan, tidak akan ada ujungnya. Mudah sekali ditebak kalau Hillary yang akan menang. Kubiarkan dia merebut serbet dalam genggamanku dan mengompres dahinya sendiri sambil sesekali meringis kesakitan. “Aku punya pacar. Dan kuperlakukan dia sangat baik seperti seorang ksartria pada ratunya,” celetukku tiba-tiba, membuat Hillary menghentikan sejenak aktifitasnya. Dia memandangku lekat seolah-olah aku adalah makhluk veterbrata pertama di bumi. “Oh,” balasnya pendek. “Kenapa? Balasanmu tadi bisa saja diartikan bahwa kau malu atau kecewa karena kenyataannya aku memiliki pacar.” Kedua mata Hillary terpicing tiba-tiba. Tampaknya dia tidak suka dengan ucapanku baru saja. Dilempar serbet di tangannya ke atas baskom sampai membuat airnya menyiprat ke mukaku. Aku mengatupkan bibir rapat, lantas mengelap wajahku dengan serbet lainnya yang tak jauh dariku. “Aku juga sudah punya pacar dan dia akan datang kemari sebentar lagi. Jangan terlalu percaya diri.” “Well, kurasa pacarmu itu t***l. Mau saja menerima gadis ceroboh sepertimu.” “Lalu, apa kabarnya pacarmu, Tuan Sok Dingin?” Hillary bertolak pinggang. “Hm, pacarku itu bodoh.” Ujung bibirnya terangkat aneh. “Kenapa kau bilang begitu?” “Dia terlalu polos. Sampai-sampai dengan bodohnya mau saja menerima keberadaan seorang musuh dalam rumahnya.” Nama Zach terngiang-ngiang di benakku semakin membuatku kesal. “Walaupun dia bodoh, dia pandai menarik hatiku.” “Tidak usah ucapkan hal semacam itu di depanku.” “Kenapa? Pacarmu tidak pintar merayu sepertiku?” Dihentakkan kakinya menjauhiku masih dengan tampang ketus. Yang kulakukan hanya berdiri dengan tawa pendek di depan pantri sambil meraih apel di dalam keranjang. Kemudian menggigitnya seraya melemparkan pandangan menerawang ke arah langit-langit. Duh, aku benar-benar merindukan Axeline. Dari tadi ponselnya tidak aktif. Terakhir kali kuhubungi adalah pagi buta, memastikan bahwa dia baik-baik saja. Kuhela napas panjang menenangkan diri. Dia pasti baik-baik saja. Well, ada Zach di sebelahnya walaupun aku juga mengkhawatirkan jika Zach berhasil mengambil hati Axel. *** Hillary’s POV Sial sekali. Daren benar-benar datang kemari seperti yang diucapkannya di telepon. Padahal sudah kumaki dia agar tidak lagi menggangguku. Kini, dia muncul di depan pintu dengan raut wajah kesal. Baru beberapa hari yang lalu kami putus. Pasalnya, aku menangkap basah dia kencan bersama gadis lain. Kenapa tidak kudengarkan saja ucapan kawan-kawanku bahwa dia memang playboy b******k yang suka mempermainkan perasaan wanita. Alasan aku mengapa mengeraskan suara radio itu karena tidak mau suara tangisku terdengar begitu saja. Apalagi jika Justin mendengarnya. Tidak, aku tidak peduli apa tanggapannya. Tapi kalau dia memberitahu Bibi Charlotte, aku jadi merasa tidak enak. Aku merindukan orangtuaku. Selain itu perilaku Daren yang suka semena-mena juga menambah daftar kesedihanku. Sudah menjadi kebiasaan bagiku menangis ditemani radio yang menyala sangat keras. Selain musik membuatku tenang, tidak ada yang bisa mendengar suara tangisku. “Mau apa kau kemari?” bentakku. “Aku ingin kita kembali seperti dulu, Hillary,” balas Daren sambil berusaha masuk ke dalam. “Ijinkan aku masuk dan menjelaskannya padamu.” Kudorong tubuhnya menjauh. Hampir saja pintu ini tertutup kencang jika sebelah tangannya tidak menahan pintu ini. Dia mendorong pintunya dan mencekal tanganku sangat kuat. “Aku hanya meminta waktu sebentar,” bisiknya dipenuhi penekanan pada tiap nada. “Aku tidak butuh penjelasan! Kau itu b******k. Seharusnya kudengarkan ucapan teman-temanku.” “Dasar tidak tahu diri. Saat orangtuamu meninggal dalam kebakaran itu, mereka memberikan amanat padaku untuk menjagamu! Selama ini kau anggap apa yang kulakukan padamu itu sebagian dari omong kosong?!” Bibirku bergetar menahan kesal. Dia selalu menggunakan kalimat itu untuk mengancamku, membuatku berpikir dua kali agar tidak memutuskannya. Dari dulu orangtuaku dengan orangtua Daren memang sahabat dekat. Tapi Daren yang ini dengan yang dulu sangat beda. Dia lebih kasar, tidak manusiawi, sering menyakitiku, dan tak jarang menggoda gadis lain jika bersamaku. “Masa bodoh!” balasku lantang. “Enyahlah!” Bukannya pergi, Daren justru mendorongku masuk ke dalam sekaligus mencium bibirku paksa. Aku mencoba menarik diri darinya, namun kedua tangannya mencengkeram bahuku sangat kuat. Hanya teriakan pelan yang teredam yang mampu kukeluarkan. Dia mendorongku hingga membuat tubuhku jatuh ke atas sofa. Entah apa yang telah merasuki dirinya hingga menjadi seperti ini. Banyak sekali perubahan yang terjadi padanya, dan aku hanya bisa berasumsi perubahan itu diakibatkan oleh kawan-kawannya. “Apa yang kaulakukan?!” teriakku, mencoba menghindar darinya. “You, Baby.” Lagi-lagi aku mencoba untuk memanggil siapapun agar menolongku dari b******n ini. Namun teriakan itu teredam ketika bibir Daren kembali melumat bibirku. Bahkan sekarang kedua tangannya berusaha membuka kancing kemejaku. Gerakannya begitu cepat, dan aku tak bisa melepaskan diri darinya. Bahkan air mata mulai meluncur di pipiku. “Apa yang kaulakukan, b******n?!” sebuah suara terdengar lantang mendekat. Aku pastikan itu adalah Justin. Benar, itu suara Justin. Dia menarik kerah jaket Daren dan mendorongnya sampai menempel ke tembok. Bukannya takut dengan kemarahan Justin saat itu, Daren hanya tertawa. Aku mengambil napas panjang seraya membenakan kancing kemejaku. “Tidakkah kaulihat? Bersenang-senang dengan pacarku, Bodoh,” balas Daren sambil tertawa. “Aku tidak yakin. Kau membuatnya menangis.” Sebuah tinjuan hampir dilayangkan oleh Justin, namun Daren menangkisnya cepat. Oh tidak. Jika mereka terlibat pertikaian, rumah ini bisa saja hancur. Baru saja aku menduganya, Daren mulai mengerahkan kekuatan sihirnya dengan menjadikan air akuarium sebagai obyeknya. Air di dalam akuarium itu bergerak sesuai kendalinya, lantas mengguyur Justin yang berdiri dengan sikap defensif. Justin menyibakkan rambutnya yang basah, menatap nanar Daren seolah baginya tak ada ampun lagi untuk anak itu. “Rupanya kau seorang penyihir,” ujar Justin pelan disertai geraman pelan. “Senang bertemu denganmu.” Kejadian itu berlalu sangat cepat seperti kedipan mata. Daren terhempas jauh menghantam tembok saat kepala Justin bergerak. Sambil meringis kesakitan, Daren berusaha bangkit. Belum sampai sana pertarungan itu. Kini Daren beralih memandang perapian yang masih menyala. Api dari tungku itu bergerak sesuai kendalinya, meliuk-liuk seperti naga kecil menghampiri Justin. Tampaknya Justin tidak menyadari keberadaan api di belakangnya. Dengan cepat, aku melompat mendekat. Lantas kuhalau keberadaan api yang bergerak seperti naga tadi dengan sisa air akuariium yang tumpah di atas lantai. Justin mengernyit heran melihat apa yang baru saja kulakukan. Bisa kuterka pikirannya bahwa dia tidak tahu kalau aku adalah seorang penyihir, namun dari kelompok yang beda. “Pergilah!” bentakku pada Daren yang menatapku tajam. “Sepertinya ibuku menyesal telah memberi amanat padamu!” Tidak mau membantah atau menyerang lagi, Daren hanya menggenggam kedua tangannya menahan emosi. Erangan kesal diteriakkannya keras sekali. Lantas, dilenggangkan dengan gusar kakinya menjauh meninggalkan ruang tamu. Aku menghela napas panjang, berusaha agar tidak menumpahkan tangisku di depan Justin. Namun sungguh sia-sia, air mata mulai berderai turun di kedua pipiku. Mengapa orang yang sebelumnya kupercaya berubah seperti itu? “Sudahlah, jangan menangis.” Justin meraihku ke dalam pelukannya. Kusandarkan kepalaku pada dadanya yang bidang. Menangis sesenggukan tanpa khawatir apa tanggapannya padaku. Entah mengapa, begini lebih baik. Beruntung sekali gadis yang menjadi pacar Justin. Pria ini tidak seperti ekspteasiku. Mungkin aku yang terlalu jahat memandangnya sebelah mata. *** Axeline’s POV “Alvero, bisakah kau antar aku membeli ponsel baru?” tanyaku pada Alvero yang tengah menyemprotkan air ke arah badan mobil. Melihat kedatanganku, Alvero menghentikan aktifitasnya. Ditaruhnya selang air tersebut di atas aspal, kemudian tersenyum simpul. “Memangnya ada apa dengan ponsel Anda, Young lady?” “Tadi pagi jatuh dari atas tangga dan tidak bisa dinyalakan.” Kuulurkan ponselku yang mati pada Alvero. Diamatinya baik-baik ponsel itu seraya menggumam pelan. “Hm, baiklah saya lanjutkan dulu pekerjaan saya. Sebentar lagi pasti selesai. Jika Anda tidak mau menunggu, Anda bisa meminta sopir lainnya.” “Aku akan menunggu.” Alvero mengangguk sopan. Lalu dilanjutkan lagi pekerjaannya. Kuhembuskan napas panjang seraya duduk di atas batu besar. Pasti Justin sudah mengirim banyak pesan atau kotak masuk suara karena ponsel ini tidak aktif. Sial sekali, padahal aku ingin mendengar suaranya lagi. Juga kabar darinya. Terakhir kali kutahu, Justin tidak suka berada di rumah itu. Tapi ibunya justru memperpanjang harinya berada di New Hampshire sampai liburan berakhir. Mengingat hal itu, aku jadi resah. Belum lagi dia bilang ada orang lain yang menempati rumah bibinya. Seorang gadis yang bernama Hillary. Kalau dari ceritanya, Hillary sangat menyebalkan dan ceroboh. Dan mendadak aku teringat potretku sendiri. Keresahan itu semakin menyergap seiring kegamangan yang tiba-tiba menghampiriku. Bagaimana kalau dia terpaut pada gadis lain? Ah, tidak. Apa yang kupikirkan. Bukankah kami sudah saling percaya? Walaupun di antara kami tidak ada satu pun yang pernah mengatakan cinta secara lisan, kami sudah sangat terikat. Dia bilang kalau cinta tidak perlu dibuktikan melalui lisan. Itulah mengapa dia tidak pernah mengatakan cinta secara lisan, hanya melalui pikiran dan bayangan dalam benaknya yang berhasil k****a. Tapi, aku sungguh ingin mendengar dia mengatakan ‘aku mencintaimu, Axeline’ secara lisan. “Mengganggu waktumu merenungi sesuatu?”tegur Zach yang muncul secara tiba-tiba dan duduk di sebelahku. “Aku menunggu Alvero untuk mengantarku. Ponselku rusak. Jadi aku memerlukan yang baru.” “Hmm… mungkin aku bisa mengantarmu. Sekaligus melihat perayaan tahun baru di kota. Bagaimana?” Kutimbang sejenak tawarannya. Kalau ajakan itu bisa mengusir kegamanganku, kurasa ada baiknya kuterima. Maka, aku mengangguk diiringi senyuman lebar tanda setuju. “Baiklah, ayo.” Aku memberi kode pada Alvero agar dia meneruskan pekerjaannya dan tidak perlu mengantarku. Sungguh, aku benar-benar berharap agar salju tidak turun sehingga kejadian waktu lalu tak terulang lagi. Jika Zach melihatku kedinginan atau tampak sakit, dia akan memulangkanku. Sedang aku sendiri ingin melihat kemeriahan malam tahun baru kali ini. Walaupun tidak ditemani oleh Justin. *** Justin’s POV Aku kira Hillary adalah gadis yang ketus dan menyebalkan. Ternyata di sisi lain, dia tampak rapuh. Melihat air matanya yang turun dan mendengar isak tangisnya justru mengubah persepsiku. Kasihan? Tidak. Entah ini empati atau yang lain, tapi gadis ini mengingatkanku dengan Axeline, yang otomatis membuatku harus berbaik padanya. Akan tetapi, Axeline tidak serapuh itu. Dia bahkan tak pernah menunjukkan air matanya di depanku. Ya, setiap orang pasti memiliki kepribadian yang berbeda. Bukan maksud membandingkan Axeline dengan Hillary. Dan sekarang ketika kami duduk di atas atap rumah ala mediteranian malam harinya, Hillary memberitahuku kalau dia bagian dari anggota penyihir lain, Terrius. Yakni penyihir yang menguasai semua elemen bumi. Itulah mengapa aku tidak begitu kaget saat melihat Hillary maupun pacarnya yang b******k itu dapat mengendalikan elemen bumi seperti air dan api. Seluruh Terrius memang dapat mengendalikan semua elemen itu, tidak terkecuali satu pun. “Sebelum orangtuaku meninggal, mereka memimpin dengan baik anggota kelompok kami,” ujar Hillary di sebelahku. Sebelum melanjutkan, dia menghela napas panjang. “Namun, kebakaran itu melenyapkan segala hal. Kehangatan, cinta, kedudukan, kekayaan…” Dia mencibir seakan ada yang mengganggunya melalui kalimat itu. “Ya jadilah aku seperti sekarang. Gelandangan.” Responku adalah tertawa pelan. Sebagian hatiku memang simpati padanya. Tapi aku tidak suka pilihan katanya yang menyebut bahwa dia gelandangan. “Bersyukurlah Bibi Charlotte mau menampungmu, Tuan Putri.” Lagi-lagi aku teringat pada sosok Axeline. Sial. Kenapa sampai sekarang dia tidak bisa dihubungi? Apakah terlalu sibuk bersenang-senang dengan Zach hingga melupakanku? Lebih baik kusimpan dulu praduga itu sebelum mendapatkan kebenarannya. “Dulu aku memang seorang putri. Dulu sekali.” Hillary bersendang dagu seraya memandang lurus ke depan. Tatapannya tampak kosong. “Aku juga benci peraturan di dalam kelompokku.” Mendengar kata peraturan, kepalaku terangkat. Kutumbukkan tatapan tanya walau dia tidak memalingkan pandangan ke arahku. “Kami dilarang menggunakan sihir di luar keadaan darurat,” lanjutnya. “Padahal aku paling suka menjahili orang. Sesekali aku melanggarnya.” Peraturan sederhana seperti itu, dia tidak bisa mentaatinya? Jika dibandingkan dengan peraturan dalam Mutant Wizards, pasti kalah jauh. “Setiap penyihir pasti diarahkan untuk menggunakan kekuatan mereka sebaik mungkin. Dalam kelompok kami juga ada peraturan tolol.” Aku mengambil napas sejenak seraya menyandarkan punggungku pada dahan pohon yang besar. “Sesama Mutant Wizards dilarang ada ikatan khusus kecuali persahabatan atau persaudaraan.” “Wow, sangat tolol.” “Benar sekali.” Aku mencebikkan bibir. “Kau tahu kalau aku seorang Mutant Wizards, kenapa tidak tahu apapun perihal kelompok kami?” “Aku hanya tahu sedikit. Lagipula… menurutku di dunia ini tidak ada satu pun golongan penyihir yang memiliki kemanusiawian. Semuanya gila akan kedudukan juga keabadian. Yang pernah kudengar hanyalah tentang sejarah Mutant Wizards serta Exterminators. Terbentuk dari dua bersaudara yang saling bermusuhan dan saling bersaing untuk menjadi penyihir terkuat.” Terdengar dengusan pelan di sebelahku. “Terrius bisa dikatakan sebagai golongan penyihir yang anti bersosialisasi dan membantu golongan lain. Tapi sangat loyal pada sesama anggota.” Benar-benar dunia yang dipenuhi oleh kelicikan dan kerusakan. Semua orang memang dibutakan oleh kedudukan, kuakui itu. Sebagai contoh saja, Lord Robbespierre dan Lord Goldsher. Berdua, mereka sama-sama angkuh dan arogan. “Pacarmu tadi seorang Terrius juga, kan?” tanyaku. Wajah si b******k itu justru melekat di dalam kepalaku. Hillary tertawa masam. Kepalanya tertunduk, entah untuk menyembunyikan raut wajah sedihnya atau lebih tertarik melihat rumput hijau di bawahnya. Kakinya diayun-ayunkan pelan. “Sebenarnya kami sudah putus beberapa hari yang lalu. Dia selalu menggangguku. Pergaulannya mengubah segala hal. Aku bahkan nyaris tidak mengenalnya.” Aku tak membalas. Kubiarkan dia menyelam ke dalam pikirannya sementara aku menghirup udara segar malam hari di sini. Untunglah salju atau hujan tidak turun hari ini. Aku bisa merasakan kedamaian dari angin yang berhembus membawa bau rerumputan segar menghampiriku. “Kau bilang sesama golongan tidak boleh saling jatuh cinta,” ujarnya memecahkan keheningan. “Lantas, pacarmu itu—” “Dia berasal dari golongan yang sama,” aku menginterupsi. “Sama sepertimu, aku melanggar peraturan. Dan suatu saat nanti peraturan itu akan kuhapus.” Lagi-lagi Hillary terdiam. Namun dengan cepat dia menyambar. “Kau sangat mencintainya?” Seolah tengah dihadapkan dengan orang t***l, aku menoleh seraya mengangkat sebelah alisku. “Tentu saja.” “Beruntung sekali dia,” bisiknya nyaris tidak terdengar. Aku tergelak pelan menyadari keberadaan bisikan itu. “Baru beberapa jam yang lalu kau bilang mana ada gadis yang mau dengan orang kasar sepertiku. Sekarang, kau mencabut ucapan itu, Young lady?” Kedua alis Hillary saling bertautan tidak suka. Bisa jadi dia tidak suka dengan sebutanku, atau tdiak suka dengan cemoohanku. “Baiklah kucabut saja perkataanku baru saja. Dan jangan ungkit lagi.” Tak hanya menyebalkan, dia juga tidak mau mengalah. Aku tertawa lagi. Masih dirundung kekesalan, Hillary membuang muka seraya mengerucutkan bibir miring. Kutengok jam yang melingkar di tangan kiriku. Sebentar lagi. Tinggal beberapa detik waktu pergantian tahun. Sungguh, aku berharap Axeline ada di sini sehingga kami bisa menikmati malam pergantian tahun bersama-sama. Terpikirkan olehku waktu itu untuk mengajaknya melihat kembang api dari atas bukit tempat persembunyian para peri dengan suara nyanyian mereka yang merdu ketika malam hari. Tapi pikiran yang nyaris sempurna kubayangkan justru terenggut begitu saja. Mengantarku pada seorang bibi yang tidak bisa berhenti berteriak dan seorang Terrius menyebalkan. Baru aku menghitung mundur dari lima sampai ke satu, suara letusan kembang api memecah keheningan malam ini. Warna-warninya mengingatkanku pada saat acara festival natal itu. Yang naasnya harus dikacaukan oleh para destroyers k*****t tersebut. Mengingat kebersamaanku dengan Axeline justru menambah kerinduanku padanya. Maka, kuputuskan untuk masuk ke dalam rumah saja. “Aku ingin tidur,” kataku lesu sembari beranjak dari tempat dudukku. Ketika aku melangkah pergi, mendadak Hillary menarik tanganku sampai membuatku berhenti. Aku membalikkan badan, bersamaan dengan sesuatu yang lembut dan basah menempel di bibirku. Awalnya aku terkesiap mendapatkan ciuman dari Hillary. Tapi gadis ini sungguh mengingatkanku pada Axeline. Dari yang paling dasar hingga caranya menciumku. Sangat-sangat mirip Axeline. Maka untuk melampiaska rasa rinduku padanya, kubalas ciuman Hillary yang terasa sama persis seperti ciuman Axeline. Kedua tanganku menyentuh pipinya, melumat bibirnya hingga bisa kurasakan jari-jarinya yang disurukkan pada rambutku. Oh sial, gadis ini sungguh mirip Axeline. *** Axeline’s POV Kupandangi hamparan kembang api yang menghiasi langit malam di atas sana. Langit begitu cerah, tapi hatiku tidak sejalan dengan keadaan saat ini. Seharusnya aku ikut ke dalam euforia penyambutan tahun baru. Namun, sebagian hatiku mencemaskan sesuatu. Apa yang dilakukan Justin di luar sana? Apakah dia merindukanku? Atau justru melupakanku sejenak untuk bersenang-senang bersama Hillary? Ah, lagi-lagi perasaan itu datang. Sungguh membuatku jengah dan jemu pada diriku sendiri. “Kau tampak murung. Kenapa?” tanya Zach mengalihkan perhatian dari kembang api ke arahku. Aku membalas pandangannya, namun tidak bisa membohonginya kali ini. “Yeah. Aku memikirkannya.” Terdengar desahan napas berat. “Kau pasti merindukannya.” “Tentu saja.” Terjadi kesenyapan di antara kami. Kembang api yang meluncur deras saling bersahut-sahutan tidak bisa menghiburku. Berulang kali pula aku mengirim pesan atau mencoba menelepon Justin dan mengabarkan kalau sekarang ponselku bisa dihubungi lagi. Tapi tak kunjung ada respon darinya. Sungguh membuatku lebih gamang. Aku mengalihkan perhatian saat tangan Zach menyentuh sebelah pipiku, lantas mendekatkan wajahnya padaku. Jarak yang memisahkan kami hanyalah bekisar ebeberapa senti. Sampai kusentuh dadanya dan menundukkan kepala. Tampaknya dia tahu kalau aku tidak bisa melakukan itu. Sehingga membuatnya menjauhkan diri dariku, menjatuhkan tatapan pada kembang api di atas kami. “Seberapa besar cintamu padanya?” Dia menoleh ke arahku. “Dihitung dengan bintang atau hamparan pasir pun tidak akan mampu menandinginya.” Aku menunduk lesu. “Dan aku tak akan pernah mengkhianatinya, atau bahkan mengecewakannya. Tak akan pernah.” Tidak kudengar balasan sama sekali dari Zach. Dia memilih untuk membius seraya memandangiku dengan tatapan yang tak terbaca. Sebelum akhirnya mengalihkan lagi perhatiannya, meski bisa kulihat perubahan mimik wajahnya secara drastis. Tidak usah bertanya pun aku tahu mengapa. Mungkin yang ingin kukatakan padanya hanyalah maaf.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD