Kesepakatan Menikah Yang Sama

1120 Words
"Lah, kamu udah pulang? Tumben, biasanya kamu pulang hampir tengah malam," ucap Hanna setelah masuk ke dalam rumah kontrakannya. Dia melihat Zachira yang sedang terduduk di atas lantai beralaskan karpet saja. Gadis itu sedang terduduk dengan tangan yang sedang memegang handphone. "Ada yang mau aku bicarain sama kamu, Kak," ucap Zachira, ia menaruh handphone dan menatap Hanna dengan sangat serius. "Sama, aku juga mau bicara sama kamu," ucap Hanna, dia lalu ikut terduduk hingga akhirnya berhadapan dengan sang adik. "Ya udah, kamu duluan yang bicara," ucap Zachira. "Enggak, Ra. Yang aku katakan akan sangat panjang dan makan banyak waktu, jadi kamu duluan aja yang ngomong," ucap Hanna. "Ck! Yang mau aku omongin juga panjang." "Ya udahlah, daripada berdebat gak jelas dan tidak akan ada beresnya, sekarang kamu duluan yang ngomong. Mau sepanjang apapun omongannya, aku akan mendengarnya. Lagipula kita punya waktu yang banyak. Jadi cepat, mau ngomong apa?" tanya Hanna. "Oke." jawab Zachira, dia memejamkan mata sebentar. Mengatur napas teratur, kemudian menatap Hanna yang terduduk di hadapannya dengan sangat serius. "Alexi tadi menemui aku," ucap Zachira akhirnya. "Hah?” Hanna menatap Zachira dengan tatapan kaget, "Mau apa dia nemuin kamu?" tanya Hanna. "Dia menemui aku untuk membuat kesepakatan." "Kesepakatan? Kesepakatan apa?" tanya Hanna. "Memberikan sedikit harta milik kita, dia juga akan membayar semua hutang kita pada Pak William. Dia bilang, dia akan memberi harta itu 20%, itu pun aku berdebat dulu untuk menentukan nominal persennya." "Hah? Berdebat untuk menentukan nominal persennya? Tunggu ... kamu ... menerima kesepakatan itu?" tanya Hanna. Zachira langsung mengangguk. "Ya ampun, Zachira!" pekik Hanna. "Dengarkan aku dulu, Kak. Jangan marah, aku bisa menjelaskannya," ucap Zachira, "20% itu lumayan besar, setidaknya kita punya saham, Kak. Kita juga bisa balik ke rumah kita, kita gak akan kesusahan lagi tinggal di rumah kontrakan kecil seperti ini. Kita juga tidak akan lagi di kejar-kejar oleh orang-orang suruhan Pak William. Saat kita sudah kembali tinggal di rumah kita, kita bisa rebut lagi semua harta milik kita dengan cara yang sama seperti Alexi mengambilnya." "kamu pikir Alexi itu bodoh huh? Dia itu tidak sebodoh yang kamu pikirkan Chira! Dia pasti sudah memperhitungkan semuanya! Mana mungkin ada maling yang memasukkan polisi ke dalam rumahnya! Pake otak kamu! Dia tidak mungkin lengah begitu saja setelah kita masuk ke rumah itu!" "Ya tapi—" "Kesepakatan apa yang kamu buat bersama dengan dia huh?" tanya Hanna. "Hm? Itu ... aku ... aku harus mau menikah dengan dia dan menjadi istri dia." "Apa?" Hanna semakin menatap Zachira dengan tatapan kaget. "Menikah?" Zachira mengangguk. "Dan kamu langsung menyanggupi kesepakatan itu?" Hanna tersenyum smirk, lalu menatap Zachira lagi. "Padahal kamu sendiri yang mengatakan kalau pria itu bukan pria baik dan sekarang kamu malah menyanggupi kesepakatan itu dengan menikah bersama dia. Ck! Kamu gila, Ra!" "Karena aku capek terus hidup dalam pengejaran orang, Kak! Aku mau hidup aku kembali tenang seperti dulu! Aku mau kembali hidup nyaman di rumah mewah kita, bisa makan enak, tidur nyenyak dan nyaman. Gak kayak sekarang! Makan seadanya, tidur beralaskan karpet dan belum lagi harus hidup tidak tenang karena terus dikejar-kejar orang. Aku tuh gak mau kayak begitu!" "Hutang itu sudah lunas, Zachira!" pekik Hanna lagi menatap Zachira dengan tatapan kesal penuh amarah. "Hah? Lu—lunas?" Zachira menatap Hanna dengan tatapan bingung dan kaget. "Kok bisa?" "Karena aku juga membuat kesepakatan!" "Apa?" Zachira menatap Hanna dengan tatapan kaget, "Maksudnya ... Alexi juga akan menikahimu?" tanya Zachira. "Kesepakatan itu memang pernikahan, tapi bukan bersama Alexi! Kemarin dia memang menawari aku kesepakatan yang sama seperti yang dia katakan sama kamu, tapi aku langsung menolaknya! Aku tidak sudi harus menikah dengan pria yang sudah membunuh Mama dan Papa. Aku juga tidak sudi jika harus bersetubuh dengan dia! Aku bahkan jijik saat membayangkannya!" Zachira diam tak menjawab ucapan Hanna. "Yang tadi mau aku bicarakan padamu, ya aku mau membicarakan kesepakatan ini, Zachira!" "Kalau bukan Alexi, lalu dengan siapa kamu membuat kesepakatan?" tanya Zachira. "Dengan Elov, CEO Desmond Company," ucap Hanna. "Dan dia sudah membayar hutang kita pada Pak William tadi!" "Kenapa tidak bicara dulu padaku sih, Kak? Kenapa main menyanggupi kesepakatan itu?" "Cih! Terus apa kabar denganmu huh? kamu juga tidak mengatakannya terlebih dulu padaku dan main menyanggupi kesepakatan itu!" Zachira menundukkan kepala. "Alasanku menyanggupi kesepakatan itu bukan semerta-merta agar bisa kembali hidup enak lagi, tetapi aku berada dalam situasi yang sulit tadi! Aku sudah mengatakan pada dia untuk memikirkan terlebih dahulu tawaran dia dan akan bicara dulu sama kamu. Aku mau tahu terlebih dahulu bagaimana pendapatmu, tapi saat aku keluar dari perusahaannya. Aku kembali bertemu dengan orang-orang Pak William, aku panik dan kembali masuk lagi ke perusahaan.” Hanna berbicara dengan nada yang masih sangat kesal pada Zachira. Kemudian ia meneruskan lagi ucapannya dengan mengatakan, “Tapi orang-orang itu menungguku di luar dan mereka pasti akan menungguku sampai keluar. Itu artinya aku harus menyerahkan diri! Karena tidak mau, akhirnya mau tidak mau aku menerima tawaran Elov dan dia langsung mentransfer sejumlah uang pada William untuk membayar hutang itu." "Tapi untuk apa dia membantu kita? Kita tidak mengenal dia sama sekali," ucap Zachira. "Dia belum mengatakan apa alasannya karena tadi dia harus segera pergi untuk meeting, tapi dia bilang kalau dia punya tujuan. Aku rasa dia juga mempunyai dendam pada Alexi," jawab Hanna. "Dan kamu ... kenapa huh? Kenapa malah menyanggupi kesepakatan itu begitu saja? Kenapa tidak mengatakannya dulu padaku! Harusnya kamu bicara dulu padaku." "Ya karena aku pikir kita sudah tidak punya jalan keluar, Kak. Aku lelah terus dikejar! Aku juga berpikir kalau aku bisa menjadi musuh dalam selimut, kita bisa mengatur rencana untuk mengambil semua hak milik kita lagi." "Tapi Alexi bukan orang yang bodoh Zachira!" ucap Hanna dengan gigi yang menggertak kesal. "Aku tidak mau tahu ya, Ra! Batalkan kesepakatan itu! Tuan Elov jauh lebih bisa membantu kita karena dia juga punya tujuan yang sama dengan kita! Dia jauh lebih bisa diandalkan daripada rencanamu itu! Aku percaya pada dia karena dia langsung menepati janji dengan membayar hutang detik itu juga. Aku bahkan memberi syarat pada dia dan dia juga menyanggupi syarat dariku." Zachira diam tak berucap. "Dia bahkan membatalkan kerjasama dengan perusahaan Pak William setelah membayar hutang kita dan itu pasti sedikit merugikan dia karena dia akan kehilangan keuntungan dari kerjasama itu! Tapi demi kita, dia melakukannya! Itu artinya dia bisa diandalkan. Belum lagi dia punya kekuasaan, kita bisa mengambil hak kita lagi di tangan Alexi!" Zachira masih terdiam benar-benar merasa sangat bersalah. "Pokoknya batalkan kesepakatan itu!" "Bagaimana cara membatalkannya? Aku sudah menandatangani surat kesepakatan itu." "What? Kamu gila!" "Aku minta maaf, Kak." ucap Zachira penuh penyesalan. "Huuhhhh ...." Hanna menghembuskan nafas dengan sangat kasar, dia menatap sang adik dengan tatapan yang sangat kesal. "Aku harus bagaimana?" tanya Zachira dengan nada suara lemah. "Aku tidak tahu!" ucap Hanna sedikit sarkas. Zachira memejamkan mata. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD