“Apa? Jadi salah satu putri Gibran adalah kekasih Elov?” tanya Seorang pria yang usianya sekitar 35 tahunan. Dia adalah William, orang yang selama ini meminta orang-orang suruhan untuk mengejar Hanna dan juga Zachira menagih uang yang sempat di pinjam oleh Gibran, ayah dari Hanna dan Zachira.
“Ya, sepertinya begitu, Bos. Soalnya kami denger banget kalan dia manggil Hanna dengan panggilan sayang. Dia juga bilang kalau harusnya perempuan itu bilang kalau punya hutang biar si Elov ini bayar utangnya dan gak malu.”
“Kenapa kalian tidak mencari tahu dulu! Harusnya kalian—“
“Tugas kami hanya menagih hutang! Bukan mencari informasi!” sela satu pria memotong ucapan William. “Sekarang cepat bayar kerja kami agar kami bisa segera pergi dari tempat ini!”
“Ck! Sialan!” William mengepalkan tangannya erat. Dia lalu berjalan ke arah mejanya dan membuka laci, mengambil amplop berwarna coklat lalu memberikannya pada orang suruhannya itu.
“Terima kasih!” ucapnya lagi, mereka lalu berbalik hendak keluar dari pintu.
Namun, saat satu pria hendak keluar, dia berbalik dan menatap William. “Elov juga mengatakan, kalau kamu ingin menyalahkan. Salahkan saja Alexi.” Pria itu kembali melangkahkan kaki lagi dan pergi.
“Alexi?”
Tanpa berpikir panjang, William langsung mengambil handphone di atas meja dan menghubungi Alexi.
**
**
“Apa maksudnya ini? Kenapa kamu dengan sepihak membatalkan kerjasama kita?” tanya Alexi saat setelah membuka pintu ruangan William. Dia datang dengan wajah yang penuh amarah.
“Kamu membuat kerjasama dengan keuntungan ratusan jutaku batal!” jawab William. Dia bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri Alexi.
“Maksudnya?” Alexi menatap William dengan tatapan tak mengerti.
“Aku mempunyai kerjasama dengan Desmond Company dan itu batal”
“Terus apa hubungannya denganku?” tanya Alexi tidak mengerti.
“Si Elov itu bilang kalau semua karenamu!”
“Karenaku? Aku bahkan tidak mengenal dia! Bagaimana bisa karenaku!” jawab Alexi tidak terima.
“Salah satu putri Gibran adalah kekasihnya!”
“Apa?” Alexi menatap William dengan tatapan kaget. Dia diam sebentar untuk berpikir, “Hanna? Tidak, tidak ... tidak mungkin itu Hanna, dia baru saja putus dariku, mana mungkin dia bisa dengan mudah berhubungan dengan pria lain. Apa si Zachira? Tapi tadi dia sudah menyetujui ....”
“Elov pasti marah karena kekasihnya kamu buat sengsara. Aku tahu, harta Gibran tidak diberikan secara sukarela padamu tapi kamu merebutnya! Kamu juga meminta aku untuk menagihnya secara langsung pada putrinya, orangku sampai harus mengejar-ngejar mereka itu karena kamu tidak memberikan sepeserpun uang pada mereka! Karenamu aku jadi kehilangan banyak uang! Harusnya aku mendapatkan ratusan juta rupiah dari keuntungan kerjasamaku dengan Desmond! Tapi kamu menghancurkan semuanya! Ck! Sialan! Harusnya aku tidak mengikuti apa katamu untuk menagih hutang itu pada putri Gibran! Ini semua salahmu!”
“Oke, aku minta maaf.”
“Maaf katamu? Semua tidak bisa selesai hanya dengan kata maaf saja!”
“Terus aku harus bagaimana? Mengganti rugi? Cih! Jangan harap!” ucap Alexi, “Atau kamu akan balas dendam padaku? Lakukan saja! Aku tidak takut, ketimbang berpikir untuk balas dendam padaku, lebih baik kamu pikirkan bagaimana cara mempertahankan perusahaanmu agar tidak jatuh. Kamu sudah kehilangan keuntungan dari kerjasama bersama Desmond dan barusan kamu juga membatalkan kerjasama denganku. Itu artinya kamu juga akan kehilangan keuntungan dari kerjasama kita! Yakin perusahaanmu akan stabil setelah ini?”
William menatap Alexi dengan tatapan sinis, tangannya juga mengepal kuat saat yang Alexi katakan benar juga.
Alexi tersenyum smirk. “Gunakan akal sehatmu dengan ini,” ucap Alexi seraya menaruh jari telunjuknya di kepalanya. Dia lalu berbalik dan hendak pergi.
“Oke!” sahut William akhirnya.
Alexi yang mendengar sontak langsung tersenyum.
***
“Aku akan meminta sekertarisku untuk membuat surat perjanjian atas kesepakatan yang tadi kita buat.” ucap Elov dengan mata yang menatap lurus fokus pada jalanan karena sedang menyetir.
Hanna yang terduduk di sampingnya itu mengangguk pelan mengiyakan. “Aku punya syarat juga untukmu.”
“Apa?” tanya Elov.
“Aku ingin pernikahan kita dilakukan sesuai dengan syarat yang semestinya. Walau terjadi hanya di atas kertas, tapi aku tidak mau hanya kepura-puraan semata. Aku tidak mau mempermainkan pernikahan.”
“Apa?” Elov menatap Hanna dengan tatapan kaget. Dia lalu menghentikan mobilnya di jalur kiri lalu kembali menatap Hanna dengan tatapan yang sangat kaget. “Maksudnya kita betulan menikah?”
“Iyalah,” jawab Hanna, “Pernikahan itu sakral dan bukan permainan, aku tidak mau berdosa karena mempermainkan sesuatu yang sakral!”
“Hah? Kamu gila?”
“Justru karena aku waras makanya aku mengatakan ini!”
“Tidak! Pernikahan kita terjadi hanya di atas kertas! Akan ada kontrak yang harus ditandatangani nanti dan akan tertera juga tanggalnya kapan harus menghentikan semuanya. Jika masa berlaku kontrak pernikahan itu sudah habis sedang misi kita belum berhasil, akan ada perpanjangan kontrak. Tapi kalau misi berhasil sebelum tanggal, kita bisa berpisah lebih cepat.”
“Aku tidak mau,” jawab Hanna seraya merapatkan kedua tangannya di bawah d**a terlipat. “Aku tidak mau mempermainkan pernikahan. Nikah kontrak itu haram!”
“Tapi aku tidak mencintaimu! Bagaimana mungkin kita menikah betulan,” ucap Elov.
Hanna menoleh menatap pria yang terduduk di sampingnya. “Kamu pikir aku mencintaimu huh? Aku juga tidak mencintaimu! Hatiku sudah mati rasa untuk semua pria! Bagiku semua pria itu b******k kecuali ayah dan kakakku! Aku sudah tak lagi percaya pada pria! Aku bahkan berpikir untuk tidak akan pernah menikah seumur hidup! Jadi kamu tenang saja, di dalam pernikahan itu kamu tetap bebas melakukan apapun yang kamu mau. Aku tahu hidupmu pasti dikelilingi oleh banyak wanita, kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau dan aku tidak akan pernah peduli.”
“Bukan itu masalahnya! Aku—“
“Kalau tidak mau ya sudah, batalkan saja kesepakatan kita,” ucap Hanna seraya tersenyum.
“Aku sudah membayar hutangmu!” ucap Elov dengan gigi yang menggertak.
“Tenang saja, aku akan membayar hutangnya. Aku akan bekerja di rumahmu sebagai pelayan atau menjadi apapun yang kamu pinta. Gaji seseorang itu biasanya paling rendah sekitar tiga juta perbulan dan hutangku seratus juta. Itu artinya aku harus bekerja denganmu sekitar 34 bulan atau kurang lebih 3 tahun kan ya? 3 dikali 34 sama dengan 102, ada lebih dua juta. Begitu kan hitungannya?”
Elov menatap Hanna dengan tatapan kesal.
“Bagaimana?”
“Kamu! Picik!”
“Syaratku itu mudah, picik dari mananya? Aku hanya tidak mau mempermainkan pernikahan. Itu saja, bahkan jika sudah berstatus sebagai istri pun aku tidak akan banyak melarangmu. Kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau,” tutur Hanna, “Bagaimana? Setuju tidak? Kalau tidak ya sudah, aku tidak akan memaksa. Besok aku akan datang ke perusahaan sebagai seorang karyawan.” Hanna memegang handle pintu hendak keluar.
“Ck! Oke!” jawab Elov, “Aku setuju.”
Hanna menoleh menatap Elov yang sedang menatapnya dengan tatapan sinis. “Oke,” jawab Hanna.
Bersambung