Hanna mengikuti langkah kaki seorang wanita yang berjalan di hadapannya, hingga akhirnya ia berdiri satu langkah di sebuah pintu dan wanita itu pun mengetuknya.
“Masuk,” ucap seorang pria dari dalam ruangan.
Wanita yang bersama dengan Hanna itu akhirnya membuka pintu dan masuk setelah mendapatkan persetujuan.
Hanna juga lantas ikut masuk, dia melihat seorang pria yang terduduk di atas kursi yang berbalik memunggunginya.
“Pak?”
“Kamu boleh keluar,” ucapnya masih dengan posisi yang sama.
“Baik, Pak.” Wanita itu tersenyum pada Hanna lalu setelah itu keluar dari ruangan.
Pria yang terduduk di atas kursi itu akhirnya memutar kursinya dan menatap Hanna. Mata Hanna sontak terbelalak kaget saat melihat siapa yang terduduk di sana.
“K—kamu ... ma—maksudku, Pak ... Bapak yang kemarin nolongin saya, kan?” tanya Hanna.
“Ingatanmu masih bagus ternyata,” ucap pria yang tak lain ialah Elov.
Hanna menelan salivanya. “Untuk yang kemarin, s—saya minta maaf, Pak. Demi apapun saya bersumpah, saya sama sekali tidak bermaksud mengataimm Bapak.” Ucap Hanna berbicara dengan nada yang formal agar terkesan sopan. “Ucapan itu kemarin beneran tertuju pada orang lain dan bukan padamu. Terus, saya juga ingin meminta maaf jika saat keluar dari mobilmu, itu terlalu kasar.”
“Tidak masalah, saya sudah memaafkan kamu,” jawab Elov.
Hanna tersenyum.
“Duduk,” pinta Elov.
Hanna mengikuti apa kata Elov, dia terduduk di kursi yang berada di hadapan Elov. “Ini CV saya, Pak.” Tutur Hanna seraya menyerahkan map data diri untuk melamar kerja pada Elov.
Elov mengambil map berwarna coklat, dia membuka map itu dan menarik lembaran kertas di dalamnya. Elov membaca selembar demi selembar kertas itu lalu menaruhnya di atas meja.
Hanna yang melihatnya itu menggigit bibir bawahnya dan menatap Elov dengan sangat serius. “Tolong terima saya bekerja, Pak. Menjadi apapun saya tidak masalah,” ucap Hanna lagi.
“Lowongan yang ada itu kalau tidak salah hanya sebagai staff dan juga bagian marketing. Dari datamu di CV, tidak ada yang memenuhi syarat,” ucap Elov.
“Saya tidak masalah jika harus menjadi OB, Pak.”
“Posisi itu sudah penuh,” jawab Elov singkat.
Hanna menunduk lemah.
“Tapi saya punya tawaran lain,” ucap Elov.
Hanna sontak langsung menatap pria di hadapannya lagi dengan sangat serius. “Apa, Pak?”
“Menjadi istriku,” jawab Elov.
“Hah? A—apa?” Mata Hanna terbelalak kaget saat mendengar Elov berucap. “Ini saya gak salah denger? Jadi istri?
“Ya … jadi istri,” ulang Elov. “Gimana? Kamu mau nerima tawaran saya?” tanya Elov.
“Jangan macam-macam ya, Pak! Saya datang kemari untuk melamar pekerjaan! Bukan menjadi b***k nafsu Bapak! Saya memang lagi butuh banyak uang, tapi saya tidak akan melakukan segala hal cara untuk mendapatkannya! Saya masih punya harga diri!”
“H—hah? Apa?” Elov menatap Hanna dengan tatapan kaget saat mendengar kata yang terucap dari bibir Hanna. “b***k … nafsu?”
“Iya! Bapak nikahin saya pasti untuk jadiin saya b***k nafsu secara halal, kan? Bapak ini emang laki-laki gak punya otak!”
“Hah?”
Hanna langsung bangun dari duduknya dan berdiri tegak, dia mengambil lagi CV miliknya di atas meja membereskannya. “Cari aja perempuan lain yang mau bersetubuh dengan Bapak! Saya sih gak sudi!” Hanna lalu berbalik dan berjalan ke arah pintu hendak keluar.
“Danish Alexi,” ucap Elov bersuara lagi.
Hanna yang baru saja memegang handle pintu sontak tak jadi keluar saat Elov menyebut nama seorang pria. Dia lalu menoleh kembali melihat ke arah Elov lagi.
“Tujuanku menikahi kamu bukan karena tertarik sama tubuh kamu! Tubuh kamu tuh sama sekali tidak menggoda! Terlalu kecil!”
Hanna menelan salivanya. “Jangan body shaming ya, Pak! Kalau bukan untuk itu terus untuk apa?”
“Kamu ingin merebut semua hartamu lagi dari Alexi, kan? Kamu juga pasti mau banget balas dendam pada si Alexi itu? Saya bisa bantu kamu. Saya akan bantu kamu rebut harta yang diambil alih oleh Alexi. Bahkan kalau mau buat dia jadi gelandangan, saya juga bisa melakukannya.”
Hanna diam sebentar lalu tak lama berucap, “Kenapa? Kenapa kamu mau membantuku? Pasti ada keuntungan untukmu juga bukan?”
Elov tersenyum smirk. “Gak mungkin kan saya bantu kamu cuma-cuma? Jelas pasti ada keuntungan,” jawab Elov.
“Apa? Dan kenapa harus menjadi istri? Bukankah kita bisa saja bekerja sama tanpa ada ikatan pernikahan.”
“Kamu tidak perlu tahu apa alasannya. Dan kenapa harus menjadi istri, karena saya punya tujuan, bukan semerta-merta hanya ingin menjadikanmu istri saja.”
Hanna kembali diam lagi dan hanya menatap Elov.
“Kamu tenang saja, pernikahan ini tidak betulan. Hanya untuk status saja. Intinya pernikahan ini akan sangat menguntungkan untuk kita berdua. Kamu saya bantu melawan si Alexi dan kamu ... bantu saya juga melawan seseorang.”
“Siapa?”
“Akan saya katakan dan akan saya jelaskan jika kamu setuju,” ucap Elov.
Hanna kembali diam sebentar untuk berpikir.
“Saya juga akan membayar semua hutangmu pada William,” ucap Elov lagi.
“Beri saya waktu, saya harus bicara terlebih dahulu dengan adik saya.”
Elov mengangguk. “Oke.”
“Oke kalau begitu, saya permisi.” Hanna kembali memegang handle pintu lagi dan keluar dari ruangan Elov.
Saat sudah di lantai dasar, Hanna keluar dari area perusahaan. Dia berdiri di pinggir jalan menunggu kendaraan umum.
“I—ITU DIA!” teriak pria yang kemarin mengejar Hanna.
Mata Hanna sontak terbelalak kaget saat melihat 2 orang pria di seberang jalan, dia kembali masuk lagi ke area perusahaan untuk menghindari 2 orang itu karena 2 orang pria itu pasti tidak akan diizinkan masuk ke perusahaan. Dia akan aman jika bersembunyi di dalam perusahaan.
“Sialan! Kenapa mereka ada di sini?” gumam Hanna saat berdiri di lobi perusahaan. “Mereka pasti akan menungguku di luar sana, endingnya aku pasti bakalan ketangkep! Haruskah aku terima tawarannya sekarang juga? Tapi kalau Chira gak setuju gimana?”
Hanna berjalan ke arah pintu utama perusahaan, dia sedikit mengintip dan melihat 2 orang pria itu masih berdiri di sana.
Hanna berbalik badan, lalu dilihatnya pintu lift yang terbuka dan seorang pria keluar dari sana.
“Ck! Aku tidak punya pilihan lain!” gumam Hanna, dia lalu langsung berjalan menghampiri Elov dan memegang lengan pria itu. “Tolong saya, Pak.”
“Kamu? Masih di sini?” tanya Elov.
“Anda benar akan bayar semua hutang saya sama Pak William, kan?”
“Kalau kamu menyepakati yang tadi kita bicarakan. Tentu saya akan membayar semua hutangmu,” jawab Elov.
Hanna langsung meraih telapak tangan Elov dan menjabatnya. “Kalau begitu saya terima tawaran Bapak!” ucap Hanna.
“Kamu serius?” tanya Elov.
“Iya! Saya serius! Sekarang bayar hutang ayah saya, mereka semua ada di luar.”
“Mereka? Di luar?”
“Ya! Mereka menungguku di luar.”
Dahi Elov mengernyit, dia lalu berjalan keluar dari perusahaannya dengan Hanna yang mengekorinya dari belakang.
“Kamu! Jangan kabur kamu! Kami lelah terus mengejarmu! Kemari dan temui bos besar!” ucap salah satu pria berbicara dengan sarkas pada Hanna.
Hanna berdiri di belakang Elov, dia memegang kain jas Elov bersembunyi. “Cepat! Bayar,” gumam Hanna.
“Berapa hutangnya?” tanya Elov saat sudah berdiri di hadapan 2 pria itu.
“100 juta!”
“Hah?”
“Kenapa? Kamu tidak sanggup membayarnya?” tanya Hanna dengan nada suara pelan.
Elov tak memperdulikan ucapan Hanna, dia masih menatap 2 orang yang berdiri di hadapannya. “Hanya 100 juta dan kalian terus mengejar gadis ini? Apa si William itu sudah bangkrut sampai uang 100 juta saja dia kejar-kejar.”
“Cih! Jangan banyak omong! Kamu mampu tidak membayarnya, huh?”
Elov menghembuskan napasnya dengan sangat kasar, dia lalu merogoh saku kemejanya yang tertutup jas dan mengambil handphone. “Mana nomor rekening bosmu, aku akan mentransfernya sekarang.”
Pria itu mengotak-atik handphonenya lalu mengarahkan layar handphonenya pada Elov.
Selang beberapa menit kemudian. Kini Elov yang memperlihatkan layar handphonenya pada 2 pria itu. “Sudah berhasil ditransfer.”
“Tunggu sebentar!”
“Jangan terlalu lama, aku tidak punya banyak waktu untuk mengurusi hal tidak berguna seperti ini.”
Pria itu tak menjawab, lalu tak lama kembali berucap, “Sudah berhasil, terima kasih atas kerjasamanya!”
“Oke,” jawab Elov.
Kedua pria itu berbalik melangkah pergi.
“Tunggu!” ucap Elov.
2 pria itu menoleh melihat ke arah Elov.
“Katakan pada William, kerjasama antar perusahaan dengan Desmond Company saya batalkan! Jika dia marah, katakan itu semua karena Alexi!” ucap Elov, dia lalu meraih telapak tangan Hanna menggenggamnya, “Ayo, Sayang, kita pergi.” Elov berbalik dan melangkah, “Harusnya kamu bilang kalau punya utang, bikin malu saja!”
Dengan jelas 2 pria itu mendengar Elov berucap pada gadis yang selama ini mereka kejar-kejar.
Bersambung