Berjodoh?

1257 Words
Ceklek. Elov yang tengah terduduk dengan mata melihat lurus ke arah layar monitor yang berada di atas meja kerjanya itu sontak melihat ke arah pintu saat mendengar suara pintu yang terbuka. “Tidak bisakah mengetuk pintu terlebih dahulu? Membuat aku kaget saja!” ucap Elov. “Maaf. Aku punya kabar untukmu, entah ini kabar baik atau kabar buruk,” tutur Enos, ia lantas langsung terduduk di kursi yang berhadapan dengan kursi di mana Elov terduduk. Elov yang sedang duduk bersandar itu mengernyitkan dahi, kemudian merapatkan kedua tangannya di atas meja dan menatap Enos dengan bingung. “Ada apa?” tanya Elov. “Ini tentang Alysha,” ucap Enos. Raut wajah Elov yang tadi terlihat santai itu kini mulai berubah memperlihatkan raut wajah yang kaget. “K—kenapa?” tanya Elov. Enos beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Elov, lalu berbisik di telinga Elov. “Apa?!” Elov bangun dari duduknya dan berdiri tegak, menatap Enos dengan tatapan yang sangat kaget. “Kamu serius?” tanya Elov. “Lebih dari serius!” jawab Enos. “Kamu tau dari mana?” tanya Elov, “Kamu mencari tahu yang sebenarnya?” Enos menggelengkan kepalanya. “Kejadian itu sudah lama, kamu juga sudah meminta aku untuk menghentikan mencari tahu informasi yang terjadi pada malam itu. Terlebih kejadian malam itu terlihat seperti kecelakaan pada umumnya. Jadi aku tak lagi mencari tahu kebenarannya seperti apa.” “Terus, kenapa kamu bisa tahu?” tanya Elov. “Siang ini aku ada janji temu dengan Pak Daniel di restoran untuk membicarakan kerjasama antar perusahaan. Saat baru saja masuk ke restoran, aku melihat kekasihmu, Raya. Dia sedang terduduk sendirian, tadinya aku ingin menghampiri dia terlebih dahulu hanya untuk sekedar bertegur sapa, tapi seseorang lebih dulu menghampiri dia dan mereka mengobrol. Aku mulai mencurigai siapa orang yang bertemu dengan Raya karena dia adalah orang yang mobilnya ditabrak oleh Alysha waktu itu. Walau sudah lama, tapi aku masih mengingat dengan jelas wajah orang itu karena waktu itu aku sempat bicara empat mata dengan dia.” Elov menatap Enos dengan tatapan yang sangat serius. “Aku mendengarkan pembicaraan mereka dan aku baru tau semuanya tadi. Alysha tiada bukan karena murni kecelakaan tetapi karena dibunuh!” Tangan Elov dengan seketika mengepal dengan sangat kuat saat mendengar ucapan Enos, dia kembali terduduk lagi di kursinya dan menatap lurus dengan tatapan yang tajam. “Intinya, kecelakaan Alysha pada malam itu bukan kecelakaan tapi memang sudah direncanakan, hanya saja mereka membuat apa yang terjadi malam itu dengan rencana yang sedemikian rupa hingga terlihat seperti kecelakaan pada umumnya. Aku ambil kesimpulan, Alysha tewas karena dibunuh Raya.” Elov memasang wajah yang penuh dengan dendam. “Kamu baik-baik saja setelah mendengar kabar ini?” tanya Enos. “Menurutmu aku hancur begitu? Cih!” Elov mendecih sinis dan tersenyum smirk, “Kamu tahu dengan jelas kalau aku sama sekali tidak mencintai wanita itu. Aku terpaksa menerima dia sebagai tunanganku karena ibuku yang meminta.” “Terus apa yang akan kamu lakukan? Membalasnya?” “Kamu tahu dengan jelas aku bagaimana. Tentu saja aku akan membalasnya! Mana mungkin aku membiar pembunuh wanita yang aku cintai hidup berkeliaran dengan bebas,” ucap Elov. “Kamu akan mengatakan pada ibumu atas apa yang sudah dia lakukan?” tanya Enos lagi. “Mengatakannya tanpa bukti? Itu sia-sia, Enos! Ibuku tidak akan percaya!” “Aaahh ... iya, benar juga,” ujar Enos. “Maaf, aku tidak sempat merekam pembicaraan mereka. Karena memang terjadi begitu saja. Tapi … aku rasa kita bisa mendatangi orang yang tadi berbicara dengan Raya, jika kita memberikan tekanan, dia pasti mau bicara.” “Jangan lupakan siapa Raya sebenarnya, dia pasti sudah memperhitungkan semuanya. Orang itu tidak mungkin mau membuka mulut sekalipun kita menekannya. Bahkan mungkin dia akan rela mati untuk melindungi Raya karena Raya pasti sudah memegang kartu AS orang itu. Sebelum meminta orang lain mengikuti apa yang dia inginkan, Raya pasti sudah lebih dulu mencari kelemahan orang itu. Perempuan itu licik, Nos!” “Benar juga, terus apa yang harus kita lakukan?” Elov diam sebentar untuk berpikir, pikirannya langsung tertuju pada Hanna, wanita yang kemarin sempat berada dalam satu mobil yang sama dengannya. “Kamu sudah menemukan wanita yang kemarin? Anak Gibran,” ucap Elov. Siapa namanya? Ha ... Hanna!” “Aaahh, dia ... aku belum menemukannya,” jawab Enos, “Setelah keluar dari rumah itu ternyata dia tinggal di satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan yang lain karena dia dikejar-kejar hutang. Alexi tidak menyisakan sedikitpun harta jadi dia terus menghindari orang-orang itu dengan berpindah tempat. Itu agak susah membuatku menemukan dia.” “Aku tidak mau tahu! Kamu harus menemukan wanita itu, Nos!” “Untuk apa? Masalah kita sekarang lebih penting daripada sekedar menemukan wanita itu,” ucap Enos. “Cari saja! Aku butuh wanita itu!” ucap Elov. Enos diam sebentar, lalu setelahnya berucap, “Ya sudah oke, aku akan segera menemukannya.” Enos lantas keluar dari ruangan Elov setelah berbincang panjang. Kemudian ia juga akhirnya mengikuti apa kata Elov untuk mencari keberadaan Hanna. Namun, sama sekali tak ditemukannya dengan mudah karena Hanna selalu berpindah-pindah tempat. *** “Kamu akan mencari pekerjaan hari ini?” tanya Zachira pada Hanna yang tengah terduduk seraya merapikan lembaran kertas yang berada di atas lantai. Sedang dirinya sendiri sedang memakai sepatu bersiap hendak bekerja. Zachira diterima kerja sebagai waiters di salah satu restoran. Sama sekali tidak pernah dia bayangkan, di usianya yang baru saja 18 tahun harus bekerja mencari uang untuk sesuap nasi. Padahal seharusnya dia sedang mempersiapkan data-data untuk masuk universitas, bukan malah bekerja. “Iya, uang tabunganku semakin tipis, tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Apalagi kita selalu pindah kapan saja, itu butuh uang yang lumayan banyak.” “Aku doakan semoga kamu mendapatkan pekerjaan yang bagus. Agar kita bisa segera membayar lunas hutang Papa.” “Aamiin,” jawab Hanna, dia lalu memasukkan lembaran kertas itu ke dalam map berwarna coklat. “Kalau begitu aku pergi dulu,” pamit Zachira. “Ya ... hati-hati,” jawab Hanna. Setelah Zachira pergi, tak lama Hanna juga ikut pergi, dia mencari pekerjaan dengan berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain. Entah itu restoran ataupun perusahaan. Hingga akhirnya, kaki Hanna kini berdiri di depan perusahaan yang terbilang besar. Desmond Company. Hanna lalu berjalan ke arah pos satpam dan bertanya, apakah ada lowongan atau tidak. “Kebetulan sekali, perusahaan memang sedang mencari beberapa karyawan. Masuk saja dulu dan tunggu di lobi, nanti akan ada orang yang datang,” ucap satpam itu. “Terima kasih,” jawab Hanna seraya tersenyum, dia lalu masuk ke perusahaan dan terduduk di lobi. Sudah ada beberapa orang yang melamar pekerjaan ternyata. “Tidak masalah, siapa tahu aku punya rezeki di sini. Kalau tidak ... ya sudah, aku akan mencari di tempat lain,” gumam Hanna. Di waktu yang sama, Elov yang baru saja memberikan kunci mobilnya pada satpam meminta untuk di parkiran itu masuk ke perusahaannya. Dia hendak berjalan ke arah lift, namun langkahnya terhenti saat pandangannya melihat ke arah Hanna yang tengah terduduk di lobi. Elov lalu berjalan ke arah meja resepsionis dan bertanya pada seorang wanita yang berdiri di sana. “Mereka adalah orang-orang yang melamar kerja?” tanya Elov. “Betul, Pak.” Elov mengangguk. “Perempuan yang rambutnya panjang diikat pakai tas selempang warna coklat, bawa dia ke ruangan saya,” ucap Elov dengan mata melihat ke arah Hanna. “Baik, Pak.” Elov tersenyum smirk, dia lalu kembali berjalan lagi ke arah lift hendak ke ruangannya. “Tidak perlu lelah mencarimu, kamu malah datang sendiri padaku. Kita memang berjodoh ....”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD