Tommy masih menatap Vita yang sedang memalingkan wajahnya. Tubuh keduanya masih melekat karena Tommy masih mengurung Vita dengan kedua tangannya. Temperatur ruangan yang dengan dua mesin pendingin di dalam ruangan tersebut tidak mampu mengalahkan panas di kepala dua orang yang sedang saling memaksakan pemikiran masing-masing. Melihat wajah Vita dengan jarak dekat seperti sekarang berhasil membuat sesuatu di balik celana Tommy bergerak. Hanya Vita yang mampu membuat seorang Tommy mampu melakukan hal gila tanpa memikirkan nasibnya sendiri. “Kalau kamu terus-terusan cemberut, jangan salahkan aku kalau sampai mencium bibir yang sedari tadi menggodaku.” Ucap Tommy setengah mengancam seraya mengusap bibir Vita dengan ibu jarinya. Wajah Vita semakin memanas karena sikap Tommy yang seenaknya.

