Jantung Vita berdegup kencang ketika harus kembali menghadapi sebuah kenyataan baru. Entah bagaimana Vita harus bereaksi dengan pengakuan Tommy tentang siapa laki-laki yang menjadi investor di perusahaan papa-nya. Matanya masih memandang nanar pada rengkuhan tangan kekar yang sedang melingkari dirinya dari belakang. “Jadi, investor baru di kantor papa itu adalah…” Tommy semakin mengeratkan pelukannya, derap jantungnya pun tak kalah cepat dengan Vita. Sebuah kegugupan melanda dirinya, sebisa mungkin Tommy menutupinya dengan nada bicara datar menjelaskan. “Semalam aku pergi ke rumah Om Harianto papa kamu, aku menawakan diri untuk menanamkan modal sebagai investor dengan syarat kalau kamu harus menjadi istriku.” “Tolong lepas, Kak.” Vita mendorong tangan Tommy yang sedang memeluknya dari b

