BAB 9: ALIANSI DALAM SUNYI

1384 Words
Matahari pagi menyusup malu-malu di balik kabut tipis yang menyelimuti gedung megah SMA Nusantara Elite. Sisa hujan semalam masih meninggalkan jejak berupa genangan air jernih di atas aspal mulus parkiran sekolah, memantulkan bayangan mobil-mobil mewah yang mulai berdatangan satu per satu. Bagi para siswa di sini, hari ini hanyalah awal dari rutinitas pamer kekuasaan dan pencapaian akademik. Namun bagi Rangga, udara pagi ini terasa jauh lebih berat, seolah setiap napas yang ia hirup membawa beban rahasia kelam yang ia temukan di gudang berkarat semalam. Rangga berjalan menyusuri koridor utama dengan langkah yang tenang dan terukur. Seragamnya tampak rapi tanpa cela, mencerminkan kedisiplinan yang ia bangun sebagai tameng pelindung. Di balik wajahnya yang datar, otaknya terus bekerja seperti mesin yang tak pernah berhenti, memutar ulang setiap kata yang diucapkan Sienna semalam. Jam tangan emas. Simbol Singa Bersayap. Lambang itu bukanlah sesuatu yang asing di sekolah ini; itu adalah lambang kehormatan yang hanya dimiliki oleh dewan penyantun yayasan, orang-orang yang mendanai seluruh kemewahan ini dari balik tirai emas yang sangat tebal. Langkah Rangga terhenti sejenak saat ia melihat sosok Sienna di kejauhan. Gadis itu sedang berdiri di dekat air mancur tengah, dikelilingi oleh teman-temannya yang sibuk membicarakan rencana liburan musim panas ke Eropa. Sienna tampak berbeda hari ini. Meskipun riasannya tetap sempurna dan penampilannya tetap elegan, ada sorot kelelahan di matanya yang tak bisa disembunyikan oleh produk kecantikan semahal apa pun. Saat mata mereka bertemu sejenak di antara kerumunan, Sienna segera membuang muka, kembali pada perannya sebagai primadona yang angkuh dan tak tersentuh. Namun, Rangga menangkap getaran kecil di jemari Sienna yang sedang menggenggam tali tasnya. Sebuah kesepakatan bisu telah terbentuk di antara mereka; di depan publik, mereka tetaplah dua orang dari dunia yang berbeda yang saling berseberangan, namun di bawah permukaan, mereka terikat oleh benang merah yang sangat mematikan. Rangga melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan, tempat yang paling aman baginya untuk merangkai kepingan informasi yang berserakan. Di sana, di sudut paling sunyi yang dikelilingi oleh rak-rak buku sejarah tua, ia membuka laptopnya. Ia mulai menelusuri arsip digital sekolah yang tidak dapat diakses secara publik, mencari foto-foto lama pertemuan dewan yayasan. Jarinya bergerak lincah, menyaring ratusan gambar hingga ia menemukan apa yang ia cari. Sebuah foto dari acara peringatan ulang tahun sekolah setahun yang lalu. Di sana, berdiri tiga pria dengan setelan jas seharga ribuan dolar, dan di pergelangan tangan salah satu dari mereka, terlihat kilauan emas yang samar namun memiliki bentuk yang sangat khas. "Mencari inspirasi untuk tugas sejarah, atau sedang mengagumi bagaimana sejarah kekuasaan dituliskan di tempat ini?" Suara itu lembut namun penuh selidik. Rangga segera mematikan layar laptopnya dan menoleh. Clarissa berdiri di sana, memeluk sebuah buku tebal tentang psikologi perilaku manusia. Ia mengenakan bando mutiara yang senada dengan seragamnya, memberikan kesan manis sekaligus berwibawa yang alami. Clarissa tidak langsung duduk, ia menjaga jarak yang pantas namun tatapannya seolah ingin menembus lapisan terdalam dari pertahanan Rangga. "Hanya melihat bagaimana sekolah ini dibangun, Nona Clarissa," jawab Rangga dengan nada datar yang selalu ia gunakan. "Menarik melihat wajah-wajah yang berada di balik layar kemegahan Nusantara Elite." Clarissa tersenyum, sebuah senyuman yang sulit diartikan—antara kekaguman dan sebuah peringatan tersembunyi. Ia mengambil posisi duduk di kursi seberang meja, memberikan ruang yang cukup bagi mereka untuk berbicara dengan suara rendah tanpa menarik perhatian pustakawan. "Orang-orang di foto itu tidak suka jika ada yang terlalu memperhatikan mereka. Terutama bagi siswa pindahan yang memiliki catatan akademik yang... terlalu sempurna untuk ukuran orang biasa. Mereka sering kali menganggap kejeniusan sebagai ancaman jika tidak bisa mereka kendalikan." Rangga menatap mata Clarissa dengan intensitas yang sama. Gadis ini berbeda dengan Sienna yang emosional dan reaktif. Clarissa adalah seorang pemain strategi ulung. Ia tidak menggunakan ancaman terang-terangan, melainkan petunjuk-petunjuk halus yang menunjukkan bahwa ia tahu jauh lebih banyak dari yang ia perlihatkan selama ini. "Kecerdasan adalah satu-satunya instrumen yang saya miliki untuk bertahan di sini," balas Rangga tenang. "Mungkin benar," Clarissa meletakkan bukunya di atas meja dengan perlahan. "Tapi terkadang, orang yang terlalu cerdas justru sering mengabaikan detail kecil yang ada tepat di depan mata mereka. Seperti fakta bahwa kursi dewan yayasan akan mengadakan pertemuan tertutup sore ini di aula atas lantai empat. Hanya informasi kecil yang mungkin menarik bagi seseorang yang suka mempelajari... sejarah." Setelah mengatakan itu, Clarissa bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan meja dengan keanggunan yang tertata rapi. Rangga memperhatikan punggung gadis itu hingga menghilang di balik rak buku besar. Ia tahu Clarissa sedang memberinya umpan. Pertanyaannya adalah, apakah itu bantuan yang tulus karena ketertarikannya yang mulai tumbuh terhadap sosok Rangga, ataukah sebuah bagian dari taruhan besar yang sedang ia jalankan untuk menjebak Rangga dalam permainannya sendiri? Sore hari tiba dengan suasana yang mencekam. Saat sebagian besar siswa sudah pulang atau mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di lapangan yang jauh, Rangga bergerak menuju lantai paling atas gedung utama. Area ini biasanya steril dari aktivitas siswa, dijaga oleh pintu-pintu kayu jati yang berat dan sistem keamanan yang ketat. Namun, Rangga sudah memetakan rute lain yang lebih berisiko; melalui lorong pemeliharaan sistem pendingin udara yang terhubung langsung dengan ventilasi udara di ruang pertemuan utama. Dengan gerakan yang sangat hati-hati dan tanpa suara, Rangga merayap di dalam saluran udara yang sempit. Suara detak jantungnya sendiri terasa lebih keras daripada suara mesin pendingin ruangan di sekitarnya. Ia sampai pada sebuah kisi-kisi ventilasi yang tepat berada di atas meja rapat panjang dari kayu mahoni. Di bawah sana, tiga orang pria sedang duduk dengan dokumen-dokumen tersebar di depan mereka. Salah satu dari mereka adalah pria dengan jam tangan emas itu. Simbol Singa Bersayap pada pergelangan tangannya berkilau terkena lampu ruangan, seolah-olah singa itu sedang memamerkan taringnya. "Pengalihan dana untuk proyek Sektor Empat sudah selesai tanpa kendala berarti," ucap pria berjam tangan emas tersebut. Suaranya berat dan penuh otoritas yang tak terbantahkan. "Masalah dengan gadis beasiswa itu juga sudah terkubur bersama kasusnya. Polisi sudah menutup berkasnya sebagai murni kecelakaan dan depresi. Kita tidak bisa membiarkan ada anomali lain yang muncul untuk mengganggu proyek ini." "Bagaimana dengan saudara kembarnya? Rangga?" tanya pria yang lain, suaranya terdengar lebih muda namun penuh dengan nada kecemasan. Pria dengan jam tangan emas itu mengetukkan jarinya ke meja dengan ritme yang lambat. "Dia hanyalah anak kecil yang tersesat dalam duka, mencoba mencari keadilan di tempat yang bahkan tidak mengenal kata itu. Pantau dia. Jika dia melangkah terlalu jauh dari batasannya, kita gunakan cara yang sama. Nusantara Elite tidak punya tempat bagi mereka yang mencoba membongkar dindingnya sendiri." Rangga merasakan amarah yang sangat dingin membeku di dadanya. Mereka membicarakan kematian Anggi seolah-olah itu hanyalah sebuah kesalahan kecil dalam laporan tahunan. Ia mengeluarkan ponselnya, berusaha merekam percakapan tersebut melalui celah ventilasi dengan sangat hati-hati agar tidak ada cahaya layar yang terlihat. Namun, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponselnya, membuat perangkat itu bergetar pelan di genggamannya. Pesan itu berasal dari nomor yang ia kenal sebagai milik Sienna. "Jangan bergerak. Clarissa ada di belakangmu." Rangga menegang. Seluruh ototnya bersiaga untuk kemungkinan terburuk. Ia perlahan menoleh ke arah kegelapan lorong ventilasi di belakangnya. Di sana, di tengah keremangan yang hanya diterangi sedikit cahaya dari luar, ia melihat sepasang mata yang menatapnya dengan tajam. Clarissa berada di sana, berjongkok dengan jarak beberapa meter dari Rangga. Gadis itu mengenakan jaket gelap yang menutupi seragam sekolahnya, rambutnya diikat rapi agar tidak mengganggu pergerakannya. Clarissa tidak bersuara, ia hanya meletakkan satu jarinya di depan bibir, memberikan isyarat mutlak agar Rangga tetap diam dan tidak melakukan gerakan tambahan. Keadaan menjadi sangat rumit melebihi perhitungan Rangga. Ia kini berada di antara para pria yang kemungkinan besar adalah pembunuh adiknya yang berada di bawah, dan seorang primadona sekolah yang entah bagaimana bisa mengetahui gerak-geriknya dengan sangat presisi dan mengikutinya ke dalam saluran ventilasi yang sempit ini. Di tengah ketegangan yang memuncak itu, Rangga menyadari bahwa di SMA Nusantara Elite, tidak ada yang benar-benar bisa dipercaya sepenuhnya. Musuhnya bukan hanya mereka yang berada di kursi kekuasaan tertinggi, tapi mungkin juga mereka yang selama ini tampak memberikan simpati dan senyuman paling manis padanya. Malam mulai turun menyelimuti seluruh kompleks sekolah, membawa serta babak baru dari aliansi-aliansi yang terlarang dan sebuah pengkhianatan yang mungkin sedang dibungkus dengan sangat indah. Rangga tahu, mulai malam ini, ia tidak lagi hanya sekadar menyelidiki secara pasif; ia sedang berada di tengah medan perang yang nyata. Dan dalam perang ini, satu langkah kecil yang salah akan membuatnya berakhir sama seperti Anggi—menjadi sebuah rahasia kelam yang terkubur selamanya di balik kemegahan pilar-pilar marmer sekolah ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD