Bran tak mendengar jawaban Beno barusan. Ia tampak terlalu asik mengamati dan menyentuh setiap barang yang ada di ruangan itu. Tangan bocah itu tak henti-hentinya mengelus setiap barang yang tampak mahal di sana. Bibirnya pun tak henti-hentinya berdecak kagum. "Hei. Bagaimana rasanya tidur di sini? Apa kau menikmatinya?" Bocah itu bertanya asal tanpa melihat ke arah Beno berada. Sepertinya Bran merupakan anak yang menyampaikan perasaan dan pikirannya secara gamblang, tanpa memikirkan bagaimana respon yang akan diberikan oleh orang yang diajaknya bicara. "Yah, semewah dan senyaman apapun tempat itu, tetap yang ternyaman adalah kamar dan rumah sendiri," ucap Beno sambil menatap bocah yang kini sudah berdiri tenang di depannya. Sepertinya bocah berambut hitam legam itu sudah selesai dan pua

