Prolog
Dengan langkah kaki cepat Shawn masuk ke lobi rumah sakit pikiran nya sudah sejak tadi tidak tenang begitu mendengar kabar buruk tentang sahabatnya yang sedang di rawat di rumah sakit. Begitu masuk kedalam ruang rawat VIP Shawn langsung di sambut oleh dokter dan suster yang sedang membenahi infus seseorang yang sedang terbaring lemah di atas ranjang.
" Bagaimana keadaannya? " suara Shawn terdengar berat apalagi sekarang melihat keadaan sahabatnya yang terbaring tidak berdaya.
" Kesehatannya semakin menurun, kalau di paksakan akan semakin bahaya apalagi detak jantungnya yang terus melemah " jawab dokter ganteng dengan kacamata yang membingkai matanya
" Hhhhhh " Shawn menghela nafas lelah menyandarkan punggungnya di sofa dengan kepala yang terasa berat. Seharian ini dia sibuk di kantor belum lagi banyaknya berkas yang menumpuk di meja kerjanya tadi terpaksa harus dia tinggalkan.
" Shawn........ " panggilan lemah itu terdengar ditelinga Shawn, dia hanya menatapnya sendu
" Ajak dia bicara tapi jangan sampai membuatnya berpikir terlalu keras " ujar Dokter ganteng itu
" Thanks Joshua!! " Dokter yang bernama Joshua itu hanya tersenyum menepuk pundak Shawn lalu beranjak pergi.
" maaf sudah merepotkan mu " suara lirih itu hampir tidak terdengar
" Kamu jangan terlalu banyak pikiran aku yakin kamu pasti sembuh, Amanda " sahut Shawn dingin
Amanda adalah sahabat kecil Shawn yang juga merupakan istri dari mendiang sahabatnya, Billy. Mereka bersahabat sejak dibangku sekolah dasar dulu. Shawn dikenal sebagai anak yang pendiam, tidak mudah dekat dengan orang lain. Beruntung Amanda bisa kenal dengan Shawn dan Billy karena mereka pernah menolong nya dari bullyan teman-teman di sekolahnya. Amanda selalu dihujat karena dirinya yang anak yatim-piatu dan tidak memliki keluarga berbeda dengan Shawn dan yang lainnya. Dengan IQ nya yang diatas rata-rata Shawn selalu mendapatkan juara dan menjadi bintang di sekolahnya bahkan dia juga merupakan salah satu mahasiswa yang lulus dengan nilai terbaik di Oxford. Namun sayang hingga usia nya menginjak kepala tiga laki-laki itu belum juga menikah. Dengan paras wajah yang sangat tampan dan nyaris sempurna Shawn bisa saja mendapatkan wanita manapun yang dia inginkan tapi entahlah apa yang membuat nya seperti menutup diri dari wanita. Sebenarnya Shawn sudah di jodohkan dengan seorang wanita yang merupakan anak dari rekan bisnis papanya tapi hingga sekarang laki-laki itu belum mau menerimanya dengan alasan pernikahan tidak pernah masuk dalam daftar kehidupannya.
Senyum manis itu terlukis di wajah pucat Amanda. Dia tau bahwa hidupnya sudah tidak akan lama lagi. Dia juga tidak banyak berharap kalau dirinya akan sembuh dia hanya berharap anaknya akan tetap aman dan bahagia. Justru yang Amanda takutkan adalah bagaimana jika dirinya sudah tiada, siapa yang akan menjaga dan melindungi anaknya nanti. Karena Amanda tau kalau keluarga mendiang suaminya tidak akan pernah membiarkan anak kesayangannya itu hidup tenang. Sedangkan Amanda sendiri tidak memiliki keluarga karena sejak kecil dia hidup dan tinggal di panti asuhan.
Bicara tentang Amanda dia memiliki seorang anak perempuan yang sekarang masih duduk di bangku SMA. Dan bagi Amanda, Shawn adalah satu-satunya orang yang bisa menolongnya. Amanda yakin kalau Shawn lebih dari mampu menjaga anaknya sama seperti saat dia dan suaminya yang selalu melindungi dirinya dari para pembully.
" Sepertinya hidupku tidak akan lama lagi, Shawn " suara Amanda terdengar lirih tapi masih bisa di pahami oleh Shwan
" Jangan bicara ngelantur " seru Shawn yang nampak tidak suka dengan kalimat Amanda
******
Shawn duduk dengan tenang memandang keluar dari kaca mobil yang ditumpanginya, mengawasi satu persatu anak-anak yang keluar dari gerbang sekolah. Melalui kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya mata tajam seperti mata elang itu menyipit begitu melihat beberapa gadis yang keluar dari gerbang gelak tawa mereka terdengar keras.
Tok tok tok
Begitu mendengar suara ketukan dari luar Shawn menurunkan kaca mobilnya laki-laki berpakaian hitam dan bertubuh besar datang menghampiri.
" Tuan gadis yang anda cari sudah keluar " lapor laki-laki itu " dia yang memakai hodie biru muda " jelasnya
" Hmmmm " Shawn masih memandang gadis itu dari dalam mobil
Otak cerdas Shawn berpikir keras bagaimana dia bisa memenuhi permintaan Amanda yang menurutnya sangatlah berat dia juga tidak tau apa yang membuat Amanda bisa sebegitu percaya kalau dirinya bisa menjaga anak semata wayangnya itu sedangkan sudah jelas Shawn belum pernah menikah. Shawn tau Amanda menikah di usia yang masih terbilang sangat muda, disaat mereka sedang sibuk mencari universitas terbaik untuk melanjutkan pendidikan Amanda justru menerima pinangan Billy tapi setelah menikah Billy tetap melanjutkan pendidikannya di Toronto sedangkan Amanda tidak melanjutkan pendidikannya wanita itu tinggal bersama keluarga Billy selama suaminya menempuh pendidikan dan itulah kabar yang Shawn terima saat dirinya berada di London.
Meskipun begitu Shawn, Amanda dan Billy tetap berhubungan dengan baik komunikasi diantara mereka pun tidak pernah terputus. Hanya beberapa tahun belakangan ini saat Shawn kembali dari London dia harus menerima berita buruk tentang kepergian Billy untuk selama-lamanya.
Tapi ada yang aneh saat Shawn datang ke prosesi pemakaman Billy, Dia melihat kalau tidak ada satupun dari keluarga Billy yang datang menghampiri Amanda mereka terkesan memusuhi wanita itu bahkan seperti tidak perduli dengan keberadaannya. Pada hal menurut cerita yang sering Shawn dengar keluarga Billy sangat menyayangi Amanda tapi justru berbeda dengan apa yang dia lihat. Shawn juga sempat ingin bertanya tapi dia urungkan karena tidak ingin masuk dalam drama keluarga itu, meskipun keluarga Shawn dan Billy berteman baik tapi dia tetap menjaga batasannya selagi itu tidak menyakiti Amanda karena dia juga tau bagaimana watak asli keluarga mendiang sahabatnya.
" Awasi terus gadis itu jangan sampai kecolongan " perintah Shawn pada bodyguard nya
" Baik Tuan "
Mobil yang di tumpangi oleh Shawn perlahan meninggalkan area sekolah tapi sebelum itu dia sempat melihat wajah cantik seorang gadis yang sedari tadi dia perhatikan.
" Guzel " batinnya
*****
" Mamaaaaaaaaa "
Guzel masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dulu dan tidak perduli pada mereka yang sedang duduk di sofa sudut ruangan, masih mengenakan seragam sekolahnya gadis itu langsung menghampiri Amanda yang masih terbaring lemah di atas ranjang pasien.
Guzel masih tidak sadar bahwa ada beberapa pasang mata yang sedari tadi menatapnya.
" Hai sayang " Amanda membelai lembut wajah anaknya yang tersenyum hangat padanya.
" Mama sudah makan? " Guzel melirik makanan di atas nakas yang nyaris tak tersentuh
" Belum sayang, mama belum lapar "
" Ya ampun mama harus banyak makan biar cepat sembuh dan cepat pulang kerumah " sahut Guzel sembari mengambil piring itu dari atas nakas
" Rumah sepi banget nggak ada mama.. ayok buka mulutnya biar Guzel yang suapin " Guzel sudah hendak menyendokkan bubur ke mulut mamanya tapi di cegah, Amanda mengedik dagunya pada mereka yang masih menyimak di sofa sana.
Guzel baru menoleh kebelakang begitu sang mama memberinya kode, gadis itu sedikit terkejut melihat ada empat pria tampan dan mapan sedang duduk santai menatap kearahnya.
" Demi Patrick yang tinggal di rumah batu sejak kapan di kamar rawat mama ada malaikat " gumam nyaa
Guzel mengenal salah satu dari mereka yaitu Joshua yang memang merupakan seorang Dokter, dia juga yang selama ini merawat mamanya tapi tiga yang lainnya baru kali ini dia melihat keberadaan mereka.
" siapa mereka? " Batin Guzel