Sahabat Papa

1432 Words
Guzel masih diam terpaku dengan pikiran yang jauh berkelana entah kemana dia menyalahkan dirinya sendiri yang masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu dulu padahal sang mama sedang kedatangan para tamu ganteng. Tapi tunggu dulu kenapa ada sepasang mata yang sedari tadi menatap Guzel tanpa berkedip. Bukan apa, tapi itu justru membuat Guzel kikuk karena tatapan itu begitu tajam. Jika Guzel ditanya apa lelaki itu tampan? Maka dengan semangat empat lima gadis itu akan menjawab SANGAT TAMPAN. " Demi dewa Yunani, ganteng banget woy!!!!! Rocy si most wanted school aja kalah " batin Guzel yang diam-diam tersenyum centil. " Guzel " gadis itu gelagapan begitu sang mama memanggilnya tak lupa juga senyum jahil sang mama " I-iya ma " Guzel tidak bisa menutupi kegugupannya " Kenalkan mereka sahabat mendiang papa dan juga mama " jelas Amanda " Ohh hai Uncle " Guzel tersenyum menunjukkan gigi kelincinya yang putih sembari melambaikan tangannya pada mereka " What? Uncle? " Seorang lelaki berambut sedikit pirang itu terbelalak tidak terima di panggil Uncle oleh Guzel " Apa aku sudah setua itu di panggil Uncle " gerutunya " Ngaca sana umur mu sudah hampir kepala empat jadi wajar kalau di panggil Uncle sama Guzel " seru Joshua " Teman laknat!! Mana ada umur ku segitu " balas nya tak terima " Tanya saja sama Bryan kalau nggak percaya " sahut Joshua " Sudah, kalian berdua sesama udah tua jangan saling melecehkan " timpal seorang lelaki yang bernama Bryan itu dengan terkekeh " Sial " dengus lelaki berambut pirang itu kesal tapi sedetik kemudian dia terkekeh melihat Guzel yang terdiam dengan raut wajahnya yang terlihat lucu " Maaf Guzel, kami kalau lagi kumpul emang seperti itu kami hanya bercanda " ujar Joshua karena melihat wajah cengok Guzel " Nggak apa-apa kok " lagi-lagi Guzel melihat mata coklat itu menatapnya tajam seakan hendak menerkam nya. " Guzel kenalkan ini Leon, Bryan, dan itu Shawn mereka sahabat mendiang papa kamu " Joshua memperkenalkan mereka satu persatu, Guzel hanya mengangguk sopan dengan senyum yang canggung " Eh anak orang jangan dibuat takut gitu!! " tegur Leon karena sedari tadi hanya Shwan yang masih setia dengan bungkamnya dan raut wajah datar tapi tatapan lekat pada wajah cantik Guzel " Ckkk " Shwan hanya berdecak tidak ada niatan membalas teguran si biang rusuh " Maaf aku nggak tau kalau mama lagi kedatangan tamu " ucap Guzel dengan gugup " Mangkanya biasakan kalau masuk ketuk pintu dulu jangan asal nyelonong " Jlebb Guzel merasa kepalanya di timpuk cabe sampe ke pohon-pohonnya sekalinya mangap mulut lelaki yang bernama Shawn itu pedas juga. " Biasa aja kali ngomongnya nggak usah nyolot gitu " Guzel menatap sinis laki-laki itu " Maaf kan orang yang disebelah aku ini Guzel, dia kalau lagi tahan boker emang suka nyebelin kaya emak ujung komplek " celetuk Bryan dan langsung dapat lemparan kotak tissue dari Shawn. Leon dan Joshua hanya terkekeh melihat wajah Bryan merengut. " Guzel " suara lembut penuh kasih sayang itu mampu meruntuhkan kekesalan Guzel " Nanti Guzel pulang nya sama Tuan Shawn ya sayang... " sepasang bola mata hitam pekat itu melebar, sebentar!!! apa Guzel tidak salah dengar? Pulang bersama Shawn? " Maksud mama apa? " Guzel menatap sang mama dan Shawn secara bergantian Amanda tersenyum kecil menatap wajah anaknya yang menuntut jawaban, dia tidak bisa menjelaskan semuanya pada Guzel sekarang karena yang terpenting dia ingin Guzel aman terlebih dahulu. " Mulai malam ini Guzel tinggal bersama Tuan Shawn " Sungguh bukan jawaban itu yang ingin Guzel dengar bagaimana bisa dia harus pulang bersama orang asing? Yah orang asing!! Karena ini adalah pertama kalinya mereka bertemu. " Kenapa harus tinggal sama orang asing sih ma? Lagiankan kita masih punya rumah dan kalau mama sembuh juga pasti pulang " Sungguh Guzel benar-benar tidak mengerti " Dia bukan orang asing nak, Tuan Shawn sahabat mendiang papa dan juga mama " entah dengan cara apa lagi agar anaknya bisa mengerti kalau ini juga demi kebaikannya. Guzel bukannya tidak tau kalau mamanya mengkhawatirkan dirinya terlebih keluarga mendiang papanya yang sangat membenci dia dan juga mamanya padahal mereka juga bagian dari keluarga besar itu. Sering Guzel bertanya pada mamanya kenapa keluarga sang papa begitu membenci mereka berdua, tapi hingga sekarang gadis itu belum juga mendapatkan jawabannya. " Guzel tau mama khawatir sama Guzel, tapi nggak harus tinggal sama orang lain juga ma.. kita punya rumah sendiri nggak harus tinggal di rumah orang, sebenarnya ada apa sih ma? Mama kasih tau Guzel dong " desak Guzel Amanda menatap lekat wajah cantik putri semata wayangnya tersirat ketakutan dan kesedihan dimata sendu wanita lemah itu. Melihat Amanda yang diam tanpa mampu menjawab pertanyaan anaknya. " Guzel!! " suara bariton itu seketika membuat nyali Guzel menciut " Kalian keluar dulu aku ingin bicara dengan Amanda " titah Shawn yang tidak ingin dibantah dan tidak ingin ada yang bertanya lagi. Leon, dan Bryan beranjak lebih dulu meninggalkan ruangan itu disusul oleh Joshua yang kemudian merangkul Guzel dan mengajak gadis itu untuk keluar. Guzel menatap Shawn sekilas sebelum benar-benar hilang dari balik pintu dan tinggal lah Shawn seorang diri disana. Sorot matanya yang tajam menatap lekat wajah seorang wanita yang sedari tadi menahan tangisnya itu. " Maaf Shawn " lirih wanita itu, dia tidak bisa lagi menahan airmatanya untuk tidak jatuh. " Bukan salahmu " sahut Shawn datar " Aku hanya takut, Shawn!! Aku takut setelah aku tiada mereka akan menyulitkan hidup Guzel!! Aku takut mereka akan menghancurkan kebahagiaan Guzelku!! Aku takut " Isak tangis itu terdengar begitu pilu ditelinga Shawn. " Di dunia ini hanya Billy dan aku yang dia punya, tapi Billy sudah pergi meninggalkan Guzel lalu sekarang aku- " Amanda tidak bisa melanjutkan kalimatnya, dia hanya bisa terguguh menangisi nasib nya yang selalu kurang beruntung. " Aku hanya percaya padamu Shawn!! Tolong jaga Guzelku " ucap Amanda penuh harap bahkan wanita yang sedang sekarat itu tidak segan-segan menautkan jari-jemarinya memohon pada Lelaki itu. " Jika tiba waktunya dan Guzel sudah merasa siap, maka ceritakan lah semuanya pada anak itu dia juga berhak tau apa yang sudah terjadi sebenarnya apapun yang terjadi tolong jangan lepaskan tangan putriku, jangan pernah biarkan dia merasa sendiri " ucap Amanda lagi, sedangkan Shawn masih berdiam diri berusaha menepis semua rasa yang bergejolak didalam d**a dan juga pikiran nya sekarang. ***** " nih minum dulu biar pikiran kamu tenang " Joshua memberikan sebotol air mineral pada Guzel yang duduk dengan tidak tenang sesekali dia melirik pintu kamar rawat mamanya " Aku kaget banget kok tiba-tiba mama nyuruh aku untuk tinggal sama orang asing " ujar Guzel setelah meneguk air yang tadi diberikan oleh Joshua " Dia bukan orang asing Guzel, dia sahabat mendiang papa dan juga mama kamu " sahut Joshua dengan tersenyum " Tapi kok aku nggak pernah liat orang itu datang kerumah ataupun di kantor papa " Lirih Guzel tapi masih didengar jelas oleh Joshua " Mana muka nya kejang gitu kayak kanebo kering!! Belom lagi sekalinya mangap langsung buat kuping mules " gerutu Guzel begitu mengingat kejadian di dalam tadi, Joshua hanya terkekeh " Shawn orangnya memang seperti itu dia sangat pendiam, dingin, bahkan terlihat arogan dan sekalinya ngomong langsung buat lawannya keki " Joshua lagi-lagi terkekeh tapi apa yang di katakan olehnya memang benar adanya, dia saja harus menyiapkan stok sabar jika harus bertemu laki-laki gunung es itu. " Hayo!!!!!!!! Kalian pasti lagi gibahin tu es batu kan!! " Leon dan Bryan yang tadi pamit ke toilet akhirnya muncul juga. " Diiiihhh dikira kita emak-emak yang lagi beli sayur di gang yang suka gibahan " sahut Guzel " Kali aja " balas Bryan kemudian duduk di bangku sebelah Guzel " Bang Joshua kok bisa sih temenan nih sama dua curut!!! " tanya Guzel dengan nada kesal " Ehhh bocil tuh mulut asal mangap muka ganteng kaya kita di bilang curut " seru Bryan tak terima " Nggak adil banget Lo bocil masak Joshua dipanggil Abang sedangkan kita di panggil Uncle " Leon masih saja tidak terima kalau dirinya di panggil Uncle oleh Guzel yah memang usia mereka juga terpaut enam belas tahun. Guzel memeletkan lidahnya mengejek Leon yang terus-menerus menggerutu tidak terima dipanggil Uncle " Pokoknya kamu juga harus panggil aku dan Bryan Abang titik!!! " Ucap Leon tegas " Dihhhh pemaksaan itu namanya!!!!! " Guzel tertawa " Bodo amat!!! " Joshua dan Bryan hanya tersenyum geleng kepala karena mendengar Leon yang terus-menerus mendesak Guzel agar memanggil dirinya Abang saja tidak mau di panggil Uncle. " Ehmmm!!! " Mereka yang mendengar teguran itu langsung terdiam begitu melihat siapa yang sedang berdiri sambil bersidekap didepan sana terutama Guzel yang langsung menunduk kikuk lagi-lagi sorot mata tajam itu membuat nyalinya ciut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD