" sebentar lagi akan ada yang menjemput Guzel " suara bariton itu seperti petir yang menggelar di telinga Guzel
" Siapa? " Guzel sampai menelengkan kepalanya agar bisa melihat wajah Shawn yang tertutup oleh kepala Bryan
Shawn hanya melirik gadis itu sekilas tanpa berniat menjawab pertanyaannya, dia justru mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi seseorang.
" Diiihh gue di kacangin sama ni balok es " gumam Guzel tapi bisa di dengar jelas oleh Bryan " tinggal jawab aja apa susah nya sih " lanjut gadis itu
" Aku aduin ya kamu ngatain Shawn balok es " goda Bryan
" Diem Lo " sahut Guzel ketus tapi tidak bisa menutupi rasa gugupnya
" Nggak sopan banget ni bocil ngmong gue-gue ke orang yang lebih tua " tegur Leon
" Iya maafkan diriku... Uncle!!! " Balas Guzel sinis dengan menekan kata Uncle
" Abang!!! Bukan Uncle!! " Leon sudah hampir menyentil kening Guzel tapi langsung di lerai oleh Joshua
" Udah yang tua ngalah sama bocil " sela Joshua sebelum keduanya adu otot lagi
" Syukurin... Lwee!!! " ejek Guzel dengan tersenyum senang karena ada yang membelanya
"Kamu juga bocil, bisa mingkem nggak tu mulut.. sebelum di sosor sama tu balok es " tegur Bryan sembari mengedikkan dagunya kearah Shawn yang sedang menelfon seseorang.
Guzel menatap Shawn, lelaki itu masih fokus dengan ponsel yang menempel di telinga nya entah apa yang sedang dia bicarakan karena wajahnya terlihat sangat serius, tapi di mata Guzel sungguh lelaki itu sangatlah tampan dan nyaris sempurna hanya mulutnya saja yang pedas kayak cabe setan dan sudah meninggalkan rasa ditelinganya.
Justru ada yang lebih menganggu lagi dipikirin gadis itu, kenapa mamanya justru meminta dia untuk tinggal bersama orang asing padahal mereka punya rumah dan juga, Guzel merasa dia sudah mandiri dan bisa menjaga diri nya sendiri apa mamanya tidak takut kalau anak gadisnya tinggal di rumah Lelaki dewasa seperti Shawn akan menimbulkan bencana nantinya? Tunggu dulu, jangankan nantinya sekarang saja mungkin Guzel sudah merasa tidak aman terutama pada hatinya.
Entah kenapa wajah Lelaki itu seperti magnet yang terus-menerus menarik diri Guzel untuk tidak berhenti memandangnya, sungguh dia merasa jantungnya sudah berdetak tidak karuan apalagi jika mereka akan tinggal bersama nantinya, gadis itu takut akan terjadi sesuatu nantinya di antara mereka. Guzel menggeleng keras membayangkan sesuatu yang sudah menari-nari di otak kecilnya itu.
" Kamu kenapa? " tanya Joshua yang sedari tadi memperhatikan raut wajah Guzel yang berubah-ubah
" Enggak apa-apa kok, bang " Guzel tersenyum canggung.
" Guzel!!! " tubuh Guzel menegang, baru di panggil begitu saja jantungnya sudah jumpalita
" Anak buahku sudah berada di parkiran, mereka akan mengantarmu pulang "
Sumpah demi apapun Joshua rasanya ingin melempar Shawn dengan sepatunya, sedikitpun tidak ada senyum apalagi ramahnya di wajah tampan itu. Dalam benaknya tidak bisakah dia bersikap santai pada Guzel?
" Aku bisa pulang sendiri kok, Uncle " cicit Guzel
" Saya tidak bertanya " sahut Shawn dingin, memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana lalu menatap datar gadis itu
" Kamu pulang dan bereskan semua barang-barangmu! Bawa saja yang penting " sungguh itu bukan lagi tawaran tapi sudah menjadi perintah dan tak terbantahkan
" Aku udah bilang, aku nggak mau tinggal di rumah orang asing!! " seru Guzel, hilang sudah rasa takutnya
" Dan saya sudah bilang, saya tidak bertanya apa itu masih kurang jelas!! " tegas Shawn
" Uncle nggak hak dan nggak bisa ya paksa aku kayak gini " Guzel sampai berdiri dari duduknya dan langsung menghampiri Shawn
Tatapan kedua insan itu saling beradu dengan pikiran mereka masing-masing, tidak perduli pada tiga orang disana yang sedari tadi jadi penonton setia mereka berdua.
" Saya punya hak atas kamu sekarang karena mama kamu sudah memberikan tanggung jawab itu pada saya!! Jadi sekarang cepat kamu pulang bereskan semua barang-barang kamu dan ingat, jangan coba-coba kabur karena sampai ke lobang semutpun saya bisa menemukan kamu!!! " ini adalah kalimat terpanjang yang keluar dari mulut Shawn, Guzel tidak tau saja kalau sebenarnya kesabaran Shawn itu setipis tissue yang dibelah sepuluh.
Baru saja Guzel mau mangap langsung di sela oleh Joshua, lelaki itu tau Guzel dan Shawn sama keras nya. Guzel tipe gadis yang sulit diatur sedangkan Shawn lelaki yang tidak ingin dibantah.
" Guzel... Ini semua demi kebaikan kamu " ucap Joshua berusaha meyakinkan gadis itu
" Demi kebaikan apa bang? toh selama ini aku juga baik-baik aja kok, jadi kalian nggak usah khawatir aku bisa jaga diri baik-baik mama juga nggak akan selamanya sakit " sahut Guzel
" GUZEL!!!!!!!! " bentak Shawn keras, mereka semua sampai terjangkit terutama Guzel, wajahnya langsung pucat pasi melihat wajah Shawn yang berubah meyeramkan
" Shawn.... " tegur Bryan pelan karena kasihan melihat Guzel yang mulai ketakutan
" Kalian urus gadis ini!!! " dengan langkah lebar Shawn pergi begitu saja membawa semua kekesalannya. Dia sudah merasa tubuhnya sangat lelah dan butuh istirahat karena beberapa hari ini Shawn menghabiskan waktunya dikantor untuk lembur, belum lagi drama di mansion utama dan ditambah permintaan konyol Amanda yang semakin membuat kepala Shawn rasa ingin meledak.
Joshua menghela nafas pelan menatap Guzel yang masih berdiri nyaris tak bergerak, bentakkan itu masih berdenging di telinganya. Leon yang juga iba melihat Guzel pun mendekat lalu merangkul gadis itu.
" Jangan takut, Shawn orangnya memang keras tapi hatinya sangat baik dan penyang... " bukan maksud memuji Shawn agar terlihat baik di depan Guzel, tapi apa yang dikatakan oleh Leon memang benar adanya
" Kamu anak gadis, akan berbahaya jika tinggal sendirian lagi pula Shawn tidak mungkin melakukan hal buruk terhadapmu terlebih kamu adalah anak dari sahabatnya " sambung Bryan yang ikut meyakinkan Guzel
Joshua tersenyum tangannya terangkat mengusap lembut kepala gadis yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri itu.
" Mama kamu menitipkan pada orang yang tepat, kamu butuh sosok orang yang tegas dan memiliki power tertinggi untuk melindungi kamu dari mereka, para manusia j*****m itu " batin Joshua.
" Ayo kami antar menemui Shawn " ajak Leon
" Tapi nanti tuh balok es malah nyembur oksigen yang lebih pedas lagi, Uncle " ucap Guzel dengan kalimat absurd nya itu
Leon nyaris mengupat karena lagi-lagi dirinya dipanggil Uncle oleh gadis tengil ini, tapi untung wajah Guzel masih terlihat sedih jadi rasa iba nya lebih kuat dibanding rasa jengkelnya. Berbanding dengan Bryan dan Joshua yang sudah terbahak.
Shawn berdiri di depan pintu mobilnya, Lelaki itu sudah melepas jas dan dasinya hanya menyisahkan kemejanya dengan dua kancing atas terbuka dan bagian lengan kemejanya digulung sampai siku, disela jari-jari lentiknya terdapat sebatang rokok semakin memperjelas betapa karismatik nya lelaki itu.
Shawn menghisap dalam rokok nya menikmati rasa manis itu lalu menghembus pelan gumpalan asap keluar dari hidung dan juga mulutnya secara bersamaan.
" Shawn.... " Panggilan itu tidak menghentikan Shawn yang sedang menikmati rokoknya, tanpa menoleh pun Shawn tau siapa yang memanggilnya.