Guzel masih diam terpaku dengan pikiran yang jauh berkelana entah kemana dia menyalahkan dirinya sendiri yang masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu padahal sang mama sedang kedatangan para tamu ganteng.
Tapi tunggu dulu kenapa ada sepasang mata yang sedari tadi menatap Guzel tanpa berkedip. Bukan apa, tapi itu justru membuat Guzel kikuk karena tatapan itu begitu tajam seperti ingin mengulitinya hidup-hidup. Jika ditanya apa lelaki itu tampan? Maka dengan semangat empat lima yang berkorbar di dalam dirinya maka Guzel akan menjawab SANGAT TAMPAN.
" Demi dewa Yunani, ganteng banget woy!!!!! Rocy si most wanted school aja kalah " batin Guzel yang diam-diam tersenyum centil.
" Guzel "
Guzel langsung gelagapan begitu mamanya memanggil, keadaan berubah canggung
" I-iya ma " Guzel tidak bisa menutupi kegugupannya
" Kenalkan mereka sahabat mendiang papa dan juga mama " jelas Amanda
" Ohh hai Uncle " Guzel tersenyum kikuk menunjukkan gigi kelincinya yang putih sembari melambaikan tangannya pada mereka di sana
" What? Uncle? are you serious? " Seorang lelaki berambut sedikit pirang itu terbelalak tidak terima di panggil Uncle oleh Guzel
" Apa aku sudah setua itu di panggil Uncle " gerutunya tidak suka
" Ngaca sana umur mu sudah hampir kepala empat jadi wajar kalau di panggil Uncle sama Guzel " seru Joshua
" Teman laknat!! Mana ada umur ku segitu " balas nya tak terima
" Tanya saja sama Bryan kalau tidak percaya " sahut Joshua tidak ingin kalah
" Sudah, kalian berdua sesama udah tua jangan saling melecehkan, terima saja " timpal seorang lelaki yang bernama Bryan itu dengan terkekeh
" Sial " dengus lelaki berambut pirang itu kesal tapi sedetik kemudian dia terkekeh melihat Guzel yang terdiam dengan raut wajahnya yang terlihat lucu
" Maaf Guzel, kalau lagi kumpul kami emang seperti itu, Leon hanya bercanda " ujar Joshua karena melihat wajah cengo Guzel
" tidak apa-apa kok " Guzel menggeleng pelan dan tanpa sengaja tatapan matanya bertabrakan dengan mata tajam itu.
" Guzel kenalkan ini Leon, Bryan, dan itu Shawn mereka semua ini sahabat mendiang papa kamu " Joshua memperkenalkan mereka satu persatu, Guzel hanya mengangguk sopan dengan senyum yang masih canggung
" Eh anak orang jangan dibuat takut! liatnya kok harus pakai khodam gitu " tegur Leon karena sedari tadi hanya Shawn yang masih setia dengan bungkamnya dan raut wajah datar tapi tatapan lekat pada wajah cantik Guzel
" Ckkk " Shawn berdecak pelan tidak ada niatan membalas teguran si biang rusuh
" Maaf aku tidak tau kalau mama lagi kedatangan tamu " ucap Guzel dengan gugup
" Mangkanya biasakan kalau masuk ketuk pintu dulu jangan asal nyelonong "
Jlebb
Guzel merasa kepalanya di timpuk cabe seakar-akarnya sekalinya mangap mulut makhluk yang bernama Shawn itu pedas juga.
" Biasa aja kali ngomongnya tidak usah nyolot gitu " Guzel menatap sinis laki-laki itu
" Maaf kan orang yang disebelah aku ini Guzel, dia kalau lagi tahan boker emang suka nyebelin kayak emak ujung komplek yang suka tantrum " celetuk Leon dan langsung dapat lemparan kotak tissue dari Shawn. Bryan dan Joshua hanya terkekeh melihat wajah Leon merengut.
" Guzel " suara lembut penuh kasih sayang itu mampu meruntuhkan kekesalan Guzel
" Nanti kamu pulang nya sama Tuan Shawn ya sayang... " ucap Amanda, sepasang bola mata hitam pekat itu melebar, sebentar!!! apa Guzel tidak salah dengar? Pulang bersama Shawn?
" Ha? Maksud mama apa? " Guzel menatap sang mama dan Shawn secara bergantian dia tidak bisa menyembunyikan wajah kagetnya
Amanda tersenyum kecil menatap wajah anaknya yang menuntut jawaban, tapi dia tidak bisa menjelaskan semuanya pada Guzel sekarang karena yang terpenting dia ingin anaknya aman terlebih dahulu.
" Mulai malam ini Guzel tinggal bersama Tuan Shawn "
Sungguh bukan jawaban itu yang ingin Guzel dengar bagaimana bisa dia harus pulang bersama orang asing? Yah orang asing!! Karena ini adalah pertama kalinya mereka bertemu lalu mamanya dengan santai minta dia untuk tinggal bersama Shawn, apa kata dunia nanti???
" Kenapa harus tinggal sama orang asing sih ma? Lagian kan kita masih punya rumah dan kalau mama sembuh juga pasti pulangkan " Sungguh Guzel benar-benar tidak mengerti dengan pikiran mamanya
" Dia bukan orang asing nak, Tuan Shawn sahabat mendiang papa dan juga mama, kami mengenalnya dengan sangat baik " entah dengan cara apa lagi agar anaknya bisa mengerti kalau ini juga demi kebaikannya.
Guzel bukannya tidak tau kalau mamanya mengkhawatirkan dirinya terlebih keluarga mendiang papanya yang sangat membenci dia dan juga mamanya padahal mereka juga bagian dari keluarga besar itu. Sering Guzel bertanya pada mamanya kenapa keluarga sang papa begitu membenci mereka berdua, tapi hingga sekarang gadis itu belum juga mendapatkan jawabannya. Gadis itu menatap Shawn sekilas lalu kembali menatap mamanya.
" Akul tau mama khawatir sama aku, tapi tidak harus tinggal sama orang lain juga ma.. kita punya rumah sendiri tapi kenapa harus tinggal di rumah orang, sebenarnya ada apa sih ma? Mama kasih tau dong " desak Guzel
Amanda menatap lekat wajah cantik putri semata wayangnya tersirat ketakutan dan kesedihan dimata sendu wanita lemah itu tapi apa daya dia tidak bisa berbuat apa-apa karena belum saatnya anaknya tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Melihat Amanda yang diam tanpa mampu menjawab pertanyaan anaknya, Shawn menghela nafas panjang.
" Guzel!! " suara bariton itu seketika membuat nyali Guzel menciut
" Kalian keluar dulu aku ingin bicara dengan Amanda " titah Shawn yang tidak ingin dibantah dan tidak ingin ada yang bertanya lagi.
Leon, dan Bryan beranjak lebih dulu meninggalkan ruangan itu disusul oleh Joshua yang kemudian merangkul Guzel mengajak gadis itu untuk keluar. Guzel menatap Shawn sekilas sebelum benar-benar hilang dari balik pintu dan tinggal lah Shawn seorang diri disana. Sorot matanya yang tajam menatap lekat wajahwanita yang sedari tadi menahan tangisnya itu.
" Maaf Shawn karena aku sudah melibatkan mu" lirih wanita itu, dia tidak bisa lagi menahan airmatanya untuk tidak jatuh.
" Bukan salahmu " sahut Shawn datar
" Aku hanya takut, Shawn!! Aku takut setelah aku tiada mereka akan menyulitkan hidup Guzel!! Aku takut mereka akan menghancurkan kebahagiaan Guzelku!! Aku takut " Isak tangis itu terdengar begitu pilu ditelinga Shawn.
" Di dunia ini hanya Billy dan aku yang dia punya, tapi Billy sudah pergi meninggalkan Guzel lalu sekarang aku- " Amanda tidak bisa melanjutkan kalimatnya, dia hanya bisa terguguh menangisi nasib nya yang selalu kurang beruntung.
" Aku hanya percaya padamu Shawn!! Tolong jaga Guzelku dan jika dia sudah siap maka beritahu dia apa yang sebenarnya sudah terjadi antara aku dan keluarga papanya " ucap Amanda penuh harap bahkan wanita yang sedang sekarat itu tidak segan-segan menautkan jari-jemarinya memohon pada Lelaki itu.
" Jika tiba waktunya dan Guzel sudah merasa siap, maka ceritakan lah semuanya pada anak itu dia juga berhak tau tapi apapun yang terjadi tolong jangan lepaskan tangan putriku Shawn, jangan pernah biarkan dia merasa sendiri " ucap Amanda lagi, sedangkan Shawn masih berdiam diri berusaha menepis semua rasa yang bergejolak didalam d**a dan juga pikiran nya sekarang.
*****
" nih minum dulu biar pikiran kamu tenang " Joshua memberikan sebotol air mineral pada Guzel yang duduk dengan tidak tenang sesekali dia melirik pintu kamar rawat mamanya
" Aku kaget banget kok tiba-tiba mama nyuruh aku tinggal sama orang asing " ujar Guzel setelah meneguk air yang tadi diberikan oleh Joshua
" Dia bukan orang asing Guzel, dia sahabat mendiang papa dan juga mama kamu " sahut Joshua dengan tersenyum
" Tapi aku tidak pernah lihat orang itu datang kerumah ataupun di kantor papa, Bang " Lirih Guzel tapi masih didengar jelas oleh Joshua
" Mana muka nya kejang gitu kayak kanebo kering!! Belum lagi sekalinya mangap langsung buat kupingku mules " gerutu Guzel begitu mengingat kejadian di dalam tadi, Joshua hanya terkekeh
" bayangin aja kalau aku tinggal sama kanebo kering itu? sikapnya itu loh dingin banget seperti kulkas sepuluh pintu tapi mulutnya pedas banget melebihi bon cabe! " dengus nya kesal
" Shawn orangnya memang seperti itu dia sangat pendiam, dingin, bahkan terlihat arogan tapi sekalinya ngomong langsung buat lawannya keki " Joshua lagi-lagi terkekeh tapi apa yang di katakan olehnya memang benar adanya, dia saja harus menyiapkan stok sabar jika harus bicara dengan lelaki gunung es itu.
" Hayo!!!!!!!! Kalian pasti lagi gibahin tu es batu kan!! " Leon dan Bryan yang tadi pamit ke toilet akhirnya muncul juga.
" Diiiihhh dikira kita emak-emak yang lagi beli sayur didepan gang yang suka gibahan " sahut Guzel sinis, nih juga satu mulutnya celometan banget! Leon!
" Kali aja " sahut Bryan kemudian duduk di bangku sebelah Guzel
" Bang Joshua kok bisa sih temenan nih sama dua curut!!! " tanya Guzel dengan nada kesal
" Ehhh bocil tuh mulut asal mangap muka ganteng kaya kita di bilang curut " seru Bryan tak terima
" Nggak adil banget kamu bocil masak Joshua dipanggil Abang sedangkan kita di panggil Uncle " Leon masih saja tidak terima kalau dirinya di panggil Uncle oleh Guzel yah meskipun memang usia mereka juga terpaut enam belas tahun, tapi tetap saja Leon tidak terima.
Guzel memeletkan lidahnya mengejek Leon yang terus-menerus uring-uringan tidak terima dipanggil Uncle
" Pokoknya kamu juga harus panggil aku dan Bryan Abang titik!!! " Ucap Leon tegas
" Dihhhh maksa banget!!!!! " Guzel tertawa
" Bodo amat!!! "
Joshua dan Bryan hanya tersenyum geleng kepala mendengar Leon yang terus-menerus mendesak Guzel agar memanggil dirinya Abang saja tidak mau di panggil Uncle karena dia merasa tidak setua itu.
" Ehmmm!!! "
Mereka yang mendengar teguran itu langsung terdiam melihat siapa yang sedang berdiri sambil bersidekap didepan sana terutama Guzel yang langsung menunduk kikuk lagi-lagi sorot mata tajam itu membuat nyalinya ciut.