Setelah berpikir selama tiga hari alias waktu yang memang ia tentukan sendiri, akhirnya Listya sudah memutuskan bahwa ia akan menerima tawaran yang sangat bagus itu. Ia berpikir kalau ia pindah ke perusahaan yang lebih besar, selain gajinya yang bisa naik beberapa kali lipat, maka pengalaman bekerja di perusahaan besar pun akan semakin membuatnya lihai. Ya, selain ingin mendapatkan gaji, Listya juga ingin mencari pengalaman dalam bekerja. Lagipula sepertinya tak ada salahnya ia mencoba menerima tawaran di perusahaan baru itu, pasti pekerjaannya tak beda jauh ketika menjadi asisten Relix. Selain itu Listya berpikir kalau ia menerima tawaran itu pasti pandangannya akan terbebas dari keromantisan sang atasan saat bukan jam bekerja.
Listya berpikir kalau direktur utama di perusahaan besar yang bergerak di bidang properti itu adalah seorang pria tua yang sudah memiliki anak istri, hingga ia akhirnya menerima jabatan sebagai sekretaris itu karena menurutnya bekerja dengan orang yang lebih tua dan memiliki banyak pengalaman itu menyenangkan. Selain gaji dan ilmu, ia juga akan mendapatkan hal lainnya seperti melihat cara kerja pria yang usianya sudah sangat matang itu saat bekerja di kantor dan lain sebagainya. Ya, awalnya Listya berpikir begitu, sangat menyenangkan sekali ketika ia pindah ke kantor baru. Namun, begitu hari pertama ia bekerja, begitu terkejutnya ia ketika ternyata ia satu kantor dengan si mantan.
"Astaga, gue udah berusaha menghindar dari dia kenapa ujungnya malah satu kantor sih?" Listya berdecak kesal ketika ia yang akan memasuki perusahaan baru itu tiba-tiba saja melihat Sandi yang tengah berbincang dengan orang-orang yang sepertinya bawahannya. Ia masih belum tahu jabatan Sandi itu apa dan ia memang tidak ingin berniat mencari tahu karena hal itu bukanlah urusannya.
Listya langsung sembunyi di balik mobil yang tengah terparkir ketika pandangan Sandi mengarah pada tempatnya, ia sembunyi seperti seorang pencuri yang takut ditangkap polisi saja. Benar-benar kebetulan yang sangat ia rutuki, takdir macam apa ini? Apa tidak ada orang lain saja yang kebetulan satu kantor dengannya? Semisalnya temannya yang baru pulang dari luar negeri atau siapa saja asal jangan orang bréngsek itu.
Ketika ia mengintip, Sandi dan orang-orang itu tidak ada di depan kantor lagi. Listya dapat bernapas dsngan lega, ia berharap kalau ruangan Sandi tidak bedekatan dengan ruangan baru di mana ia bekerja dengan sang direktur utama. Direktur utamanya 'kan adalah seorang bapak-bapak yang sudah menikah dan mempunyai anak, ya, saat ia bekerja di kantor Relix seperti itulah seorang direktur di sana. Entah jika di perusahaan ini, mungkin saja tetap sama.
Listya keluar dari tempat persembunyiannya, wanita itu berjalan dengan anggun memasuki area kantor. Ia langsung pergi ke meja resepsionis untuk menanyakan di mana ruangan sang atasan, ini kali pertama ia datang ke sini jadi wajar jika ia tidak tahu di mana tempatnya.
"Permisi, saya ingin tahu di mana ruangan Pak Nanda seorang direktur utama di kantor ini. Saya sekretaris barunya," ucap Listya dengan sopan.
"Silakan Ibu bisa naik lift yang itu, ruangan Pak Nanda ada di lantai tiga belas." Sang resepsionis membalas dengan ramah, ia menunjuk lift khusus para petinggi perusahaan.
"Baiklah, terima kasih." Listya membungkuk hormat setelah itu ia berjalan menuju lift itu kemudian masuk, jarinya menekan tombol lantai tiga belas.
Hanya ia sendiri yang ada di lift ini sehingga ia bisa bebas, tidak merasa gugup atau apa. Ralat, ia saat ini merasa gugup karena ini kedua kalinya ia seperti seseorang yang akan melamar pekerjaan. Padahal, ia adalah seorang sekretaris yang diundang langsung oleh sang direktur utama, semoga saja ia memiliki direktur yang baik dan tidak suka membuatnya terkena masalah. Listya tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan pekerjaannya jika ia memiliki atasan yang menyebalkan, semoga atasannya itu adalah orang yang ramah dan mengerti karyawannya.
Ting ....
Pintu lift terbuka membuat Listya menghela napas sambil menyiapkan diri kemudian ia keluar dari lift itu, dengan langkah mantap gadis itu berjalan menuju sebuah ruangan yang tulisannya tertera kalau itu adalah ruangan direktur utama. Sejenak, sebelum mengetuk pintu, Listya memerhatikan para karyawan yang nampaknya sibuk dengan pekerjaannya.
Listya memasang senyum lebarnya kemudian mengetuk pintu ruangan itu, ia akan menyapa dengan ramah sang direktur utama yang akan menjadi atasannya. Siapa tahu dengan ini, sang direktur utama menyukai sikapnya yang ramah.
"Masuk!" Suara berat nan tegas langsung menyapa indera pendengarannya, sejenak ia merasa familiar dengan suara itu.
"Kayak pernah dengar suaranya," gumam Listya.
Listya menggelengkan kepalanya, ia mendorong pintu ruangan itu pelan kemudian masuk tak lupa menutup pintunya. Wanita itu membalikkan tubuhnya, ia menatap ke arah sang direktur utama yang tengah membalikkan tubuhnya tak menatap ke arah pintu, tepatnya ke arahnya. Ia mengernyit heran, tetapi ia tidak dapat berkata apa-apa. Perlahan, ia berjalan mendekati atasan barunya itu, ia kini sudah berdiri tepat di depan pria yang masih membelakanginya.
"Perkenalkan nama saya Listya Navida, Pak. Saya merupakan sekretaris baru Bapak yang memang Bapak undang untuk bekerja di sini." Listya memperkenalkan dirinya dengan sopan tak lupa mengulas senyumnya meksipun pastinya sang atasan tak dapat melihat itu.
Tiba-tiba saja pria yang sedari tadi membelakanginya memutar kursi kebesarannya hingga akhirnya Listya bisa melihat dengan jelas siapa pria yang akan menjadi atasan barunya itu. Listya melotot tak percaya ketika melihat pria bréngsek yang telah menyakiti hatinya ternyata ada di depannya, ia menggelengkan kepalanya seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat. Pasti ia salah lihat, tidak mungkin di hadapannya ini adalah pria bréngsek itu. Mungkin karena ia yang terlalu membenci Sandi sehingga apa yang ia lihat seperti pria itu, ya, mungkin seperti itu.
"Hello, my secretary!" sapa pria yang merupakan direktur utama di perusahaan ini dengan ramah tak lupa mengulas senyumnya yang ia buat semanis mungkin.
"M-mengapa malah kamu yang ada di sini? Di mana Pak Nanda? Direktur utama di sini," ucap Listya terbata.
"Saya direktur di sini, saya Sandi Ananda yang sering dipanggil Sandi atau Nanda." Sandi menyeringai ketika melihat raut pucat Listya, 'kan sudah ia katakan kalau ia tidak akan pernah melepaskan Listya lagi.
Kepindahan Listya ke kantor ini memang sudah Sandi rencanakan, kebetulan sekali ia memang sedang mencari seorang sekretaris karena sekretaris lamanya sudah resign. Tak disangka-sangka kalau sang mantan pacar menyetujui kontrak kerja itu, dan Sandi berjanji bahwa ia tidak akan pernah melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya. Ia akan berusaha keras meminta maaf pada Listya yang hatinya sudah ia sakiti begitu dalam.
"S-saya ingin mengundurkan diri," ucap Listya sambil memundurkan langkahnya.
Mendengar itu, Sandi bangkit dari duduknya. Pria itu berjalan menghampiri Listya seiring Listya yang semakin mundur, langkah dan ekspresi Sandi santai seakan tak da beban. Berbeda dengan Listya yang merasa kalau satu langkah ia mundur, serasa berton-ton beban berat yang tengah ia pikul. Listya tidak pernah menyangka kalau ternyata Sandi yang menjadi direktur utama di sini, ia pikir orang lain dan orang itu sudah bapak-bapak mengingat waktu itu Relix memanggilnya dengan kata 'beliau'.
"Kalau kamu mengundurkan diri akan ada penalty yang besar karena kamu akan melanggar peraturan kontrak yang sudah kamu tandatangani," ujar Sandi yang kini memilih menghentikan langkahnya. Pria itu memasukkan kedua tangannya di dalam saku celananya, bersikap cool sekali di hadapan Listya.
"S-saya tidak peduli, saya ingin mengundurkan diri." Listya berbalik hendak membuka pintu itu kemudian keluar, tetapi belum sempat ia menarik pintu itu, kata-kata yang keluar dari mulut Sandi membuat tubuhnya membeku.
"Dua milyar," ucap Sandi sambil menatap punggung Listya.
"Saya mau uang dua milyar itu ada di meja saya hari ini juga, maka saya akan menandatangani surat pengunduran diri kamu," lanjut Sandi yang membuat tubuh Listya semakin mematung seiring dengan kata-kata kejam itu.
Listya memang tahu kalau ia akan kena denda sebesar ini jika sampai mengundurkan diri, ia sudah membaca kontrak itu dengan teliti baik kekurangan maupun kelebihannya. Namun, ia tidak pernah menyangka kalau Sandi yang akan menjadi atasannya, ia pikir tidak akan ada hal seperti yang terjadi. Ia pikir kalau ia keputusannya menerima tawaran menggiurkan ini adalah hal tepat, nyatanya ia salah. Ia malah kembali lagi pada lubang masa lalu yang begitu menyakitkan ini, tak ada jalan keluar ketika ia telah terjatuh di dalam lubang itu. Apa yang harus ia lakukan? Jelas ia tidak mungkin memiliki uang sebanyak itu dalam waktu satu hari.
"Saya tidak jadi mengundurkan diri," ujar Listya pada akhirnya dengan bahu yang merosot karena ia tidak punya pilihan lain.
Mendengar itu, Sandi tersenyum puas. Ia sudah menduga kalau Listya pasti tidak akan pernah bisa pergi setelah menandatangani kontrak itu, tak hanya kontrak dalam perusahaan saja melainkan juga kontrak di dalam hatinya dalam artian, setelah hari ini tidak akan pernah ia membiarkan Listya pergi. Kesalahannya waktu itu memang sangat fatal dan begitu menyakiti hati Listya, tetapi malam itu tak sepenuhnya kesalahannya karena ia telah dijebak. Dan setelah hari ini, entah apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Pintu maaf Listya sepertinya belum dibuka, tetapi hal itu tak lantas membuatnya menyerah. Menjadikan Listya sebagai sekretarisnya membuat Sandi bisa leluasa mengawasi wanita itu dan tentunya mereka akan ada banyak waktu bersama meksipun hanya urusan pekerjaan.
"Baguslah, kamu sekarang sudah bisa mulai bekerja. Meja kerja kamu ada di sana." Sandi menunjuk sebuah bangku dan meja kerja yang berada di pojok ruangannya, Listya yang melihat itu hanya bisa melotot. Mengapa mereka jadi satu ruangan seperti ini? Apa tidak bisa ia bekerja di luar saja?
"Ada apa?" tanya Sandi ketika melihat wajah terkejut Listya.
Pria itu tersenyum, ia tahu apa yang membuat wanita itu terkejut. Tentunya ruangannya dibuat menjadi satu dengan sekretarisnya ini terjadi setelah Listya setuju menjadi sekretaris, ia memang sengaja melakukan ini. Ia ingin memperhatikan Listya lebih dekat, meskipun ia tahu masih ada raut kebencian yang tertahan di mata Listya karena Listya menghormati Sandi sebagai atasan dan tidak lebih dari itu.
"T-tidak ada, Pak. Baiklah kalau begitu saya harus mulai bekerja, permisi, Pak." Listya membungkuk hormat kemudian segera menuju ke meja kerjanya tanpa berniat menatap ke arah Sandi lagi.
Meskipun keinginan hatinya saat ini ingin menangis dan berteriak sekencang-kencangnya karena takdir begitu kejam padanya, tetapi sebisa mungkin ia menahan keinginan itu karena ia tidak ingin terlihat rapuh di hadapan pria bréngsek yang siàlnya kini menjadi atasannya. Takdir oh takdir mengapa takdir itu seakan ingin agar mereka selalu bertemu kembali.
Sandi sendiri tersenyum begitu puas ketika melihat Listya seakan tidak berkutik bila di kantor seperti ini, attitude-nya begitu bagus karena bisa mengesampingkan urusan pribadi saat berada di kantor. Memang patut diacungi jempol. Namun, ada yang mengganggu hati Sandi ketika ia melihat lagi ke arah Listya yang sibuk menunduk seperti tengah memainkan komputer, bukan itu yang menjadi masalah. Tadi kalau ia tidak salah lihat, Listya seperti tengah menghapus air mata yang jatuh di pelupuk matanya. Sandi jadi merasa bersalah, apa kali ini kelakuannya membuat Listya kembali merasakan sakit?
Ia menggelengkan kepalanya, bagaimanapun caranya maaf itu harus ia raih. Tidak peduli jika Listya suka atau tidak suka berada di dekatnya, sudah dari dulu ia mencari keberadaan Listya dan ketika wanita itu datang dengan sendirinya ke hadapannya maka tidak akan pernah ia melepaskan mangsa yang begitu lezat untuknya. Layaknya makanan favorit, keinginan Sandi untuk menjerat hati Listya kembali lebih besar dari keinginannya untuk menikmati hidangan favoritnya yaitu masakan buatan mamanya. Listya sendiri pura-pura fokus menatap ke layar komputer tanpa ada niatan menatap Sandi yang ia rasa tengah memperhatikannya, ia harus tahan satu tahun berada di sini bersama Sandi sesuai dengan kontrak yang sudah ia tandatangani itu.