10. Meluluhkan Hatinya

1829 Words
'Batu yang terus dijatuhi air pun lama kelamaan pasti akan mengikis seiring berjalannya waktu, sama halnya seperti hatimu yang pasti akan luluh setelah kulimpahi cinta dan kasih sayang.' —Sandi Ananda— *** Semenjak kejadian di mana Sandi mengatakan kalau ia adalah kekasih Listya pada Mama Lira, Mama Lira selalu mendesak Listya agar wanita itu mau mengajak Sandi berkunjung ke rumahnya. Listya tentu tidak mau menyetujui permintaan mamanya itu, wanita itu akhir-akhir ini juga bersikap lebih dingin dari sebelumnya pada Sandi. Kali ini ia akan membangun benteng yang lebih tinggi dari sebelumnya agar Sandi tak lagi bisa merobohkan benteng yang sudah ia pertahankan. Ia tidak mau pria itu bersikap seenaknya lagi hingga membuat keluarganya semakin salah paham. Sikap dinginnya bak kutub Utara itu jelas saja membuat Sandi uring-uringan, berkali-kali pria itu berusaha mengajak Listya berbicara tentang mereka. Namun, tak ada tanggapan jelas dari Listya karena ia memang ingin menghindari pembicaraan itu dengan Sandi. Jika tidak ada urusan pekerjaan, maka Listya cenderung menghindari Sandi karena ia tidak ingin kalau pria itu kembali membahas urusan pribadi. Menurut Listya, hubungan mereka sudah berakhir sejak lama saat kejadian itu berlangsung. Tidak ada lagi tempat untuk Sandi di hatinya, semuanya telah usai seiring rasa sakit yang dulu ia derita. Dan tak terasa sudah satu bulan lebih Listya berusaha menghindari Sandi, satu bulan terasa begitu menyesakkan bagi Sandi karena Listya seakan menganggapnya tak ada. "Listya, hari ini jadwal saya apa? Kalau tidak salah tepat sore nanti saya akan pergi ke Bandara, ya?" tanya Sandi pada Listya. Hanya dengan membahas pekerjaan seperti inilah Listya mau berbicara dengannya dan Sandi senang meskipun merasa sesak karena tak bisa selalu berbicara dengan Listya. "Iya, Pak, benar sekali. Karena besok Bapak akan menghadiri pesta jamuan makan malam di salah satu hotel yang ada di Singapura sekaligus membahas kerjasama antara perusahaan kita dengan Lexine corporation." Listya menyebutkan jadwal Sandi tanpa melihat buku agendanya karena ia sudah sangat hafal dengan jadwal Sandi minggu ini. "Baiklah, persiapkan diri kamu karena kamu juga akan ikut saya ke Singapura." Mata Listya membelalak, tak percaya dengan apa yang Sandi katakan. "Maaf, Pak?" tanya Listya karena merasa tak yakin dengan apa yang ia dengar. "Iya, kamu akan ikut. Kamu sama sekali tidak salah dengar, kamu persiapkan diri. Jangan lupakan berkas-berkas yang harus dibawa!" Setelah mengatakan itu, Sandi keluar dari ruangannya meninggalkan Listya yang menggeram kesal. Di awal 'kan sudah jelas kalau hanya Sandi yang akan terbang ke Singapura, mengapa ia juga jadi ikut? Listya yakin, ini pasti akal-akalan Sandi. Baiklah, ia akan mengikuti permainan sang atasan sekaligus mantan bréngseknya itu. "Nyebelin banget sih tuh orang," gerutu Listya merasa kesal. Sudah saatnya jam makan siang, Listya keluar dari kantornya dan ia berpapasan dengan seorang laki-laki berkemeja biru dongker. Namanya Indra, ia merupakan seorang asisten pribadi sang CEO perusahaan. Listya cukup mengenal Indra karena mereka sering bertemu. "Eh, Tya. Lo mau ke mana?" tanya Indra menyapa Listya. "Gue mau ke kantin buat makan siang, lo sendiri?" Listya bertanya balik. "Wah kebetulan gue juga mau ke sana, bareng aja, yuk!" Listya mengangguk hingga akhirnya mereka berdua masuk ke dalam lift. "Oh iya, Lisa mana? Biasanya tuh anak suka banget kalau udah jam makan siangnya gini," ujar Indra ketika ia tidak mendapati Lisa berada bersama Listya. Listya, Indra dan Lisa berteman cukup akrab karena mereka memang berada di lantai yang sama. Tak hanya itu saja, Lisa merupakan teman SMA Listya, sedangkan Indra sendiri merupakan teman sekampus Lisa. Takdir memang begitu baik pada mereka hingga membuat mereka bertiga bisa satu kantor seperti ini dan kemudian berteman. "Dia lagi ada kerjaan, sama dia juga tadi katanya bawa bekal. Makanya nggak ke kantin, biasalah dibawain mamanya," kekeh Listya. Setiap satu minggu sekali, Lisa memang kerap kali dibawakan bekal oleh mama tercintanya hingga membuat wanita bertubuh sedikit gemuk itu tidak perlu lagi pergi ke kantin. "Oh pantesan, padahal gue suka gemes kalo liat dia lagi makan," ujar Indra sambil tertawa. "Gemes apa suka?" goda Listya. Dari gerak-geriknya, Listya tahu kalau sebenarnya Indra ini menyukai Lisa. Sayangnya ia belum berani mengungkapkan karena masih ada penghalang antara hubungannya dengan Lisa yaitu orang yang disukai Lisa. Mereka akhirnya tiba di kantin, mereka langsung mengambil tempat duduk yang berada di pojok dekat tembok. Alasan mereka sih agar lebih enak dan santai ketika mengobrol, mereka sama-sama mengambil menu makan siang mereka sesak mengobrolkan kemudian kembali duduk di tempat mereka tadi. Mereka makan siang sambil sesekali mengobrolkan sesuatu, mengabaikan seseorang yang sedari tadi mantap ke arah merupakan dengan tatapan kesal dan penuh cemburu. TAKKK Tiba-tiba sebuah piring berisi nasi serta lauk ditaruh agak kasar di atas meja membuat Listya dan Indra terkejut. "Apa saya boleh bergabung dengan kalian? Semua meja penuh," ucap sebuah suara berat itu membuat Listya dan Indra menghentikan obrolan mereka kemudian menatap ke arah seorang pria yang sudah duduk di hadapan mereka. "O-oh tentu saja, silakan, Pak," ujar Indra sambil tersenyum yang sama sekali tidak dibalas oleh Sandi. Pria itu memperhatikan Listya yang pura-pura tidak menyadari keberadaannya, wanita itu sibuk dengan makan siangnya. Hal itu membuat Sandi menggeram kesal, tadi saja wanita itu bisa tersenyum dan tertawa ketika berbicara dengan Indra. Sedangkan ketika ada dirinya? Listya langsung berpura-pura menjadi sosok yang begitu pendiam. Suasana berubah menjadi hening seiring Sandi yang ikut bergabung di meja mereka, Listya sibuk menikmati makan siangnya sedangkan Indra degan ingin memulai pembicaraan. Indra tahu selain menjabat sebagai direktur utama perusahaan ini, Sandi juga merupakan keturunan dari Ananda. Jelas saja Indra tak ingin kalau ia nanti salah bicara, jadi lebih baik ia diam saja karena terkadang kata-kata diam itu emas memang ada benarnya. "Kalian kenapa diam? Perasaan tadi saat saya belum bergabung, kalian asyik mengobrol. Apa karena kehadiran saya membuat kalian merasa tidak nyaman melanjut obrolan seru itu?" tanya Sandi mencoba memecahkan keheningan. Indra nampak gelisah ketika mendapat pertanyaan seperti itu, berbeda dengan Listya yang nampak santai-santai saja. "Iya." "Tidak, Pak." Indra melotot ketika jawabannya dan Listya berbeda, di dalam hatinya kali ini berdoa semoga saja jawaban Listya itu tidak membuat Sandi marah. Hal yang tak Indra duga adalah tiba-tiba saja Sandi tersenyum sambil menatap Listya dengan tatapan yang sulit diartikan, Indra mengernyit. Sepertinya terjadi sesuatu antara Listya dan Sandi, apalagi tatapan tak suka dari Sandi ke arahnya begitu kentara. Kini, ia seperti obat nyamuk saja di antara keduanya. "Ehem, Tya, gue balik duluan, ya? Gue lupa kalau ada tugas dari Pak Dariel dan harus dikejar secepatnya." Indra berdiri, pria itu meletakkan uang lima puluh ribuan di atas meja. "Mari, Pak, saya pamit duluan." Indra menunduk hormat pada Sandi, setelah mendapatkan anggukan oleh Sandi, ia langsung pergi dari sana secepatnya. Mengabaikan Listya yang akan protes karena sikapnya itu. "Makanmu begitu lahap, ya, tapi mengapa tubuhmu masih kurus seperti itu?" ejek Sandi membuat Listya hanya bisa memutar bola matanya malas. Karena Indra telah pergi, sepertinya pria di hadapannya ini jadi lebih leluasa mengganggunya. "Tya, apa kamu tidak mau memberikanku kesempatan kedua? Aku benar-benar menyesal dengan kesalahan di masa lalu. Andai saja aku ...." "Saya mohon Bapak jangan bahas hal itu lagi, saya tidak ingin mendengarnya lagi karena jika saya mendengar, itu sama saja kembali membuka luka lama saya." Listya berdiri, Seperi Indra tadi, ia menaruh uang lima puluh ribuan di atas meja kemudian pergi meninggalkan Sandi yang termenung menatap kepergian Listya. "Aku yakin aku pasti bisa meluluhkan hati kamu, Tya. Aku yakin itu," gumam Sandi. "Penolakan kamu sama sekali tidak membuat aku menyerah, justru aku menjadi lebih semangat menggapai maaf dan hatimu lagi." Sandi tersenyum sendu, sangat menyesalkan sekali dengan kebodohan masa lalunya itu. Semenjak kehadiran di mana ia melalui kesalahan itu, Sandi berjanji pada dirinya sendiri kalau ia tidak akan pernah lagi pergi ke club malam. Club malam hanyalah membawa petaka bagi siapa saja yang pergi ke sana, Sandi sudah merasakannya dan ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Sepelik apapun masalah hidupnya, ia tidak akan pernah lagi pergi ke tempat penuh kegelapan itu. Biarlah dulu ia menjadi orang yang bodoh karena sering pergi ke sana, sekarang ia tak lagi sama. Kesalahan masa lalu membuatnya sedikit demi sedikit berubah, apalagi ketika ia kembali bertemu Listya. Bertemu Listya membuat ia kembali merasa semangat yang dulu pernah hilang. Sandi menghela napas, makan siangnya masih tersisa banyak. Ia jadi tak berselera lagi melanjutkan makan siangnya karena kepergian Listya. Seperti kedua orang sebelumnya, ia pun menaruh uang di atas meja kemudian pergi dari kantin. Mengabaikan tatapan penuh kagum dan penasaran dari karyawan wanita serta tatapan heran pria berjas lainnya. Listya menghela napas panjang, sangat kesal karena Sandi tak menyerah juga. Padahal, ia sudah dengan terang-terangan menolak pria itu, tetapi Sandi sangat keras kepala. Ternyata sifat pria itu sama sekali tidak berubah, keras kepala dan sangat pemaksa. Dan ia benci karena setiap kali ia mendapat perlakuan manis dari Sandi, jujur saja hatinya terasa sedikit aneh. Bayangan indahnya hubungan mereka saat masih kuliah dulu terasa begitu nyata, seakan getaran aneh itu kembali muncul seiring ingatan-ingatan yang masih terekam jelas. Layaknya sebuah rekaman video , suara, wajah serta senyumnya terasa begitu nyata. Wanita itu menggeleng cepat, tidak! Ia tidak boleh luluh secepat ini. Semua perlakuannya pada Sandi tak sebanding dengan rasa sakit yang pria itu berikan kepadanya. Setelah kembali menghela nafas dalam-dalam, ia memasuki ruang kerjanya dan Sandi. Oke, ia sudah memasuki ruangan ini yang artinya ia haruslah siap kembali bersikap profesional. Mencoba mengesampingkan urusan pribadi yang begitu menyesakkan dàda. "Listya, tolong buatkan saya kopi hitam!" ujar Sandi ketika ia memasuki ruangannya. Mendadak, ia butuh minuman yang sedikit pahit dan pekat seperti yang ia rasakan saat ini. "Bukannya Bapak ada penyakit asam lambung? Kopi tidak baik bagi penderita asam lambung, Pak." Listya langsung merapatkan bibirnya ketika refleks ia mengatakan hal yang ia ingat dari dulu, hal itu menimbulkan senyum di bibir Sandi. Tak menyangka kalau sang mantan yang masih dicintainya itu mengingat hal itu dan kini malah mengingatkannya tentang penyakitnya yang ia sendiri pun terkadang suka tidak patuh. "Ternyata kamu masih mengingat itu dengan jelas, Tya, aku senang." Sandi berjalan mendekati Listya yang tengah duduk di kursinya. Baru kali ini Sandi meminta dibuatkan kopi oleh sang sekretaris, tak menyangka karena kopi ia jadi tahu kalau sebenarnya dibalik sikap Listya yang dingin, terselip perhatian di dalamnya. Pria itu menunduk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter karena Listya tengah mendongakkan kepalanya. "Ehem, saya akan buatkan kopi hitam untuk Bapak." Listya langsung berdiri dari duduknya, ia mencoba menghindari Sandi yang menatapnya intens. Karena salah bicara, semuanya jadi kacau seperti ini. Tentu saja Sandi tidak akan membiarkan Listya pergi begitu saja, hal seperti ini begitu langka terjadi. Apalagi Listya yang nampaknya sedang salah tingkah, begitu menggemaskan. Pria itu dengan cepat menghadang langkah Listya yang akan keluar membuat wanita itu menghela napas lelah. "Maaf, Pak. Bapak menghalangi jalan saya," ujar Listya pelan. Cup "Tolong buatkan aku secangkir teh saja, lebih sehat untuk lambungku. Bukan begitu, Tya?" bisik Sandi setelah lancang mengecup pipi Listya. Listya shock dengan apa yang sudah Sandi perbuat, wanita itu menatap Sandi yang kini sudah duduk santai di kursi kebesarannya. Apa yang harus ia lakukan? Saat ini seakan tidak ada jarak lagi tentang hubungan mereka. *** Sandi, dirimu makin agresif aja ya wkwk
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD