“Hhh...hhh...Kuro—da-san?” “Maaf, tapi aku sudah tidak bisa tahan.” Aku melihat Kuroda-san mulai membuka celananya, dia bahkan melempar gesper yang dia pakai ke lantai, baru setelah itu dia membuka celananya sebagian hingga akhirnya aku melihat penisnya ke luar dari dalam celana. Melihat itu, rasanya aku ingin menutup wajahku dan memalingkannya dari dunia, tapi sebelum aku melakukan itu, Kuroda-san sudah lebih dulu menahan tanganku, dia memegangi kedua tanganku dan menahannya di atas kepalaku, sementara sebelah kakiku dia angkat tinggi kemudian ditaruh di pundaknya sebelum kemudian dengan berani dia melesakkan penisnya masuk. “Ngh! Nga! Aargh!” Jeritanku benar-benar tidak bisa ditahan. Aku meronta, bahkan rasanya aku ingin sekali mendorongnya dengan sisa tenagaku, air mataku yang kut

