Part 1

1371 Words
Hari yang melelahkan dengan berbagai kegiatan bimbingan dosen, hingga mencari bahan membuat skripsi yang cukup menyita waktuku. Kutengok jam di pergelangan tanganku yang ternyata telah menunjukkan pukul 11.00 PM. Terlalu fokus mengerjakan skripsi di perpustakaan membuatku lupa bahwa hari sudah beranjak petang. Segera aku membereskan segala peralatanku yang berserakkan di ruang perpustakaan ini, seperti notebook, pensil, dan beberapa buku yang kupinjam di perpustakaan.  Kuedarkan pandanganku pada sekeliling ruangan perpustakaan ini. Hanya dua kata yang dapat menggambarkan tempat ini; sepi dan sunyi. Bahkan petugas perpustakaan yang bisanya berjaga entah pergi ke mana.  Kuperjelas sekali lagi bahwa sekarang aku tengah berada di perpustakaan. Tapi bukan berada di perpustakaan umum, melainkan di perpustakaan pusat Harvard University. Mengingat di perpustakaan ini buku yang disediakan bisa dikatakan jauh lebih lengkap jika dibandingkan dengan perpustakaan umum yang biasanya kukunjungi di kota. Jadi wajar saja jika waktu telah menunjukkan hampir tengah malam seperti saat ini perpustakaan telah sepi. Siapa juga yang mau berada di perpustakaan lama-lama dengan sederet rak buku lebar yang rata-rata bukunya beriasi paling sedikit 200 lembar, bahkan ada yang mencapai lebih dari 1000 lembar, atau seatara dengan 400-2000 halaman. “Ugh, Semoga saja aku tidak ketinggalan kereta.” Setelah membereskan peralatanku dan mengembalikan buku di tempat semula, segera aku bergegas menuju stasiun kereta api terdekat.  Lagi-lagi sepi yang kudapat, kutengok kembali jam tanganku yang menunjukkan pukul 11:20 PM, yang berarti masih tersisa 10 menit lagi sebelum kereta terakhir malam ini berangkat.  Ketika tengah menunggu, tiba-tiba aku merasakan ingin buang air kecil, setelah berpikir selama beberapa saat akhirnya kuputuskan untuk ke kamar mandi. Jarak antara kamar mandi cukup jauh dari tempatku menunggu kereta api berhenti tadi, namun apa daya jika tuntutan alamiah yang mengaharuskanku ke kamar mandi dari pada harus mengambil risiko akan mengompol saat menaiki kereta nanti. Tidak, tentu saja aku tidak akan melakukan hal memalukan seperti itu, sangat konyol bukan. Setelah menyelesaikan tuntutan alamiahku tadi, kini aku kembali berjalan menuju ke tempat semula.  Aku berjalan dengan langkah yang sedikit kupercepat, hingga saat berjalan samar-samar aku mendengar suara seseorang. Niatku ingin mengabaikan dan melanjutkan langkahku, akan tetapi entah mengapa langkah kakiku justru tidak sejalan dengan pikiranku.  Langkah kakiku membawaku menuju sumber suara itu berasal. Dapat kulihat dua sosok pria tengah berhadap-hadapan dan saling bertukar barang. Entah apa yang mereka tukarkan, aku tidak terlalu mengerti mengingat minimnya cahaya yang menaungi tempat ini.  Tapi aku dapat mengambil satu hal dari kejadian barusan, dan itu adalah sesuatu yang buruk. Perasaanku mengatakannya, tidak seharusnya aku mengintip apa pun yang tengah kulihat saat ini. Saat pikiran warasku akhirnya kembali mengambil alih, dengan langkah yang telah kuperkirakan aku memutuskan hendak berbalik dan pergi dari tempat tersebut serta melupakan apa pun yang baru saja tertangkap indra penglihatanku. Namun saat hendak berbalik, tiba-tiba kakiku tanpa sengaja menginjak sebotol kaleng soda.  “s**t! Mengapa ada botol kaleng di sini.” Siapa sih membuang botol kaleng soda sembarangan di sini? Bagaimana jika mereka sampai mengetahui keberadaanku? Gawat, aku harus segera kabur dari sini.  Sebelum berlari, aku sempat menengok ke belakang dan mendapati tidak ada seorang pun di sana. Apa mungkin mereka sudah kabur? Sejenak kuhembuskan napas lega bahwa mungkin keberuntungan masih berpihak padaku.  "Syukurlah mereka tidak mengejarku,” Fey mengembuskan napas lega barang sejenak untuk menetralkan degup jantungnya yang sempat berdegup kencang akibat kejadian tadi.  “Kira-kira apa yang mereka transaksikan tadi? Mengapa harus di tempat sepi, tengah malam, dan juga mengapa aku harus merasa takut. Entahlah, apa pun yang terjadi barusan bukan urusanku, yang penting aku sudah aman."  Dengan perasaan lega aku kembali melihat ke sekeliling, namun ketika hendak berbelok ke arah stasiun, secara tiba-tiba ada sebuah tangan yang membekap mulutku dan mengunci kedua tanganku hingga mempersulit ruang gerakku. Bahkan untuk sekedar bergerak dan memberontak melepaskan diri. "Tolo__"  Aku berusaha memberontak sekuat tenaga meski semua itu sia-sia, karena bagaimana pun juga tenaganya jauh lebih kuat dibandingkanku yang hanya seorang perempuan.  ‘Tuhan! Siapa pun tolong aku.’ Air mata telah membasahi kedua pipiku, tapi sesosok yang membekapku itu masih terus mengunci kedua tanganku dengan satu tangannya, sementara tangannya yang lain digunakan untuk membekap mulutku. Sebelum pada akhirnya ia membawaku ke dalam sebuah mobil yang kuyakini adalah mobilnya.  Tubuhku dihempaskannya ke dalam mobil berwarna hitam tersebut. Aku berusaha untuk kembali memberontak dan membuka pintu mobil tersebut, akan tetapi malah cengkraman pada rahangku kian menguat hingga membuatku mau tak mau mendongak ke arahnya.  Lagi-lagi hanya air mata yang bisa mewakili perasaanku saat ini. Takut, hanya itu yang kurasakan. Tuhan, apa salahku? Kumohon lindungi aku dari iblis berwujud manusia ini.  "Diam dan jangan memberontak! Jika kau masih ingin selamat." Sesosok itu berujar dengan dingin disertai tatapan mata yang tajam menusuk. Satu isakan kecil berhasil lolos dari bibirku.  Tak kupedulikan perkataannya yang menyuruhku untuk diam dan tidak memberontak, yang kuinginkan saat ini hanya kabur dan menjalani hariku seperti biasa, bukan malah berakhir di tangan orang asing yang menculikku seperti saat ini.  Dapat kulihat rahangnya mengeras dan matanya yang berkabut amarah.  "Apa yang kau inginkan dariku? Tolong lepaskan aku," dengan terbata aku berkata disela isak tangis yang tak berusaha kututupi.  Entah sudah yang keberapa kalinya suara isak tangisku menggema dalam kesunyian malam ini, tak ada kata lain yang mampu menggambarkan perasaanku saat ini. Aku tak ingin menyerah; aku akan terus memberontak, entah itu menendang, memukul, atau pun berteriak sekuat tenaga.  PLAK! Sebuah tamparan keras kurasakan mendarat di pipiku. Tubuhku membeku, air mataku kembali mengalir dengan deras. Dapat kurasakan bibirku berdarah akibat tamparan tersebut.  "Sudah kukatakan untuk DIAM dan jangan MEMBERONTAK! Rupanya kau ingin bermain-main denganku hm?"  Sebuah senyum miring tercetak di sudut bibirnya yang malah membuatku semakin bergidik takut. Apa pun yang dimaksud dengan kata bermain-main itu, pastilah sesuatu yang buruk untukku. Setelah mengatakan itu, dia mendekatkan wajahnya ke arah wajahku. ‘Apa yang akan dia lakukan?’ Aku masih menatap wajahnya yang terus mendekatiku bahkan sekarang jaraknya hanya sejengkal dari wajahku. ‘Apa dia akan menciumku? Tidak! Aku tidak sudi ciuman pertamaku dicuri orang yang tidak kukenal.’ Kudorong wajahnya dan memalingkan wajahku ke arah jendela mobil, tapi tiba-tiba tangannya mencengkram daguku, dengan kasar dia memalingkan wajahku kembali ke arahnya. Dapat kurasakan bibirnya yang dingin menyentuh bibirku, berusaha menerobos untuk masuk ke dalam mulutku. Aku takkan membuka mulutku, namun setelah dia menyadari aku tetap memilih untuk mengunci bibirku rapat-rapat, maka dengan sengaja dia menggigit keras bibir bawahku hingga rasa anyir seketika mengalir di dalam mulutku; bibirku berdarah. Secara otomatis kubuka mulutku karena merasakan perih di bibir bawahku. ‘Laki-laki biadab!’ Tak hanya sampai di situ, dia mengatur kursi mobil yang sedang kududuki untuk membuat tubuhku berbaring. Tanpa kusangka dia sudah melakukan hal yang terlalu jauh yaitu menciumku dengan kasar. Tangannya pun tak tinggal diam, tangan kanannya dengan kurang ajar masuk ke dalam sweater yang saat ini kupakai dan mencoba mencari gundukan yang selalu didambakan banyak lelaki pada umumnya, setelah menemukannya dia langsung meremasnya dengan kuat. Membuat Fey hanya bisa menangis menahan sakit di kedua payudaranya. ‘Apakah dia akan memperkosaku di sini? Tidak, itu tidak boleh terjadi. Ya Tuhan, tolong siapa pun bantu aku.’ Aku hanya bisa menangis melihat pria asing yang berada di atasku ini sedang berusaha membuka sweater-ku. "To-long hentikan," saat pria itu melepaskan ciumannya, aku tak sanggup untuk melakukan perlawanan, karena aku berada dalam kukungan pria ini. Pria itu menurunkan ciumannya ke arah leherku, hingga tanpa kusadari secara refleks suara desahan itu keluar dari bibirku, ini benar-benar menyiksa, ada apa dengan diriku ini. Seakan-akan aku mendambakan pria ini berada di dalamku, benar-benar konyol. Padahal ini merupakan kali pertama aku bertemu dengannya, namanya saja tidak tau dan yang pasti orang ini adalah orang yang tidak baik. Dia semakin memperkuat remasannya di kedua payudaraku, membuatku meringis sakit. Hingga secara tiba-tiba dia menghentikan permainannya dan membuatku bisa bernapas lega. ‘Tapi kenapa dia berhenti?’ Aku mengubah posisi berbaringku menjadi duduk dan melihat dia keluar mobil lalu berbicara dengan seorang satpam di sana. Sepertinya satpam tersebut memergoki apa yang telah terjadi tadi. Ini adalah kesempatan yang bagus, dengan perlahan aku membuka pintu mobil sambil sesekali melihat ke arah pria itu, setelah kurasa pria itu tidak memperhatikan, dengan segera aku mengambil langkah seribu tanpa melihat ke arah belakang lagi. Tapi naas saat pria itu melihatku kabur, dia langsung mengejarku, membuatku semakin mempercepat laju lariku dan berharap dia tidak dapat mengejarku. Cepat... Lebih cepat... Dan... To be continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD