Evelyn dan Gaby yang mencari keberadaan Natasha, mereka akhirnya menemukan gadis itu sedang berjalan ke arah toilet seorang diri.
"Tanpa kita bawa tu bocah ke toilet dia udah masuk duluan ke dalam sana Lyn" ucap Gaby.
Membuat Evelyn tersenyum miring menatap ke arah adik tirinya itu.
"Ikutin gue!" ujar Evelyn mengikuti Natasha ke dalam toilet tersebut.
"Kita tunggu sampai tu anak keluar dari toilet, gue mau tau seberapa bisa tu anak ngelawan gue" ujar Evelyn.
Namun waktu Natasha keluar dari toilet, gadis itu tampak biasa saja melihat ada kakak dia dan juga temannya disana.
Bahkan Natasha seperti orang yang tidak kenal dengan Evelyn. Natasha berlalu begitu saja ingin meninggalkan toilet tersebut.
Tetapi baru dua langkah dia berjalan, langkah dia terhenti saat mendengar panggilan ketus dari kakaknya itu.
"Tunggu anak pembawa sial!" ucap Evelyn dengan tatapan sinis dia ke arah Natasha.
Natasha dengan senyuman tipis di wajahnya membalikkan badan menghadap ke arah Evelyn dan Gaby.
"Anak pembawa sial? Apa nggak salah julukan itu lo tuju sama gue kak?" tanya Natasha.
"Emang lo anak pembawa sial! Sejak kehadiran lo di dunia ini, mami sama papi nggak peduli lagi sama gue! mereka lebih perhatian dan sayang sama lo! Jadi lo itu anak sekaligus adik pembawa sial bagi gue!" ujar Evelyn dengan sangat menggebu-gebu.
"Lo manggil gue hanya untuk ngucapin hal itu aja? Bosen gue dengernya tau gak!" ujar Natasha dengan memutar bola mata dia malas.
"Wah kurang ajar ni anak Lyn! Udah langsung kasih pelajaran aja dia" ucap Gaby.
"Eh ada orang lain di sebelah lo kak! Gue kira tadi peliharaan lo yang berdiri di samping lo itu" ucap Natasha sambil tersenyum.
"Kurang ajar lo!" ucap Gaby tidak terima dan mendorong Natasha.
Tapi dengan cepat Natasha mengelak dan membuat Gaby yang akhirnya hampir mencium lantai toilet tersebut.
"Ngapain lo kak Gab! Kalau mau tiduran itu di kamar, bukan di toilet kampus juga kali" ucap Natasha menertawakan Gaby.
Evelyn mencengkram kuat lengan Natasha, "Gue kasih tau sama lo ya! Jangan pernah lo cari perhatian Arka! Karena lo itu nggak pantas sama dia!" ucap Evelyn dengan ketus.
Natasha menganggukan kepala dia mendengarkan ucapan kakaknya itu. Dia pikir ada apa cewek tersebut sampai mencari masalah dengan dirinya di kampus. Ternyata karena cowok songong itu.
"Owh jadi lo salah satu fansnya tu cowok songong juga yah!" ujar Natasha tersenyum remeh.
Natasha melepaskan tangan Natasha dengan kuat, "Gue kasih tau sama lo ya! Gue bukan lo yang ngejar-ngejar seorang cowok dengan murahan! Gue Aurora Natasha Adiwijaya, cewek berkelas yang tau harga diri" ujar Natasha.
"Satu hal lagi! Kalau gue nggak pantas sama kak Arka! itu artinya lo lebih nggak pantas buat dia!" Natasha menatap tajam Evelyn.
"Ngak usah cari masalah sama gue di kampus, kalau lo nggak mau semua mahasiswa tau gue adek lo!" ucap Natasha penuh penekanan.
Kemudian gadis itu langsung pergi meninggalkan Evelyn dan Gaby dengan tatapan sinis.
"Lyn masa Lo diam aja sih di perlakuan kayak gitu sama tu anak!" ucap Gaby, namun Evelyn hanya diam saja.
"Woi Evelyn!" teriak Gaby.
"Diam!" bentak Evelyn
"Kali ini tu anak bisa bebas dari gue! Tapi lo lihat aja, gue akan buat anak itu tidak nyaman kuliah disini. Seperti gue buat dia nggak nyaman tinggal di mansion" ujar Evelyn dengan tatapan tajamnya.
"Caranya? Lo aja nggak bisa ngelawan tu anak, gimana bisa lo buat dia nggak nyaman kuliah disini" ucap Gaby.
"Lo akan tau nanti!"
"Sekarang kita cabut dari sini!" Evelyn pergi dari toilet tersenyum begitu saja. Tidak menanyakan keadaan temannya itu yang terjatuh di lantai.
"Sialan tu anak! Bisa-bisanya dia nggak nanyain gimana keadaan gue!" gumam Gaby kesal.
"Sok Mau ngelawan Natasha segala! Padahal selama ini nggak pernah bisa ngelawan tu bocah!" sorotan mata Gaby kesal dengan Evelyn.
***
Setelah kejadian dia yang berani membentak sang ketua BEM di depan mereka semua tadi, kini tatapan mahasiswi di kampus itu sedikit berbeda kepada Natasha.
"Ni orang-orang pada kepada dah matanya! Gue kok ngerasa dia ngeliatin lo sinis gitu deh Asha" ujar Keira saat mereka sedang berjalan di koridor menuju ke kantin.
"Sakit mata mungkin mereka semua!" ujar Natasha tidak peduli dengan tatapan itu.
"Lagian lo ngapain sih ngurusin tatapan mereka semua! Udah cuek aja! Mata-mata mereka, jadi terserah mereka aja mau lihat gue kayak gimana" sambung Natasha.
"Gue yang greget lihat mereka semua tau nggak!" ucap Keira.
"Tatapan itu kayak lo habis melakukan kesalahan besar di kampus ini Asha." sambung Keira.
"Lo bisa cuek dan bersikap bodo amat! Tapi lo tau gue nggak akan bisa diam!"
Sampai mereka sudah berada di kantin pun tatapan para mahasiswi baik senior maupun maba sangat lain kepada Natasha.
"Lo mau makan atau mau peduliin tatapan mereka semua?" tanya Natasha yang kesal dengan sahabatnya itu.
"Ya makanlah!" ujar Keira
Ketika mereka berdua tengah asik makan dan tidak peduli dengan tatapan mereka semua, tiba-tiba sekelompok mahasiswi yang mereka berdua tau itu adalah kakak senior menghampiri meja mereka.
Plakk!!!
Meja Natasha dan Keira dipukul kuat oleh salah satu dari mereka. Membuat semua mahasiswa lain yang berada di kantin tersebut terkejut dan menatap ke arah meja Natasha.
Tapi tidak untuk Natasha dan Keira yang hanya menatap datar ke arah senior mereka tersebut.
Natasha menatap malas kepada tiga orang senior yang ada di hadapan meja mereka itu.
"Eh lo anak baru! Gue peringatin sama lo ya jangan sok caper di depan Arka! ucap salah satu dari mereka sambil menunjuk Natasha.
"Lo itu anak baru di kampus ini! Jangan sampai umur lo di kampus ini cuma seminggu aja!" sambung cewek tersebut.
Keira yang ingin membalas ucapan cewek itu langsung ditahan oleh Natasha. Gadis itu tersenyum tipis dan melipat kedua tangan dia di atas meja sambil menatap ke arah mereka bertiga.
"Maaf ya kakak-kak! Tapi letak saya caper sama ketua BEM itu dimana ya?" tanya Natasha.
"Masih nanya lo capernya dimana sama Arka.” ucap cewek itu ketus.
"Maksud lo bentak-bentak dan suruh Arka minta maaf sama lo tadi pagi apa namanya kalau bukan caper! Lo sok berani melawan Arka supaya dibilang beda dari cewek lain, iya gitu!" ucap cewek itu menatap remeh Natasha.
"Apa kelebihan tu cowok sampai mereka semua berlebihan kayak gini sama gue!" gumam Natasha lirih.
"Maaf ya kakak! Tapi saya bukan seperti apa yang kakak pikirkan! Saya hampir ditabrak oleh idola kakak itu terus harus diam saja!" ucap Natasha.
"Sorry kak! Tapi saya rasa sekarang malah kakak semua yang caper sama kak Arka dengan cara melabrak saya seperti ini!" sambung Natasha.
Tidak terima dengan ucapan Natasha tersebut, salah satu dari cewek itu mengambil minuman jus milik Keira dan menyiramkan ke arah Natasha.
"Jaga sikap lo kalau ngomong sama senior!" ucap dia ketus.
Natasha menghembuskan nafas dia berat saat melihat wajah dan baju dia sudah basah dan kotor.
Gadis itu mengibas-ngibaskan bajunya dan menatap tajam ke arah mereka bertiga.
"Santai dong! Jangan mentang-mentang kalian senior disini bisa bersikap sesuka hati kalian!" bentak Keira mendorong salah satu dari mereka.
"Biasa aja dong lo!" salah satu dari mereka mendorong balik Keira dengan kuat.
"Gue kasih tau sama kalian semua ya! Jangan pernah sok berani sama senior di kampus ini kalau kalian nggak mau hidup kalian penuh dengan penderitaan!"
"Dan buat lo! Awas kalau sampai gue denger lo cari perhatian Arka lagi! Sadar diri lo!" sambung cewek itu.
"Cabut!" ucap dia kepada dua temannya yang lain.
"Kei udah biarin aja!" ucap Natasha kepada Keira yang ingin mengejar mereka bertiga.
"Lo kenapa diam aja sih Asha! Biasanya lo nggak terima kalau diperlakukan seperti ini sama orang lain!" ucap Brenda menatap Natasha heran.
"Udah biarin aja! Jangan tunjukkan siapa kita di kampus ini!" ucap Natasha.
"Heran gue sama Lo sumpah! Waktu itu Lo juga diam aja dikata-katain sama yang lain, sekarang kayak gitu juga!"
"Udah gue mau ke toilet bersihin baju gue ini! Lo tolong bayarin dulu makanan gue!" sambung Natasha dan langsung pergi dari sana.
Sampai di toilet, Natasha menatap tajam ke arah pantulan dirinya di dalam kaca itu.
"Gara-gara cowok songong itu baju gue jadi kotor kayak gini! Fans sama idola sama, sama-sama gila!" ujar Natasha kesal.
"Siapa yang gila?" tanya seseorang yang baru masuk ke dalam toilet tersebut.