Chapter 19

1368 Words
Yoyo dengan susah payah membujuk Adinda untuk pergi ke dokter kandungan, ia ingin tahu kesehatan adinda dan bayinya. Untung saja keadaan mereka baik-baik saja, namun Adinda diminta untuk tidak stres karena itu berpengaruh buruk ke bayinya. Kerjaan yang semakin banyak dikantor membuat yoyo merasa cemas untuk meninggalkan gadis itu sendirian dirumah. Anna terkadang bisa menemaninya jika ia tak sibuk dengan kuliahnya sendiri. Namun Anna berusaha terus berada di sisi Adinda, ia tahu bagaimana mental adinda yang begitu rapuh. Adinda masih bersikeras tak ingin memberitahu Tante Maria maupun ayahnya sendiri. Adinda bahkan melarang Yoyo memberitahu keluarganya, ia ingin menyelesaikan sidang ujiannya dahulu. Hari ini dinda menjalani sidangnya, walaupun dengan kondisi tubuh yang kurang fit karena cemas akhirnya Adinda bisa menjalaninya. Namun sayangnya Yoyo tak bisa mendampinginya, karena urusan pekerjaan yang ada diluar negeri saat ini. Yoyo sedang ada Singapore, dan pekerjaan itu memakan waktu cukup lama yaitu satu minggu, bagi dinda itu lama sih. Anna setiap malam menginap menemani dinda, hanya siang terkadang ia tak bisa. Setelah sidang selesai dan Adinda dinyatakan lulus, giliran Anna yang harus menjalani sidangnya. Perasaan Adinda begitu bahagia, ia bisa menjalani perkuliahannya hingga selesai. Orang yang pertama kali ingin dinda kabari adalah Yoyo. Adinda mengeluarkan ponselnya mencoba menghubungi pria tampan itu, namun nihil tak ada jawaban di ujung sana. Raut kecewa tergurat jelas di wajah manisnya. Tiba-tiba sebuah tepukan lembut mengejutkannya. Adinda menoleh ke belakang dan Juna terlihat tersenyum menatapnya. Wajah Adinda langsung berubah tak senang, melihat pria ini lagi dihadapannya membuat emosi dinda naik kembali. “Mau apa ?!” Tanya dinda kesal. “Yaelahh din, santai dikit napa.. jutek banget sih!” Jawab Juna dengan tertawa. “Ya aku nanya kamu mau apa?!” “Mau ngasih lo ucapan selamat lah ,, lulus kan?” Basa basi Juna. Dinda hanya membuang wajahnya ke samping dan berjalan cepat menuju kantin. Juna mengikutinya dan mereka berjalan bersisian. “Jun.. Kamu rese’ banget sih.. pergi sana !” Bentak Adinda kesal, ia benar-benar marah melihat Juna. “Astaga din.. segitunya sama aku.. ada yang mau aku ceritain soal Yoyo nih...” Ucap Juna pelan namun berhasil membuat Adinda menghentikan langkahnya. “Maksud kamy ???” Tanya dinda penasaran, perasaannya mulai tak nyaman. Apalagi ini tentang Yoyo. “Aku pengen ceritain ke kamu.. Aku yakin kok Yoyo mana mau ngasih tau kamu kan rahasianya dia” jelas Juna, wajahnya terlihat sinis. Dinda bingung.. apa ia harus tahu dari orang lain? Karena biasanya berita dari orang lain itu berlebihan, namun Adinda juga penasaran. “Yaudah kamu ceritain deh sama aku, kita ke kantin aja” Juna pun mengikutinya, ia merasa senang gadis itu setuju. Yoyo harus tahu rasanya kehilangan. Ia benar-benar dendam pada Yoyo. Mereka berdua duduk di meja sudut kantin, untungnya saat ini kantin tidak terlalu ramai seperti biasanya. Dinda memesan jus jeruk, jaga-jaga siapa tahu bisa dilempar ke Juna jika pria itu bertindak diluar batas toleransi emosinya. “Udah ngomong gih...” Suruh dinda dengan tatapan kesal. “Emmm tapi kamu janji jangan nangis disini, dan ga ngamuk..oke ?!” Pinta Juna tersenyum menggoda dinda. “Bacot kamu Jun !! Buruan!!” Bentak dinda lagi, tangannya menggenggam erat gelas minumannya. “Oke oke... Gini yaa Yoyo itu dulu punya mantan namanya Renata, dia udah pacaran lama banget dari awal kita kuliah, namun sayang Renata itu tipe-tipe cewek yang suka selingkuh sana sini dan akhirnya malah milih lanjutin kuliahnya lagi di Singapore. Tinggalin Yoyo gitu aja yang masih sayang banget sama dia”.... “Terus Anjani itu siapa ????” Potong dinda dengan tak sabar.. kenapa juga ada gadis lain bernama Renata, dan tunggu ia merasa familiar dengan nama itu. “Duh dinda.. jangan potong cerita aku dong” protes Juna kesal. Adinda hanya mengisyaratkan Juna untuk melanjutkan ceritanya. “Nah selepas Renata pergi, Yoyo berusaha tuh buat move on, dan dia malah ketemu Anjani.. padahal itu cewek incaran aku. Bangke emang si Yoyo” ucap Juna.. nada suaranya penuh amarah dan kesal. “Lanjut Jun.. jangan curhat kamu nya!!” Sahut dinda datar. Juna pun tertawa dan melanjutkan ceritanya. “Ternyata Anjani juga naruh hati sama Yoyo, you know lah cowok setampan yoyo dan sikap angelnya itu mana ada yang nolak. Mereka jadian cukup lama sekitar satu tahun lah..dan sialnya si Renata malah balik kesini dan cari Yoyo lagi... Si Yoyo yang sebenarnya udah move on tapi, hatinya masih belum sepenuhnya ngelupain Renata cinta dan pacar pertama dia. Nah si Yoyo ini dekat lagi sama Renata, namun ga jadian karena ada Anjani. Si Renata juga tau sih.. jadi mereka cuman sekedar having s*x aja tapi pake perasaan”. Juna berhenti sesaat untuk minum, ia menarik nafas panjang. Ada perasaan bersalah harus mengungkapkan rahasia mantan sahabatnya itu. “Anjani saat itu belum tahu sih, namun udah curiga karena si Yoyo lebih sering sibuk ketimbang nemenin dia. Apalagi Yoyo sama Anjani kan udah serumah lo ya... Dan brengseknya si Anjani lagi hamil din...” Mata dinda membulat dan ia menutup mulutnya refleks.. Hamil ??Kenyataan yang membuat dinda terkejut, ia pun meraba perutnya sendiri..entah kenapa rahasia Yoyo lebih mengerikan dari yang ia bayangkan. “Dinda..baik-baik aja..? Aku lanjut apa ga nih?” Tanya Juna melihat wajah dinda begitu pucat.. “Lanjut aja Jun..aku baik-baik aja kok” jawab dinda pelan. Ini sudah terlanjur dan ia harus mendengarnya sampai habis. “Oke aku lanjut yaa.. jangan histeris kamu nantinya”.. Dinda hanya mengangguk pelan. “Nah si Yoyo itu belum tahu kalo Anjani hamil, dia cuman curhat sama aky dan minta jangan ngasih tau Yoyo. Apalagi yoyo masih mabuk banget tuh sama Renata. Asal lo tau aja Yoyo dan Renata ini sama soal seks... Mereka sama-sama gila. Kalau main pasti kasar, Yoyo kan jadi gitu karena Renata. Aku ingat banget si Yoyo 2 minggu ga pulang kerumah.. dan Anjani kelimpungan cariin tu b******n. Taunya si Yoyo malah lagi sibuk main di apartemennya si Renata. b******k banget kan !!!” Ucap Juna penuh kesal. Ia jadi emosi menguak kembali luka ini, perasaan menyesal muncul karena harus membahas Anjani yang telah tiada. Adinda pun terdiam tanpa mampu merespon apapun, hatinya kacau balau.. ia tak pernah membayangkan jika Yoyo pernah bersikap sebanjingan ini dimasa lalu. “Sorry din aku ga sanggup lanjut cerita nih” Juna meremas kuat kepalanya, ia malah menjadi frustasi sendiri. “Jun.. Kamu yang mulai duluan, jadi kamu harus selesein ceritanya” ucap Dinda datar.. wajahnya tanpa ekspresi..hanya dingin. Juna mau tak mau akhirnya melanjutkan ceritanya, harusnya ia memikirkan ribuan kali untuk membuka rahasia ini. “Yaudah din aku lanjut...” “Anjani yang tau kelakuan Yoyo gitu stres abis din, dia kecewa banget puluhan kali dia bilang sama gue mau bunuh diri. Renata aku maki-maki, aku marah sama dia karena udah datang lagi kehidupannya yoyo dengan sengaja. Tapi Renata cuman bilang dia sama yoyo ga bisa terpisah walaupun yoyo sama cewek manapun. Mereka berdua sama sakitnya”. “Anjani makin hari makin kacau, kehamilan dia masih 2 bulan waktu itu. Yoyo akhirnya nemuin Anjani dan minta maaf sekaligus berniat buat mutusin Anjani. Soal kehamilan itu dia belum tau, namun Anjani minta satu hal sebelum Yoyo mutusin dia.. Anjani minta Yoyo mau tidur sama dia buat terakhir kalinya”.. Mata Juna terasa panas dan berembun, ia menahan tangisnya sekuat tenaga. Anjani adalah wanita paling ia cintai pasalnya. Walaupun Juna tak pernah dipilih olehnya. “Jun...” Panggil dinda pelan.. ia melihat pria itu menahan isak dan getar di tubuhnya.. harusnya Adinda yang terguncang dan menangis hebat saat ini. Namun malah Juna yang menjadi begitu tertekan dan kacau. “Sorry din.. Aku bingung mau lanjut apa ga.. sorry” ucap Juna kini air matanya benar-benar jatuh. “Kamu tenangin diri dulu Jun, tapi maaf aku tetap pengen denger cerita ini hari ini juga” dinda tak mau menahan penasarannya semakin lama. “Oke... Aku tenangin diri.. dulu ya..” pinta Juna pelan. Keheningan hadir di antara mereka, hujan tiba-tiba turun.. dinda tetap sabar menunggu Juna yang masih menarik nafas panjang untuk membuat dirinya tenang. Adinda menatap ponselnya, tak ada satupun telepon dan pesan dari Yoyo. Pria ini tak pernah mengabaikannya lebih dari 20 menit. Tapi sekarang sudah 1 jam berlalu sejak telepon dinda tak ia jawab tadi. "Yo...please jangan bikin aku..hancur karena ini..yo.."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD