Yoyo menatap dinda yang masih tertidur dengan lelap, ia agak ragu meninggalkan Adinda sendiri dirumah. Yoyo takut jika gadis ini akan nekat dan melakukan hal yang bisa melukai dirinya. Yoyo menghela nafas dengan kasar, ia merasa heran melihat keinginan adinda yang begitu kuat menolak calon bayinya sendiri.
Bahkan yoyo telah siap bertanggung jawab, karena memang itu yang ia inginkan. Tidak ada hal lain yang membuatnya bahagia selain menikahi dinda. Gadis ini berhasil membuatnya percaya ada kesempatan terbaik kedua dari tuhan. Yoyo akhirnya teringat Anna, ia harus meminta bantuan gadis itu. Yoyo pun mengambil ponselnya lalu menelepon Anna, gadis itu sangat terkejut karena mendengar soal kehamilan Adinda.
Padahal tempo hari ia melihat hasil testpack adinda yang negatif. Anna pun setuju untuk menemani Adinda hari ini, selagi Yoyo ke kantor. Yoyo membuatkan adinda sarapan, sederhana saja hanya sebuah roti bakar dengan selai strawberry. Dinda tak terlalu menyukai sarapan yang berat.
Suara pintu kamar terbuka dan yoyo melihat dinda dengan wajah lesunya, rambutnya setengah basah. Sepertinya gadis ini habis mandi.
“Hey... Semangat dong, masih pagi nih yang” seru Yoyo kearah dinda yang menghampirinya.
Dinda hanya tersenyum tipis lalu memeluk yoyo manja, moodnya masih kacau namun pelukan yoyo memberikannya sedikit rasa tenang.
“Sayang.. kamu harus kuat ya.. ga boleh lagi kayak kemarin” elus yoyo lembut dipuncak kepala dinda.
Gadis itu hanya mengangguk pelan dan semakin menyelusupkan kepalanya ke d**a yoyo. Hangat dan nyaman.. wangi yoyo pun menyenangkan. Kenapa bisa pria ini begitu sabar menghadapinya.
“Yo...” Panggil dinda manja..
“Emmm ..” sahut yoyo sembari meletakan roti bakar dipiring dinda.
Ia bergerak masih dengan tubuh dinda yang mendekapnya erat. Ia tak ingin melepasnya, karena ia tahu mood dinda sekarang serapuh kaca. Dinda menaikan kepalanya ke atas dan mencari bibir yoyo lalu melumatnya dalam, tanganya melingkar di leher yoyo.
Yoyo pun membalas ciuman dinda dengan hangat, ia menyukai kiss morning khas dinda ini. Namun ciuman dinda semakin liar dan yoyo mulai terbuai permainannya. Tapi yoyo ingat tak mungkin melakukannya sekarang, pertama ia harus kerja, kedua Adinda sedang hamil ia tak ingin membuat janin itu dalam bahaya.
“Eemmhhpp nanti lagi sayang ya.. aku buru-buru ke kantor nih” yoyo pun melepas ciuman dinda dengan lembut.
Namun dinda merasakan penolakan Yoyo walaupun pria itu mencoba menutupinya. Air mata dinda jatuh perlahan, perasaannya kembali sedih dan merasa tak berguna. Yoyo pun menyadarinya lalu menarik perlahan tubuh dinda kedalam dekapannya, isakan dinda makin bertambah.
“Sstt... Sayang aku bukan nolak kamu, tapi waktunya ga pas, janji deh malam nanti ya, please jangan nangis aku ke pikiran nih” bujuk Yoyo lembut.
Dinda menatapnya dengan mata yang masih basah, ia mencoba melihat yoyo apakah pria itu jujur.
“Janji yaa...bukan karena aku hamil kan ?? Terus kamu ga sayang aku lagi” ucap dinda dengan manjanya.
“Pfft... Hih.. dinda ah.. jauh banget mikirnya, ya sayang dong.. malah berkali lipat sayangnya..” yoyo menahan tawa mendengar ucapan gadis itu.
Kecupan manis mendarat dikening dinda, gadis itu tersenyum sayu. Bel pintu berbunyi keras, sepertinya Anna sudah datang, yoyo pun bergegas membuka pintu. Anna pun terlihat dengan wajah antusiasnya.
“Haii... Good morning.. I’m coming..” sapa Anna dengan suara khas nya..
Dinda hanya tersenyum geli, rumah langsung menjadi semarak ketika sahabatnya itu datang. Anna memeluk dinda dan menanyakan keadaannya.
“Maaf ya.. Kamu pasti kaget aku kesini, tuh Mas yoyo yang minta datang buat jagain kamu din” tunjuk Anna ke arah Yoyo yang tersenyum.
“Gak papa malah senang kamu disini, jangan pulang ya, kecuali yoyo udah sampe dirumah” pinta dinda menatap sahabatnya.
Anna hanya mengangguk sambil mengangkat ibu jarinya. Yoyo menghampiri dinda dan berpamitan dengan kedua gadis ini, ia merasa tenang dinda pasti akan baik-baik saja.
“Aku berangkat yaa..” ucap yoyo sambil mengecup pipi dinda lembut.
“Iya hati-hati ya.. pulang cepat Yo” pinta dinda manja.
“Sip...An.. titip dinda yaa, kabarin aja kalo ada apa-apa”
“Oke mas...” Jawab Anna..
Anna menatap keadaan sahabatnya, ia sepertinya dalam keadaan tidak baik. Wajah dinda pucat, sedih dan tak bersemangat.
“Eh neng.. gimana sih kok bisa testpack nya malah positif hasilnya” Tanya Anna penasaran.
“Ga tau testpack nya bego emang” jawab dinda asal.
“Hahaha kok nyalahin testpack sih” Anna tertawa dengan keras mendengar jawab asal Dinda.
“Abisnya kok bisa sih tiba-tiba positif gitu, kan kemarin negatif” ucap dinda masih dengan nada ketus.
“Yaudah mau gimana lagi, buruan gih nikah sama yoyo. Tu anak ngebet banget deh pengen nikahin kamu din” bujuk Anna, ia bisa melihat kalau Yoyo memang tulus.
“Heemm.. Aku belum siap, pokoknya abis sidang ujian deh aku ambil keputusannya” sahut dinda bingung.
Ia pun berlalu untuk mengambil sarapan yang Yoyo buat tadi, perutnya sangat lapar sepertinya ia butuh makanan berat. Apa ini rasanya hamil, bawaannya mau makan terus ? Anna hanya menggeleng kan kepalanya melihat tingkah Dinda, ia hamil namun masih bersikeras menolak menikah secepat mungkin.
“Ann lapar.. masakin aku dong” pinta Dinda tiba-tiba. Membuat Anna menatap heran, ini orang biasanya jago masak malah dimintain masak sama yang tidak tahu apa-apa.
“Yaelahh kamu kata aku bisa masak apa, kalo aku masakin indomie mau ga ?” Tawar Anna iseng, kan siapa tahu dinda mau.
“Ga mau.. Aku mau nasi, tumis jagung buncis, sama ayam kecap” geleng dinda memelas.
“Astaga.. beli di warteg neng, kalo kamu nyuruh aku masak yang ada dapurnya si yoyo bakalan kebakaran” Anna mulai bingung sama tingkah dinda.
Adinda mulai memasang wajah memelasnya mendengar jawaban Anna, tapi akhirnya ia menurut setelah Anna mengancam ia akan pulang.
“Diam di sini, aku pesenin nih lewat gofood aja ya. Malas aku turun ke bawah” ucap Anna sembari mencari menu di aplikasi ponselnya.
Dinda hanya diam mengiyakan Anna, ia tak berani protes lagi. Tinggal dirumah sendirian tanpa ditemani itu menyebalkan.
“Udah nih, tinggal tunggu. Kamu mending ga usah hamil dind, nyusahin orang aja sih sama mau kamu yang aneh-aneh gini” omel Anna. Wajahnya masih murka.
“Hehehe.. kan yang didalam minta” dinda berdalih.
“Ga usah cari alasan deh..! Untung aku sayang sama kamu” sahut Anna kesal.
Dinda pun tertawa keras sembari memeluk sahabatnya itu. Satu-satunya orang yang dinda percaya untuk mengetahui segala kisah hidupnya. Bahkan tentang masa lalu kelamnya.
Saat yoyo pulang diruang tamu hanya terlihat Anna yang sedang sibuk dengan laptopnya. Adinda tidak terlihat, ia pun mendekati Anna.
“Ann si dinda mana ??” Tanya Yoyo sembari meletakan tas besar berisi makanan di meja.
“Oh tidur tuh mas.. abis makan malah tidur di sofa, jadi aku paksa aja tidur dikamar” jawab Anna, ia pun merapikan barangnya. Karena Yoyo sudah pulang maka ia bersiap untuk kembali kekost nya.
“Oh gitu..eh mau pulang yaa.. makasih banyak lo Ann, aku bingung mau balas jasa kamu pake apa” ucap Yoyo tulus.
“Haha jagain dinda terus jangan tinggalin dia mas, itu lebih dari cukup kok” sahut Anna tertawa dan ia pun berpamitan pada Yoyo.
“Pasti Ann.. dinda buat aku itu segalanya” ucap yoyo yakin.
“Percaya kok mas” senyum Anna dan gadis itu pulang.
Yoyo masuk ke kamar dan melihat dinda sedang tertidur, ia mengelus lembut rambut gadis itu. Menatap wajahnya lama ia sungguh menyayangi gadis ini, namun entah kenapa ia masih belum mampu jujur pada Adinda tentang hal yang ia rahasiakan.
Andai saja ia bisa memberitahunya sekarang, tapi apa adinda akan tetap menyayanginya?. Tubuh dinda terlihat bergerak, gadis itu membuka matanya malas. Ia terkejut melihat Yoyo sudah ada disampingnya. Pasti Yoyo baru pulang kerja, dan Anna pun pasti sudah pulang.
“Yo....” Panggil Adinda lembut dan memeluk pinggang pria itu.
Yoyo tersadar dari lamunannya, ia menatap gadisnya telah bangun. Yoyo tersenyum lalu berbaring menghadap dinda.
“Kok tidurnya sore banget sih.. ngantuk yaa?” Tanya Yoyo sambil mengelus pipi adinda hingga ke bibirnya.
“Iya yo.. kok aku kaya kebo banget yaa hehe” jawab dinda, tangannya mengelus d**a bidang yoyo dan memainkan kancing bajunya.
“Bawaan hamil kali ya.. eh dinda ga kepikiran apa mau manggil aku selain nama?”
“Apaan yo? Jangan yang aneh-aneh deh..”
“Ihh ya ga lah.. eemm manggil mas kek, kaya Anna gitu.. kalo kamu yang manggil pasti beda rasanya” pinta yoyo manja..
“Hahaha lucu ahh... Yoyo aja biar akrab..”
“Heemm yadeh.. tapi nanti mau yaa”
“Iyaa...”
Yoyo menatap wajah dinda lama dan ia mengecup lembut keningnya, lalu menarik dagunya pelan. Ia mengesap perlahan bibir gadis manis itu, lembut dan kenyal.
Dinda membalas ciumannya, kini lebih pelan dan tak agresif. Mereka menikmati setiap lumatan dan hisapan lidah mereka sendiri.
Yoyo menekan lembut p******a dinda, ia tahu mungkin saja gadis ini merasa sakit jika ia terlalu kuat meremasnya. Ciuman yoyo turun ke leher dinda, ia memainkan lidahnya disana. Terdengar desisan perlahan dari bibir dinda.
Dengan perlahan yoyo membuka setiap kancing piyama dinda dan meremasnya lagi dari dalam. Seperti biasanya gadis itu tak memakai bra.
Dinda menekan kepala yoyo ketika ia rasa lidah pria itu sampai diputingnya, hisapan pelan terasa nikmat. Membuat dadanya terasa nyaman dan tak terlalu sakit lagi.
Yoyo menurunkan celana dinda perlahan dan menarik panty nya, ia mengelus lembut gundukan kecil tersebut. Lidahnya masih sibuk bermain di ujung p****g dinda.
“Aahhh.. yoo..langsung yuk..”
“Belum basah banget sayang, nanti sakit”
“Ga kok... Pengen banget nih”
Yoyo pun turun ke v****a dinda ia memainkan lidahnya sebentar untuk membuat gadis itu basah.
“Ssshh yo... Please...”
“Iya aku buka baju dulu... Sayang di atas yaa” ucap Yoyo melepas semua bajunya.
“Kok diatas? Kenapa?” Tanya dinda heran.
“Aku baca tadi, itu aman buat ibu hamil ,ayok naik..” yoyo pun menaikan tubuh dinda diatas.
Gadis itu menggesekkan perlahan milik yoyo yang telah tegang dengan sempurna. Adinda meringgis perlahan, sakit.. karena miliknya masih kering. Namun dengan sekuat tenaga ia menekan lebih dalam milik yoyo divaginanya.
“Uhhhh... Perih yo” desah dinda..
Yoyo hanya memejamkan matanya, nikmat dan begitu sempit. Tubuh dinda bergoyang pelan, ia menarik tangan yoyo untuk memilin putingnya. Adinda menggerakkan tubuhnya maju dan mundur, ia mengentakkannya namun tak terlalu kuat. Tubuhnya agak lemas dan sakit.
“Ngghhhhh... hhhh...Yoo.. kamu mau ga yang gerakinnya, tubuh ku lemes” pinta Dinda disela desahannya.
Yoyo pun mengangguk dan menarik tubuh dinda untuk berbaring didadanya, pria itu lalu menahan pinggul dinda dan menggoyangkan miliknya. Pelan dan pasti bukan gaya mereka seperti biasanya.
“Sshhh... Yoyo cepet-cepet..”
“Aahhh pelan aja sayang kamu lagi hamil ini”
Adinda pun diam..ia menikmati saja setiap hentakan milik yoyo didalam sana. Gerakan yoyo pun semakin cepat, namun dalam ritme yang wajar. Ia ingin segera mungkin menuntaskannya, walaupun sekarang ia sangat terangsang. Namun terlalu bahaya bermain dengan cara mereka biasanya.
“Ahhhh... Enak yo... Uhh... Lebih kuat yo please..”
“Oke sayang....hhhh ahhhh...aku mau keluar...”
Dinda pun mengerutkan keningnya, namun saat ia ingin protes yoyo terlebih dahulu menarik miliknya dan menggeser tubuh dinda ke samping. Nafas yoyo masih tersengal-sengal dan ia menatap dinda yang wajahnya terlihat kesal.
“Hehehe maaf sayang, tapi kita ga bisa main kaya biasanya. Kamu lagi hamil muda dan itu bahaya loo” bujuk yoyo lembut, ia pun berdiri untuk membersihkannya ke kamar mandi.
Dinda hanya diam dan ia pun memilih masuk ke kamar mandi diluar, yoyo sepertinya mandi. Setelah selesai Adinda duduk di sofa, wajahnya masih terlihat marah. Usai Yoyo mandi ia pun melirik diranjang, namun dinda tidak ada. Pria itu keluar dan melihat dinda sedang duduk di sofa. Dengan pelan yoyo mendekatinya, tubuh nya terasa hangat ketika memeluk dinda.
“Ciee ada yang marah nih...gara-gara ga puas ..” olok Yoyo usil sambil meremas-remas p******a dinda.
“Bodo!!! Kesel banget tau.. aku belum puas juga, kamu malah udahan pake alasan macam-macam” sahut dinda kesal, tapi ia membiarkan tangan yoyo yang mulai memilin lembut putingnya.
“Sayang aku kan baca pantangan orang hamil..aku ini juga belum puas lo, malah nahan banget buat ga bikin kamu teriak-teriak sampe nangis”..
Dinda pun menatapnya memelas...
“Aku h***y yang... Pengen teriak-teriak lagi..” ucap dinda memeluk yoyo..
“Nanti yaa.. masuk 6 bulan bisa kok yang kita gila-gilaan lagi hehe” bujuk yoyo masih dengan tangan yang sibuk memilin p****g dinda.
“Lama.....”protes dinda manja.
“Sabar dong.. gimana kalo sekarang aku mainin pake ini aja” ucap yoyo menunjuk lidah dan tangannya.
“Ih m***m banget sih.. ga cocok yo muka mu melet-melet gitu” dinda tertawa keras melihat ekspresi Yoyo.
“Jadi ga mau nih...” Yoyo pun memasukan jarinya menyusup pelan didalam celana Adinda..
Gadis itu hanya tersenyum dan mendesah pelan. Yoyo akhirnya memilih untuk memainkan jari dan lidahnya. Setidaknya tidak membuat dinda dalam bahaya karena hasrat gilanya.
Ia ingin sekali ini saja bisa menjaga dinda..
Dan tak mengulang kesalahan yang sama.