Hari ini dinda lagi dalam keadaan mood yang tak bagus. Tiba-tiba saja perasaan sedih dan kesepian menyerang, padahal sebelumnya baik-baik saja. Dinda sih mikirnya pasti sebentar lagi ia akan haid, namun mood yang hancur ini susah sekali untuk di ajak komprominya.
Yoyo menatap heran ke arah dinda yang hanya diam dan seharian terbaring dikasur. Menolak makan, di ajak jalan-jalan apalagi, yang ada malah yoyo kena omel dinda terus sedari tadi. Yoyo akhirnya kesal sendiri lalu meninggalkan dinda sendirian dan keluar rumah, entah kemana pria itu. Dinda pun mendengar suara pintu tertutup langsung bangun melirik keluar kamar.
“Astaga...Yoyo tega-teganya tinggalin aku sendirian” Pikir Adinda seperti itu, ia pun merasa sedih luar biasa.
Perasaan sedih makin memuncak dan dinda malah menangis tanpa ia mau. Dinda menutupi tubuhnya dengan selimut, ia kesal namun juga sedih. Rasanya ingin berteriak lalu pergi dari sini, namun tubuhnya seperti tidak mempunyai tenaga apapun lagi. Yang dinda mau Yoyo disini memeluk dirinya, dinda hanya ingin dimanja. Setidaknya seperti itu perintah hatinya.
Tak lama suara pintu depan terbuka lagi, namun dinda terlanjur kesal ia pun tetap membiarkan tubuhnya tersembunyi di dalam selimut dengan rapat. Ia masa bodoh Yoyo ingin melakukan apapun itu, ia tidak akan peduli. Sekali kesal pokoknya tetap kesal.
Pintu kamar terbuka perlahan, Yoyo menatap ragu melihat dinda di dalam selimut. Ia mendekat dan berharap Dinda tidak memarahinya karena hal ini.
“Duh jangan-jangan dinda bakalan ngamuk nih kalau dipaksa bangun” Batin Yoyo berkata.
Yoyo pun duduk disamping ranjang menarik selimut dinda pelan.
“Ehem... Sayang bangun sebentar dong...” Panggil yoyo lembut.
Nihil.. Adinda tetap tak bergeming.
“Sayang.. please...” Rengek yoyo sekali lagi.
“Apa Sih...?!” Teriak dinda kesal.
Yoyo hanya tersenyum dan mengulurkan sekotak es cream oreo vanila pada dinda. Dinda menatap heran namun ia pun begitu senang melihat benda itu di tangan Yoyo.
“Makan es krim ya.. siapa tau moodnya jadi bagus” ucap yoyo sembari mengambil satu sendok es krim penuh dan menyuapkannya ke mulut Dinda.
“Aaaa.. buka mulutnya lebar-lebar dong” Pinta Yoyo.
Dinda pun membuka mulutnya dan merasakan betapa lembut dan manisnya es krim tersebut. Perasaannya perlahan membaik walaupun belum seutuhnya baik sih.
“Makasih yo...” Ucap dinda tulus.
Yoyo hanya tersenyum senang, ia masih terus menyuapi dinda dengan sabar.
“Kamu kenapa sih yang, hari ini moodnya jelek banget?” Tanya yoyo menatap wajah dinda yang agak sembab.
“Ga tau juga.. mau dapet paling” jawab dinda.
“Hmmm sayang, maaf nih ya aku agak lancang nanya nya” Yoyo ragu-ragu dengan pertanyaannya.
Dinda pun menatapnya heran dan menunggu pertanyaan yoyo lagi. Tumben sikap Yoyo seperti ini.
“Haidnya dinda lancar aja kan ? Atau ada telat gitu?” Lanjut Yoyo sepelan mungkin.
Deg...Mampus..
Tumben yoyo mau bertanya hal ini, tapi kan dinda memang telat biasa saja. Buktinya hasil testpack negatif yang ia lakukan di tempat Anna. Berarti memang Dinda sedang dalam keadaan stres saja, karena itu siklus hanya terganggu. Iya Dinda yakin itu.
“Iya yo aku ga lancar sih, tapi kamu tenang aja aku cuman telat biasa” jawab dinda yakin, namun wajahnya tak berani menatap Yoyo.
“Mau coba ini ga ? Coba aja sayang..apapun hasilnya aku bakalan terima” sahut yoyo sambil mengulurkan testpack ditangan dinda.
Dinda hanya tertawa pelan, yoyo tak tau jika dinda sudah mencobanya duluan.
“Ga perlu sayang, 2 minggu lalu di kost aku coba juga. Anna liat kok” jelas dinda.
Tapi wajah yoyo terlihat sedikit kecewa dan tak puas, dinda jadi iba melihat niat baik pria ini. Akhirnya ia mengalah lalu mengambil testpack itu.
“Iyaa deh aku cobain lagi biar kamu yakin” tarik dinda ke pipi yoyo, dia gemas melihat wajah cemberut yoyo.
“Beneran sayang ?? Aku ikutan liat ya” ucap yoyo senang.
“Ih ga usah tunggu disini aja” tolak dinda sembari masuk kamar mandi.
Yoyo pun mengalah dan menunggu dengan tak sabar. Dinda masih yakin dengan hasilnya, tapi demi yoyo biar dia tenang dinda tes ulang lagi. Dengan tak sabar dinda mengibaskan tes pack nya ke atas.
1 detik..
2
3
4
5....
Hasilnya pun terlihat jelas, dinda menatap dengan mata tak percaya. Demi apa hasilnya berubah, 2 garis merah terlihat jelas..!!!
Positif.. ???
Dengan refleks Adinda memanggil nama yoyo keras “Yooo....”
Pria itu pun terkejut dan langsung bergegas ke kamar mandi, ia melihat ekspresi dinda yang pucat. Yoyo tahu hasilnya seperti apa, karena raut wajah dan air mata dinda menjelaskannya.
“Sayang.. kenapa harus nangis sih ???” Tanya yoyo memeluk tubuh dinda yang masih menangis terisak.
“Aku... Hamil yo.. aku belum siap...” Jawab dinda terbata-bata di sela isak tangisnya.
“Astaga dinda... Siap ga siap kita harus terima, aku malah senang lo.. kita nikah bisa secepatnya” pinta yoyo senang.
Dinda mendorong kuat tubuh yoyo dengan kesal, ia merasa tidak bahagia dengan kehamilannya sendiri.
“Aku ga mau !! Pokoknya aku ga mau anak ini!” Jerit dinda frustasi.
Yoyo menatap dinda terkejut, bagaimana bisa dinda menolak anak mereka berdua. Tapi.. apa mungkin itu anaknya ? Apa karena itu dinda menolak keras ?. Namun seandainya itu bukan anaknya, yoyo tetap ingin janin itu bertahan.
“Dinda.. please sadar sama ucapanmu barusan! Kamu ga boleh egois gitu sayang” suara yoyo mencoba melemah agar dinda bisa tenang.
“Ga mau!! Pokoknya aku mau gugurin sekarang!” Suara dinda masih sama, penuh dengan emosi dan panik.
Yoyo pun menjadi tertekan, ia tak habis pikir dinda ingin membunuh janin yang tak bersalah tersebut. Dengan cepat yoyo memeluk dinda lalu menyeret tubuhnya untuk naik ke atas ranjang. Yoyo mencoba sekuat tenaga menenangkan dinda yang menjadi seperti orang kerasukan.
“DIAM DINDA !!! STOP !!!” Suara yoyo begitu nyaring membentaknya, membuat dinda diam seketika. Untuk pertama kalinya ia melihat Yoyo membentuknya dalam keadaan sadar bukannya saat mereka sedang bercinta.
Yoyo menghela nafas kasar, ia begitu emosi melihat dinda yang terus-terusan menolak janin di rahimnya. Ia benar-benar frustasi.
“Aku ga mau tau, pokoknya janin itu harus selamat dan kita rawat berdua. Aku ga mau penolakan !!” Ucap yoyo datar.
“Tapi yo... aku ga mau hamil sekarang” dinda masih keras dengan pendiriannya.
Yoyo menahan emosinya dan melampiaskan memukul tinjunya ke cermin besar di hadapannya.
“CUKUP AKU BILANG DINDA !!! KALAU KAMU MAU JANIN ITU MATI, KAMU JUGA HARUS IKUT DIA !!!” Teriak Yoyo..nyaring dan cermin itu pecah berkeping-keping.
Dinda hanya terisak pelan dan terkejut mendengar ucapan yoyo. Berarti Yoyo memintanya untuk ikut mati jika tetap ingin janin ini di gugurkan. Ia tidak menyangka jika Yoyo akan semarah ini, lebih tepatnya pria itu sangat kecewa padanya. Bukannya Dinda tidak menginginkan bayi ini, namun masa lalu membuat ia merasa takut untuk meyakinkan dirinya sendiri. Bertahan dalam sebuah hubungan yang serius ia saja merasa sulit, lalu apa harus sekarang ia menjadi seorang ibu?. Ia tidak memimpikan itu.