Adinda hanya terdiam melihat yoyo langsung mengurung diri dikamar setelah mereka pulang. Adinda sebenarnya menahan rasa ingin tahunya siapa Anjani sebenarnya. Namun melihat keadaan Yoyo yang begitu terkejut dan tertekan ia memilih menahan perasaannya.
Adinda menyalakan ponselnya kembali, ia awalnya berniat untuk memaki habis-habisan pria bernama Juna tadi. Mantan paling sialan di muka bumi ini untuk Adinda. Namun adinda kembali menahan niatnya, percuma karena yang ia dapatkan hanya rasa kemenangan dari Juna.
Adinda menatap puluhan pesan yang masuk dari ponselnya, ada dari Anna, tante Maria dan juga Yogi. Adinda mengerutkan keningnya merasa heran akan pesan yang Yogi kirimkan.
Din.. Aku benar-benar minta maaf..
Masalah ini tolong jangan dibawa ke polisi din..
Video sama fotonya udah aku hapus din..
Di situs lain juga udah din..
Tapi emang masih ada beberapa yang
Belum din.Kasih aku waktu ya. Please.
Dinda please respon aku din..
Kasihan kuliah aku bentar lagi kelar din..
Tolong dinda..
Dinda aku bunuh diri aja
Daripada ditangkap polisi.
Adinda menutup mulutnya dengan rasa tak percaya, apa maksud semua pesan yang Yogi kirimkan. Apa jangan-jangan ia pelakunya. Astaga b******n b******k ini !!!. Tapi siapa yang membuat Yogi mau mengakui semuanya, mana mungkin Anna atau Tante Maria. Mereka tak sehebat itu hingga bisa menyelusuri siapa penyebar video itu.
Adinda menatap ke arah kamar Yoyo, dengan perlahan Adinda membuka pintu kamar. Ia hanya melihat Yoyo sedang duduk termenung di atas ranjang. Hati dinda perih karena melihat yoyo menyimpan rahasianya sendiri. Adinda memutuskan untuk memberi yoyo waktu untuk sendiri. Lalu dinda lebih memilih untuk memasak, perutnya sangat lapar lebih dari biasanya.
Pesan dari yogi ia abaikan, kalaupun Yogi ingin bunuh diri itu mungkin lebih baik untuknya. Bagaimana ia tak berpikir tentang keadaannya saat video itu viral. Namun yang terus membuat dinda penasaran kapan dia melakukannya ??. Dinda terus memasak tanpa menyadari yoyo telah keluar dari kamar dan menatapnya sedih. Ia melihat gadis itu tidak terlalu banyak bertanya apa yang sedang terjadi. Tapi ia tahu dinda menunggu penjelasannya.
Dinda yang telah menyelesaikan masakannya dan berbalik untuk meletakannya di meja makan. Ia luar biasa terkejut ketika melihat Yoyo sudah duduk di meja makan sembari menatapnya. Untung saja dinda tidak menjatuhkan piring yang ia pegang.
“Astaga yo.. hari ini aku udah 2 kali kamu bikin kaget” ucap Dinda mengelus dadanya, jantung masih berdetak cepat.
“Maaf sayang, kenapa sih kamu kalo masak serius banget..masa ga sadar aku keluar kamar ?” Tanya yoyo tersenyum.
“Ga sadar.. soalnya kamu kayak hantu kalo jalan ga ada suaranya” jawab dinda asal.
“Jadi aku ngambang nih ?” Seloroh yoyo..tertawa geli.
Dinda hanya tertawa sambil mengambil piring untuk yoyo. Tapi pria itu menolak makan, sepertinya ia masih dalam keadaan mood yang jelek.
“Duh percuma deh aku masak”.. oke sekarang Dinda mulai merasa kesal. Tandanya gadis ini marah.
Yoyo mendekatinya lalu mendekap pelan dan menciumi keningnya “Sayang maaf ya.. iya aku makan deh..”
“Ga perlu.. kalo makan karena terpaksa tu ga enak!” Suara dinda mulai meninggi.
Yoyo pun kembali duduk dan diam, ia tahu jika terus berdebat hasilnya akan buruk. Apalagi ia sedang kacau saat ini. Yoyo mengambil nasi sendiri dan makanan yang lain. Dinda hanya menunduk kesal, entah kenapa moodnya menjadi buruk tiba-tiba.
“Aku bilang kamu ga usah makan yo !!” Tarik dinda ke piring Yoyo namun dengan kuat pria itu menahannya.
“Tsk.. sayang.. kita kok ribut hal ga penting ya?!”
“Kalo kamu masih maksa buat makan aku pergi nih !!!” ancam dinda dengan raut wajah begitu emosi.
“Dinda...cukup !!!!” Teriakan keras yoyo membuat tubuh dinda membeku seketika.
Yoyo pun mengusap kepalanya kasar dengan kedua tangannya. Ia seperti frustasi melihat keadaan mereka kacau seperti ini.
“Maaf sayang suara aku keras sama kamu” ucap Yoyo meraih tangan dinda.
Dinda hanya diam tanpa melawan lagi, tiba-tiba saja rasa pusing menyebar diseluruh kepalanya lalu pandangannya menggelap dan ambruk. Yoyo pun merasa panik dan ia mengangkat tubuh dinda lalu merebahkannya di sofa. Ia menatap wajah gadis ini yang begitu pucat, matanya masih tertutup walaupun berkali-kali Yoyo mengguncang tubuhnya. Bahkan itu pun tak membuatnya sadar.
Yoyo meremas kepalanya bingung. Dinda harus ia bawah kerumah sakit, itu langkah yang tepat pastinya. Daripada berdiam diri menunggunya sadar. Tanpa pikir panjang ia berlari mengambil kunci mobil dan mengendong tubuh dinda keluar. Satu tempat yang harus ia tuju yaitu UGD.
Tubuh dinda terbaring lemah di mobil, namun matanya mulai bergerak, ia kembali sadar dan terkejut melihat dirinya didalam mobil yoyo. Pria itu belum menyadari jika dinda sudah sadar. Tangan dinda terulur pelan menyentuh tangan yoyo membuat pria itu terkejut dan menoleh menatap dinda. Mobil pun dengan segera yoyo arahkan ke kiri lalu berhenti. Lampu sein ia nyalakan untuk memberi tanda pada pengendara lain.
“Sayang udah sadar?? Tapi kita tetap ke UGD ya??” Pinta yoyo dengan raut wajah begitu cemas dan gugup.
Dinda hanya menggeleng pelan.
“Aku ga mau..yo.. tau ga aku itu pingsan karena lapar” sahut dinda dengan tawanya.
“Kamu bohong yang , kamu mau bikin aku mati ya karena khawatir gini, pokoknya ke UGD sekarang”
“Yo... Please bawa aku pulang aja ya...” Pinta dinda, raut wajahnya memelas tak ingin ada perdebatan kedua lagi.
Yoyo mulai iba melihat permintaan dinda, ia pun mengalah dan membawa gadis itu kembali pulang. Dinda makan dengan begitu lahapnya, ini bahkan sudah piring ketiga yang ia habiskan. Yoyo hanya tersenyum tak percaya menatap gadis didepannya.
“Sayang lapar banget ya ??” Tanya yoyo takjub.
“Iya habis dimarahin kamu aku lapar” jawab dinda sambil tersenyum simpul.
Yoyo terdiam dan mengingat cara ia membentak dinda tadi “Maafin aku sayang...”
“Hehehe gapapa.. kita kan jarang berantem”
“Tapi aku ga suka berantem..”
“Iya emang.. kecuali diranjang kan yaa ??”
Yoyo terkekeh mendengar ucapan dinda. Gadis ini begitu luar biasa untuknya, harusnya ia bisa jujur tentang rahasia yang ia tutupi. Namun itu pasti akan membuat dinda pergi darinya. Dan itu sama saja memintanya untuk mati perlahan. Kehilangan Adinda sama aja kehilangan nyawa baginya.
“Yo.. besok temenin ke kampus ya,, aku harus cari info tentang sidang ujian..” ucap Dinda setelah menyelesaikan makannya.
“Oke.. dengan senang hati..” sahut yoyo dengan mata terus menatap dinda.
Dinda pun bersiap merapikan meja makan, namun ditahan oleh Yoyo. Ia tahu dinda baru saja habis pingsan, tubuhnya masih lemah.
“Udah sayang biar aku yang beresin, kamu duduk manis aja ya...”
“Tapi.. yo..-“
“Tsk... Jangan ngebantah dinda..”
Dinda pun diam, oke... Nanti mulai debat lagi kan bahaya :’) .
Dinda merasakan tubuhnya mulai aneh, terkadang ia bisa lapar dengan sangat hebat. Terkadang di lain waktu ia bisa memuntahkannya dengan tiba-tiba. Dinda pun membuka ponselnya dan melihat jadwal haidnya, dinda mulai panik. Sejak kapan ia bisa lupa jadwal haidnya sendiri.
Ia tidak haid selama 2 bulan..
Biasanya dinda memang tak terlalu repot, karena haidnya selalu tak lancar. Namun yang ia cemaskan kenapa gejala ditubuhnya sama seperti tanda-tanda kehamilan yang pernah ia baca. Sebenarnya tak masalah jika kehamilan ini terjadi namun dinda masih belum siap dan belum tentu yoyo pun menginginkannya. Walaupun niat mereka akan menikah, bukan berarti harus memiliki anak sekarang.
Dinda pun berusaha tenang, ia tak perlu terlihat panik dihadapan yoyo. Bisa saja ini hanya karena ia memang telat biasa. Dinda meyakinkan dirinya sendiri dan besoknya ia harus bisa membeli testpack tanpa sepengetahuan yoyo. Yoyo menghampiri dinda yang sedang melamun, ia pikir gadis ini pasti sedang memikirkan soal videonya. Yoyo sengaja tak ingin memberitahukan bahwa urusan video itu sudah selesai.
Yoyo membelai lembut puncak kepala dinda, hingga gadis itu menatapnya.
“Heii ngelamunin apa sih..??” Tanya yoyo menatap mata adinda.
“Mikirin besok gimana aku ke kampus” jawab dinda menarik tangan yoyo untuk memeluknya.
Yoyo pun merebahkan tubuh dinda lalu mendekapnya layak bayi kecil. Nafas dinda terasa hangat didadanya.
“Kan aku besok nemenin kamu ke kampusnya yang..jadi tenang aja”
“Tapi.. tetap aja takut”
“Udah kalo ada Yoyo mah aman...”
“Hehehe pede banget sih..”
“Lah emang bener kan ?? Kalo ga setuju aku cium nih”
Yoyo menarik wajah dinda seolah-olah akan menciumnya, dinda mendorongnya pelan.
“Yo udah... Besok lagi, masih pegel nih” rengek dinda manja..
“Iya... Ngerti kok...hehehe, tidur yuk..” ucap yoyo sembari memberikan kecupan manis dikeningnya.
“Cup..” di pipi kiri..
“Cup..” di pipi kanan..
“Cup..” di hidung..
Dan “mwuah..”, di bibir.. tapi yoyo dengan sengaja melumatnya. Membuat dinda mendorongnya kesal.
“Yoyo.......!!”
“Hehehe oke... Terahkir kok tadi yang...”
“Heemmm....”
“Love u...”
“Love u too....”