“Sayang.. di kulkas ga ada makanan sama sekali lo..” teriak dinda dari luar kamar.
Perutnya mulai terasa lapar lagi, sarapan sandwich tak membuatnya kenyang. Yoyo pun mendekatinya sambil ikut melihat isi kulkasnya sendiri. Ia rasa memang sudah waktunya ia belanja bulanan. Beberapa keperluan lain dirumah ini pun sudah mulai habis.
“Gimana kalo kita belanja dulu di luar, sekalian belanja keperluan yang lain” tawar Yoyo menatap Dinda yang masih merasa bingung.
Yoyo tahu Dinda masih enggan untuk keluar rumah, apa lagi masalahnya tentang videonya belum selesai. Namun jika ia mengurung diri seperti ini maka akan semakin membuat suasana hatinya memburuk. Lalu Dinda akan semakin menjadi stres nantinya. Yoyo pun menarik tubuh gadis ini di pelukannya ia melingkarkan tangannya di pinggang Dinda.
“Sayang kamu ga boleh mengurung diri di rumah kayak gini, kamu ga perlu takut.. aku kan ada sama kamu terus yang..” ucap Yoyo lembut sambil mengecup kening dinda.
Dinda menatap yoyo dengan perasaan bersalah dan menarik nafasnya panjang “Kamu ga malu yo ?? Aku takut...”
“Buat apa aku malu, aku ga peduli toh.. yang sekarang aku kenal adalah Dinda yang baru” Ucap Yoyo menggelengkan kepalanya dengan keras.
“Dan kamu belum jadi Yoyo yang baru...hehehe” Dinda tertawa pelan.
Yoyo hanya mampu menyembunyikan wajahnya di dekapan dinda. Ia merasa malu juga merasa bersalah, Yoyo masih belum mampu menahan seutuhnya untuk tidak bertindak kasar saat mereka bercinta.
“Maafin aku dinda.. aku jahat kan..” desis Yoyo kecewa.
“Sssttt... Ga yo.. pelan-pelan ya, kamu udah mulai ga terlalu kasar kok.. nyatanya wajah ku ga ada memar lagi kan” sahut Dinda membelai lembut kepala pria itu lalu mengecup lembut pipinya.
“Tuhan baik banget ya ngasih aku kamu..” Ucap Yoyo penuh rasa syukur.
“Kita masih ingat tuhan ya.. hahahaha” Tawa Dinda dengan sarkas.
“Eh gimana dong , mau ya ikut temenin belanja?” Tanya Yoyo mengingatkan sekali lagi.
Akhirnya dinda mengalah dan mengiyakan pria itu. Mereka berdua menuju ke supermarket terdekat, dan untungnya dalam jarak 100 meter mereka menemukannya.
“Kita beli apa aja yo ??” Tanya Dinda sembari menarik troli belanjaannya.
“Semua yang dinda mau kita beli ya...” Jawab yoyo tersenyum.
“Yaelahh.... yo..Kalo aku minta seisi supermarket ini bangkrut kamu yo” Guman Dinda dalam hati. Ia menertawakan sendiri ucapan Yoyo barusan
“Yaudah kita ke bahan makan yang berat-berat dulu ya...” Tarik Dinda pada pria ini. Yoyo pun mengikutinya.
Mereka berdua pun menuju ke arah rak bahan makanan yang ingin Dinda pilih. Setelah dari sana mereka memilih beberapa snack, obat-obatan, sabun dan segala macamnya. Dinda itu tipe gadis yang tidak terlalu boros, jadi segala yang dia ambil selalu diperhitungkan dengan matang. Ia tidak ingin menggunakan barang dengan sia-sia.
Yoyo hanya tersenyum menatap Dinda yang dari tadi terus menatap label harga.
“Udah Dinda ga usah di liatin gitu dong, ambil aja ya” ucap Yoyo sembari mengambil sebuah barang yang Dinda amati.
“Eh jangan itu kayaknya ga guna deh.. kita cari yang sepaket aja ya” tahan dinda lalu mengembalikan barang yang diambil Yoyo.
Yoyo hanya mampu tertawa melihat tingkah dinda, ia pikir gadis ini akan mengambil apapun yang dia inginkan. Namun nyatanya Dinda malah lebih sering membaca label harga lalu memikirkan apakah berguna untuknya. Padahal jika Dinda ingin membeli barang-barang yang mahal Yoyo sangat amat sanggup memenuhinya.
Setelah mengantre di kasir yoyo dan Adinda melangkah kembali ke parkiran untuk memasukan belanjaan mereka. Namun tanpa mereka sadari ada dua orang yang datang menghampiri.
“Hei... Kalian berdua apa kabar ??” Suara yang sangat familiar bagi Adinda maupun yoyo..
Mereka menoleh bersamaan dan dihadapan mereka kini ada Juna dan Thalia. Mereka semakin mendekat dengan senyuman yang tidak ingin Dinda lihat. Dinda hanya diam menatapnya malas, Yoyo akhirnya yang menjawab sapaan Juna.
“Kita baik Jun.. lama ya ga ketemu” ucap Yoyo sebisa mungkin terlihat santai dan tidak menunjukan rasa kesalnya.
“Iya lama nih Yo, ga pengen gabung kita lagi di Shining Bar ?” Tanya Juna tersenyum.
Namun bagi Dinda yang telah mengenal siapa Juna, Dinda tahu itu senyuman yang sangat licik dan mengintimidasi.
“Oh ga deh.. Aku lagi sibuk sama kerjaan nih” jawab yoyo datar.
“Kirain sibuk sama Dinda aja hehehe”
Sumpah ucapan Juna benar-benar tidak lucu. Yoyo menatap ke arah dinda yang masih diam dengan ekspresi datar. Ia tahu gadis ini terlihat emosi, entah karena gadis disamping Juna atau karena pria itu.
“Sama dinda juga lah, aku kan jagain dia” ucap Yoyo tegas.
“Yaelahh kayak bakalan mau dinikahin aja sih” Juna tertawa meremehkan ucapan Yoyo.
“Emang kita mau nikah berapa bulan lagi !” Ucapan dinda membuat ketiga orang ini terkejut dengan kalimatnya. Termasuk yoyo.
Juna pun terlihat salah tingkah dan tertawa hambar, ia mengulurkan tangannya ke arah yoyo.
“Wah selamat ya yo...” Ucapan Juna terlihat lebih terpaksa ketimbang ikut bahagia.
Yoyo hanya tertawa, antara melihat sikap Juna dan juga tindakan nekat Adinda tadi. Tapi ia diam-diam mengaminkan perkataan dinda, semoga gadis itu dengan sadar mengucapkan kalimat tadi.
“Semoga lancar ya Yo..dinda pasti lebih baik kan, ga bakalan ingetin kamu tentang Anjani hehehe..” ucap Juna santai.
Namun tubuh yoyo terdiam sesaat, ada perasaan aneh dan tidak nyaman ketika Juna menyebut nama gadis itu. Ia mengungkit luka tragis yang coba Yoyo sembunyikan di hidupnya. Sebuah hal yang membuat hidupnya terguncang di masa lalu.
Adinda menyadari perubahan ekspresi Yoyo sepertinya sangat yang terguncang dan tertekan. Ia pun menggenggam tangan Yoyo dan mengusapnya dengan lembut lengan pria itu. Yoyo hanya menatapnya dengan mata yang mulai cemas dan panik. Adinda segera menyadarinya ia harus secepatnya membawa Yoyo pergi dari sini.
“Jun kita duluan !!..” Adinda pun berlalu menarik tangan yoyo membawanya masuk ke kursi penumpang.
Adinda mengambil alih untuk menyetir, keadaan Yoyo tak memungkin kan pria itu untuk membawa mobil. Kecuali mereka berdua telah bosan hidup. Kepergian Yoyo dan Adinda di iringi tatapan puas dari mata Juna.
“Jun Anjani itu siapanya Yoyo ?” Thalia tiba-tiba bertanya.
“Ohhh itu mantan Yoyo..” jawab Juna datar.
“Tapi kenapa Yoyo langsung diam dan ketakutan gitu ?” Thalia menyadari perubahan ekspresi Yoyo tadi dan itu membuat pertanyaan besar dibenaknya.
“Heemmm jelas aja takut, kan dia bikin ceweknya sendiri mati” Juna pun tertawa dengan wajah datarnya, namun ia merasa senang telah membuka rahasia tergelap itu.
Rahasia itu kembali menjadi hal menakutkan bagi Yoyo, kini Juna telah membuka ribuan luka dan trauma yang Yoyo sembunyikan dengan rapat. Namun Tuhan memang telah membuat takdirnya untuk menghadapi masa lalu ini. Harapan terbesar adalah Dinda tidak pergi darinya ketika waktunya Dinda mengetahui rahasia itu.