Chapter 5

1194 Words
Didalam mobil mereka berdua hanya berdiam diri, adinda merasa menyesal ketika meminta yoyo untuk membawanya pulang kerumah pria itu. Apa yang dinda pikirkan, bagaimana ia bisa kembali kerumah yang menjadi saksi bisu saat tubuhnya di nikmati Yoyo dengan permainan yang luar biasa kasar dan menyakitkan. Yoyo pun hanya berdiam diri, jujur saja ia sekarang sangat bernafsu ingin menikmati lagi tubuh Adinda. Namun ia takut jika kejadian malam sebelumnya terulang lagi. Walaupun Yoyo sudah menjalani terapi hampir sebulan, namun ia masih terlalu sulit menahan nafsunya untuk tidak bermain kasar saat bercinta. Helaan nafas Yoyo terdengar berat membuat Adinda menatap perlahan pada pria itu, wajahnya terlihat sangat bingung. Adinda sadar yoyo sedang menahan dirinya sendiri, ia bahkan memikirkan tindakannya. Adinda mengelus pelan lengan pria tampan ini. Sambil tersenyum menatap matanya dalam. “Yo aku gak papa kok.. tenang aja kamu pasti bisa” “Aku takut dinda... Jujur aku ga akan maafin diri aku sendiri kalau kamu terluka lagi karena tangan aku din” “Kita coba Yo.. ini bisa ngebantu terapi kamu kan” Pandangan Yoyo kembali fokus ke depan, ia melaju membawa mobilnya ketempat yang ingin ia tuju. Adinda heran ketika mereka sampai ke sebuah hotel besar. Ia pikir Yoyo akan pulang kerumahnnya. “Kok kita kesini yo ???” Tanya adinda menatap pria disampingnya. “Maaf dinda.. tapi aku ga mau kita berdua kerumah itu lagi, disana kenangan buruk buat kamu. Dan jujur aku aja ga ada pulang lagi kerumah” Ucapan yoyo membuat Adinda terpana, jadi selama ini apa yang mereka lakukan saat itu mempengaruhi hidupnya Yoyo juga ? “Maaf yo... aku pikir cuman diri aku yang trauma disini” Yoyo menatap mata dinda yang mulai berembun, ia menarik pelan wajah gadis itu untuk menatapnya. Lalu yoyo mengecup pelan bibir lembutnya, berharap rasa aman hadir diciuman tersebut. “Aku yang salah din... Dan aku pengecut yang lari dari rumah. hehehe masuk yuk” Ucap yoyo sambil keluar dari mobil. Adinda hanya tersenyum dan mengusap sisa air matanya, ciuman yoyo terasa lembut dan memberinya rasa nyaman luar biasa. Dinda jatuh cinta namun, ia terlalu takut untuk mempercayai perasaannya sendiri. Mereka berdua memasuki sebuah kamar yang tak terlalu besar, namun sangat nyaman. Terlihat double bed di ruangan ini dan jendela besarnya. Mereka lalu duduk saling berhadapan tanpa melakukan apapun. Dinda merasa bodoh untuk apa ia bersikap seolah tak pernah bercinta di hotel. Bukankah seks adalah favoritnya. Bagi Adinda seks adalah makanan, jadi ia harus setiap hari melakukannya. Yoyo pun sama ia hanya menunduk bingung dan terasa canggung, jujur gadis di hadapannya sekarang telah menjadi seseorang yang ingin ia lindungi dan sayangi. “Yo....” Suara lembut dinda memanggilnya perlahan. Ia menatap dinda yang menyuruhnya duduk disampingnya. Yoyo mendekat perlahan dan menatap gadis itu, tangan Adinda melingkar lembut dilehernya. Mereka saling memandang penuh pertanyaan satu sama lain. Akhirnya yoyo berusaha membuang rasa canggungnya dengan sebuah ciuman yang dalam. Adinda memejamkan matanya dan menikmati setiap lumatan yang Yoyo berikan. Bibir lembut pria ini membuat gairahnya kembali, ia mencoba mencari sesuatu di rongga mulut Yoyo dan menariknya perlahan. Lidah mereka kini saling berpagutan mesra. Yoyo melepas ciumannya dan menatap kembali ke arah mata Adinda. Ia tersenyum dan mendekati telinga gadis itu. Sembari berbisik pelan. I love u... Adinda hanya tersenyum mendengarnya dan ia mulai mendesah ketika lidah Yoyo menjilat perlahan di daun telingannya. Menghadirkan sensasi geli yang nikmat. Gigitan perlahan yoyo bermain ditelinganya dan berubah menjadi jilatan hingga ke lehernya. Sungguh rasa yang luar biasa. Adinda merasakan tangan Yoyo menyentuh area kulit di balik bajunya. “Ssshhhh Yoo...” Dinda dengan tak sabar membuka baju nya dan ia setengah naked dihadapan Yoyo sekarang. Yoyo merebahkan pelan tubuh dinda ke atas ranjang, ia menatap tubuh dinda yang telah pasrah di bawahnya kini. Yoyo kembali menghisap pelan leher adinda dan meremas kedua benda lembut itu. Jilatan kembali bermain semakin kebawah hingga sampai di titik terlemah Dinda. Lidah yoyo bermain perlahan di sana menjilatnya dengan memutari area tersebut membuat dinda mengcengkram kuat baju yoyo. Yoyo mengulum titik lemah dinda dan menghisapnya ke atas.. menghadirkan jeritan perlahan dari mulut dinda. Yoyo pun membuka seluruh pakaian yang adinda sisakan dan bajunya sendiri. Kini mereka saling naked dan tanpa sehelai benang apapun ditubuh. Lidah yoyo terus memainkan p****g dinda dan sesekali mengigitnya perlahan. Adinda menekan semakin dalam kepala Yoyo, permainan lidah dan lumatan pria ini membuatnya candu. Kini Yoyo mulai turun kebawah, jilatanya terus bermain disekeliling perut adinda hingga berhenti di milik adinda. Ia pun membuka kedua paha Adinda lebar-lebar dan menerjang gundukan kecil tersebut dengan jilatannya. Tubuh Adinda menggeliat pelan, ia merasakan nafsunya semakin memuncak dan meminta Yoyo untuk berhenti. “Yo please.. Stop aku ga kuat” mohon Dinda dengan suara yang serak. Yoyo pun menjatuhkan tubuhnya diranjang dan menarik tubuh dinda perlahan ke atas wajahnya, begitu pula Dinda merubah posisinya untuk membelakangi Yoyo. Dengan gilanya Yoyo ikut memainkan seluruh yang ia bisa raih, memainkan tangan lalu lidahnya. Hingga membuat Dinda memohon ampun karena tak sanggup menahan gejolak nafsunya sendiri. Adinda terus mendesah tertahan disela aktivitas mulutnya yang masih menikmati milik yoyo. Cangkriman tangan Yoyo semakin kuat, dinda pun tanpa sadar terus menggesekkan miliknya menyapu lidah dan wajah pria itu. Hingga akhirnya ia tak tahan dan menurunkan tubuhnya ke samping. “Ahhh Yoo sekarang...” Ucap dinda membuka kedua pahanya lebar dan begitu menantang untuk segera di masuki milik yoyo. “Dinda... Bantu aku kalau mulai lupa diri” Mata yoyo masih terlihat gurat cemas akan tindakannya sekarang. Dinda tersenyum sambil mengangguk mencoba meyakinkan yoyo. Dengan perlahan Yoyo pun menghunjam surgawi itu dengan miliknya. “Ahhhhh....dinda...” Yoyo mendesah pelan dengan mata yang terpenjam. Ia begitu rindu sentuhan ini, kehangatan didalam sana selalu membuatnya lupa diri. Gerakan Yoyo kini lebih cepat dan semakin cepat membuat dinda menjerit-jerit perlahan. “Aaahhkkkhhh... Yoyo lebih cepat lagi Yoo....” Gerakan yoyo mulai kasar dan menghujam surgawinya dengan sangat cepat. Sehingga membuat Dinda semakin berkedut dan tak lama jeritan kecil mengiringi tubuh Dinda yang bergetar. Yoyo pun terdiam menikmati wajah Dinda yang terlihat semakin sayu dan menggoda inginnya. “Lanjut dinda ???? Nnghhhh???” Tanya yoyo sambil mengigit pelan puncak Dinda yang masih menantang tersebut membuat gadis itu mengangguk. Sejauh ini semua terlihat baik-baik saja, yoyo masih mampu menahan nafsunya untuk tidak bertindak kasar. Yoyo pun dengan cepat kembali memacu gerakannya hingga suara surgawi itu semakin terdengar menggoda dan menggelitik nafsunya. Basah dan saling melekat satu sama lain..terpaut rasa saling ingin memiliki di antara malam yang semakin memanas dan mengundang jeritan. Tanpa yoyo sadari ia mulai merasa pusing dan nafsunya kini lebih meningkat dari tadi. Ia pun dengan keras memukul b****g dinda hingga dinda memekik pelan. “Aaakkhhhh yo... Pelan-pelan aja dulu... Ngilu Yoo” Yoyo hanya diam, ia menarik kuat rambut dinda dan menggigit pundaknya. Membuat gadis itu meronta kuat dan menarik tubuhnya ke samping. Hingga ia jatuh kebawah ranjang. “Yo... Stop kamu.. harus bisa ngendaliin diri kamu sekarang” ucap Adinda mundur menjauhi tubuh Yoyo. Pria itu hanya diam dan memegang kepalanya. Ia mulai mendekati adinda yang begitu ketakutan “Aku ga bisa din... Makanya aku udah bilang kan jangan mancing-mancing!! “ “Plak....” Tamparan keras melayang ke pipi Adinda hingga gadis itu jatuh tersungkur. Air mata pun kembali mengalir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD