Akhir-akhir ini Adinda merasakan aneh, tubuhnya tak terlalu menuntut lagi soal hasrat bercintanya. Entah lah ia mulai merasa ada yang salah, apa ia kehilangan nafsunya ? Ahh mana mungkin.. Everyday is s*x, because s*x is a soul food for my body kan moto hidupnya. Atau mungkin saja ia merindukan permainan gila bersama yoyo ??.
“Arghh.. Dinda gila..berapa kali tubuh kamu hancur di pukul dinda. Enak sih enak tapi” gumam Dinda konyol.
Lamunan Adinda terhenti ketika sebuah chat masuk ke ponselnya. Oh dari tantenya Adinda diminta untuk datang ke kantornya jam 10 pagi ini. Adinda melirik jam di ponselnya, jam 09. Mungkin ada baiknya ia pergi sekarang agar tak terburu-buru.
Langkah pelan Adinda menyusuri lorong kantor yang sepi ini, ya jelas saja ini kan kantor konseling. Tak terlalu banyak orang datang kesini untuk terapi. Pandangan Adinda tertuju pada seseorang yang sedang keluar dari ruangan tante nya, pria itu terlihat familiar baginya.
Bukan kah itu Yoyo? Iya benar, penglihatan Adinda tak mungkin salah. Yoyo terlihat belum menyadari jika Adinda berdiri di hadapannya.
“Yoyo....”
Suara gadis itu menghentikan langkah kaki Yoyo sekaligus membuat ia terkejut. Ia menatap Adinda yang berdiri melihatnya.
“Loh dinda kok disini ???” Tanya yoyo sambil berusaha menyembunyikan gelisahnya.
“Harusnya aku yang nanya kamu ngapain disini?” Pertanyaan dibalas pertanyaan.
Membuat yoyo bingung harus mengucapkan apa.
“Aku ada urusan disini sebentar..” Yoyo mengusap leher belakangnya, menandakan pria ini sedang gelisah.
“Oh.. sama dong kita...” ucap Adinda tersenyum penuh arti.
“Maksudnya ???” tanya Yoyo heran.
“Gue mau ketemu psikiater disini..dia tante aku..” Ucap Adinda menunjuk ke ruangan dimana Yoyo keluar tadi.
Wajah pria itu terlihat sangat terkejut, seperti seorang tertangkap basah. Adinda tersenyum simpul menatap wajah pria tampan ini.
“Kenapa ??? Lo malu ketahuan sama aku abis dari psikiater ?”
“Hehehe dikit...” Jawab yoyo sambil mengusap-usap telinganya. Ia merasa senang melihat adinda lagi.
“Yaelahh ngapain malu sih..santai aja. Oya kamu sibuk disini ya sampe ga mau ketemuan lagi sama aku” Tanya adinda menatap pelan ke mata indah Yoyo.
“Haaah..? Ya ga lah aku pikir kamu yang ga mau ketemu aku lagi”
Apa...Masa yoyo mikirnya gitu..
“Heemmm aku nunggu-nunggu kamu ngajak ketemuan, aku kesepian yo.. ga punya temen tau !!” ucap Adinda dengan meng pout bibirnya.
“Hehehe maaf..gimana kalau kita nonton ?” sahut Yoyo tersenyum sambil mengacak rambut Adinda gemas.
“Nonton ?? Boleh.. jam berapa?”
“Abis aku siaran ya.. mungkin jam 12 siang sih..”
“Emmm masih lama ya...” ucap Adinda dengan suara yang kecewa.
Adinda menghela nafas panjang, ia hari ini benar-benar tak mempunyai kegiatan apa-apa dan itu membuatnya bosan. Yoyo mendekati gadis itu dan menatapnya lebih dekat.
“Heii... Kalau kamu bosan main aja di studio aku ?? Liatin aku siaran mau ga ??”
Mata adinda mengerjap senang “Seriusan nih dibolehin kesana ?”
“Iyalah siapa yang berani ngelarang ??”
“Hehehe sip... Tapi aku nemuin tante dulu ya ambil berkas”
Yoyo mengangguk dan menunggu dinda di luar. Ia tak habis pikir ada saja cara tuhan mempertemukannya dengan gadis itu. Selalu berada ditempat yang tak terduga. Terlihat adinda telah keluar dari ruangan itu dan ia pun berjalan beriringan menuju ketempat kerjanya.
Mungkin hari ini berbeda, ada gadis manis ini yang menunggunya kerja. Sebuah momen manis yang normal terjadi dihidupnya. Hanya gadis ini yang tak pernah menarik diri walaupun ia melewati momen menakutkan bersama Yoyo.
Berada diruang kerja bersama Yoyo itu menakjubkan, Adinda bisa melihat sisi lain dari pria tampan ini. Dan tentu saja bukan sisi gelap dirinya, tapi sisi seorang pria yang pekerja keras juga lucu.
Adinda pun baru sadar jika Yoyo itu bisa menyanyi dan suaranya pun sangatlah bagus. Sesekali ia di sela-sela siarannya mulai bernyanyi. Semua rekan kerja yoyo tak banyak bertanya adinda siapa, mereka hanya tersenyum penuh arti dan sedikit menggodanya.
Raut wajah dan gesture tubuh Yoyo saat siaran membuat pandangan Adinda tak berpaling sedikit pun. Ia mulai menikmati cara pria itu berbicara, tertawa juga tersenyum sesekali menatapnya.
Aku tak pernah percaya jatuh cinta..Tapi menatap mu begitu lama membuat ku berpikir ulang tentang rasa percayaku.
Yoyo meregangkan tubuhnya, 1 jam siaran cukup membuat tubuhnya kaku. Biasanya ia tak pernah merasa segugup ini. Tapi wajah gadis manis yang terus menatapnya diluar membuat fokus Yoyo terganggu. Adinda selalu menatapnya dengan penuh pertanyaan, namun gadis itu tak pernah bertanya apapun padanya.
Ia terlalu pandai menyembunyikan semuanya. Yoyo menghampiri dinda yang masih betahnya duduk sambil mendengarkan lagu terakhir yang Yoyo putar.
“Jalan sekarang ?” Ucap Yoyo menyentuh puncak kepala Adinda, dan gadis itu mengiyakan.
Suasana bioskop siang ini tidak terlalu ramai, bahkan mungkin hanya ada 10 orang yang menonton film di studio itu. Adinda dan Yoyo memilih film horor, karena hanya itu yang menarik perhatian mereka berdua.
Bayangan malam itu terulang lagi, yoyo ingat bagaimana awal dari kegilaan ia dan adinda karena film horor. Tapi hari ini gadis itu hanya menunjukan ekspresi biasa, tidak takut ataupun berani. Bahkan sepertinya pikiran dinda tak berada disini.
Yoyo mendekati wajah gadis ini dan berbisik padanya “Dinda bosan? “
Bisikan pelan ditelinganya membuat dinda agak merinding geli. Ia menatap wajah Yoyo yang sangat dekat di sampingnya. Mata mereka bertemu berapa detik sebelum yoyo mengalihkan wajahnya kembali ke depan.
Tanpa sadar ternyata Adinda menahan nafas, lucu sekali memang. Bukannya ia pernah lebih dari ini dan untuk apa ia merasa gugup hanya karena wajah mereka begitu dekat.
“Yo.. Aku lapar hehehe” bisik Adinda pada Yoyo.
Pria itu tersenyum dan memberi isyarat untuk keluar dari sini.
“Aaahh aku sampe ga fokus nonton gara-gara lapar” Keluh Adinda sambil menatap ke sekeliling mencari tempat makan yang nyaman.
“Hahaha.. makanya kalau aku tanya tadi mau makan apa dulu atau nonton malah diam aja”
“Hehehe abisnya bingung, tadi belum lapar sih..”
“Lain kali makan dulu dinda...”
“Tapi seriusan tadi ga lapar, eh berduaan sama kamu di dalam malah lapar hehehe”
“Apa hubungannya sama aku..ngaco emang..”
“Kamu bikin aku lapar yo..”
Yoyo hanya tertawa mendengar ucapan Adinda..
*****
Dalam perjalanan pulang, mereka hanya berdiam. Bingung harus berbicara apa lagi, ternyata sulit membuat hubungan ini seperti biasanya. Adinda merasa Yoyo terlalu hati-hati bersikap padanya, itu yang membuat kecanggungan di antara mereka berdua.
“Dinda, aku mampir sebentar ya ke kantor, mau ambil notebook aku dulu, kamu tunggu sini gak papa?” Tanya Yoyo sambil melirik Adinda sebentar.
“Yo kalo aku ikutan boleh ga? Serem Yo nunggu diparkiran gini?”
Yoyo jadi berpikir ulang, iya sih serem.. mana sekarang udah hampir malam juga.
“Yuk..boleh.. kok”..
Di studio terlihat sepi, untuk siaran malam memang tidak terlalu ramai. Yoyo masuk kedalam kantornya diikuti Adinda. Adinda sering berpikir yoyo ini jabatannya apa sih selain penyiar radio. Sepertinya lebih dari sekedar penyiar sih.
“Yo haus...ada minuman ga ?” Tanya dinda menghampiri yoyo yang sedang sibuk mencari notebook nya.
“Oh itu.. ambil aja..” tunjuk yoyo ke arah lemari pendingin kecil.
Adinda membukanya lalu mengambil sekaleng cola dan duduk di sofa yang ada di hadapan Yoyo.
“Belum ketemu Yo??”
“Udah nih...yuk kita pulang...” Ajak yoyo sambil memasukan notebooknya ke dalam ranselnya.
Adinda pun berdiri sambil mengikutinya, namun detik kemudian. Lampu mendadak padam di ruangan ini. Astaga masa kantor segede ini bisa mati lampu sih.
“Yo kok mati lampu sih....” Ucap adinda yang mulai meraba-raba mencari pegangan.
“Ya listriknya padam dinda.. bentar lagi nyala kok..”
“Ih kantor kamu nunggak listrik ya sampai mati gini”
“Hahaha ya gak lah....”
“Yooo..aaaakhhh.... Aduh kaki aku...” Suara adinda misuh-misuh di dalam gelap, sepertinya kaki adinda terbentur lemari kecil didekat pintu.
“Dinda...kamu kenapa sini pegang tangan aku, duduk dulu” Yoyo mencoba menemukan tangan adinda dan menariknya pelan.
Adinda bisa merasakan yoyo begitu dekat di sampingnya, karena nafas pria itu begitu hangat menyentuh puncak kepalanya. Dan tak lama lampu kembali menyala. Mereka berdua baru sadar sedekat apa posisi mereka sekarang.
Hanya 1 centi...
Adinda menatap lekat wajah pria di hadapannya sekarang, begitu pula Yoyo. Tanpa sadar mereka berdua semakin dekat dan entah siapa yang duluan memulai, kini bibir kedua insan ini saling bersentuhan.
Yoyo mencium pelan bibir adinda, rasanya masih sama lembut dan hangat. Adinda memejamkan matanya erat mencoba bermain dengan ciuman pria ini. Tangan yoyo begitu lembut menyentuh lehernya hingga ciuman mereka semakin dalam.
Lidahnya bermain-main dirongga mulut adinda membuat gadis itu merintih pelan. Tanpa sadar Adinda menarik tangan yoyo menyentuh dadanya. Remasan lembut tangan Yoyo merengkuh d**a kenyalnya. Menimbulkan rasa sensasi yang nikmat.
Ciuman adinda semakin liar di bibir pria ini, tangan yoyo pun mencoba masuk ke dalam baju Dinda. Menyelusup pelan menyentuh kulit lembut adinda.
“Aahhhhh...” tanpa sadar Adinda mengerang pelan.
Namun permainan kedua insan ini terhenti ketika mereka mendengar suara langkah kaki seseorang menuju ke arah kantor Yoyo. Dengan sigap dinda merapikan baju dan rambutnya, Yoyo menatap Adinda dan menarik tangannya.
“Kita pulang yaa...”
“Ohhh oke....”
Tapi dinda berhenti sesaat...
Ia tak ingin pulang kerumah malam ini. Ia ingin yang lain. Mengulang kegilaan mereka lagi.
“Yoo....”
Yoyo menoleh menatap gadis itu..
“Yoo... Aku ga mau pulang...” Suara lirih adinda membuat yoyo mengernyitkan keningnya..
“Dinda mau kemana ?
“Kerumah kamu yaa...” Pinta adinda.
Yoyo terdiam mencerna ucapan Adinda. Ke rumahnya melanjutkan apa yang mereka inginkan tadi..? Yoyo akhirnya pun mengangguk pelan, ia mana mungkin bisa menolaknya.