Dokter memutuskan Adinda harus dirawat berapa hari di rumah sakit. Karena beberapa luka dan memar ditubuh Adinda cukup parah. Adinda meminta pada Yoyo untuk tak memberitahu siapapun jika ia sedang sakit. Hanya saja rasanya malu jika ada yang tahu. Juna mengetahui jika keadaan Adinda tidak baik, tapi Yoyo meminta ia jangan menemui dinda dulu.
Sesuai maunya dinda begitu, ia sangat tidak ingin melihat Juna untuk saat ini. Selama dirumah sakit Yoyo selalu jagain Dinda, pokoknya tiap hari dia disitu terus. Jadi berasa rumah sendiri deh. Tapi yoyo itu bawel banget kalau sudah dirumah sakit. Dinda tidak boleh ini dan itu. Repot pokoknya, persis macam emak-emak komplek gitu :’)
“Dinda.. kenapa buburnya nyisa ?”
“Kenyang”
“Nanti ga sembuh-sembuh lo..”
“Ga suka Yo hambar.. beliin aku nasi padang coba?!”
“Dinda ihh rewel banget, apa mau aku suapin pakai mulut nih..” ucap Yoyo sambil tunjuk ke mulutnya.
Oke...Kalau gini sih mending diam deh, nanti keterusan kan bahaya.
Terkadang Adinda merasa heran sendiri, Yoyo itu terlihat sangat normal dari luar. Tapi jika dinda teringat bagaimana Yoyo bisa kasar saat having s*x dia jadi bingung. Bagaimana bisa wajah setampan yoyo dan sikapnya sangat baik pada siapapun. Namun bisa berubah jadi monster saat dia bercinta?
Oh God..This really doesn’t make sense .
“Yo....”
Yoyo menatap Dinda yang memanggilnya, pria pun itu menghampirnya dan duduk didepannya.
“Kenapa ?? Masih nagih nasi padang ?”
“Hehehe bukan...” tawa Dinda pelan.
“Terus ???” tanya Yoyo lagi.
“Lo ga kerja?? Kok disini terus ?” Dinda balik bertanya.
“Aku lagi cuti dinda...” sahut Yoyo enteng.
Alis dinda mengernyit.. Yoyo sampai cuti buat dia disini ?
Ah geer banget sih..
“Kenapa cuti ??”
“Kan kamu sendirian disini” Tu kan...Yoyo bikin baper :’)
Yoyo menatap Dinda yang malah termenung, apa gadis ini marah dengan alasannya “Dinda... Marah ya ?”
Dinda hanya menggeleng tanpa menjawab apapun. Ia merasa bingung akan perasaannya sendiri, senang sih yoyo begitu baik. Namun.. ia juga merasa takut. Takut akan harapannya sendiri, Yoyo mengelus pelan tangan dinda, mencoba mencari tahu arah pikiran gadis ini.
“Dinda..”
“Heemmm...”
“Maaf ya kalau kamu risih aku disini terus”
“Hehehe gak kok.. tapi kamu jangan sampai cuti dong yo...”
“Gak papa, aku kan jarang libur.. apalagi cuti, penyiar radio kayak aku mah bebas hehehe..”
“Sombong..”
Oh iya.. yoyo itu kerjakannya memang penyiar radio. Tapi jangan salah dia ini penyiar idola banget lo.. :’)
Ahkirnya setelah Adinda hampir seminggu di Rumah sakit ia bisa pulang kembali kerumah. Rasanya sungguh lega, karena suasana dirumah sakit itu tidaklah nyaman. Yoyo terlihat sedang sibuk mengurus administrasi dan Adinda hanya duduk menunggunya. Ia menatap pria itu...Kenapa ia semakin menarik dimatanya. Jujur saja kadang-kadang Adinda sering salah tingkah dengan sikap yoyo. Yang menurut adinda sangatlah manis, sebuah hal yang tak pernah ia dapatkan dari Juna.
“Hey.. jangan ngelamun.. ayo kita pulang”
Suara Yoyo membuyarkan lamunan Adinda. Mereka pun bersiap pulang. Tapi tiba-tiba Adinda terpikir Juna, rasanya ia ingin bertemu pria itu. Hanya ingin mendengar Juna meminta maaf di hadapannya.
“Yo...”
“Iyaa dinda..” sahut Yoyo sambil membukakan pintu mobilnya untuk dinda.
“Aku pengen ketemu Juna sebentar..”
Ucapan Adinda membuat yoyo terdiam sesaat, ada sedikit perasaan kesal namun ia harus tahu posisinya sekarang.
“Heemm.. oke aku temenin tapinya ya, ga boleh sendirian”
“Oke...”
Adinda merasa lebih baik memang jika yoyo ikut, kan takut tiba-tiba Juna emosi lagi terus kejadian seperti kemarin. Adinda sudah menahan diri untuk tidak membawa masalah ini lebih jauh.
“Dinda.. jangan ngelamun dong, pake seatbelt nya coba..” ucap yoyo yang mulai bawel lagi.
“Iya sebentar yo, lagi balas chat tante aku nih..”
Yoyo hanya diam lalu ia menarik seatbelt dan memasangkan ke pingang dinda. Yang punya tubuh diam-diam saja salah tingkah. Mereka berdua sampai ditoko nya Juna, ya memang dia disana kalau siang-siang gini. Adinda turun sambil ditemani Yoyo buat masuk kedalam. Tokonya terlihat sepi, lagi dan lagi Juna membiarkan ini toko tutup. Mentang-mentang kaya kali ya.
“Juna nya ada ga sih yo ???” Tanya Adinda ragu sambil berdiri didepan Toko yang pintunya terkunci.
“Ga tau din, tadi aku nelpon sih ga di angkat” jawab yoyo sambil ngecek ponselnya lagi.
Bersiap-siap mau nelpon, tapi sebuah suara mengejutkan mereka berdua.
“Kalian berdua cari aku ?...”
Yoyo dan Adinda kompak menoleh ke samping, dan Juna sudah berdiri disana bersama seorang gadis tempo hari.
Gadis perawat, selingkuhannya Juna :’)
“Ngg.. iya aku cari kamu Jun...” Dinda menjawab pelan, ia terus menatap ke arah gadis yang berdiri salang tingkah disamping Juna.
“Dinda.. Aku pengen minta maaf”.
“Heemm... Tulus nih minta maafnya ?”
“Maaf aja pasti ga cukup ya din”.
Dinda hanya tersenyum mendengar ucapan Juna, jelas saja tak setimpal sama perlakukan Juna kemarin. Tapi ya sudah lah mereka berdua sama-sama salah.
“Udah aku maafin kok...”
Mata Juna menatap malu ke arah Dinda, yoyo yang ada disana hanya diam. Memberikan waktu untuk dinda mendengar langsung maaf nya Juna.
“Aku emang b******k ya.. mukulin kamu kemarin tanpa sadar din, sekali lagi aku mohon maaf..”
“Iya.. Jun, aku udah puas kok denger kamu minta maaf. Kan kamu ga pernah kayak gini hehehe, kita pamit ya”
Yoyo pun mengikuti adinda yang berjalan ke arah mobilnya. Di iringi tatapan Juna yang merasa malu juga menyesal. Di perjalanan pulang dinda lebih banyak diam, bukan karena ia sedih namun hanya saja perasaannya kembali sunyi. Ia merasa hidupnya terlalu berantakan, namun ia saja harus hidup sendiri. Jika sedih ia harus mengadu pada siapa.
Alunan lagu mengalun pelan di mobil Yoyo. Lagu yang menyenangkan namun sedih buat dinda. Ia merasakan kesepian luar biasa.
Every time I’m walkin’ out..
I can hear you tellin’ me to turn around
Fightin’ for my trust and you won’t back down...
Even if we gotta risk it all right now,
I know you’re scared of the unknown
You don’t wanna be alone..
(Np: Post Malone feat -Swae Lee Sunflower)
Lagu itu terus mengiringi perjalanan mereka, yang kini sama-sama diam larut dalam pikiran masing-masing. Yoyo bahkan terlalu bingung harus membuka percakapan apalagi, ia hanya ingin diam sekarang. Yoyo masih ingat cara Adinda menatap Juna tadi, matanya masih menyimpan sedikit rasa. Walaupun dinda berusaha sekuat tenaga mengatakan dirinya baik-baik saja, namun sedikit perih menyelimuti perasaan gadis itu.
Perih dan kesepian dan ia berharap bisa merebut kedua rasa itu dan menggantikan dengan sedikit senyuman. Walaupun ia harus berusaha keras menghapus sisi gelap dan menakutkan di dalam dirinya.