3. David Jackson

956 Words
Bab 3 Sisilia baru saja menyelesaikan mandi sorenya. Perempuan cantik itu mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, sementara ia sendiri mengenakan pakaian berupa daster selutut berlengan pendek. Ini adalah kostum yang dikenakan oleh Sisilia sehari-hari ketika sore menjelang. Rumahnya hanya memiliki dua buah kamar, satu kamar mandi, satu dapur, dan ruang tamu yang lumayan panjang. Sisilia hidup hanya seorang diri, tidak memerlukan rumah mewah dan besar, karena semakin mewah dan besar rumah, maka semakin mahal juga perawatannya. Maka dari itu, ketika ia mendapatkan uang konpensasi yang diberikan oleh mantan mertuanya dulu serta mantan suaminya, digunakan oleh Sisilia untuk membeli tanah kosong dan dibangun rumah. Sisanya, ia gunakan untuk membangun kos-kosan dengan tambahan uang dari hasil menjual sebagian tanah milik almarhum orangtuanya di desa. Maka dari itu berdirilah kos-kosan 16 pintu dengan dua lantai di antaranya 8 lantai di bawah, 8 lantai lagi berada di atas. 4 tahun menjanda, 2 tahun yang lalu Sisilia memutuskan untuk membuka sebuah minimarket yang menjual segala kebutuhan dan terletak di depan kos-kosan juga rumahnya. Uang yang digunakan untuk membuka minimarket tersebut tentu bukan uang milik pribadi melainkan hasil pinjaman dari Debora, yang dicicil oleh Sisilia. Beruntungnya, dalam 2 tahun ia sudah melunasinya, membuat Sisilia terbebas dari utang piutang. Saat sudah mencabut colokan hair dryer, Sisilia mengerut keningnya saat mendengar suara bel rumahnya berbunyi. Ditatapnya jam yang berada di atas meja riasnya yang saat ini sudah menunjukkan di angka 4 sore, kemudian ia segera bangkit dari tempat duduknya dan melangkah keluar dari kamar. Meskipun hanya memiliki dua buah kamar, pada kenyataannya satu kamar lainnya sering ditempati oleh Debora jika sahabatnya itu sedang tidak mood berada di rumahnya sendiri. Jarak antara kamar dan juga pintu utama tidak terlalu jauh sehingga ketika Sisilia membuka pintu, sosok anak kosan baru langsung terpampang di hadapannya, dengan senyum manis dan menawan. Wajahnya sangat tampan, matanya terlihat tajam, sedikit sipit, dengan kulit putih, pertanda jika pemuda ini tidak pernah bekerja di bawah terik matahari. "Mbak Sisilia, aku mau membagikan kue ini buat Mbak Sisilia. Ini sebagai ungkapan terima kasih karena Mbak sudah mau memberikan aku tempat tinggal." Sosok itu adalah David Jackson, yang baru tadi diterimanya sebagai penghuni salah satu unit kosannya yang sudah kosong. Sisilia mengerut keningnya, merasa memiliki sopan santun, ia segera mengambil kotak kue tersebut sambil tersenyum. "Nggak usah repot-repot sebenarnya. Tapi, terima kasih karena sudah mengingat saya dan memberikan saya kue," sahut Sisilia. "Iya, Mbak." David tersenyum menatap Sisilia, namun tidak juga beranjak dari tempatnya, membuat Sisilia berpikir jika David mungkin ada sesuatu yang ingin dikatakan. "Mau masuk dulu?" tawarnya berbasa-basi, yang sayangnya langsung mendapat anggukan dari David. "Boleh deh, Mbak. Biar aku bisa akrab sama pemilik kosan." Sudut bibir Sisilia yang tertarik membentuk senyuman langsung lenyap seketika itu. Padahal ia hanya berbasa-basi dengan pemuda di hadapannya karena sudah memberikannya kue. Sayangnya, pemuda itu kini sudah melangkah masuk dan duduk di sofa berwarna cream miliknya. Mau tidak mau, pada akhirnya Sisilia hanya bisa memasrahkan diri, masuk ke dapur dan meletakkan kue tersebut. Segera ia mengeluarkan minuman dari dalam lemari pendingin. "Minumannya cuma ada air putih aja. Soalnya nggak ada soda ataupun alkohol yang bisa disajikan," ujar Sisilia. "Nggak apa-apa, Mbak. Minum air tawar aja aku sudah senang," sahut David. Sisilia yang baru pertama kali bertemu dengan David hari ini hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum canggung. Sungguh, ia tidak akrab dengan David karena memang ini hari pertama mereka bertemu. Namun, sikap pemuda di hadapannya seolah-olah mereka sudah saling kenal sejak lama. Terbukti dengan David yang kini sudah mulai berbasa-basi, membahas soal tempat mengajar Sisilia. "Oh, jadi Mbak Sisil mengajar di SMA itu?" "Bukan mengajar, tapi kebetulan saya bekerja sebagai guru BK di sana." "Oh, secara kebetulan aku juga Senin depan sudah mulai mengajar di sana sebagai guru bahasa Inggris. Kebetulan, ditawari pekerjaan di sana, makanya langsung aku ambil." "Oh, iya? Kamu memangnya lulusan dari mana? Jurusan apa?" David tersenyum dan menjawab, "salah satu universitas di Columbia. Kebetulan memang aku mahir berbahasa Inggris, jadi mendapatkan tawaran pekerjaan itu langsung aku terima." Mendengar itu, Sisilia mengangguk-nganggukkan kepalanya. "Berarti nanti kita bakalan jadi rekan kerja mulai Senin depan," balas Sisilia sambil menatapnya. "Iya, Mbak. Aku juga berharap semoga bisa secepatnya beradaptasi." "Gampang aja, apalagi kamu kalau dilihat-lihat ganteng, pasti banyak siswa yang patuh sama kamu." Menilik dari wajah tampan pemuda di hadapannya ini, sepertinya tidak sulit untuk mengatur siswa-siswi yang memang sedikit nakal. Apalagi aura yang dikeluarkan olehnya agak sedikit suram dan menyeramkan. Itu kata Bagaskara ketika berbicara padanya tadi, saat David sudah diberikan kunci kosan padanya. Sisilia dan David mengobrol hampir 40 menit sebelum akhirnya David memutuskan untuk pamit dan pulang karena hari sudah semakin sore. Setelah menutup dan mengunci pintu, Sisilia kemudian masuk ke dalam kamarnya. Membuka laptop, perempuan cantik itu kemudian mulai menulis alur cerita di sebuah platform yang memang sudah direncanakan olehnya. Sebagai janda muda yang dulunya sangat sulit untuk move on dan melupakan masa lalu yang begitu menyakitkan, membuat Sisilia menyibukkan dirinya dengan berbagai macam pekerjaan yang bisa diambilnya dan menghasilkan. Salah satunya adalah menjadi penulis di sebuah platform yang untungnya menghasilkan pundi-pundi untuk menambah biaya hidupnya. Apapun akan dilakukan oleh Sisilia selama ia bisa mengerjakannya. Seperti menjadi guru BK, menjadi seorang penulis untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya, dan hal-hal lainnya. Ini adalah cara yang diberikan oleh Debora padanya saat Sisilia merasa terpuruk dan nyaris mengakhiri hidupnya. Saat hampir menyelesaikan BAB, tiba-tiba saja telepon di sisi kanannya berdering. Sisilia menatap ponsel dan mengernyit dahinya saat panggilan masuk berasal dari Debora muncul begitu saja. "Tumben banget telepon aku," gumam Sisilia. Mengambil ponsel di atas meja, perempuan itu kemudian menjawab panggilan dan meletakkan ponselnya di telinga. Mulutnya baru saja terbuka ingin menyapa, namun suara lantang dan panik Debora lebih dulu menggema di telinganya hingga membuat tubuh Sisilia menegang total. "Sisilia, tolongin aku. Aku menabrak!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD