bc

Gadis Lugu Penakluk Raja Mafia

book_age18+
12
FOLLOW
1K
READ
drama
bxg
brilliant
city
like
intro-logo
Blurb

Pria misterius berparas dingin, pewaris tunggal dari dinasti mafia internasional, dan pembawa rahasia paling gelap. Hazan menawarkan satu hal yang tak bisa ditolak Aisha: perlindungan.Namun, tawaran itu adalah jebakan emas. Aisha ditarik ke dalam dunia Hazan yang penuh kekuasaan, kehidupan mematikan, dan bahaya yang tak terbayangkan. Setiap langkahnya kini adalah permainan hidup-mati.Haruskah Aisha menaruh seluruh kepercayaannya pada pria yang mampu membunuhnya—sekaligus menjadi satu-satunya yang bisa menyelamatkannya?

chap-preview
Free preview
Lucien dalam Bayangan Paris
Salju pertama turun lebih awal tahun itu. Butiran halus melayang pelan seperti abu putih yang jatuh dari langit, menumpuk tipis di trotoar Paris dan membuat jalanan tampak seperti dilapisi gula. Udara malam memotong kulit seperti pisau yang tumpul namun dingin, memaksa Aisha menarik syal wolnya lebih rapat sambil menghembuskan napas yang berubah menjadi awan kecil di udara. Baru saja ia selesai shift malam di restoran Pak Ahmad—tiga belas meja yang harus dibereskan, dua pelanggan mabuk, dan satu anak kecil yang muntah di pojok. Semua itu menyisakan rasa letih yang menusuk tulang. Pukul 23.17. Paris mulai memasuki jam sunyi. Lampu-lampu jalan memantul di permukaan aspal yang basah oleh salju, menciptakan lengkung cahaya kuning pucat di sepanjang boulevard. Tak banyak kendaraan lewat. Hanya suara mesin dari kejauhan dan sesekali klakson yang samar. Bus terakhir sudah melaju pergi, meninggalkan udara dingin yang lebih sunyi dari biasanya. Aisha menggosok telapak tangannya, meniupkan napas ke sela jari, lalu melangkah menjauh dari halte. Untuk sampai ke apartemennya, ia harus memutar cukup jauh—atau mengambil gang samping yang selama ini selalu aman. Malam-malam sebelumnya tak pernah ada apa-apa di sana. Hanya mural warna-warni yang mulai memudar, aroma roti dari toko kecil di ujung jalan, dan suara musik jazz dari apartemen lantai dua, ia memilih jalur pintas itu. Namun sejak langkah pertamanya malam itu, Aisha merasa ada yang berbeda. Seperti udara membawa sesuatu yang tak terlihat. Lima meter masuk ke dalam gang, suara itu muncul—jejak kaki terburu-buru, disertai desahan tercekik. Suara yang tidak seharusnya ada di ruang sempit dan dingin seperti ini. Jangan kepo, Aish. Lewat saja. Jangan lihat apa pun. Ia memaksa dirinya bergerak lagi, tapi baru beberapa langkah, dua siluet muncul dari kegelapan ujung gang. Mereka sedang mengejar seseorang. Aisha menyipitkan mata, mencoba memahami apa yang terjadi. Orang yang dikejar itu tampak sempoyongan, hampir jatuh setiap beberapa langkah. Ketika ia menghantam dinding bata dan tumbang ke tanah, dua bayangan yang mengejarnya langsung menyergap tanpa ragu. Satu dari mereka menjepit bahu pria malang itu. Yang lain mengeluarkan pisau panjang yang berkilat terkena cahaya lampu jalan. Gerakan mereka cepat dan brutal, seperti orang-orang yang sudah sering melakukan hal semacam itu. Aisha menahan napas. Ponselnya hampir terlepas dari jari yang bergetar. Sebuah kerikil bergeser di bawah sepatunya, menimbulkan suara kecil yang tampaknya terdengar jelas di tengah kesunyian malam. Kedua pria bertopeng itu langsung menoleh ke arahnya. Sorot mata mereka, meski tertutup penutup wajah, terlihat tajam seperti binatang liar yang menemukan mangsanya. “Ada saksi,” salah satu dari mereka berbisik rendah, namun cukup jelas untuk membuat tengkuk Aisha dingin. Dalam sepersekian detik, Aisha berbalik dan berlari. Napasnya memburu tak beraturan, seolah paru-parunya mengecil setiap detik. Salju yang tipis di atas aspal membuat langkahnya licin. Ia hampir terjatuh, tapi berhasil menyeimbangkan tubuhnya. Suara langkah kaki para pengejar terdengar semakin dekat, menghentak seperti ancaman yang memburu dari segala arah. “Jangan berhenti … jangan sampai berhenti …,” ia memohon pada dirinya sendiri. Pertigaan gang sudah terlihat. Jalan raya sudah dekat. Cahaya lampu mobil di kejauhan memberi harapan tipis. Namun sebelum ia mencapai ujungnya, seseorang muncul dari gelap—berdiri, tidak mundur, tidak memberi jalan. Tubuh tinggi. Mantel panjang gelap. Wajah samar disinari lampu kuning jalanan. Kehadirannya begitu tiba-tiba sehingga Aisha hampir menabraknya. Pria itu mengangkat tangan—gerakan tenang, tanpa ragu, seperti seseorang yang sudah sangat terbiasa menghadapi bahaya. Lalu suara tembakan meledak memenuhi gang. Dentumannya memantul di tembok bata, menghentikan langkah Aisha dan para pengejarnya seketika. Dua pria bertopeng itu membeku, lalu kabur ke arah berlawanan tanpa menoleh. Gang mendadak sunyi kembali. Aisha berdiri kaku, jantungnya memukul d**a seperti ingin keluar. Pria itu perlahan menurunkan pistol, lalu menatapnya. “Tenang. Kau aman.” Aisha tidak merasa aman sama sekali. Lampu jalan menyingkap wajahnya: rambut gelap yang sedikit acak oleh angin, garis rahang tegas, hidung lurus, dan mata yang memancarkan ketenangan aneh—tenang seperti badai yang tahu dirinya berbahaya. Ada darah tipis di sudut bibirnya, tapi ia seperti tidak merasakan sakit. Ketika ia memeriksa pria yang pingsan di tanah, pandangannya kembali ke Aisha. “Kau lihat apa saja?” Nada suaranya tidak tinggi, namun memiliki bobot yang membuat punggung Aisha dingin. Ia berusaha berbicara, tapi suaranya bergetar. “A-aku nggak lihat apa-apa. Aku cuma lewat. Aku… nggak tahu apa pun.” Pria itu mempelajarinya. Tatapannya membaca setiap kedutan bibir, setiap hembusan napas, seolah sekecil apa pun gerakan bisa mengubah nasib Aisha. Setelah keheningan yang terasa panjang, ia berbicara lagi. “Kalau kau benar tak melihat apa-apa… jangan lewat sini lagi malam-malam.” Aisha mengangguk cepat, ingin pergi secepat mungkin. Namun langkahnya berhenti ketika pria itu kembali memanggilnya. “Tunggu.” Nafasnya terhenti, sorot mata pria itu lebih dalam dari sebelumnya—bukan ancaman, bukan simpati, tapi sesuatu yang sulit diartikan. Seperti rasa ingin tahu yang terbungkus hati-hati. “Kau tidak perlu takut padaku.” Ironis. Justru itu kalimat paling membuatnya takut. “Aku… tetap takut,” jawab Aisha lirih. Untuk pertama kalinya, garis wajah pria itu melunak sedikit. Hampir seperti senyum tipis, meski tidak pernah benar-benar menjadi senyum. “Bagus. Rasa takut membuatmu hati-hati.” Ia menatap gang yang semakin gelap, lalu kembali pada Aisha. “Orang-orang itu akan kembali. Jangan pilih jalan pintas ini lagi.” Aisha mengangguk sekali lagi. Ia hampir berbalik, ketika suara itu kembali terdengar—pelan, tapi sangat jelas. “Namaku Lucien.” Aisha terkejut. Ia menoleh sedikit. Tidak masuk akal jika pria seperti ini memperkenalkan diri. Namun kalimat berikutnya membuat jantungnya berhenti berdetak. “Jangan bilang siapa pun tentang malam ini… Aisha.”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
316.1K
bc

Too Late for Regret

read
331.2K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.7M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
146.0K
bc

The Lost Pack

read
447.4K
bc

Revenge, served in a black dress

read
155.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook