Tatapan Aisha, Rahasia Lucien

961 Words
Sebelum Aisha sempat bertanya bagaimana, Lucien sudah bergerak. Dengan gerakan yang terlalu cepat untuk dipahami Aisha dalam keadaan syok, ia mengangkat tubuh pria pingsan itu dan berjalan ke arah berlawanan. Sosoknya menghilang di antara bayangan bangunan tua, seolah ia memang diciptakan dari kegelapan itu sendiri. Aisha berdiri sendirian di tengah salju yang turun halus. Napasnya menggantung putih di udara malam. Dalam diam, ia memeluk dirinya sendiri, mencoba menenangkan gemetar yang tak mau berhenti. Ia tidak ingat bagaimana akhirnya sampai di apartemen kecilnya, langkah-langkahnya terasa otomatis, pikirannya kosong. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Paris, Aisha sungguh merasa tidak aman. Ia tahu, malam itu adalah awal dari sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Aisha tidak tidur malam itu. Ia menyalakan lampu kamar kecilnya dan duduk di pojok kasur, memeluk lutut. Jaket dan tasnya tergeletak di lantai, masih basah oleh salju yang mulai mencair. Ponselnya terus berkedip, menerima pesan-pesan dari ibunya di Indonesia yang tak sanggup ia balas. [Aisha, jangan tidur malam-malam. Jaga kesehatan. Paris dingin.] Aisha ingin menjawab dengan jujur bahwa Paris bukan hanya dingin, tapi menakutkan malam ini. Namun ia tidak ingin membuat ibunya khawatir. Ia mengetik, [Iya Bu, Aisha baik-baik aja.] Kebohongan pertama malam itu. Jam menunjukkan pukul 03.22 ketika akhirnya ia mengizinkan matanya terpejam beberapa menit. Tapi bayangan gang gelap itu terus muncul. Suara tembakan. Siluet Lucien, sorot matanya. Cara ia tahu namanya. Dan kalimat itu… “Kau tidak perlu takut padaku.” Aisha bergidik. Itu bukan kalimat yang menenangkan. --- Pagi datang terlalu cepat. Aisha bangun dengan kepala berat. Masih ada waktu satu jam sebelum shift pagi di restoran Pak Ahmad dimulai. Ia mandi cepat, mengenakan jilbab abu-abu dan jaket tebal. Matanya sembab, tapi ia memaksakan senyum kecil di cermin. “Semua baik,” gumamnya meniru kata-kata Lucien dengan nada sinis. “Bohong banget.” Aisha turun dari apartemen kecilnya dan memutuskan tidak melewati gang itu lagi. Ia memutar jauh, lewat jalan utama yang lebih ramai. Setiap kali suara langkah terdengar di belakangnya, ia menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Berlebihan, Aish. Tenang aja. Dia cuma orang yang kebetulan lewat… Tapi ia tidak percaya kata-kata itu. --- Restoran kecil milik Pak Ahmad sudah buka ketika Aisha tiba. Aroma roti panggang, kopi pahit, dan suara radio Arab membuat dadanya terasa sedikit lebih ringan. Temannya, Mei—barista separuh waktu dari Beijing—melambaikan tangan dari balik mesin kopi. “Kamu telat tiga menit,” kata Mei sambil tersenyum. “Biasanya kamu datang sambil ngeluh kedinginan.” Aisha berhenti sejenak. “Oh.” “Kamu pernah bilang, kalau pulang malam dan lewat jalan pintas itu, pipimu langsung merah,” lanjut Mei, seolah mengingat obrolan lama. “Hari ini enggak.” Aisha memaksakan senyum. “Iya… aku ambil rute lain.” Mei memiringkan kepala, menatapnya lebih lama dari biasanya. “Kamu kelihatan kayak habis lihat hantu.” Aisha cepat membalik badan. “Nggak kok.” Sayangnya, Pak Ahmad keburu mendengar. Ia menepuk bahu Aisha dengan lembut. “Kamu sakit? Mau pulang saja?” Aisha menggeleng cepat. “Nggak usah, Pak. Saya kerja aja.” Ia takut jika pulang, ia justru akan menangis sendirian. Lebih baik sibuk. Shift berjalan seperti biasa hingga mendekati tengah hari, ketika restoran mulai penuh. Aisha mondar-mandir mengantar pesanan, mencatat meja baru, dan berusaha mengusir bayangan gang gelap dari kepalanya, tanpa hasil. Aisha mendorong pintu servis dan melangkah keluar, kantong sampah masih di tangannya. Udara dingin langsung menyentuh wajahnya. Di ujung lorong belakang, tak sampai sepuluh langkah dari tempatnya berdiri, seseorang berdiri. Bukan pria bertopeng, Lucien. Salju tipis jatuh di bahunya, seolah ia sudah berada di sana cukup lama. Tatapannya langsung menangkap Aisha. Kantong sampah terlepas dari genggamannya. Tanpa berpikir, Aisha mundur satu langkah lalu membanting pintu servis hingga tertutup, napasnya tertahan di d**a. Mei yang sedang mengambil gelas di dekat area belakang, tersentak. “Hei! Kenapa?!” Aisha menarik napas tersengal. “Ada… ada orang di luar.” Mei mendekat, lalu membuka pintu sedikit dan mengintip. Lorong itu kosong. “Hah? Nggak ada siapa-siapa.” Aisha tersentak. “Tadi ada! Tinggi… pakai mantel hitam…” Mei menatapnya dengan cemas. “Aisha, kamu yakin tidur semalam?” Aisha meremas apron-nya. Ia tidak bisa menjelaskan yang sebenarnya. Apakah aku berhalusinasi? Tidak. Sorot mata itu terlalu nyata untuk sekadar halusinasi. --- Siang berlalu tanpa masalah. Aisha melayani pesanan terakhir pukul tiga sore, lalu shift-nya selesai. Ia mengumpulkan keberanian untuk pulang. Mei menawarkan untuk menemani. “Aku bisa jalan bareng kamu.” Aisha menggeleng pelan. “Nggak apa-apa. Aku kuat sendiri.” Ia mencoba tersenyum, meski wajahnya masih pucat. Aisha berjalan pulang menyusuri jalan utama, menjauhi gang. Mobil-mobil melintas, turis berhenti mengambil foto. Siang hari begini pasti aman, katanya pada diri sendiri. Namun di seberang jalan, di bawah pohon yang cabangnya tertutup salju, seseorang berdiri diam, Lucien. Langkah Aisha terhenti. Otot-ototnya menegang. Dia mengikuti aku? Sejak pagi? Untuk apa? Lucien tidak mendekat. Ia hanya sedikit mengangguk—sebuah isyarat tenang, seolah mengatakan bahwa ia tidak berniat jahat. Aisha memalingkan wajah dan mempercepat langkah. Ia tidak menoleh lagi sampai pintu apartemennya tertutup di belakangnya. Di dalam, ia langsung menutup tirai dan memutar kunci pintu hingga berbunyi klik. Baru setelah itu napasnya pecah, terengah dan tidak beraturan. Kakinya melemas, tubuhnya jatuh ke sofa kecil di ruang tamu. Apa sih maunya orang itu? Kenapa dia mengikutiku? Beberapa menit berlalu tanpa suara apa pun selain detak jantungnya sendiri. Ketika ponselnya tiba-tiba bergetar, Aisha hampir menjatuhkannya, nomor tidak dikenal. Ia menatap layar terlalu lama sebelum akhirnya mengangkat telepon. “Jangan terlalu takut, Aisha.” Suara itu membuat tubuhnya membeku. Ia berdiri spontan. “Kamu siapa?! Kenapa ngikutin aku?!” Di seberang sana, hening sejenak. Lalu suara Lucien terdengar datar, dingin, tapi tidak mengancam. “Karena orang-orang yang kau lihat malam itu belum berhenti mencarimu.” Aisha terdiam, napasnya tertahan. “Kau dalam bahaya,” lanjut Lucien pelan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD