Peringatan Lucien

901 Words
Aisha masih berdiri terpaku di ruang tamunya setelah telepon itu berakhir. Kata-kata pria itu terus berputar-putar di kepalanya. “Kau dalam bahaya.” Aisha menatap ponselnya seperti menatap benda terkutuk. Kenapa hidupnya tiba-tiba terasa seperti adegan thriller? Ia hanya bekerja di restoran itu untuk mengisi waktu setelah lulus kuliah, mencari pengalaman, mencoba hidup dengan caranya sendiri. Ia tidak sedang dikejar target besar, tidak sedang menanggung siapa pun. Semua ini seharusnya sederhana. Aisha duduk pelan di sofa, memijat dahi. Ya Allah… kalau ini cobaan, batinnya, agak terlalu berlebihan, nggak sih? Tidak ada dalam rencana hidupnya bagian tentang diikuti orang tak dikenal. Apalagi diancam bahaya yang bahkan tidak ia mengerti asalnya. Tok-tok-tok! Aisha langsung melompat seperti ada petasan meledak di sampingnya. Ia takut membuka pintu. Jangan bilang itu pria kemarin. Jangan bilang orang jahat. Jangan bilang— “ISHAAAAA! BUKAIN! KAKIKU KEBELET MASUK!” Aisha mengerjap, hanya ada satu manusia yang sefrontal itu. “Rena…?” Ia membuka pintu dan benar saja, Rena berdiri sambil membawa paperbag croissant dan ekspresi menderita karena cuaca dingin. “KENAPA LAMA BANGET—” Rena terhenti saat melihat wajah Aisha. “Eh? Kamu pucet banget? Kamu sakit? Kamu stres? Kamu baru lihat hantu? Atau kamu baru lihat cowok cakep melesat kayak ninja?” Aisha memejamkan mata, teman satu apartemenya ini memang penuh imajinasi. “Aku… masuk dulu deh.” Rena langsung menyeret Aisha ke sofa. “Sini duduk. Cerita. Spill. Wajah kamu kayak habis nyaksiin film horror 4D.” “Ren, ini serius. Tolong jangan lebay dulu.” Rena duduk bersila. “Fine. Mode serius on.” Aisha menarik napas panjang. “Kemarin malam aku lihat… penyerangan di gang kecil dekat apartemen.” Rena langsung mendekat lima sentimeter. “What kind of penyerangan?” Aisha mundur sepuluh sentimeter. “Ren… jarak.” “Sorry. Lanjut.” Aisha pun menceritakan semuanya: gang gelap, dua penyerang bertopeng, suara tembakan, korban yang hampir mati, dan pria asing—Lucien—yang muncul begitu tiba-tiba seolah bagian dari kegelapan itu sendiri. Bagaimana ia tahu nama Aisha, bagaimana ia terlihat beberapa kali hari ini, dan bagaimana ia baru saja menelpon memperingatkan dirinya. Rena terdiam lama. “…Whoa.” Aisha menunggu komentar apa pun. Rena justru mengangkat tangan. “Pertanyaan nomor satu: dia ganteng nggak?” “RENA!” Aisha memukul bantal. “Ini bukan masalah ganteng!” “Oke, oke! Bercanda. Lanjut mode serius.” Rena menyandarkan tubuhnya. “Kalau dia bilang ‘kamu dalam bahaya’, berarti ada pihak lain yang masih nyari kamu. Pihak itu siapa? Penyerang kemarin?” Aisha mengangguk pelan. “Iya… aku juga mikirnya ke situ.” Rena lanjut, “Pertanyaan dua: kenapa mereka nyari kamu? Kamu cuma… lewat.” “Aku nggak tahu, Ren.” Aisha menggigit bibir. “Tapi… dia bilang… mereka mulai cari lagi.” Rena membeku. “Mulai cari kamu?” Aisha mengangguk lirih. Rena langsung berdiri. “Mulai sekarang kamu nggak boleh keluar sendiri. Aku temenin.” Aisha menghela napas. “Kamu bisa bela diri?” Rena tersenyum bangga. “Tentu. Aku pernah menang lomba tarik tambang waktu SD.” Aisha menatapnya tanpa ekspresi. “Fine,” Rena mengangkat tangan. “Bela diri aku nol. Tapi aku bisa teriak. Itu penting.” Aisha akhirnya tertawa kecil. “Kamu nggak berubah.” “Bestie duty, babe.” Rena menepuk bahunya. “Drama hidup kamu, tanggung jawab moral aku.” Aisha hendak merespons saat ponselnya bergetar. Pesan dari Lucien: [Jangan keluar rumah sampai aku datang.] Rena tersentak. “Dia MAU KE SINI?! Kamu undang?!” “Enggak!” Aisha memelototkan mata. “Aku bahkan belum sempat bilang apa-apa!” Rena mulai mondar-mandir panik. “ISHAAA! Apartemen kamu kecil! Kita sembunyi di mana?! Di belakang mesin cuci? Di bawah meja? Dalam kulkas?!” “Ren, tolong—” Tiba-tiba Rena berhenti, diam. “Aish…” Aisha menegang. “Apa lagi…?” Rena mengangkat tangan perlahan, menunjuk jendela besar yang mengarah ke balkon sempit apartemen Aisha—balkon tua bergaya Paris dengan tangga darurat besi menempel di luar dinding. “Ada… yang berdiri di luar.” Aisha langsung merinding dari ujung rambut sampai ujung kaki. Perlahan, ia mendekati jendela, tirai ia geser sedikit, hanya selebar dua jari, dan jantungnya langsung jatuh ke perut. Di platform tangga darurat lantai dua—seorang pria berdiri diam. Mantel gelap. Tudung menutupi wajah. Tubuhnya tak bergerak, hanya berdiri seperti bayangan yang menunggu, menatap ke arah jendela, Aisha mundur cepat sampai menabrak Rena. “Ren… itu bukan pria yang kamu ceritakan?” Rena menelan ludah. “Aku tahu… dari vibe-nya aja beda. Yang itu aura-nya… kriminal elegan. Yang ini aura-nya… horor gratis.” “Gimana dia bisa naik ke situ…?” Rena menunjuk ke tangga. “Aisha… itu tangga darurat. Orang aneh mana pun bisa naik kalau mau.” Aisha menutup wajah. “Ya Allah… dia nyari aku…” Pria itu tidak bergerak sedikit pun, hanya berdiri, seolah menunggu kesempatan, dan kemudian—Ia perlahan mengangkat kepala, mata mereka bertemu. “IISHAA!! Tutup tirai!!!” Aisha langsung menarik tirai rapat, mereka berdua mematung. Beberapa detik kemudian terdengar suara. Krek… krek… Langkah di besi tangga darurat, pelan, berputar, mencari sudut. Seolah orang itu sedang mencari cara lain untuk melihat ke dalam apartemen. Aisha membekap mulutnya, tubuh gemetar, Rena menggenggam tangannya. Di tengah ketakutan itu—Ponsel Aisha bergetar lagi. Lucien, “Aku sudah dekat. Jangan buka pintu untuk siapa pun.” Aisha menatap pesan itu seakan itu satu-satunya pegangan hidup yang tersisa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD