Terseret Masalah

993 Words
Suara dari luar masih terdengar— Krek… krek… Langkah pelan di tangga darurat, tepat di samping pintu kamarnya. Rena berbisik dengan suara sangat pelan, “Sha… kalau aku nggak selamat malam ini, bilang ke ibuku barang-barang aku jangan dijual murah. Yang mahal-mahal naikin harga sedikit biar kaya.” Aisha melotot. “Ren, serius. Diam dulu.” “Aku serius! Aku masih single, belum nikah, belum punya tabungan, masa mati di umur segini?! Nggak rela aku!” Aisha mengembuskan napas frustrasi. “Duduk. Diam. Jangan bikin kita makin kelihatan.” Rena menutup mulut dengan bantal sofa, lalu membuka lagi. “Oke. Aku siap. Eh, aku nggak siap. Aduh Shaaa…” Aisha menggenggam ponselnya erat. Lucien: “Aku sudah dekat.” “Apa maksud ‘dekat’?” bisik Rena cepat. “Dekat itu bisa dari ujung gang atau ujung dunia, kan?” Aisha hendak menjawab ketika— TAP TAP TAP! Ketukan keras menghantam pintu apartemen mereka. Aisha mematung. Rena langsung duduk bersimpuh seperti orang mau salat tapi panik. “Aku nggak siap! Aku belum punya pencapaian hidup! Bahkan skincare aku belum rutin!” Aisha mengisyaratkan agar Rena diam. Ketukan berhenti. Lalu suara berat, tidak keras tapi jelas. “Aisha.” Rena mendongak dengan mata membesar. “OH MY GOD dia tahu nama kamu! Kenapa yang tahu nama kamu bukan orang yang ngasih duit, tapi malah kriminal begini?!” Aisha menutup mulut Rena. Suara itu terdengar lagi, serak, dalam, lebih tua, dan bukan suara Lucien. “Aisha, aku tahu kau di dalam.” Rena merayap ke belakang sofa. “Sha… ini tuh kayak film gelap yang ratingnya 21+. Aku tuh sukanya drama korea lucu, bukan gini-ginian!” DUG! DUG! DUG! Pintu tua itu bergetar. Engselnya sudah mulai goyang sejak Aisha pertama kali pindah ke apartemen murah meriah ini. Aisha menelan ludah, wajahnya pucat. Rena bisik-bisik panik, “Kalau dia dobrak pintu, aku sembunyi di lemari. Walau sempit, yang penting aku nggak keliatan. Kamu mau di mana? Di microwave?” Aisha mendelik. “Ren. Fokus.” Tok… tok… tok… Kali ini suara jari mengetuk gagang pintu. Seperti seseorang sedang mencoba mengecek apakah pintunya tidak dikunci. Aisha mulai kehilangan rasa di kakinya. BRRRRT! Ponsel Aisha bergetar. Lucien, [JANGAN buka pintu. Jangan bersuara.] Aisha mengetik cepat, jari gemetar. Aisha, [Dia sudah di depan pintu] Balasan datang dua detik kemudian, [Jangan panik. Aku naik.] Rena membaca pesan itu dan setengah berdoa. “Lucien, plis. Cepat. Aku mau hidup sampai besok soalnya besok ada diskon belanja.” Tiba-tiba— BRUKKK! Suara keras terdengar seperti seseorang menabrak dinding koridor, Aisha dan Rena sama-sama melompat ketakutan, disusul suara langkah tergesa. Lalu suara benturan, suara gesekan keras. Tiba-tiba, SUNYI. Begitu sunyi sampai Aisha bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Tok. Tok. Dua ketukan pelan. Rena mencicit. “Shaaa, itu siapa? Kodenya beda! Ini Lucien apa penjahat yang belajar sopan santun dulu?!” Aisha mendekat ke pintu perlahan, napasnya tercekat, suara dari luar terdengar, tenang. Namun berat. “Aisha… ini aku.” Aisha membuka pintu sedikit, Lucien berdiri di sana. Mantel hitamnya berdebu, kerahnya agak miring seperti habis berkelahi, matanya menatap lurus, intens, tapi suaranya sangat stabil. “Aku sudah bilang,” katanya perlahan. “Kau tidak aman sendirian.” Aisha melihat koridor, kosong. Tapi lantai ada bekas geseran seperti sesuatu—atau seseorang—baru saja diseret turun tangga. Rena mengintip dari sofa dengan wajah campur lega-panik. “Lucien, kalau kamu bawa bahaya, minimal kasih janji manis dulu buat kami siap mental.” Lucien menatapnya datar. “Aku tidak bawa bahaya.” Aisha mengangkat alis. “Kalau begitu… kamu apa?” Lucien menghela napas singkat, “Orang yang mencoba memastikan kau tetap hidup.” Lucien melangkah masuk tanpa izin, tapi gerakannya bukan seperti orang sok berkuasa. Justru seperti seseorang yang sedang memastikan semua sudut aman. Ia memeriksa jendela, memastikan tirai tertutup, lalu menutup pintu dengan pelan tapi tegas. Aisha berdiri mematung. “Hei… itu rumah saya.” “Aku tahu,” jawabnya. “Dan itu sebabnya kau harus tetap hidup.” Rena mengangkat tangan seperti siswa yang mau izin bertanya. “Maaf, Mister Lucien, aku cuma mau nanya… kamu itu siapa, sebenarnya? Bodyguard? Detektif? Mantan tentara? Atau freelancer yang hidupnya selalu gelap?” Lucien menatap Rena sebentar. Tatapan yang seharusnya bikin orang takut, tapi Rena justru berbisik ke Aisha, “Sha… dia kayak dosen killer yang kalau ditatap gitu berarti kita salah jawab.” Aisha memijat pelipis. Lucien kembali bicara, nadanya datar tapi tidak mengancam. “Kalian harus tenang. Orang di luar tadi bukan orang sembarangan. Mereka mencari seseorang—dan kau,” ia menatap Aisha dalam, “kebetulan berada di tempat yang salah.” Aisha menelan ludah. “Aku cuma pulang kerja. Itu salah?” “Malam itu,” kata Lucien pelan, “kau melihat sesuatu yang tidak boleh terlihat.” Rena langsung menutup telinganya. “Sha, kita kayak di film kriminal, Sha. Otakku nggak siap. Aku ini cuma pekerja toko, bukan karakter utama cerita gelap begini.” Lucien memandang Aisha. “Apa ada yang aneh semalam? Ada yang kau lihat? Dengarkan? Seseorang? Mobil?” Aisha menggeleng. “Aku cuma lewat gang pintas. Ada mobil hitam berhenti. Aku cuma dengar suara orang berdebat sebentar. Aku… aku nggak lihat wajah siapa pun.” Lucien memejamkan mata sebentar. “Sayangnya. Itu cukup.” Rena mencicit. “Cukup buat apa? Cukup buat dapat diskon? Cukup buat dapat ancaman pembunuhan?” Lucien mengabaikannya, “Aisha,” katanya lagi, “orang yang mengetuk pintumu tadi… mereka bukan orang yang akan menyerah setelah satu malam.” Aisha merasa dingin merambat dari tengkuk. Rena spontan memeluk bantal. “Bilang aja sekalian kita harus pindah negara, Sha. Ganti identitas. Kamu jadi Maria, aku jadi… Renita.” Aisha menatap Rena. “Nama aslimu juga Rena.” “Ya makanya! Ganti dikit biar beda suasana!” Aisha menghela napas panjang. “Lucien… aku tidak mengerti. Kenapa mereka mengincar aku? Aku bukan siapa-siapa.” “Itu masalahnya,” jawab Lucien tenang. “Mereka tidak suka saksi. Bahkan saksi yang tidak sadar bahwa dirinya saksi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD