Tiba-tiba Liburan

1192 Words
“Sha.” Suara itu datang dari belakang meja kasir. Mei menatapnya sambil menyandarkan pinggul ke meja, alisnya sedikit terangkat. “Perempuan tadi aneh, ya?” Aisha menoleh, agak terlambat. “Aneh gimana?” Mei mengangkat bahu. “Datang, duduk sebentar, nggak pesan apa-apa, terus pergi. Tapi cara dia lihat kamu tuh…” Ia berhenti, mencari kata yang pas. “Kayak lagi ngecek sesuatu.” Aisha meraih nampan kosong dan mulai merapikan meja yang tadi diduduki perempuan itu. Gerakannya sengaja dibuat sibuk. “Mungkin dia cuma nunggu orang,” katanya ringan. Mei tidak langsung percaya. “Aku perhatiin dari dapur. Dia nggak lihat siapa-siapa selain kamu.” Aisha meletakkan gelas terakhir ke dalam baki. Bunyi porselen beradu terdengar terlalu nyaring di telinganya. “Mei, di kota ini orang aneh itu banyak,” ujarnya sambil tersenyum tipis. “Nggak semuanya harus berarti apa-apa.” Mei menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu mendengus pelan. “Kalau kamu bilang begitu.” Aisha mengangguk, lalu berjalan kembali ke area pelayanan. Ia kembali mencatat pesanan, mengantar piring, mengucap merci dengan nada yang tepat. Semua terlihat normal. Terlalu normal. Namun setiap kali ia melintas dekat jendela, pantulan bayangan perempuan bermantel gelap itu seolah masih ada—menunggu, mengamati, memastikan. Dan entah kenapa, Aisha merasa yakin: ini bukan pertemuan terakhir mereka. Mei masih sempat melirik ke arah pintu ketika Aisha berbalik ke area dapur. “Kalau dia balik lagi, aku yang pura-pura jatuh aja ya,” gumamnya. “Biar kelihatan dramatis.” Aisha hampir tertawa, tapi tawanya tertahan di tenggorokan ketika suara kursi ditarik terdengar dari arah jendela. Perempuan bermantel gelap itu—Zakia—telah kembali duduk. Kali ini, ia membuka menu. “Sha,” bisik Mei cepat. “Itu dia.” Aisha mengangguk pelan. Kali ini, ia menghampiri dengan langkah yang lebih mantap. “Ada yang bisa saya siapkan?” tanyanya. Zakia menatap menu sejenak, lalu mengangkat wajah. Tatapannya tetap sama—tenang, terukur. “Sup lentil. Dan teh mint.” Bahasanya Prancis. Aksen Paris yang halus, nyaris tanpa cela. “Baik,” jawab Aisha, sama fasihnya. Tidak ada jeda, tidak ada kesalahan. Seolah percakapan itu hanya percakapan biasa antara dua orang asing. Zakia mengangguk kecil. “Terima kasih.” Ia makan tanpa tergesa. Gerakannya rapi, hampir militer, tapi tidak kaku. Sesekali ia menatap keluar jendela, bukan ke arah Aisha. Seolah tugasnya bukan mengamati, melainkan memastikan. Ketika piringnya kosong, ia berdiri, meninggalkan uang pas di meja—bahkan sedikit lebih. Tidak ada pesan. Tidak ada catatan. Hanya kehadiran singkat yang terasa lebih berat daripada waktunya sendiri. Aisha melihatnya pergi tanpa mengejar. Beberapa jam kemudian, shift berakhir. Restoran mulai lengang, kursi-kursi dibalik, lantai dipel. Aisha melepaskan celemeknya, menggantungnya rapi. Rasa lelah datang pelan, tapi kali ini disertai sesuatu yang lebih ringan. Ponselnya bergetar. Rena: Bebas? Aku nemu promo tiket kereta. Murahnya nggak masuk akal. Ini pertanda semesta nyuruh kita liburan. Aisha tersenyum. Aisha: Besok libur. Ke mana? Jawaban datang hampir seketika. Rena: Dataran tinggi. Udara dingin. Pemandangan cakep. Dan yang paling penting: MAKANAN. Aisha tertawa kecil, membayangkan wajah Rena yang pasti sudah berbinar. Aisha: Deal. Tapi jangan sampai kamu makan semua bekal di kereta. Rena: Hei, itu namanya pemanasan sebelum makan besar. Malam itu, mereka bertemu di apartemen kecil Rena. Ransel terbuka di lantai, isinya berantakan. Rena memegang dua bungkus makanan ringan. “Yang ini buat perjalanan,” katanya. “Terus yang satunya?” tanya Aisha. “Buat jaga-jaga kalau yang pertama habis,” jawab Rena tanpa dosa. Aisha menggeleng, tapi senyumnya lepas. Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, ia merasa bisa bernapas lebih dalam. Besok mereka akan naik kereta. Pergi ke tempat yang lebih tinggi, lebih sepi. Sekadar menjauh dari rutinitas. Sekadar melepas penat. Aisha tidak tahu bahwa jarak—seberapa pun jauh—tidak selalu berarti aman. Tapi malam itu, ia memilih percaya: liburan kecil mungkin cukup untuk membuat dunia terasa lebih ringan. Kereta berangkat pagi-pagi sekali, saat Paris masih setengah mengantuk. Langit pucat, peron dipenuhi orang-orang dengan wajah datar dan kopi di tangan. Aisha dan Rena naik sambil tertawa kecil, ransel di punggung, jaket tebal menahan dingin yang menyusup dari celah pintu gerbong. Rena langsung mengklaim kursi dekat jendela. “Strategis,” katanya bangga. “Biar aku bisa makan sambil pemandangan.” Aisha baru duduk ketika kereta mulai bergerak. Kota perlahan mundur, digantikan deretan bangunan rendah, lalu ladang, lalu pepohonan yang ujung-ujungnya masih diselimuti sisa salju. Irama rel menenangkan—cukup untuk membuat kepala sedikit ringan. “Aku bersumpah,” Rena membuka bungkus croissant, “kalau hidup cuma soal naik kereta ke tempat dingin terus makan, aku bakal jadi orang paling bahagia sedunia.” Aisha tersenyum. Ia hampir ikut tertawa ketika matanya menangkap sesuatu di pantulan kaca. Seorang pria berdiri di ujung gerbong. Bukan karena wajahnya—ia biasa saja. Mantel gelap, ransel kecil. Tapi tatapannya… terlalu lama berhenti di arah mereka sebelum cepat berpaling. Seolah sadar sedang dilihat. Aisha berkedip. Saat ia menoleh lagi, pria itu sudah bergerak ke gerbong lain. “Makan, Sha,” kata Rena sambil menyodorkan cokelat. “Kamu bengong kayak mikirin utang masa lalu.” Aisha menghela napas pelan. “Nggak apa-apa. Mungkin aku cuma capek.” Ia memilih tidak mengatakan apa pun. Kereta terus melaju. Pemandangan semakin hijau, semakin terbuka. Gunung-gunung mulai muncul di kejauhan, pucat kebiruan, seperti lukisan yang perlahan ditarik dari balik kabut. Beberapa jam kemudian, mereka turun di Gare d’Annecy. Udara langsung berubah. Lebih bersih. Lebih dingin. Pegunungan Alpen menjulang di kejauhan, puncaknya masih menyimpan salju. Danau Annecy membentang tak jauh dari stasiun—airnya jernih, memantulkan langit dan deretan bangunan tua berwarna pastel. Rena berhenti mendadak. “…Ya Allah,” katanya lirih. “Ini cantik banget. Aku merasa pantas makan lebih banyak di sini.” Aisha tertawa kecil, rasa sesak di dadanya perlahan mengendur. Mereka berjalan menyusuri kanal-kanal kecil di Vieille Ville, jembatan batu melengkung, bunga-bunga musim dingin yang tersisa di balkon kayu. Segalanya terasa seperti kartu pos. Mereka naik bus kecil menuju dataran yang lebih tinggi, ke arah Col de la Forclaz, tempat orang-orang biasa berhenti hanya untuk melihat Danau Annecy dari atas. Saat mereka turun, angin dingin langsung menyambut, membawa aroma pinus dan tanah basah. Dari sana, dunia terbuka. Danau terbentang luas di bawah, dikelilingi pegunungan. Langit cerah, biru pucat. Sunyi yang menenangkan. Rena membuka jaket sedikit, menghirup udara dalam-dalam. “Oke,” katanya puas. “Kalau aku hilang di sini, bilang ke semua orang aku mati bahagia.” Aisha tersenyum. Ia melangkah mendekat ke pagar kayu, menatap pemandangan itu. Untuk pertama kalinya sejak lama, pikirannya benar-benar diam. Namun, di sudut penglihatannya, ada gerakan. Di area parkir kecil tak jauh dari sana, seorang pria berdiri sambil berpura-pura menelpon. Mantel gelap. Ransel kecil. Aisha menegang sesaat. Ketika ia menoleh lebih jelas—pria itu sudah pergi, tertelan oleh kerumunan wisatawan lain. Mungkin kebetulan, pikirnya. Tempat indah selalu menarik banyak orang. “Sha,” panggil Rena ceria. “Fotoin aku dong. Ini harus diabadikan sebelum aku kedinginan dan berubah jadi fosil.” Aisha mengangguk, mengangkat ponsel. Ia memaksa senyum kembali ke wajahnya. Liburan baru saja dimulai. Dan Aisha memilih percaya—untuk sementara—bahwa keindahan ini nyata, dan rasa tidak nyaman itu hanyalah bayangan yang akan hilang bersama angin pegunungan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD