Dubai dan Satu Kesalahan

1384 Words
Langit Paris siang itu masih pucat. Sisa salju menempel di tepi trotoar, mencair perlahan, meninggalkan garis-garis air tipis di jalanan. Di dalam restoran, ritme lama kembali mengambil alih—bunyi piring beradu, pesanan dipanggil singkat, aroma mentega hangat bercampur kopi yang menguar pelan. Aisha bergerak mengikuti kebiasaan. Mencatat, mengantar, tersenyum seperlunya. Ia melakukan semua yang seharusnya dilakukan seseorang yang hidupnya berjalan normal, dan untuk sesaat, hampir berhasil meyakinkan dirinya bahwa semuanya memang normal. Tangisan pecah di dekat pintu, seorang anak kecil—mungkin tiga atau empat tahun—menangis keras sambil menarik lengan ibunya. Wajahnya merah, napasnya tersengal, tubuhnya melengkung ke belakang dalam tantrum yang tidak bisa dihentikan dengan kata-kata. Ibunya tampak kewalahan. Beberapa pelanggan mulai melirik, sebagian dengan simpati, sebagian dengan ketidaksabaran yang ditahan. Aisha bergerak lebih cepat dari pikirannya sendiri. Ia berjongkok di hadapan anak itu, menjaga jarak, tidak menyentuh. Tubuhnya merendah, sejajar dengan tinggi anak tersebut. Suaranya lembut, hampir berbisik dan ketika ia berbicara bahasa Prancis, bahasanya mengalir alami, tanpa aksen yang kaku. “Hai,” katanya pelan. “Boleh aku duduk di sini sebentar?” Tangisan itu tidak langsung berhenti, tapi jedanya ada. Aisha mengambil sendok kecil dari sakunya—sendok plastik warna biru yang biasa dipakai anak-anak. Ia memutarnya di udara perlahan, membuat bunyi pelan saat menyentuh meja. “Kita dengar suaranya, ya,” katanya. “Satu… dua…” Anak itu terisak, tapi matanya mengikuti gerakan tangan Aisha. Beberapa detik berlalu, angisan mereda menjadi rengekan, napas mulai teratur. Ibunya menghela napas lega. “Terima kasih,” katanya lirih. Aisha tersenyum kecil. “Nggak apa-apa. Dia cuma capek.” Saat Aisha berdiri, ia merasakan sesuatu—sebuah tatapan, pintu restoran terbuka. Seorang perempuan masuk, tidak ada yang mencolok dari penampilannya. Mantel gelap dengan potongan sederhana. Selendang dikenakan rapi. Langkahnya tenang—bukan tergesa, bukan ragu. Tapi caranya memandang ruangan membuat udara terasa sedikit berubah. Tatapan itu tidak mencari meja kosong, tidak mencari pelayan, ia menyapu ruangan dengan singkat dan menyeluruh—menghitung pintu, jendela, sudut pandang. Seperti kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar hilang, tatapan itu berhenti sesaat pada Aisha. Zakia tidak langsung duduk, ia berdiri beberapa detik, cukup lama untuk memastikan apa yang ia lihat benar. Gerakan Aisha tadi—cara ia berjongkok, nada suaranya, jarak yang ia jaga—semuanya terasa… akrab, tidak berubah. Dubai kembali singgah di benaknya, tenda pengungsian. Panas yang menempel di kulit. Anak-anak yang menangis tanpa tahu kenapa dan seorang perempuan muda yang selalu berhenti, selalu berjongkok, selalu bicara pelan, itulah Aisha. Zakia akhirnya melangkah dan memilih meja dekat jendela, duduk, melepas sarung tangan. Tidak membuka menu, ia menunggu. Aisha menarik napas pelan, lalu berjalan mendekat seperti biasa, saat ia berdiri di hadapan meja itu, perempuan tersebut mengangkat wajahnya. Tatapannya tajam, tapi tidak dingin. Dalam. Terukur. “Siang,” kata Aisha, profesional. “Ada yang bisa saya bantu?” Zakia menatapnya lebih lama dari kebiasaan orang asing. Bukan menilai wajahnya, melainkan memastikan sesuatu yang sudah ia ketahui sejak lama. Benar, tidak berubah. Lalu Zakia tersenyum tipis, bukan senyum ramah, bukan pula ancaman. Senyum seseorang yang akhirnya menemukan sesuatu yang ia harap tidak perlu ia temukan. “Belum,” katanya akhirnya, suaranya tenang. “Aku hanya ingin duduk sebentar.” Ia berdiri lagi hampir bersamaan, seolah kunjungan itu memang tidak dimaksudkan untuk tinggal lama. Saat melewati Aisha, Zakia berhenti sesaat—cukup dekat untuk berkata pelan: “Kau masih sama.” Aisha membeku. “Apa… maaf?” katanya refleks. Zakia sudah melangkah pergi, pintu restoran tertutup kembali, meninggalkan denting kecil lonceng di atasnya. Aisha berdiri di tempatnya beberapa detik, jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya. Ia tidak mengenal perempuan itu. Setidaknya, pikirannya mengatakan begitu. Namun ada sesuatu yang tidak mau pergi. Cara perempuan itu menatapnya—bukan seperti orang asing. Terlalu yakin. Terlalu… tahu. Aisha mengerutkan kening, berusaha menarik ingatan yang terasa kabur. Wajah itu terus muncul di pikirannya, tapi tanpa konteks. Tanpa tempat. Seperti potongan mimpi yang terlepas dari cerita utuhnya. Apa pernah aku bertemu dia? Ia menggeleng pelan, mencoba mengusir pikiran itu. Mungkin hanya kelelahan. Mungkin hanya efek dari hari-hari terakhir yang terlalu penuh ketegangan. Namun dadanya masih terasa sesak, seolah ada sesuatu yang tertinggal—atau baru saja diambil. *** Zakia duduk diam di kursinya, sarung tangan tergeletak di atas meja di samping cangkir yang belum tersentuh. Di sekelilingnya, kafe tetap berjalan seperti biasa—sendok beradu dengan piring, suara mesin kopi mendesis, potongan percakapan yang tidak ia dengarkan. Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Untuk sesaat, udara Paris terasa berat di dadanya. Kilatan panas menyambar tanpa peringatan, bukan salju bukan kafe, tapi pasir. Cahaya matahari yang terlalu terang. Debu yang menempel di kulit. Bau logam dan tanah kering bercampur menjadi satu. Suara-suara keras saling bertabrakan—teriakan, langkah tergesa, mesin yang tidak pernah benar-benar berhenti. Zakia tidak bergerak. Tubuhnya tetap di kursi kafe itu. Tapi ingatannya sudah melompat ke tempat lain—tempat yang selalu datang tanpa izin. Pasir, langit yang terlalu terang, membakar mata. Debu menempel di kulit, di rambut, di lipatan pakaian. Teriakan bercampur dengan deru kendaraan militer, bau logam dan solar memenuhi udara. Sebuah kamp pengungsian di wilayah konflik—tempat waktu berhenti, dan harapan selalu datang terlambat. Di tengah kerumunan yang riuh dan kacau, seorang anak perempuan kecil terduduk di tanah berdebu. Tubuhnya gemetar hebat, tangisnya pecah tak beraturan, napasnya terengah seolah udara pun ikut menekannya. Orang-orang di sekitarnya ragu mendekat—takut, bingung, atau terlalu lelah untuk peduli. “Tidaaak!” Suara itu menerobos kebisingan. Seorang gadis berlari menembus kerumunan tanpa pikir panjang. Sandalnya menghantam tanah berdebu, kerudungnya berkibar tertarik angin panas. Ia berjongkok cepat di hadapan anak itu, lututnya menyentuh tanah, debu langsung menempel di kain bajunya. “Tidak apa-apa,” katanya terengah, suaranya bergetar tapi tegas. “Aku di sini.” Tangisan anak itu justru meninggi, tubuh kecilnya menegang seperti hendak pecah. Gadis itu tidak ragu lagi. Ia meraih anak itu dan menariknya ke dalam pelukan, memeluknya erat—bukan untuk menahan, tapi untuk menjadi jangkar. Anak itu mencengkeram kain baju gadis dengan putus asa, jari-jarinya gemetar, kuku kecilnya menekan kuat seolah takut terlepas. Aisha menunduk, dahi hampir menempel ke kepala anak itu. “Napas,” bisiknya pelan, berulang. “Pelan-pelan. Aku di sini.” Kerudungnya kusam oleh panas dan pasir. Ujung kainnya terikat longgar di leher, berkali-kali ia lepaskan untuk mengusap keringat di wajah anak itu—dan air mata yang bukan hanya milik satu orang. Lengannya kotor oleh debu dan noda kering, tapi pelukannya tetap hangat, konsisten, tak goyah. Tangisan itu perlahan berubah. Dari jerit menjadi isak. Dari isak menjadi napas pendek-pendek yang akhirnya mulai teratur, dialah Aisha, ia tidak melepaskan pelukannya. Zakia merasakannya lagi, seperti dulu. Dorongan yang tidak rasional. Refleks yang tidak diajarkan siapa pun. Keinginan untuk melangkah maju, untuk bicara, untuk menghentikan sesuatu sebelum terlambat. “Tidak.” Suaranya nyaris tenggelam oleh kebisingan. Ia sendiri tidak yakin apakah ada yang mendengar. Dadanya sesak, tenggorokannya kering, tapi ia memaksa suaranya keluar lagi—lebih keras, hampir putus. “Dia tidak boleh dibawa—jangan! Tolong! Jangan bawa dia!” Tangannya terangkat tanpa sadar, seolah tubuhnya sendiri ingin melindungi pemandangan di hadapannya. Aisha masih memeluk anak itu. Tidak menoleh, tidak tahu bahwa dalam beberapa langkah lagi, hidupnya bisa berubah selamanya. Di hadapannya, seorang pria berdiri dengan ketenangan yang membuat bulu kuduk meremang. Posturnya santai. Senyum tipis tergurat di bibirnya—senyum orang yang selalu menang, apa pun hasilnya. “Dia hanya saksi,” kata Marco, seolah membicarakan barang rusak. “Dan saksi biasanya lebih aman di tempat lain.” Zakia menoleh cepat ke samping. Lucien berdiri di sana—diam, tegang. Matanya tertuju pada gadis itu, bukan pada Marco. Rahangnya mengeras, seolah sebuah keputusan sedang bertarung dengan seluruh hidup yang ia kenal. “Dia bukan bagian dari ini,” kata Zakia lagi, napasnya berat. “Dia relawan. Dia datang untuk menolong orang-orang di sini.” Marco terkekeh pelan. “Justru itu masalahnya.” Ia melirik ke arah Aisha—yang sedang membantu seorang anak kecil di dekat tenda, tangannya bergetar tapi tetap bekerja. “Relawan selalu melihat terlalu banyak,” lanjut Marco ringan. “Dan mereka sering lupa… bahwa niat baik tidak membuat siapa pun kebal.” Lalu, seolah mendapat ide yang menghibur, Marco mengalihkan pandangannya kembali ke Lucien. Senyumnya sedikit melebar. “Atau,” katanya santai, “kalau itu yang jadi masalah… bagaimana kalau kau saja yang menggantikannya?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD