Salju turun tipis ketika Lucien berdiri di bawah lampu jalan yang redup. Mantel hitamnya basah di bahu, serat kain menyerap dingin yang menggigit, tapi tubuhnya tidak bereaksi. Dingin selalu lebih mudah ditahan dibanding ingatan—dan Lucien hidup dengan terlalu banyak hal yang ingin dilupakannya.
Asap napasnya membaur dengan udara Paris yang kelabu. Kota itu tampak tenang, nyaris indah, dengan cara yang menipu. Lampu-lampu jalan memantul di aspal basah, menutupi retakan, menyamarkan jejak. Paris selalu pandai berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja.
Lucien mengeluarkan ponsel dari saku mantel. Layarnya menyala sebentar. Satu nama masih ada di sana. Aisha, tidak ada pesan baru. Tidak akan ada.
Ia menyimpan ponsel itu kembali. Pergi tanpa pamit adalah pilihan yang kejam. Namun tinggal—itu akan jauh lebih berbahaya. Lucien tahu perbedaan keduanya, dan ia selalu memilih yang paling sedikit melukai orang lain, meski itu berarti menambah beban pada dirinya sendiri.
Langkahnya menyusuri trotoar yang sepi, tenang, nyaris tak bersuara. Dalam kepalanya, malam tadi berulang tanpa izin: pintu tua dengan engsel bergetar, napas tertahan di balik dinding tipis, dan tatapan Aisha saat ia berdiri di ambang pintu.
Takut, tapi belum hancur, itu yang membuatnya pergi.
Lucien berhenti di ujung gang, tepat di bawah tangga darurat bangunan tua lain. Di sana, seorang pria telah menunggunya—topi ditarik rendah, wajah sebagian tertutup syal. Salju menempel di bahunya, seperti tanda waktu yang tidak sabar.
“Kau terlambat,” kata pria itu pelan, aksen Eropa Timur melekat kuat.
“Aku memastikan sesuatu,” jawab Lucien singkat.
Pria itu menyeringai tipis. “Atau seseorang?”
Lucien tidak menanggapi. Ia tidak perlu menjelaskan apa pun pada orang yang hanya memahami setengah dari peta yang sebenarnya.
“Orang-orangmu ceroboh,” lanjut Lucien, nada suaranya datar. “Mereka membuat terlalu banyak suara.”
“Tidak ada yang mati,” sahut pria itu cepat.
Lucien menatapnya tajam. “Karena aku menghentikannya.”
Hening jatuh di antara mereka. Salju turun lebih rapat, seolah menjadi tirai tipis yang memisahkan dua dunia yang saling bertabrakan.
“Kau tahu mereka akan mengirim yang lain,” kata pria itu akhirnya. “Kau terlalu lama menghilang.”
“Aku tidak bersembunyi,” ujar Lucien. “Aku pergi.”
“Itu sama saja bagi mereka.”
Lucien mengalihkan pandangan ke ujung jalan. Lampu kota memantul di permukaan salju, indah dan dingin. Segalanya tampak bersih—padahal di baliknya, ada daftar nama, utang lama, dan darah yang belum sepenuhnya kering.
“Ada perempuan itu,” kata pria tersebut lagi, kali ini lebih pelan. “Saksi.”
Rahang Lucien mengeras. “Dia bukan bagian dari ini.”
“Belum,” jawab pria itu. “Tapi sekarang namanya sudah tercatat.”
Itu kalimat yang Lucien benci.
“Hapus,” katanya.
Pria itu tertawa kecil, nyaris iba. “Kau tahu itu tidak sesederhana itu.”
Lucien melangkah mendekat satu langkah. Suaranya tetap rendah, tapi tekanan di dalamnya jelas terasa. “Aku tidak meminta.”
Salju semakin deras. Pria itu menghela napas, menyadari batas yang tak boleh dilewati.
“Aku akan menunda,” katanya akhirnya. “Tapi bukan menghentikan.”
Lucien sudah menduga itu. Ia mundur, menarik mantel lebih rapat.
“Jika ada yang menyentuhnya,” katanya pelan, lebih seperti pernyataan daripada ancaman, “aku akan kembali dengan cara yang tidak kalian sukai.”
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya mengangguk singkat sebelum berbalik dan menghilang di balik tirai salju yang turun semakin rapat.
Lucien tetap berdiri di gang sempit itu beberapa detik lebih lama. Lampu jalan memantul pucat di aspal basah, membuat bayangannya memanjang lalu terputus di sela tumpukan salju. Ujung sepatunya basah, dingin merembes perlahan, tapi ia nyaris tidak merasakannya.
Getaran di saku mantel membuatnya bergerak.
Ponselnya bergetar sekali.
Satu pesan masuk.
Nomor tak dikenal.
Ia membuka layar.
Sebuah foto muncul.
Buram, diambil dari kejauhan, jelas bukan foto yang dimaksudkan untuk indah. Namun cukup tajam untuk mengenali jendela restoran dengan lampu gantung keemasan di dalamnya. Di balik kaca itu, tampak seorang perempuan berdiri menyamping. Kerudung gelap menutupi rambutnya, terikat rapi di bawah dagu. Seragam kerja sederhana membingkai tubuhnya yang tegap, seolah ia sedang berusaha terlihat biasa saja.
Aisha, di bawah foto itu, hanya ada satu baris teks singkat:
Belum diserahkan. Tapi sudah terlihat.
Rahang Lucien mengeras. Ia mengunci layar tanpa membalas, lalu memasukkan ponsel kembali ke saku mantel. Pandangannya terangkat ke langit Paris yang kelabu, salju turun perlahan seperti abu yang tidak pernah habis.
Ancaman barusan bukan lagi sekadar kemungkinan, ia telah berubah menjadi hitungan waktu.
Lucien melangkah pergi dari gang itu, menyusuri jalan hingga mencapai sebuah jembatan kecil yang melintasi sungai. Ia berhenti di tengahnya. Air mengalir tenang di bawah lapisan es tipis, bergerak perlahan tanpa peduli pada apa pun yang tertinggal di belakang—seperti waktu, seperti hidupnya sendiri.
Di sanalah pikirannya melenceng, meski hanya sesaat, ia memikirkan Aisha. Cara perempuan itu berdiri—punggung lurus, bahu sedikit tegang—seolah dunia tidak boleh tahu betapa rapuhnya ia merasa. Cara matanya menatap: bingung, curiga, tapi belum kehilangan kemanusiaannya. Dan cara ia tidak tahu apa-apa tentang dunia yang nyaris menyeretnya masuk hanya karena satu nama yang pernah ia selamatkan.
Lucien tidak boleh dekat, bukan karena ia tidak ingin. Melainkan karena ia tahu persis apa yang terjadi pada siapa pun yang terlalu dekat dengannya. Getaran halus kembali terasa di saku mantel. Kali ini, ia tidak perlu melihat layar untuk tahu siapa pengirimnya.
Zakia. “Sudah aman untuk saat ini,” suara perempuan itu terdengar tenang di sambungan telepon. “Dua orang mengawasi dari jarak jauh. Tidak ada pergerakan mencurigakan di sekitar apartemen Aisha.”
Lucien memejamkan mata sejenak. “Jangan terlihat.”
“Aku tahu,” jawab Zakia singkat. “Aku akan jadi bayangan.”
Ia selalu begitu, tidak banyak bertanya, tidak membuang kata. Sejak lama, Zakia adalah mata dan tangan Lucien; orang yang bisa melihat tanpa diundang dan bertindak tanpa perlu perintah berulang.
“Laporkan hanya jika perlu,” kata Lucien. “Dia harus merasa hidupnya tetap normal.”
“Aku mengerti.” Hening singkat menyela sebelum Zakia menambahkan, lebih pelan, “Kau yakin dengan ini?”
Lucien menatap aliran sungai di bawahnya. “Tidak,” katanya jujur. “Tapi ini satu-satunya cara.”
Sambungan terputus.
Lucien kembali sendirian, ia tahu ini belum selesai, ia tahu selama namanya masih terhubung dengannya, Aisha tidak akan pernah benar-benar aman. Itulah alasan sebenarnya ia pergi pagi tadi—bukan untuk melindungi dirinya sendiri, melainkan untuk memberi jarak antara Aisha dan dunia yang tidak seharusnya menyentuhnya.
Salju terus turun. Lucien menatapnya sejenak, lalu berbisik sangat pelan—bukan doa, bukan pula janji. “Bertahanlah.”
Ia memasukkan kedua tangannya ke saku mantel dan berjalan pergi, meninggalkan jejak kaki yang perlahan tertutup salju, seolah ia tidak pernah berdiri di sana.