BACA ATURANKU DULU!
Maria melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan kerja lagi. Sedangkan Sumarno menghela nafasnya panjang. Dia memandang nanar ke arah Maria.
"Anak baik yang salah jalan," gumamnya lirih.
Maria memang membeli lima rumah di kompleks mewah di tengah kota Surabaya. Dia membuat sebuah room VIP di ruang tamu setiap rumah yang dia miliki yang sekaligus menjadi tempat tinggalnya. Empat rumah lainnya di jadikan room- room mewah tempat anak buahnya bisa melayani tamu. Semua ruangan di beri peredam suara sehingga suara bising lagu karaokean tak mengganggu para tetangga kompleks. Meskipun membuka bisnis haram Maria cukup tau batasan, dia tak menerima jual beli narkoba dan sembarang wanita.
Cukup ketat jika ingin bergabung dalam management nya. Dia tak ingin terlalu terjerumus dengan dunia malam lebih jauh, baginya membuka rumah bordil khusus VIP & VVIP dari kalangan pejabat, dan bos- bos berduit cukup. 'Tring' 'Tring' HP sekar berbunyi, satu panggilan masuk dari Cindy. Dia segera mengangkatnya, bagaimanapun Cindy salah satu anak inangnya yang paling laris.
"Ya Cin," jawab Maria.
"Mami, bisakah Seroja bertemu dengan Mami? Dia masih takut, Mi. Dia memilih untuk bekerja serabutan saja," jelas Cindy.
"Ck! Ribet. Aku tunggu lima belas menit lagi. Temui aku di ruangan kerja," perintah Maria.
"Baik Mi," jawab Cindy.
Maria menghela nafas panjang. Dia membuka dokumen arsip lengkap para pekerja Ani- ani, simpanan freelance, bahasa sopannya sekarang. Para pekerjaan di rumah Bordil nya, juga merupakan wanita pilihan karena Maria dengan ketat menyeleksi mereka, mengingat para tamunya juga member- member berduit, servis dan pelayanan utama. Mereka di wajibkan menjalani tes HIV/ AIDS enam bulan sekali, perawatan, dan berdandan elegan bukan murahan.
"Seroja cepat! Kau harus segera ke sana, tapi maaf aku tak bisa mendampingi mu. Grab nya sudah datang aku harus berbenah diri ke salon karena nanti malam aku harus melayani satu tamu. Member VVIP! Pasti banyak duitnya. Oh ya kalau kau mau makan malam ini duitnya," kata Cindy sambil mengeluarkan uang seratus ribuan.
"Ta- tapi Cindy..."
"Stttt! Sudahlah kau jangan bawel. Doakan aja malam ini tamuku memberikanku banyak bonus dan puas dengan pelayananku," bisik Cindy.
"Cepatlah kau ke rumah Mami. Tenang saja, aku pastikan Mami tak akan marah, meskipun Mami itu galak tapi bagi kami para pekerjanya, Mami Maria itu bukan sekedar boss atau atasan biasa dia itu lebih dari itu. Mami Maria selalu mau peduli pada kesehatan dan latar belakang kita. Dia akan mengarahkan keuangan kita dan memberikan kita kesepakatan bekerja. Apa yang kau inginkan dan tidak inginkan dalam bekerja. Sudah ke sana saja, jika memang kau tak nyaman tak usah mau menerima. Aku jamin Mami Maria juga tak marah," jelas Cindy panjang lebar.
"Kau tahu sendiri kan? Kami di sini sangat nyaman, tempat mewah, mobil ada, seminggu tiga kali ke salon. Bisa mengirim uang ke kampung, nikmat mana lagi yang akan kau dustakan?" ledek Cindy.
Ucapan ledekan Cindy itu membuatnya tersenyum kecut. Memang semua yang di katakan Cindy tidaklah salah, mereka yang bekerja pada Maria sangat betah bekerja ikut wanita muda yang berpenampilan retro itu padahal usianya hampir sama. Tak hanya para pekerja saja, para pelanggannya sangat puas dengan pelayanan Maria yang benar- benar menjamin privasi pelanggannya dan semua pekerjanya terbebas dari penyakit menular.
Room yang di berikan nyaman tanpa ada tamu lain, sehingga banyak para pelanggan memberikan tips lebih pada Maria. Bahkan kadang para pelanggan meminta Maria sendiri yang memandu mereka berkaraoke melepas lelah. Maria tak keberatan jika memang mereka masuk kategori pelanggan royal. Maria membedakan para pelanggannya, kelas pelanggan royal, VVIP, VIP, dan biasa.
‘Tok... tok...’ pintu di ketuk. Maria segera membenahi tampilannya, menyemprot parfum dan berjalan keluar dari kamar menuju ruang kerjanya.
“Mi, boleh masuk?” tanya seorang dari luar.
"Masuk!" perintahnya.
“Ada apa?” tanya Maria.
“Pak Agus mau tambah minum, Mi! Boleh?” kata Rosita dengan sempoyongan.
"Ck!" decih Maria melihat anak asuhnya sudah mabuk.
Meski begitu kemampuan anak didiknya ini cukup baik, karena meski mabuk dia masih lumayan terjaga kesadarannya buktinya dia masih bisa memesan minuman. Maria mengamati ruangan lantai satunya yang menjadi room VIP, tampak beberapa orang sudah tergeletak di kursi, pekerja satunya bernama Gina masih asik bernyanyi dengan nada tak karu-karuan. Sedangkan Agus lelaki yang di sebut ROsita melambaikan tangan ke arahnya.
“Kau masih kuat? Tinggal sejam lagi. Jika tak kuat tak usah di paksa,” kata Maria berbisik pada Rosita.
“Aku masih kuat, Mi. Pak Agus sangat royal. Sayang sekali jika tak di turuti maunya. Aku perlu banyak uang untuk anakku di kampung! Apalagi aku sedang haid tak bisa di bungkus atau di kawin,” jawab Rosita.
“Baiklah akan aku ambilkan, kau balik ke sana saja,” ucap Maria.
Rosita pun berjalan turun, Mara melirik jam dia menyadari jam ganti shift penjaga dan body guard nya. Hanya Sumarno yang berjaga dua puluh empat jam di rumah ini, bahkan tidur di sini. Lelaki itu adalah paman nya sendiri di kampung, akan pulang bila Maria pulang. Karena jam menunjukkan pukul empat sore, waktunya Sumarno makan, mandi, dan istirahat sebelum kembali ke atas jam enam sore.
Maria berjalan menuruni tangga menuju dapur kotor yang menjadi satu dengan mini bar di samping ruang karaokean itu. Maria membuka lemari pendingin, dia mengambil es batu, dan memindahkan di teko kaca. Kemudian membuka lemari kaca yang berjejer aneka jenis minuman mulai dari red wine, vodka, tequilla, soju, bir, dan masih banyak jenisnya. Dia mengambil sebotol bir dan membawanya ke depan.
“Bir saja cukup ya Om, ingat besok harus kerja. Oke!” ucap Maria menuang bir dalam teko kaca.
“Oke, kau memang terbaik. Kapan aku bisa datang lagi?” tanya Agus.
“Masih full, Om. Nanti aku kabarin deh ya. Oh ya biar aku carikan sopir saja ya nanti pulangnya. Silahkan di nikmati, maaf ya saya ndak isa menemani minum. Besok ada banyak kegiatan. Tak apa kan, Om?” sahut Maria ramah.
Dia seakan menjadi wanita yang seratus delapan puluh delapan derajat bedanya. Beda saat dengan anak buahnya, atau pun para pekerjanya, Maria terkesan tegas meski tetap perhatian. Ini karena pelanggan dan pekerja adalah dua orang berbeda.
“Ya... ya... disini ada banyak yang menemani. Istirahatlah jangan sampai kau sakit, uangnya akan kau transfer ke rekeningmu ya. Jangan lupa kalau ada barang baru,” pesan Agus.
“Sippp Om! Om Agus memang terbaik,” puji Maria kemudian meninggalkan tamunya.
Agus merupakan seorang pengusaha terkenal di kota sebelah, dia termasuk pelanggan royal yang agak cerewet. Dia selalu menginginkan barang baru atau pemandu lagu baru setiap datang ke room nya. Tapi satu hal yang di sukai Maria, Agus selalu mentransfer uang dengan jumlah lebih jika puas dan tak segan- segan memberikan Maria rekomendasi ke teman- teman pengusaha sejawatnya.
Maria kembali ke kamar, sambil menunggu tamunya selesai jam dia menelpon Andi sopir langganan untuk mengantar para tamunya pulang dengan selamat. Tak baik bukan mengendari mobil dengan mabuk, Maria melarang dan tak mengizinkan tamunya menginap apapun alasannya meskipun 'Membungkus' karena aturan mainnya hanya short time bukan long time. Maria juga tak menerima tamu kalangan menengah bawah yang hobi mabuk dengan membuat keributan. Dia memilih jenis tamu kalangan menengah atas yang lebih elegan dan tak urakan sehingga membuat Maria nyaman tak pernah mendapat protes selama tinggal di apartemennya. 'Tok' 'Tok' 'Tok' pintu di ketuk lagi.
"Permisi, Mami," panggil Seroja.
"Masuk!" perintah Maria.
"Aku sudah tahu kau menolak kan? Tapi apakah kau yakin? Baca aturan kerjaku baru putuskan!" perintah Maria sambil mengambil map berisi rules aturan kerjanya.
APAKAH ATURAN ITU? AKANKAH SEROJA TERGODA?
BERSAMBUNG